PART 2

1205 Words
Ting! Hp Bianca memunculkan sebuah notif pesan dari sahabatnya. Levina : Jadi kan? Bianca : Jadi apa? Levina : Pikun banget sih lo! Ke kedai abah Melihat itu Bianca mata Bianca membulat sempurna. Bianca : Eh iya baru ingat Levina : Jadi gak? Bianca : Jadi Levina : Suratnya udah lo tulis? Bianca : Belum Levina : Tulis deh cepat terus lo siap-siap jam 3 gue tunggu lo di sekolah sama yang lain Bianca : Oke Read. Bianca segera bersiap-siap. 30 menit kemudian. Bianca sudah selesai dan segera menuju sebuah meja yang di atasnya terletak sebuah kertas kosong dan sebuah pena. Dia membawa kertas dan pena tersebut. Dia menoleh ke arah jam yang menunjukkan pukul 14.50 WIB. Dia segera memesan sebuah taxi dan berangkat ke sekolah. 10 menit kemudian. "Nah itu Bianca" ujar Sella "Ayo!" Ajak Bella "Suratnya gimana?" tanya Bianca "Belum lo tulis?" tanya Levina Bianca menggeleng. “Yaampun lo dari tadi ngapain aja?” tanya Sella "Yaudah cepetan tulis!" ucap Levina "Tulisin dong Bella, lo kan cantik terus baik" ujar Bianca "Kan atas nama lo ngapain gue yang tulis?" tanya Bella "Ntar abang gue kenal sama tulisannya kan malu gue" ujar Bianca "Gak ah" tolak Bella "Pleasee dong bel" bujuk Bianca "Biar kak Ardhan aja yang tahu kalau itu dari gue" ucap Bianca "Yaudah deh. Sini" ucap Bella sambil langsung mengambil kertas dan pena yang dipegang Bianca "Apa yang mau ditulis?" tanya Bella "Nih gue udah buat tadi" ucap Bianca sambil menunjukkan HP nya yang berisi kata-kata yang dibuat oleh Bianca Bella segera menulis dengan rapi agar terlihat lebih menarik. Setelah selesai, Bella melipat kertas tersebut dan memberikannya pada Bianca. "Gimana isi nya? Bagus gak?" tanya Sella "Lebay banget sih isinya" jawab Bella "Gue kan pengen dia tersentuh aja gitu pas baca surat dari gue" ujar Bianca "Bukannya tersentuh malah muntah dia ntar" ucap Bella "Semoga aja deh nggak" ucap Bianca Mereka segera menaiki mobil Levina dan menuju ke kedai abah. ******* "Ehh Dim?" panggil Vero "Ha?" ucap Dimas "Lo sama tuh cewek udah putus?" tanya Vero "Cewek mana?" tanya Dimas "Anabelle itu loh" ucap Vero "Amabelle bukan anabelle" ujar Dimas "Intinya dia cewek" ucap Vero "Iya udah lama gue putus" jawab Dimas "Kok putus sih?" tanya Vero "Kan gue udah ada Yeri" jawab Dimas "Yeri yang cabe-cabean itu ya?" tanya Iki "Jangan bilang cewek gue cabe b*****t!” Ucap Dimas "Yaelah. Santai dong santai " ucap Iki "Woi Ar, lo kok diam aja sih?" tanya Iki "Karna gue gak ribut" ucap Ardhan "Gue serius anjir!" ucap Iki "Gue tebak ada hubungannya sama Dira nih" ucap Vero "Iya" jawab Ardhan "Kenapa dia?" tanya Vero "Bukan dianya yang bikin gue galau gini" ucap Ardhan "Lah terus?" tanya Iki "Berita nya udah tersebar" ucap Ardhan "Berita apa sih?" tanya Dimas "Berita kalau gue suka sama Dira udah tersebar di sekolah" Jelas Ardhan "Emang iya lo suka sama dia kan?" tanya Dimas "Enggak juga sih. Tapi gue suka kok sama dia" jawab Ardhan "Lah? Apaan sih? Ga jelas banget lo" ucap Iki "Duhh gimana ya? Gue suka sama Dira tapi disatu sisi gue juga gak suka sama dia" jelas Ardhan "Kalau lo emang gak suka sama dia, lo ngapain gombalin dia mulu?" tanya Vero "Namanya juga gue suka sama dia" ucap Ardhan "Lah? Katanya tadi gak suka" ucap Vero "Gue suka suka enggak deh sama dia" "Terus lo suka sama siapa?" tanya Iki "Cewek pokoknya" ucap Ardhan "Ya iyalah balsem. Ga mungkin lo suka sama Dimas kan? Emang lo homo?" tanya Vero "Kok harus ke gue sih kena nya?" tanya Dimas "Ya suka-suka gue lah mulut-mulut gue" ucap Vero "Kok lo nyolot?" tanya Dimas "Santai bang santai" ujar Vero "Bisa gak sih gak berisik?" tanya Ardhan "Ini nih Vero" ucap Dimas "Kok gue sih?" tanya Vero "Udah deh. Kalian ribut banget" ujar Iki "Kok lo jadi ikut-ikutan?" tanya Dimas "Gue kan cuma mau melerai" jawab Iki "Lo mau bela Dimas ya?" tanya Vero "Eh enggaklah" ucap Iki "Jadi lo mau bela Vero?" tanya Dimas "Enggak" jawab Iki Ardhan hanya memutar bola matanya malas. "Kalian ribut sekali lagi, nih tangan gak segan-segan buat melayang ya" ucap Ardhan Mereka tetap melanjutkan perang mulut sampai suara mobil memberhentikan perang mulut itu. "Itu mobil siapa?" tanya Ardhan Sampai akhirnya orang yang berada di dalam mobil turun. Dan menampakkan wajah Bianca dan kawan-kawan. "Eh adek lo tuh" ucap Dimas "Ngapain dia ke sini?" tanya Vero "Mana gue tahu" jawab Dimas Bianca segera memberhentikan langkah kakinya saat sudah berada di pagar kedai tersebut. Kakinya terasa kaku seakan tak bisa bergerak. "Cepetan kasih sana!" ucap Levina "Kok malah berhenti sih?" tanya Bella "Kaki gue gak bisa gerak" ucap Bianca Ardhan segera menghampiri Bianca dan teman temannya. Melihat itu Bianca semakin membatu. "Ada apa? Kok tumben ke sini?" tanya Ardhan "Ahh i-iya kak ini... Anu.. Bianca" ucap Sella terbata bata "Bi? Kasih!" ucap Bella "Gue gemetar" ucap Bianca setengah berbisik "Lebay lo ah" ucap Bella sambil mendorong Bianca Sekarang Bianca sudah tepat didepan Ardhan. "Ada apa?" tanya Ardhan "Ha? Oh i-ini kak ada surat" ujar Bianca "Udah jadi tukang pos ya sekarang?" tanya Ardhan "Enggak kok kak. Mau sampaikan surat ini aja" ucap Bianca Ardhan menerima surat itu. "Dari siapa?" tanya Ardhan "D-dari...." ucap Bianca menggantung "Dari siapa?" tanya Ardhan "Dari lo ya dek?" tanya Vero "Ya enggaklah. I-itu dari teman" jawab Bianca "Teman? Mereka?" tanya Iki sambil menunjuk Sella,Bella dan Levina "Enggak. Teman yang lain" ucap Bianca Ardhan tersenyum. "Oh dari teman ya?" tanya Ardhan "Makasih deh udah dianterin ke sini" sambung Ardhan Bianca mengangguk. Sedangkan teman teman Bianca sudah pengen sekali melayangkan sepatu mereka ke arah Bianca. "Ada perlu lagi?" tanya Ardhan Bianca menggeleng. "Kalau gitu aku pulang ya kak" pamit Bianca Ardhan mengangguk. Bianca dan teman-temannya segera masuk ke mobil. "Lo b**o ya?" tanya Levina “b**o banget sih Bi, kenapa lo bilang dari teman sih?" tanya Bella "Pengen banget gue lempar lo ke jurang sekarang" ucap Sella "Tadi tuh jantung gue mau meledak tahu gak? Tubuh gue rasanya beku sama gemetar gitu" jelas Bianca "Apaan sih? Gak usah lebay" ujar Bella "Kalian semua enak udah berpengalaman dalam hal pacaran. Lah gue? Satu pun gak ada mantan gue" jelas Bianca "Bi gue jujur nih ya. Sebenarnya banyak cowok yang suka sama lo kalau seandainya lo tuh berubah penampilan. Tapi ngelihat kelakuan lo yang ceroboh, pelupa, ada b**o-b**o nya, wajar aja kan kalau mereka mundur?" jelas Levina "Lo muji atau ngehina gue sih?" tanya Bianca "Lo dibilangin susah banget sih" ucap Levina geram “Lagian emangnya penampilan gue gimana? Bagus kok menurut gue” tanya Bianca “Bagus apanya? Kayak sekarang, supaya apa lo pakai baju warna-warni gini? Gak cocok” jawab Bella "Gue aja heran, abang lo pintar kenapa lo jadi kayak gini?" tanya Sella “Gue lagi gak beruntung aja kali” jawab Bianca Sella,Bella dan Levina hanya bisa membalas jawaban Bianca dengan pandangan malas **** Sementara di kedai abah setelah Bianca dan kawan-kawannya pergi. "Buka dong. Kita mau baca" ucap Iki "Buka! Buka! Buka! Buka!" ucap Dimas mendukung ucapan Iki "Hei teman, bukalah surat itu maka kau akan mendapat nasib yang baik" ujar Vero Ardhan menggeleng. "Ini rahasia" ucap Ardhan "Bangke lo! Buka kek. Kita kan penasaran" ucap Iki Ardhan menggeleng. Lalu melihat ke arah surat itu sambil tersenyum.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD