Selina Hanya Tumbal

1116 Words

Bern, Swiss. Pukul 01:00 dini hari. Kota tua itu masih bernafas meskipun pelan. Lampu-lampu jalan tembaga menyala temaram, menyinari jalanan berbatu yang basah oleh gerimis tipis yang datang tanpa suara. Bayangan lengkung jembatan Nydegg dan menara jam Zytglogge memanjang seperti lukisan tua yang nyaris pudar, namun tetap menyimpan keanggunan yang tak lekang waktu. Angin malam bertiup pelan dari arah Sungai Aare, membawa aroma lembab dari pepohonan dan air yang mengalir tenang di bawah sana. Suara langkah kaki nyaris tak terdengar, hanya sesekali bunyi sepatu tumit dari seseorang yang terburu menembus kesunyian, atau derit roda sepeda yang melewati gang-gang sempit di antara bangunan berusia ratusan tahun. Di kafe-kafe kecil sudah tutup sejak pukul 12.00 malam, kursi-kursi sudah tampa

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD