"Apa yang barusan kau bilang? cantik?" tanya Selina menaikkan sebelah alisnya.
Zeva tersenyum "Ya, kau jauh lebih cantik dari tadi," jawabnya datar.
Selina menarik kursi lalu duduk dengan sedikit grasak-grusuk.
"Jadi katakan padaku apa rencana mu?" tanya Selina sedikit memajukan tubuhnya ke arah Zeva, ia bahkan mendekatkan wajahnya pada Zeva.
Zeva sedikit terkejut bahkan jantungnya berdebar kencang, ini pertama kalinya ia begitu dekat dengan seorang wanita selain Sekretarisnya, Nora.
Karena masih shock, Zeva memundurkan kepalanya agar menjauh dari wajah Selina.
Tentu saja hal itu membuat Selina kesal.
"Kenapa kau menjauh? memangnya aku bau?" tanya Selina mengecek bau nafas dan bau tubuhnya.
Kelakuan random Selina malah membuat Zeva terkekeh.
"Bukan begitu, aku hanya tidak nyaman berbicara terlalu dekat," kekeh Zeva.
Selina pun merasa malu dan kikuk karena terlalu bersemangat ia sampai melakukan hal aneh.
Selina pun kembali duduk dengan tenang ,ia bahkan menyilangkan kedua kakinya agar bisa menyembunyikan rasa malu sekaligus kikuknya di hadapan pria yang akan menjadi suaminya itu.
"Ja-jadi katakan padaku rencanamu!" ujar Selina terbata-bata.
"Aku tidak memiliki rencana apapun, kita cukup bertahan sampai pernikahan ini bisa berakhir, kau juga tidak perlu khawatir dengan Perusahaan mu karena aku tidak berniat sedikit pun merebut atau mengambil hak orang lain, justru sebisa mungkin aku akan membantu perusahaan mu, yang penting bekerja sama lah denganku dengan pernikahan bisnis ini sampai semua aset Kakek ku menjadi milikku," jelas Zeva. Ia menjelaskan dengan suara lembut dan tenang.
Selina memperhatikan dengan seksama raut wajah Zeva, entah kenapa ia tak melihat kebohongan ataupun kegugupan yang di tunjukkan oleh Zeva.
"Apa aku bisa mempercayai pria ini?" batin Selina.
Selina mengetahui betul kalau pernikahan ini adalah usulan dari Farhat, Kakek dari Zeva. Ia juga mengerti betul apa yang di maksud oleh Zeva, karena sampai saat ini Farhat belum menyerahkan sepenuhnya aset miliknya pada cucu satu-satunya itu.
Seperti pernikahan bisnis pada umumnya, seorang ahli waris hanya bisa memiliki dan mendapatkan haknya bila memenuhi syarat dari kepala keluarga atau Pemilik utama Perusahaan yang biasanya di pegang oleh orang tertua. Dan Selina tahu orang itu adalah Kakek Zeva, pria tua yang mengajukan syarat gila ini.
Setelah mendengar penjelasan Zeva, sedikit demi sedikit Selina memahami maksud dari pria itu dan sepertinya rencana pria itu tidak buruk untuk dia dan juga keluarganya.
Selina bangkit dan sedikit menggebrak meja membuat Zeva terkejut "Baiklah, ayo kita lakukan pernikahan bisnis ini!" pekiknya membuat Zeva mendelik.
Bahkan beberapa orang yang sedang berada di sekitar mereka ikut terkejut dan mengira bahwa Zeva dan Selina adalah Pasangan yang tengah bertengkar.
"Y-ya, tolong bersikap lah seperti wanita terhormat, pelan kan suaramu!" pekik Zeva.
Selina pun menggaruk kepalanya yang tak gatal karena ia baru sadar sudah melakukan sebuah kesalahan.
"Tapi aku ingin mengajukan beberapa persyaratan," sahut Selina.
"Apa?"
Selina mengambil gelas berisi anggur merah di depannya lalu meneguknya sekali tegukan. Tenggorokannya terasa sedikit kering dan ia butuh tenaga untuk menyatakan persyaratan apa saja darinya pada Zeva.
Selina menarik nafasnya dalam-dalam.
"Yang pertama, kita tidak akan melakukan hubungan seks! yang kedua, kau tidak bisa melarang ku menjalin hubungan dengan pria yang aku cintai, dan yang ketiga aku ingin kau dan Kakek mu tidak boleh mencampuri urusan Perusahaan kami! bagaimana?" tanya Selina. Mata wanita itu terlihat berbinar-binar dan penuh semangat.
"Deal !" ucap Zeva menjulurkan tangannya pada Selina.
Selina pun membalas jabatan tangan Zeva dengan penuh antusias.
Senyuman indah terukir di wajah wanita itu membuatnya terlihat lebih cantik. Zeva hanya bisa menatap wajah itu dengan bibir yang sedikit menyungging.
Ia tak menyangka kalau Selina hanya akan mengajukan persyaratan yang sangat mudah dan sederhana.
Karena rasa waspada Selina pada Zeva mulai berkurang, ia pun memesan makanan lalu mereka menikmati makanan mahal dan mewah itu dengan khidmat.
Setelah selesai menikmati makanannya, Selina pun melemparkan kartu blackcard-nya miliknya pada Zeva.
"Nih, aku saja yang membayar makanan dan minuman kita," ujar Selina dengan nada ketus.
Zeva tersenyum tipis lalu mengambil black card milik Selina yang ada di depannya lalu mendorongnya dengan jari telunjuk ke arah Selina.
"Aku saja yang membayarnya, aku tidak akan membuat orang yang sedang kesulitan keuangan membayar makanan mahal begini," jawab Zeva menyeringai.
Selina mengepalkan kedua tangannya "Walaupun kami sedang dalam kondisi tidak baik, kami masih memiliki banyak uang! kalau begitu kita bayar masing-masing aja!" pekik Selina dengan wajah kesalnya. Ia mengambil black card miliknya lalu berjalan ke arah meja Kasir.
Zeva hanya bisa menggeleng-geleng kepalanya menatap Selina yang makin menjauh darinya "Wanita ini kelihatan seperti wanita bar-bar, seharusnya wanita yang datang dari keluarga terpandang bisa bersikap lebih lembut dan anggun kan?"batin Zeva menyeringai.
Walaupun ia sedikit kesal dengan sikap Selina, Zeva tetap berdiri dan mengikuti Selina.
Selina yang sudah berada di depan meja kasir langsung menyerahkan blackcard-nya pada Kasir.
"Maaf Nona, tapi seluruh makanan dan minuman sudah dibayarkan oleh Tuan Farhat selaku orang yang melakukan reservasi di Restoran kami," ujar sang Kasir.
Selina mengernyitkan dahinya "Begitu ya," jawabnya.
Kasir itu mengangguk.
Selina pun terpaksa memasukkan kembali blackcard-nya kedalam tas branded yang ia tenteng.
Selina memutar tubuhnya lalu melihat keberadaan Zeva yang ada di belakangnya.
"Kenapa kau mengikuti ku sampai ke sini? kau kan bisa langsung pulang!" ujar Selina sedikit ketus.
"Kau bawa mobil?" tanya Zeva.
"Ya," jawab Selina singkat dan datar.
"Dengan Supir?" tanya Zeva lagi.
"Tidak! aku menyetir sendirian," jawab Selina.
"Kalau begitu aku akan mengantar mu sampai ke Kediaman, aku harus memastikan calon istriku sampai dengan selamat," ujar Zeva.
"Tidak perlu, aku adalah independen women, aku terbiasa melakukan apapun sendiri, gak usah sok perhatian!" pekik Selina menyilangkan kedua tangannya di d**a.
Zeva mendengus kesal "Baiklah kalau begitu," ujar pria itu pergi meninggalkan Selina.
Melihat sikap acuh Zeva membuat Selina membeku "Tadi katanya mau antar aku, begitu ku tolak kau langsung pergi, dasar munafik!" pekik Selina.
Ia pun melangkah mengikuti Zeva yang hendak keluar dari Restoran.
Zeva langsung masuk ke dalam mobil yang ia kendarai sendirian lalu meninggalkan pelataran Restoran tanpa menyapa Selina yang masih berdiri di depan pintu masuk Restoran.
"Pria menyebalkan!" umpat Selina.
Ia pun berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir lalu masuk ke dalam mobil dan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.
Dia sudah memutuskan untuk menikahi Zeva, apalagi ia sudah memastikan kalau pria itu tidak memiliki niat buruk.
Selina tak sabar ingin tiba di rumah dan menyampaikan kabar ini pada kedua orang tuanya, ia juga yakin setelah melakukan tugasnya sebagai anak dan menyelamatkan Perusahaan dari kebangkrutan, kedua orang tuanya pasti akan merestui hubungannya dengan Ammar, sang Supir pribadi.