Pernikahan Adat Minangkabau

1051 Words
Hotel bintang lima yang megah itu, kini berubah menjadi sebuah istana Minangkabau yang indah dan elegan. Dekorasi pernikahan adat Minangkabau yang dipasang di setiap sudut hotel, membuat suasana menjadi sangat meriah dan khidmat. Di pintu masuk, terdapat sebuah gapura yang dihiasi dengan ukiran kayu yang indah dan warna-warna cerah. Gapura itu seperti menjadi simbol selamat datang bagi para tamu yang hadir. Di dalam hotel, terdapat sebuah pelaminan yang dihiasi dengan kain-kain bersulam benang emas yang mewah, banta gadang, kelambu berlapis, galuang, dll. Pelaminan itu seperti menjadi pusat perhatian bagi semua orang yang hadir. Sekeliling pelaminan, terdapat beberapa meja yang dihiasi dengan dekorasi yang indah dan mewah. Meja-meja itu seperti menjadi tempat bagi para tamu untuk menikmati hidangan yang lezat dan berbagai jenis minuman. Sedangkan bagian atas, terdapat sebuah atap yang dihiasi dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Lampu-lampu itu seperti menjadi simbol kebahagiaan dan kesucian bagi pasangan pengantin. Suasana di hotel itu sangatlah meriah dan khidmat. Para tamu yang hadir, semua terlihat sangat gembira dan bahagia. Mereka semua seperti menjadi bagian dari sebuah perayaan sangat besar dan penting. Setelah keluarga Hazmi dan Altezza melakukan pertemuan beberapa kali, akhirnya hari yang di nanti-nanti akhirnya tiba terutama untuk Farhat El-Hazmi yang merupakan kepala Keluarga Hazmi begitu juga dengan Willy Altezza yang akhirnya bisa bernafas lega karena Perusahaan yang sudah berada di ambang kebangkrutan akhirnya bisa terselamatkan. Para orang tua tampak begitu bahagia, namun tidak untuk Selina dan Zeva yang sedang berdiri di pelaminan menyambut dan menyalami para tamu yang hendak memberi selamat pada mereka. Aura cantik Selina sang mempelai wanita terpancar dalam balutan busana adat pengantin Minangkabau. Suntiang, sang mahkota kebanggaan wanita Minangkabau tersemat manis di kepala Anak Daro (pengantin wanita Minang). Menjulang tinggi berwarna keemasan dengan detail-detail yang menawan. Menambah kesan mewah dan elegan. Bukan dengan kebaya, tubuhnya berbalut indah dengan baju kurung. Baju longgar dari kain beludru tanpa menampilkan lekukan tubuh sang mempelai. Dengan warna merah menyala sesuai warna khas Minang. Disulam dengan motif emas di setiap sisinya. Dari bagian pundak, tangan sampai ke pada tepian bawah dekat kaki. Semuanya terasa sempurna dengan motif dan manik-manik serba emas. Didominasi warna merah dan emas memiliki makna tersendiri. Warna merah melambangkan keberanian dan kepahlawanan, Kuning mengandung arti kerajaan. Warna-warna cerah ini membuat rona kebahagiaan sang mempelai wanita nampak terasa. Senyum manis menambah kecantikan sang mempelai dalam busana adat pengantin Minangkabau. Selina yang mulai merasa jenuh karena terus menerus memasang senyuman palsu pada semua orang begitu juga dengan Zeva. Zeva si Pengantin pria menggunakan kemeja, celana, rompi, dan baju roki sepanjang betis yang bermotif seperti piyama. Detail celananya sendiri dibuat dari bahan beludru atau saten hijau dengan renda emas untuk menutupi kaki. Sedangkan kemejanya berwarna putih dengan rompi yang senada dengan celana dan di tambah pula Ikek/ Destarsaluka (hiasan kepala) menunjang penampilannya hingga terlihat semakin tampan dan gagah. "Aku capek!" pekik Selina menepuk-nepuk lututnya karena sudah terlalu lama berdiri menyambut para Tamu yang kebanyakan adalah Klien, Relasi bisnis dan para Karyawan. "Sabarlah!" bisik Zeva tepat di telinga Selina membuat wanita itu sedikit kaget. Selina menatap Zeva yang terus tersenyum. "Dia terlihat begitu tenang," batin Selina. Zeva bahkan tak melakukan satu kesalahan pun saat mengucapkan ijab kabul. Hingga akhirnya malam pun tiba dan acara demi acara terlaksana dengan baik. Mata Selina terus mencari keberadaan Ammar di antara para Tamu saat ia dan Zeva di persilahkan untuk beristirahat di kamar yang sudah di siapkan oleh pihak Hotel, sayangnya ia tak menemukan keberadaan pria yang ia cintai itu. "Dimana Ammar? apa dia tidak datang?" batin Selina. Namun mata wanita itu masih terus mencari-cari hingga membuat Zeva sedikit terusik. "Apa yang kau cari?" tanya Zeva datar. "Bukan urusanmu!" pekik Selina. "Kekasihmu?" tanya Zeva tak mau kalah. Selina diam tak menjawab pertanyaan Ammar. Zeva menyeringai karena tak mendapat jawaban dari Selina, namun ia menarik tangan Selina agar mereka bisa segera masuk ke kamar dan beristirahat setelah berdiri berjam-jam menyambut para Tamu. "Lepaskan aku!" pekik Selina. "Tolong jangan tunjukkan rasa benci mu padaku di tempat yang masih ramai begini, ingat dengan kesepakatan kita berdua kalau kita akan melakukan pernikahan ini dengan tenang dan damai," bisik Zeva menggenggam kuat tangan Selina. Selina pun melihat ke sekelilingnya, apa yang dikatakan pria yang ada di sampingnya itu benar, pria yang kini sudah sah menjadi suaminya. Selina mengangguk dan ia mengikuti langkah Zeva. Ceklek... Di dalam kamar hotel bintang lima yang elegan itu, suasana romantis langsung terasa begitu pintu terbuka. Lampu-lampu kristal yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya lembut, menerangi setiap sudut ruangan dengan kehangatan yang memikat. Di atas ranjang, seprai putih bersih tersusun rapi, dihiasi dengan kelopak mawar merah yang tersebar di permukaan, menciptakan pemandangan yang menenangkan hati. Bantal-bantal empuk disusun dengan cermat, diselimuti kain satin berwarna emas yang berkilau di bawah cahaya lampu. Di samping tempat tidur, sebuah meja kecil dengan vas kristal berisi bunga-bunga segar yang harum, menggoda penciuman dengan aroma melati dan mawar yang memanjakan indera. Di sudut ruangan, tirai sutra yang lembut menggantung, membiarkan sinar bulan menerobos ke dalam dengan cara yang halus, memberi sentuhan romantis yang sempurna. Sebuah lilin wangi diletakkan di meja samping tempat tidur, nyala api yang lembut menciptakan bayangan menari di dinding, memberikan suasana yang lebih intim dan tenang. Di seberang kamar, sebuah jacuzzi pribadi menunggu, dipenuhi dengan air hangat yang berkilau, siap menyambut kedua pengantin yang ingin merayakan kebahagiaan mereka dalam suasana penuh kemewahan. Semua elemen desain ini berpadu sempurna, seolah memeluk keduanya dalam kenyamanan dan keindahan yang tak terlupakan, menciptakan pengalaman tak hanya sebagai tempat untuk beristirahat, tetapi juga sebagai tempat di mana kisah cinta baru dimulai. Namun melihat dekorasi yang di siapkan oleh pihak Hotel dengan sungguh-sungguh itu malah membuat Selina berdecih. "Apa-apaan ini!" pekiknya. Namun ia masuk kedalam di susul oleh Zeva. Zeva mengunci pintu agar tak satu orang pun bisa mengganggu mereka. Selina yang merasa sangat kelelahan bahkan tak sadar dengan keberadaan Zeva yang ada di belakangnya, dengan gaun malam yang terbilang seksi ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke ranjang berukuran king size itu. "Ha... lelahnya," gumamnya sambil menghirup udara banyak-banyak. Zeva memasukan kedua tangannya di dalam saku sambil menatap Selina yang berbaring di atas ranjang yang sedang menatap langit-langit kamar. "Aku duluan yang mandi!" ujar Zeva dan saat itulah Selina sadar kalau ia sedang berduaan dengan Zeva di dalam kamar. Selina langsung bangkit dan menyilangkan kedua tangan di d**a menutupi dadanya sambil menatap Zeva yang sudah hilang di balik pintu kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD