Part 4

1224 Words
Aku berharap kita akan selalu bersama, walau dengan cara bersahabat - Bianca Carolline Arliando Ardhan memberhentikan motornya di halaman rumah Bianca. Hari ini libur dan rumah Bianca terasa sangat sepi. Padahal ini sudah pukul 10 pagi. Ardhan mengetok pintu berwarna putih tersebut. Lalu seorang perempuan membuka pintu itu. "Siapa?" kata perempuan itu Lalu sedetik kemudian dia membulatkan matanya. "Kak Ardhan?" ucap perempuan yang ternyata Bianca "Kok gak bilang mau ke sini?" tanya Bianca "Gue udah bilang pas di sekolah waktu itu" jawab Ardhan "Iyaa. Tapi gak sepagi ini juga" ucap Bianca "Pagi? Ini jam sepuluh. Udah mau siang" ucap Ardhan 'Bukan itu masalahnya. Gue itu belum mandi' batin Bianca "Lo baru bangun ya?" tanya Ardhan "E-enggak. Udah dari tadi. Cuman belum mandi aja. Soalnya gue kalau libur gini, agak lamaan mandi." jelas Bianca "Tapi tetap cantik kok" ucap Ardhan "A-apa?" tanya Bianca "Gak apa-apa. Lupain aja!" ucap Ardhan "Masuk kak" ucap Bianca Ardhan mengangguk. Dia melangkahkan kakinya kerumah besar itu. "Om sama tante ke mana?" tanya Ardhan "Mama sama papa ke luar kota" jawab Bianca "Peliharaan gue mana?" tanya Ardhan "Peliharaan?" tanya Bianca "Vero maksudnya" "Dia ke taman. Lari pagi dari jam 7 tadi sampai sekarang belum balik" jelas Bianca "Lo sendiri?" tanya Ardhan Bianca mengangguk. "Komik lo di mana?" tanya Ardhan "Kamar" jawab Bianca "Yaudah ke kamar lo aja boleh gak?" tanya Ardhan Bianca membulatkan matanya. "Ja-jangan salah paham. Gue cuman mau lihat buku komik lo kok" ucap Ardhan "Ohh yaudah ayo!" ajak Bianca Mereka tiba didepan pintu kamar Bianca. Lalu mereka masuk ke dalam. Ardhan menatap kagum kamar Bianca yang rapi dan bersih. Ternyata Bianca tidak berbohong kalau dia sudah bangun dari tadi. Kalau dia baru bangun, gak mungkin kamarnya serapi ini. "Ini kak, komiknya" ucap Bianca sambil menunjuk sebuah tumpukan komik yang rapi. "Banyak banget. Lo juga suka komik?" tanya Ardhan Bianca mengangguk. Ardhan mengambil beberapa komik tapi ia menemukan buku lain dari tumpukan itu. 'Ini buku apa?' batin Ardhan 'Judulnya tips membuat cowok jatuh cinta' batin ardhan "Bi, ini buku untuk apa?" tanya Ardhan Bianca melihat ke arah buku itu dan nyaris bola matanya hampir keluar. "I-itu buku punyaa Bella kak" ucap Bianca 'Mampus gue. Malu banget' batin Bianca 'Maafin gue Bella, gue harus bawa nama lo' batin Bianca Ardhan tersenyum lalu hanya ber-oh ria. Ardhan memilih satu buku untuk dibacanya. Dia duduk di salah satu kursi di kamar Bianca. Baru membuka halaman pertama, pandangan mata Ardhan berubah ke arah Bianca yang sedang mengerutkan dahi ke arahnya. "Kenapa?" tanya Ardhan "Kita di bawah aja ya kak" ucap Bianca "Oh okee. Takut banget lo di apa-apain" ucap Ardhan bercanda "Hehee" kekeh Bianca ****** "Jadi gimana?" tanya Vero "Apanya?" tanya Dimas "Gak tahu" jawab Vero "b**o" ucap Dimas kesal "Kalian kalau ketemu barantem mulu. Ntar jadi cinta lo" ucap Iki "Lo kata kita homo?" tanya Vero "Kita? Lo aja lah gue enggak" ucap Dimas "Lo gak usah mulai lagi deh. Gue juga capek berantem sama lo terus. Bosan. Adek jenuh bang" ucap Vero "Jijik" ujar Dimas "Lo ninggalin adek lo sendiri dirumah? Jahat banget sih lo" ucap Iki "Udah biasa mah dia." ucap Vero "Hallo kakak-kakak yang ganteng" ucap seorang perempuan "Lifa? Ngapain lo di sini?" tanya Iki "Mau cari kak Ardhan" jawab perempuan yang ternyata bernama Lifa, adek Ardhan "Dia gak ada di sini" ucap Dimas "Terus di mana?" tanya Lifa "Larva, kan udah dibilang dia gak ada di sini. Kita juga gak tahu dia di mana" ujar Vero "Nama gue Lifa, bukan larva" ucap Lifa "Sama aja itu mah" ujar Vero "Bedalah, b**o" ucap Lifa "Yelahh, Terserah lo" ucap Vero pasrah ****** Ardhan membuka beberapa halaman dari buku komik tersebut. Tapi bukannya dibaca, Ardhan malah terus memandangi Bianca. Merasa dirinya diperhatikan, Bianca pun bertanya. "Kak Ardhan kenapa?" tanya Bianca "Eh i-itu mau nanya boleh gak sih?" tanya Ardhan Bianca mengangguk. "Hmm... Cara deketin cewek gimana?" tanya Ardhan "A-apa?" tanya Bianca "Cara deketin cewek gimana?" tanya Ardhan "Gak tahu kak" jawab Bianca "Kok gak tahu?" tanya Ardhan "Gue gak berpengalaman" ucap Bianca "Lo gak pernah pacaran?" tanya Ardhan "Belum" jawab Bianca "Belum? Berarti kalau seandainya nanti lo pacaran, itu pacar pertama lo?" tanya Ardhan Bianca mengangguk. "Wahh beruntung dong tuh cowok" ucap Ardhan "Kok gitu?" tanya Bianca "Iyalah. Dia bisa dapetin cewek kayak lo" jawab Ardhan "Emang gue gimana?" tanya Bianca "Hahaa.. Udahlah lupain aja" jawab Ardhan "Emang lo mau dekati siapa?" tanya Bianca "Ada dehh" jawab Ardhan "Kak Dira?" tanya Bianca "Kepo" jawab Ardhan "By the way, ngomong sama lo enak juga. Gimana kalau kita......" ucap Ardhan menggantung "Kita sahabatan"sambung Ardhan "Kok tiba-tiba kak?" tanya Bianca "Mau atau enggak?" tanya Ardhan Bianca mengangguk. 'Gue pengen ngenal lo lebih dalam lagi kak. Walaupun dengan cara sahabatan' batin Bianca "Kalau gitu jangan manggil gue kak lagi. Panggil Ardhan aja" ucap Ardhan Bianca mengangguk. 'Pantas banyak yang dekatin kak Ardhan. Ramah gini orang nya' batin Bianca "Jadi gue harus apa adanya maksud lo? Gak jaim-jaim lagi?" tanya Bianca Ardhan mengangguk. "Gue cuma pengen kenal lo lebih dalam aja." ucap Ardhan Bunga bunga bermekaran dihati Bianca. "Kayaknya seru kalau punya sahabat kayak lo" sambung Ardhan Oke. Bunga itu udah layu sekarang. "Gue tahu kalau lo selama ini itu jaim sama gue." Ucap Ardhan "Tahu dari mana?" tanya Bianca "Karna gue sering perhatiin lo yang biasanya ceplas ceplos" jawab Ardhan keceplosan 'Kak Ardhan sering merhatiin gue?' batin Bianca senang "Mak-maksudnya gak gitu. Gue tahu dari Vero" ucap Ardhan Bianca hanya tersenyum. "Oke gue gak bakalan jaim lagi sama lo. Gue bakalan bersikap apa adanya" ucap Bianca "Gitu baru namanya Bianca" ucap Ardhan sambil tersenyum ramah dan mengacak pelan rambut Bianca 'Sip. Jantung gue mau keluar' batin Bianca ***** "Dir?" panggil Dara "Kenapa?" "Lo makin dekat aja sama Ardhan" "Terus kenapa?" "Yaaa lo gak ada gitu perasaan apa-apa sama dia?" "Gue sih biasa aja" "Serius biasa aja?" Dira mengangguk. "Kalau seandainya Ardhan suka sama lo, terus dia nembak lo gimana?" "Yaa gue gak tahu. Lagian kan belum tentu terjadi" "Kalau terjadi?" "Lihat nanti deh. Gue gak mau terlalu berharap" Dara hanya mengangguk paham. ***** Sepulang Ardhan dari rumahnya. Bianca membuka aplikasi w******p. Dan membuka grup chat dengan teman teman temannya. Grup Kekinian Bianca : Guysssss.... Levina : Napa? Bella : Apaan? Sella : Ada kabar baik nih kayaknya Bianca : Tadi kak Ardhan datang kerumah gue. Mau minjam komik. Terus kami bicara bicara gitu. Tiba-tiba dia ngajak gue sahabatan Bella : Lo seneng cuman diajak sahabatan? Bianca : Iya Bella : Yaudah deh. Yang penting ada perkembangan. Levina : Mana tahu sahabat jadi cinta kan? Cieee.... Bianca : Amin. Eh tapikan tadi dia nyuruh gue supaya gak manggil kakak lagi. Gue bilang iya terus dia ngacak pelan rambut gue Bella : Terus? Bianca : Gue seneng banget njirr Levina : Hati-hati! Ntar udah diterbangin malah dicampakin gitu aja Bianca : Berjuang Bianca yang cantik nan baik hati!! Hehee Bella : Btw, si Sella mana? Levina : Ga tahu Bianca : 2 Sella : Cariin aku ya? Pada kangen ya? Bella : Ga sih biasa aja Sella : Eh jangan bohong ya! Jujur aja sama adek yang manis ini bang:) Levina : Tiba-tiba gue pengen muntah Bianca : Pengen kentut Sella : …. Bianca mematikan Hp nya. Hari ini dia sangat senang. Apalagi tadi sebelum pulang Ardhan mau memberikan nomor hp nya pada Bianca. 'Semoga kebahagiaan ini gak hanya sementara' batin Bianca sambil tersenyum
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD