Part 3

1533 Words
Cinta berawal dari pendekatan bukan? - Ardhan Pratama Ardhan masuk ke kamarnya dan segera merebahkan tubuhnya di kasur. "Capek banget main dari tadi. Mama sama papa masih di luar kota, adek gue ntah ke mana. Jadi sepi deh nih rumah" ucap Ardhan Ia memandangi langit-langit kamarnya. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu. "Ehh surat tadi mana ya?" tanya Ardhan pada dirinya sendiri dan mulai merogoh kantong jaket nya. "Nah ini dia" ucap Ardhan sambil mencoba membuka surat itu Isi surat : "Hai kak Ardhan, makasih ya udah mau nerima surat ini. Aku cuman mau ngomong sesuatu tentang perasaan aku ke kak Ardhan. Aku... Aku suka sama kak Ardhan. Udah lumayan lama sih kak. Tapi baru beraninya sekarang:) Walaupun lewat kertas:( Tapi aku sadar aku kok kak. Kalau cinta aku sebenarnya gak akan pernah terbalaskan. Karna kak Ardhan kan sukanya sama kak Dira:'). Wajar aja sih kak, kalau kakak sukanya sama kak Dira. Kak Dira udah baik,pintar,cantik, populer lagi. Beda banget sama aku. Hehee" Udah kak, aku cuman mau bilang ini aja. Makasih kak Ardhan" Ardhan melipat kembali surat tersebut. Dalam hati, Ardhan bertanya-tanya siapa kira-kira yang membuat surat ini untuknya. Ardhan mengingat-ingat kembali semua cewek yang pernah mendekati dirinya. "Duhh banyak banget lagi" ucap Ardhan kesal Tapi tiba-tiba terlintas kejadian pada saat Bianca memberikan surat itu padanya seperti orang gugup. Kemudian Ardhan kembali menatap surat itu sambil tersenyum tipis. 'Gak mungkin dia kan?' batin Ardhan sambil tersenyum ****** Bianca berjalan mondar-mandir di kamarnya. Ia sangat penasaran apa yang yang terjadi pada surat itu. "Duhh.. Udah dibaca gak ya? Jangan-jangan dibuang sama kak Ardhan" ucap Bianca Bianca berjalan ke kamar abangnya. "Bang?" panggil Bianca "Hm?" "Kak Ardhan suka banget ya sama kak Dira?" tanya Bianca Mendengar itu, terlintas dipikiran Vero saat Ardhan mengatakan suka-suka enggak pada Dira. "Bang, dengar gak sih?" tanya Bianca "Iya" jawab Vero "Iya apa?" tanya Bianca "Dia suka banget sama Dira." jawab Vero "Serius?" tanyan Bianca "Kenapa? Lo suka ya sama dia?" tanya Vero "E-enggaklah" jawab Bianca "Beneran?" goda Vero "I-iya. Gue gak suka sama dia" jawab Bianca "Terus ngapain nanya-nanya?" tanya Vero "Teman gue suka sama kak Ardhan. Dia suruh gue nanya sama lo soal kedekatan kak Ardhan sama kak Dira" jawab Bianca "Emang kenapa sih?" sambung Bianca bertanya "Lo tanya aja nih sama Ardhannya langsung" ucap Vero sambil menunjukkan wajah Ardhan di HP nya "L-lo video call sama kak Ardhan?" tanya Bianca Vero mengangguk polos. Vero tidak tahu bahwa Bianca sudah merasa malu karna merasa terciduk. "Kenapa lo gak bilang dari tadi sihh?" ucap Bianca kesal Bianca kembali menoleh ke arah HP Vero yang menunjukkan wajah Ardhan yang sedang melambaikan tangan padanya sambil tersenyum polos. Pipi Bianca memerah dan segera langsung berlari dari sana menuju kamarnya. "Adek lo kenapa?" tanya Ardhan yang membuat Vero kembali menatap HP-nya yang memampangkan wajah Ardhan. "Udah gak usah dipikirin" ucap Vero "Kenapa?" tanya Ardhan "Ntar kalau lo pikirin adek gue terus, nanti lo suka jadinya" ucap Vero "Apaan sih lo" ucap Ardhan Vero hanya tertawa. ***** "Bi, kak Ardhan lewat" ucap Levina saat melihat Ardhan melewati kelas "Eh mana?" tanya Bianca "Itu" ucap Levina sambil menunjuk Ardhan dengan jari telunjuknya. "Tanya gih cepat" ucap Bella "Tanya apa?" tanya Bianca "Masalah surat itu" jawab Bella "Ngomong langsung maksud lo?" tanya Bianca Bella mengangguk "Ngeliat dia dari jauh aja, gue udah sport jantung. Gimana kalau dekat apalagi ngajak bicara dia? Bisa copot jantung gue" ucap Bianca "Lo mau penasaran terus? Udah tanya aja. Kayak mau dimakan aja lo sama kak Ardhan. Siapa tahu lo bisa dekat sama dia" ucap Sella "Ya-yaudah deh. Gue coba dulu" Bianca menghampiri Ardhan yang sedang berbicara pada Dimas. "Kak Ardhan" panggil Bianca Ardhan menoleh. "Aku mau ngomong sesuatu kak" ucap Bianca "Oh yaudah ngomong aja" ucap Ardhan "Gimana ya?" tanya Bianca "Apanya yang gimana?" tanya Ardhan balik "Ngomong empat mata gitu loh kak." jawab Bianca "Lo mau introgasi gue ya?" tanya Ardhan sambil tersenyum Bianca hanya tersenyum kikuk. "Yaudah ayo!" ajak Ardhan sambil memegang tangan Bianca dan menariknya ke suatu tempat di pojokan. Bianca hanya memandangi tangannya yang digenggam oleh sang pujaan hati. "Oke mau ngomong apa?" tanya Ardhan sambil melepas genggaman tangan mereka "I-itu kak. Soal surat itu" ucap Bianca "Lo kenapa sih kalau ngomong sama gue gugup gitu?" tanya Ardhan "Karna gue suka sama lo" gumam Bianca pelan keceplosan "Apa?" tanya Ardhan "Gak apa-apa kak" jawab Bianca "Surat itu udah gue baca kok" ucap Ardhan "Menurut kakak alay gak sih?" tanya Bianca "Biasa aja sih" jawab Ardhan Bianca hanya ber-oh ria. 'Ngomong apa lagi ya?’ Biar agak lamaan batin Bianca "Kak?" panggil Bianca "Ya?" tanya Ardhan sambil menatap kedua bola mata Bianca Deg. 'Tatapan itu... kayak pernah gue lihat sebelumnya. Tapi kapan?' batin Bianca "Kok malah bengong sih?" tanya Ardhan "Oh i-itu kak. Aku cuman mau bilang makasih" ucap Bianca "Makasih? Makasih buat apa?" tanya Ardhan "Makasih karna kak Ardhan udah tolongin aku waktu MOS dulu" ujar Bianca "Ohh yang itu. Iya sama-sama. Lagian udah lumayan lama juga kok" ucap Ardhan "Tapi waktu itu aku belum sempat ucapin terima kasih sama kakak" ucap Bianca "Gak papa kok. Lagian gue tolonginnya ikhlas" ujar Ardhan Bianca hanya tersenyum. Ardhan melihat sekilas senyuman Bianca lalu setelah melihat senyuman itu, Ia tersenyum tipis. "Oh iya lo biasanya manggil orang lain dengan sebutan aku-kamu ya?" tanya Ardhan Bianca menggeleng. "Cuma sama yang dekat aja manggil lo-gue. Kakak kan lebih tua jadi harus lebih sopan" ucap Bianca "Gak apa-apa kok. Lagian gue gak tua-tua amat. Kita juga udah dekat kan sekarang? Yaudah lo bersifat kayak biasa aja. Jadi diri lo sendiri. Oke?" tanya Ardhan "I-iya kak" jawab Bianca "Ardhan?" panggil seseorang Ardhan menoleh dan ternyata yang memanggil namanya adalah Dira. "Hayoo.. Ngapain di sini? Mojok ya?" tanya Dira "Eh- enggak kok kak" jawab Bianca "Adeknya si jalan tol ya?" tanya Dira "Jalan tol?" tanya Bianca "Vero maksudnya" ucap Dira "Ohh iya kak" ucap Bianca "Kenalin gue Dira" ujar Dira "Bianca kak" ucap Bianca "Emang kenapa kalau gue sama Bianca mojok? Cemburu yaa?" tanya Ardhan "Enggaklah" jawab Dira "Terus ngapain nanya-nanya?" tanya Ardhan sambil tersenyum "Soalnya dari tadi kalian kelihatan lagi asik banget" jawab Dira "Cieee... Ngelihatin gue pasti nih" ucap Ardhan yang membuat Dira langsung mencubit perut Ardhan "Awww" Ardhan meringis Bianca hanya bisa menatap Ardhan dan Dira dengan tatapan lirih. 'Kenapa harus sekarang sih datangnya?' batin Bianca "Eh gue mau ke perpustakaan dulu ya" pamit Dira "Ngapain?" tanya Ardhan "Mau minjam buku" jawab Dira "Ikut dong!" ucap Ardhan Dira mengangguk. "Gue sama Ardhan ke perpustakaan dulu ya Bi?" pamit Dira Bianca mengangguk. Setelah melihat mereka pergi, Bianca segera mengerucutkan bibirnya. ‘Gue pengen ikut’ batin Bianca ***** "Gimana Bi? Berhasil?" tanya Sella Bianca mengangguk. "Suratnya udah dibaca sama kak Ardhan" "Reaksi kak Ardhan gimana?" tanya Levina "Katanya sih biasa aja" jawab Bianca "Kok biasa aja sih?" tanya Levina Bianca mengedikkan bahunya. "Tadi kan gue bicara sama kak Ardhan pakai embel-embel 'Aku- kamu' terus kak Ardhan bilang bersikap santai aja sama dia. Gak usah terlalu sopan. Lagiankan kita udah dekat sekarang. Duhh gue senang banget kak Ardhan ngomong kayak gitu" jelas Bianca panjang lebar "Udah ada peluang lo buat jadian sama kak Ardhan" ucap Bella "Lo sih sok sopan. Biasanya juga ceplas-ceplos" ucap Levina "Eh iya, tadi gue kan ada kontak mata sama kak Ardhan. Terus ada satu tatapan mata dia yang ngelihat gue kayak tatapan orang tertegun gitu loh" jelas Bianca "Apa? Tertegun?" tanya Levina Bianca mengangguk. "Gue baca di google, tatapan cowok ke cewek yang tertegun itu ada artinya tahu." jelas Levina "Arti? Arti apa?" tanya Bianca "Jatuh cinta gitu lah" jawab Levina "Masa sih?" tanya Bianca "Kalau gak percaya ya udah" jawab Levina "Eh ke perpus kuy!" ajak Bella "Gak ah. Di sana ada kak Ardhan sama kak Dira" tolak Bianca "Gak seru kalau bertiga aja. Lo ikut ya?" bujuk Levina "Yaudah deh" ucap Bianca pasrah Mereka berempat memasuki ruangan perpustakaan yang hening. Mata Bianca langsung menangkap dua orang yang ada di rak buku fisika. Itu Ardhan dan Dira. "Duduk sini aja! Biar dengar apa yang mereka bicarain" ujar Bella berbisik Mereka bertiga mengangguk. "Minjam buku untuk apa sih?" tanya Ardhan "Olimpiade" "Masih ikutan ya?" "Iya. Lo kok gak ikutan lagi?" "Kenapa? Pengen banget ya gue ikut?" "Ih apaan sih. Nanya aja" "Maksud gue kan kalau lo yang minta, gue bakalan masuk lagi di olimpiade" ucap Ardhan "Kenapa harus gue?" "Soalnya lo spesial" Hati Bianca mulai memanas. "Spesial? Kayak martabak aja" "Martabak kan spesial tapi dikacangin. Kalau lo gak bakalan gue kacangin" ucap Ardhan "Gombal mulu lo" ucap Dira Ardhan terkekeh pelan. "Eh lo punya komik gak Dir?" tanya Ardhan Dira menggeleng. "Kenapa?" tanya Dira "Mau baca aja. Gue suka komik misalnya." jawab Ardhan Mata Bianca melotot sempurna. 'Gue kan juga suka komik. Kok bisa sama ya?' batin Bianca senang "Itu ada Bianca sama teman-temannya. Tanya aja sama mereka, mana tahu punya" saran Dira Ardhan mengangguk lalu menghampiri Bianca dan kawan-kawannya. "Kalian ada yang punya komik?" tanya Ardhan "Bianca ada kak" jawab Bella "Lo ada? Pinjam dong" ucap Ardhan "Iya. Gue ada" ucap Bianca "Pinjam ya?" Bianca mengangguk. "Besok weekend. Gue ke rumah lo aja. Sekalian mau main sama si k*****t Vero" ucap Ardhan 'Whatt?!' batin Bianca "Boleh gak?" tanya Ardhan Bianca segera mengangguk. Ardhan membalas anggukan Bianca dengan senyuman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD