Malam Pertama

1115 Words
Zeva berdiri di depan cermin, memandang refleksinya dengan campuran emosi. Ia melepas baju pengantinnya, mengungkapkan tubuh atletis yang terukir dengan bekas luka yang dalam. Luka-luka itu bukanlah hasil dari pertarungan atau kecelakaan, melainkan bekas siksaan yang dilakukan oleh sang kakek sejak ia masih kecil. Setiap garis dan lekukan pada tubuhnya menceritakan kisah penderitaan dan keberanian. Zeva mengingat setiap detik dari siksaan tersebut, setiap tetes keringat dan setiap jeritan sakit yang tersembunyi di balik kekuatan dan ketabahannya. Dengan mata yang memandang ke dalam, Zeva merenungkan perjalanan hidupnya. Ia memikirkan bagaimana ia bisa bertahan hidup dan bangkit dari keterpurukan. Bekas luka-luka itu bukan hanya sekedar tanda fisik, melainkan juga simbol dari kekuatan batin dan ketabahan yang telah membawanya melewati masa-masa sulit. Zeva menghela napas dalam-dalam, merasakan udara yang masuk dan keluar dari paru-parunya. Ia tahu bahwa ia masih memiliki perjalanan panjang di depan sebelum sang Kakek yang kejam itu mati. "Aku tidak akan pernah menunjukkan bekas luka ini pada wanita itu!" gumam Zeva. Ia pun memutar kran shower lalu membasuh seluruh tubuh atletis penuh bekas luka itu dengan air hangat. Air yang membuat tubuhnya sedikit merasa rileks karena rasa lelah yang luar biasa pun akhirnya bisa meredam segalanya. Setelah selesai mandi, Zeva meraih bathrobe, lalu memakainya dan memasang tali dengan benar agar Selina tak dapat melihat bekas lukanya itu. Zeva pun keluar dari kamar mandi dan langsung mendapati Selina yang memalingkan wajah karena mereka sempat bertatapan. "Mandilah!" perintahnya lalu berjalan ke arah lemari dimana pakaian tidurnya malam ini sudah di siapkan oleh pihak Hotel. "Tunggu!" panggil Selina. Zeva pun menghentikan langkahnya lalu memutar tubuhnya melihat ke arah Selina yang masih terduduk di tepi ranjang dengan gaun yang super ribet. "A-aku tidak bisa melepaskan resleting gaun ini," gumamnya. Zeva pun menyeringai "Lalu?" Selina menelan air liurnya sendiri karena gugup bercampur malu. "Lepaskan resleting ku dong!" ketus Selina merasa kesal karena Zeva berpura-pura tak mengerti ucapannya. "Mintalah tolong dengan benar!" ujar Zeva. "To-tolong bantu lepaskan resleting gaun ku," ucap Selina dengan nada datar. Dalam hati rasanya ingin sekali Selina memukul kepala Zeva dengan balok kayu. "Kemarilah!" panggil Zeva. Selina pun akhirnya bangkit dan berjalan ke arah Zeva. Jujur ia sedikit kesulitan berjalan karena gaun yang terlalu panjang hingga membuatnya sulit melihat jalan yang akan di pijak. Namun saat sedikit lagi tubuhnya mencapai Zeva, tiba-tiba saja kaki Selina tersandung karpet. Kyaa... Selina terjatuh tepat di pelukan Zeva. Mata mereka sempat bertatapan. "Awas! jangan sembarangan menyentuh tubuhku! " teriak Selina mendorong tubuh Zeva yang sedang memeganginya. "Kenapa sentuhannya terasa panas saat menyentuh tubuhku!" pekik Selina dalam hati dengan kedua alis yang mengerut. "Kau wanita aneh! kau yang jatuh ke dalam pelukan ku, kau pula yang marah-marah!" umpat Zeva menyilangkan kedua tangan di d**a. Selina langsung memutar tubuhnya agar Zeva dapat membantunya menurunkan resleting gaun di punggungnya. "Tutup matamu!" bentak Selina. Jemari Zeva yang hampir saja menyentuh tubuh Selina langsung terhenti. "Kalau aku menutup mata, sepertinya aku tidak bisa melakukannya dengan benar, bisa saja jemari-jemari ku ini malah menyentuh bagian tubuhmu yang lain," goda Zeva. Selina mendelik lalu memutar tubuhnya menatap Zeva dengan tangan menyilang di d**a untuk menutupi bagian d**a yang memang sedikit terbuka. "Kalau kau berani macam-macam padaku! kau akan menerima konsekuensinya!" pekik Selina dengan mata melotot. Zeva tertawa, tawanya sangat renyah sampai membuat Selina mengernyitkan dahi. "Kau pikir aku akan selera dengan tubuh mu yang kurus dan tepos itu! belahan d**a mu bahkan tak terlihat, apa yang kau tutupi itu," kekeh Zeva. Selina menggertakkan giginya lalu melihat ke bawah, ke bagian dadanya yang sudah di hina oleh Zeva. Selina membusungkan dadanya ke arah Zeva membuat Zeva tersedak air liurnya sendiri. "Lihat dengan benar dong! aku memiliki d**a yang berisi dan cukup besar tahu! matamu saja yang picek!" cecar Selina. Zeva yang shock bahkan sampai memalingkan wajahnya yang memerah ke arah lain. "Ha... su-dahlah! ce-pat putar tubuhmu agar aku bisa melepaskan resleting gaun mu dengan cepat!" jawab Zeva terbata-bata. Selina terkekeh melihat Zeva yang salah tingkah, ia tertawa sambil menutup mulutnya. Jari-jari Zeva mulai menurunkan resleting Selina, tentu saja Zeva dapat melihat punggung yang putih dan mulus milik Selina yang justru kebalikan dari tubuhnya yang di penuhi oleh bekas luka. Selina menahan gaunnya dengan menjepitnya di ketiak agar tak melorot. Suasana hening di dalam kamar yang terasa mencekam membuat suara resleting gaun yang sedang melorot ke bawah terdengar begitu jelas membuat Selina sampai menutup mata karena terlalu tegang. Ini adalah kali pertama ia menunjukkan seluruh punggungnya pada seseorang. "Sudah," gumam Zeva. Tanpa mengucapkan terima kasih, Selina langsung berlari ke kamar mandi lalu mengunci pintu kamar mandi dengan rapat. Zeva hanya menggelengkan kepalanya menatap tubuh Selina yang sudah menghilang "Dasar wanita aneh!" gerutunya dalam hati. Pria itu pun mengambil sebuah piama satin berwarna hitam lalu memakainya, sebelumnya ia juga melihat sebuah lingerie hitam berbahan satin seperti miliknya, seakan-akan baju tidur itu adalah baju pasangan. Namun Zeva tak ambil pusing dan langsung membaringkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang berukuran king size itu. Zeva langsung memejamkan matanya berharap agar ia bisa segera terlelap. Sedangkan Selina, setelah selesai mandi kilat ia pun menggunakan bathrobe yang sama seperti Zeva, ia membuka pintu kamar mandi perlahan-lahan lalu mengintip dan melihat Zeva yang sudah berbaring dengan mata terpejam. Selina berjalan mengendap-endap menuju lemari. Ia membuka lemari dan hanya mendapati sebuah lingerie hitam yang tipis dan menerawang. Selina bahkan tak menemukan pakaian dalam yang bisa ia pakai. Selina mencubit lingerie itu lalu menatapnya dengan tatapan menjijikkan. "Mana mungkin aku memakai pakaian seperti ini di depan b******n itu, dasar gila!" pekiknya dalam hati. Selina pun melempar lingerie itu ke sembarang arah. Setelah berpikir keras, akhirnya Selina memutuskan untuk tidur menggunakan bathrobe. Ia tak melihat sofa atau apapun tempatnya untuk setidaknya bisa berbaring, tak mungkin juga dia tidur di karpet. Selina melangkahkan kakinya lalu menatap wajah polos Zeva yang sedang tertidur. "Bibirnya tipis," batin Selina yang malah fokus menatap bibir Zeva. Namun ia langsung menggelengkan kepalanya agar segera sadar karena sudah memikirkan sebuah kesalahan. "Astaga! ada apa dengan otak ku sih!" gerutunya dalam hati sambil menjitak kepala sendiri. "Apa yang kau lakukan!" pekik Zeva yang sudah membuka kedua matanya melotot ke arah Selina. Tentu saja Selina tersentak karena kaget setengah mati. Ia mengira pria yang sudah menjadi suaminya itu sudah tertidur. "Astaga! kau mengagetkan ku saja!" sahut Selina sambil mengusap dadanya. "Kenapa kau masih memakai bathrobe? ganti pakaianmu dan tidur dengan tenang, malam ini adalah malam pertama kita jadi tidak perlu ada keributan yang merepotkan," ujar Zeva dengan nada datar dan dingin. Pria itu bahkan memutar tubuhnya membelakangi Selina. Selina berdecak kesal "Masalahnya aku tidak mau tidur satu ranjang dengan mu! tidak ada sofa atau apapun untuk alas tidur ku! sebagai seorang pria kau seharusnya mengalah padaku dan tidur di lantai agar aku bisa tidur di ranjang!" celetuk Selina.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD