Bianca bangkit dari tempat tidurnya, sesekali ia meregangkan otot-otot nya dan segera merapikan tempat tidurnya. Dia segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.
Beberapa menit kemudian Ia turun dari kamarnya dan menuju meja makan.
Terlihat wanita yang hampir berumur 39 tahun yang sedang menyiapkan makanan di meja namun tetap cantik. Dan terlihat juga seorang pria yang berpakaian kantor, terlihat berumur hampir 42 tahun namun wajah nya tetap sama. Tetap tampan. Padahal sudah bisa dibilang tua. Walaupun gak tua-tua amat.
"Pagi pa, ma" sapa Bianca
"Pagi sayang" sapa mereka bersamaan
"Bang Vero mana?" tanya Bianca
"Udah pergi duluan" jawab Vani, mama Bianca
"Terus aku pergi sama siapa?" tanya Bianca
"Sama papa aja" jawab Vani
"Papa kayaknya gak bisa deh, soalnya buru-buru" ujar Galang, papa Bianca
"Terus aku sama siapa Pa?"
"Kamu jalan kaki aja ya?" ucap Vani
"Kok jalan kaki sih? Kan jauh" ucap Bianca
"Sayang, kalau papa gak sibuk, bisa aja papa antar kamu ke sekolah. Kalau perlu sampai ke kelas kamu papa antar. Tapi papa ada meeting sayang. Jadi papa minta maaf yaa" jelas Galang
"Yaudah deh" ucap Bianca pasrah
"Aku pergi dulu"pamit Bianca.
"Kamu gak sarapan dulu?" tanya Vani
"Gak ma. Di sekolah aja" jawab Bianca
"Yaudah. Hati-hati ya" ucap Vani.
"Pergi ya Pa, Ma" pamit Bianca
Vani dan Galang mengangguk sambil tersenyum.
Bianca mulai melangkahkan kakinya untuk berjalan ke sekolah.
'Berasa kayak anak tiri deh gue' batin Bianca
Dia melirik sekilas jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh kurang 15 menit.
'Udah mau bel lagi' batin Bianca kesal
Tiba tiba ada yang berhenti didepannya dengan sebuah motor yang dikendarainya dan helm yang melekat di kelapanya, eh kepalanya maksudnya.
'Perasaan kayak kenal deh nih orang' batin Bianca
Orang tersebut membuka kaca helm nya. Dan menampakkan wajahnya sambil mengatakan,
"Mau bareng?" tanya orang tersebut
"K-kak Ardhan?" ucap Bianca
"Kan udah dibilang jangan panggil kak lagi" ujar Ardhan
"Eh iya, lupa" ucap Bianca
"Mau bareng gak? Bentar lagi bel tahu" tawar Ardhan
"Mau dong, Ar!" seru Bianca semangat tanpa ragu
"Antusias banget" ucap Ardhan sambil tersenyum hangat mendengar ucapan Bianca.
"Naik" ucap Ardhan
Bianca mengangguk dan segera menaiki motor Ardhan.
*****
Bianca telah sampai di sekolah bersama Ardhan.
"Thanks ya, Ar" ucap Bianca
Ardhan mengangguk.
"Lain kali bareng gue aja terus" tawar Ardhan
"Eh? Seriusan? Kak Dira gak marah?" tanya Bianca
"Dira? Dia bukan siapa-siapa gue, Bi. Jadi kenapa dia harus marah?" tanya Ardhan
"Bukannya Lo suka sama kak Dira?" tanya Bianca
"Lo tahu dari mana berita itu?" tanya Ardhan
"Udah tersebar beritanya" jawab Bianca
"Tapi lo emang suka ya sama dia?" tanya Bianca
"Iya-in deh biar cepat"
"Kok gitu? Jawab dulu kek"
"Gue buru-buru nih. Gue duluan ya" pamit Ardhan
Bianca hanya mengangguk.
Bianca kembali berjalan menuju kelasnya.
"Hai cewek" sapa Bianca setelah sampai di kelas
"Hai cewek" sapa balik oleh Bella, Sella dan Levina
"Tebak deh tadi gue bareng siapa?" Ucap Bianca
"Emang lo bareng siapa?" tanya Sella
"Tebak dong" ucap Bianca
"Vero?" tebak Bella
Bianca menggeleng.
"Bokap lo?" tebak Sella
Bianca kembali menggeleng.
"Nyokap lo?" tebak Levina
Lagi-lagi Bianca menggeleng.
"Bareng siapa sih? Bertele-tele amat. Langsung to the point aja. Lo tadi bareng siapa?" tanya Bella
"BARENG ARDHAAAANN" teriak Bianca
Bella,Sella dan Levina langsung melongo.
"Bi, jangan berisik" ucap Yosi, sang ketua kelas
"Hehee, iya maaf" ucap Bianca
"Lo tuh gak tahu ya? Suara lo kalau lagi teriak bisa sampai ke planet Pluto" ucap Yosi
"Planet Pluto bukannya udah hilang?" tanya Bianca
"Eh- gak tahu deh. Pokoknya kenceng banget" ucap Yosi
"Lebay lu kambing" ujar Bianca
Yosi terkekeh.
"Lo serius bareng kak Ardhan?" tanya Levina
Bianca mengangguk sambil tersenyum senang.
"Lo gak modus gitu?" tanya Bella
Bianca menggeleng polos.
"Kok enggak sih? Kan biar bisa dekat gitu" ujar Bella
"Bella sayang, gue gak perlu modus-modus lagi. Soalnya gue ini udah jadi sahabatnya Ardhan, terus gue bisa dekat deh sama dia" jelas Bianca
"Baru juga sahabatan" ujar Sella
"Yang penting gue bisa dekat sama dia" ujar Bianca
"Iyain" ucap Levina pasrah.
*****
"Ardhaaan" panggil Dira
"Eh Dira, ada apa?" tanya Ardhan
"Mau ke mana?" tanya Dira
"Mau ke rooftop" jawab Ardhan
"Ikut dong!" pinta Dira
"Gak boleh ah" tolak Ardhan
"Iihhh kenapa gak boleh?" tanya Dira
"Nanti lo digodain Vero, Iki sama Dimas" jawab Ardhan
"Emang kenapa kalau gue digodain sama mereka?" tanya Dira
"Nanti lo baper sama mereka. Gue gak mau itu terjadi. Karna lo cuma boleh baper ke gue" jelas Ardhan
"Apaan sih, Ar. Aku mau ikut tahuuu" pinta Dira dengan wajah memelas
"Yaudah deh iya"
"Yeeeeyyy!" seru Dira senang
Ardhan tersenyum.
Mereka berjalan ke arah rooftop hingga sampai di sana menemukan tiga orang laki-laki sedang bercanda tawa.
"Eehh Ardhan" ucap Iki
"Datang datang udah bawak cewek aja lo , Ar" ujar Dimas
"Diem deh kalian!" ucap Ardhan kesal
Dira hanya tersenyum.
"Dira gue boleh nanya gak?" tanya Vero
'Pasti mau nge-gombal nih anak' batin Ardhan
"Itu aja lo udah nanya, Vero" ucap Dira
"Yaa boleh gak?" tanya Vero
Dira mengangguk.
"Malam itu gelap kan?" tanya Vero
"Iya. Gelap." jawab Dira
"Walaupun malam itu gelap, tapi hati gue tetap terang seperti ada matahari yang selalu bersinar. Lo tahu gak siapa mataharinya?" tanya Vero
"Gak tahu. Emang siapa?" tanya Dira
"Matahari gue itu lo, Dir" jawab Vero
"Bisa aja lo,Ver" ujar Dira
Ardhan menatap kesal ke arah Vero.
"Ehh gue juga mau nanya nih, Dir" ucap Dimas
'Perasaan gue gak enak nih' batin Ardhan
"Tanya apa?"
"Lo tahu gak siapa penemu kalender?" tanya Dimas
"Gue lupa. Emang siapa?" tanya Dira
"Lo gimana sih, Dir. Itu aja lo gak tahu, apalagi kalau gue nanya siapa masa depan gue?" tanya Dimas
"Gue makin gak tahu lah" ucap Dira
"Masa depan gue itu elu, Dira" ujar Dimas
"Hahaa.. Apaan sih. Lo tahu dari mana kalau gue itu masa depan lo?" tanya Dira
"Sini deh tangan lo!" ucap Dimas
Dira memberikan tangannya dipegang oleh Dimas yang sedang seperti meramal. Ardhan melihat kejadian itu langsung melotot.
"Apa-apaan nih pegang-pegang " ucap Ardhan kesal
"Cieee kesal ya bang?" tanya Iki
"Gue g-gak kesal. Cuman enak banget lo pegang-pegang tangan Dira" ucap Ardhan
"Emangnya lo siapa? Pacarnya?" tanya Iki
"Gue bukan pacarnya. Tapi gue sahabatnya" ucap Ardhan
Dira menoleh ke arah Ardhan.
"Sahabat?" tanya Dira
Ardhan mengangguk.
"Oohh sahabat ya?" tanya Dira
"Ya t-terus a-apa?" tanya Ardhan
"Yaudah deh, gue balik ke kelas aja ya, Ver,Dim,Ki" pamit Dira
Mereka mengangguk.
"Sampai jumpa SAHABAT" pamit Dira ke arah Ardhan dengan penekanan di kata sahabat.
Ardhan hanya tersenyum kaku sambil melihat kepergian Dira.
"Lo sih bilang dia sahabat" ujar Iki
"Terus gue mau bilang apa? Pacar? Gue kan bukan pacarnya. Abang? Gue bukan abangnya." ujar Ardhan
"Dia udah baper tahu sama lo, eh tahu-tahunya cuma dianggap sahabat" ucap Iki
"Iya tuh bener" ucap Vero
"Terus gimana dong?" tanya Ardhan
"Lo tembak aja dia" saran Dimas
"Kayaknya dia suka sama lo,Ar. Tapi dia gak mau terlalu berharap aja" ucap Dimas
"Tapi gue belum terlalu suka sama dia" tolak Ardhan
"Belajar mencintai terkadang lebih baik,Ar" ucap Vero sambil mengupil
"Anjirr jorok banget sih lo" ucap Dimas
"Terkadang ini lebih baik dilakukan, dari pada ada yang mengganjal gitu rasanya" ucap Vero
"Jorok lo kambing " ujar Iki
"Kayak gak pernah aja lo" ucap Vero
Ardhan masih memikirkan perkataan Dimas tadi.
'Gue sebenarnya suka sama siapa sih?' batin Ardhan
"OKEE! GUE BAKALAN NEMBAK DIRA!" seru Ardhan
"Lo yakin Ar?" tanya Dimas
"Iya. Gue yakin" ucap Ardhan
Lalu mereka kembali berbicara membahas hal lain tanpa menyadari kehadiran seseorang yang berada sejak Ardhan berteriak bahwa dia akan menyatakan perasaannya pada Dira.
'Gak seharusnya gue terlalu berharap sama lo,Ar. Gue cuman bisa jadi sahabat lo doang. Gak lebih.' batin Bianca lirih