Tante Girang

1039 Words
"Kenapa ekspresi pria ini datar? apa dia tidak kaget melihat penampilanku yang aneh ini?" batin Selina yang sudah salah tingkah. Restoran tempat mereka bertemu kali ini bernama "La Vie En Rose", sebuah tempat makan yang terletak di pusat kota yang merupakan cabang Restoran La Vie en Rose yang berada di Saint-Andre-de-la-Marche, Perancis. Dan dikenal karena keanggunan dan keeleganan suasananya. Ketika Selina memasuki restoran, ia langsung terpesona oleh keindahan yang ada di sekitar karena ini pertama kali baginya datang ke Restoran yang menggunakan tema romantis dan konsep fine dining. Konsep fine dining adalah gaya makan yang formal dan mewah, dengan pelayanan yang berkualitas tinggi. Restoran fine dining sering dikaitkan dengan haute cuisine, yaitu gaya memasak yang menggunakan bahan-bahan berkualitas tinggi. Lampu-lampu gantung yang mewah dan elegan menerangi seluruh ruangan, membuatnya terlihat seperti sebuah istana. Meja-meja yang tertata rapi dengan kain putih yang bersih dan vas bunga yang indah, menambah kesan romantis pada suasana. Suasana di restoran itu sangat tenang dan damai, hanya diiringi oleh suara musik klasik yang lembut dan suara sentuhan sendok dan garpu pada piring. "Silahkan duduk Nona Altezza," ujar Zeva datar. Namun ia tetap berdiri menyambut kedatangan Selina. Selina mengangguk. Ia menarik kursi meletakkan tas branded miliknya di atas meja lalu duduk dengan anggun. "Anda ingin makan apa?" tanya Zeva kembali duduk di kursinya. Pria itu tak menunjukkan ekspresi apapun bahkan terkesan datar dan dingin. "Saya tidak ingin makan apapun, kita langsung ke intinya saja! apa niat kalian mengajukan syarat gila seperti ini Ha!" bentak Selina. Suaranya yang tadi lembut tiba-tiba sedikit meninggi. Zeva tersenyum. "Tenang dulu Nona, tarik nafas dalam-dalam lalu bicaralah dengan tenang," ledek Zeva. Selina mengepalkan kedua tangannya di atas meja dan Zeva dapat melihat hal itu dengan jelas. Ini bukan kali pertama Selina bertemu Zeva dan ia cukup mengenali pria ini. Zeva terkenal datar dan dingin. Pria itu juga jarang terlihat berbicara dengan orang lain. Suaranya terdengar hanya saat melakukan persentasi di depan Klien. "Aku tidak ingin menikah denganmu karena aku mencintai pria lain! jadi tolong batalkan pernikahan ini dan bilang pada Kakek Anda untuk berhenti bermimpi penyatuan Perusahaan kita!" pekik Selina dengan penuh percaya diri. Ia bahkan beberapa kali mengibaskan rambut panjangnya. "Kalau saja aku bisa membatalkan pernikahan ini," batin Zeva mengeryitkan dahi. Ia malah teringat pada sang Kakek yang kejam dan jahat. Zeva juga sudah cukup mengenal Selina, karena beberapa kali mereka semeja untuk memperebutkan Klien ataupun Investor. Zeva tahu penampilan Selina selama ini seperti apa. Melihat riasan wajah Selina yang berlebihan malam ini terlihat jelas kalau wanita itu sengaja dan dia pun berusaha untuk tidak terlalu menanggapi. "Mari buat kesepakatan!" tegas Zeva. Matanya yang tajam menatap Selina dengan intens membuat wanita itu sedikit gugup. "Tidak ada kesepakatan! aku tidak mau menikah! aku memiliki Kekasih yang sangat aku cintai, memangnya kau tak punya Kekasih?" balas Selina dengan nada suara yang tak kalah tegas. Selina sering melihat kedekatan Zeva dengan seorang wanita yang selalu mengekori pria itu kemanapun ia pergi. Selina tahu kalau wanita cantik yang selalu mengikuti Zeva itu adalah Sekretarisnya. Zeva terkekeh "Aku tidak peduli dengan Kekasihmu! dan aku tidak punya waktu untuk mencintai wanita mana pun, tapi pernikahan ini harus tetap terjadi." jawab Zeva dengan nada ketus. Entah kenapa dia mulai terpancing emosi karena Selina sulit di ajak bekerja sama. Apalagi nada bicara wanita itu terdengar ketus dengan suara yang terus meninggi. "Tapi aku tidak-" "Hentikan perdebatan ini! aku akan pergi dan mengatakan pada Kakek ku kalau aku akan tetap menikahi mu kalau kau terus bersikeras! bila perlu kita majukan saja waktu pernikahannya!" potong Zeva. Pria itu bahkan sudah bangkit dan hendak meninggalkan Selina. "Tunggu!" pekik Selina. Ia menarik lengan Zeva yang hampir saja melewati tubuhnya. Zeva menundukkan kepalanya menatap Selina. "Me-memangnya kesepakatan apa yang ingin kau ajukan?" tanya Selina terbata-bata. Jujur ia juga tak bisa menolak pernikahan secara sepihak demi Papa dan Perusahaan yang nasibnya sudah berada di ujung tanduk. Zeva pun menghela nafasnya, akhirnya wanita keras kepala di hadapannya ini bisa di ajak bicara dengan kepala dingin. Zeva kembali duduk dan menatap Selina dengan seksama. "Mari kita lakukan pernikahan ini untuk memuaskan hasrat mereka para Tetua, jalani sebisa dan selama mungkin, sampai saatnya tiba kita akan bercerai dan melanjutkan hidup kita masing-masing," jelas Zeva. Hanya itu yang bisa ia katakan karena tak mungkin Zeva menceritakan niat buruk sang Kakek pada Keluarga Altezza. "Kau pikir aku percaya padamu begitu saja!" ketus Selina. Lagi-lagi Zeva menghela nafasnya, kali ini lebih kasar. Ternyata berbicara dengan wanita yang ada di hadapannya ini tak semudah itu. Zeva sedikit kagum karena Selina bukan wanita sebodoh itu. "Dia lawan bicara yang tangguh!" batin Zeva. Namun ia sedikit terusik karena orang-orang yang menikmati makan malam di sekitar mereka terus berbisik-bisik. Sepertinya itu karena riasan Selina yang aneh. "Siapa namamu dan berapa usiamu?" tanya Zeva. Selina mendelik "Sialan! dia tidak tahu namaku? padahal aku tahu namanya!" gerutu Selina dalam hati. "Kenapa kau menanyakan hal itu?" tanya Selina ketus. "Sebaiknya sekarang kau ke Toilet, hapus dulu riasan memalukan mu itu, aku seperti sedang berbicara dengan Tante girang!" sindir Zeva. Selina melotot "Kau!" "Kenapa? apa yang aku katakan salah? riasan mu aneh dan menggelikan, kau seperti wanita berumur 50 tahun saja!" pekik Zeva. Selina mengepalkan kedua tangannya lalu bangkit dan beranjak pergi ke Toilet. Setelah Selina pergi, Zeva hanya bisa menyunggingkan bibirnya "Dasar wanita aneh! kau ingin membatalkan pernikahan dengan cara murahan begitu," batinnya. Di dalam Toilet, Serena terus menggerutu sambil membasuh wajahnya. "Dasar b******n b******k! aku sudah menduganya kalau pria itu bukan pria yang baik, bahkan mulutnya itu mengeluarkan kata-kata sepedas cabai setan!" umpat Selina terus mengomel sambil membasuh wajah sampai riasan noraknya terhapus semua. Kini wajah Selina terlihat lebih alami, natural dan pastinya jauh lebih cantik. Selina mengikat rambutnya yang tergerai. "Kesepakatan apa sih yang dia maksud? sebenarnya apa yang di rencanakan pria itu dan keluarganya!" batin Selina. Selina ingin memakai setidaknya lipstik agar wajahnya tidak terlihat pucat, sialnya karena terpancing emosi ia terburu-buru ke Toilet tanpa membawa tas. "Ha... sudahlah! aku harus kembali menemui si Zeva, lalu menanyakan apa rencananya," batin Selina. Ia pun kembali ke meja dimana Zeva sedang menunggunya. Selina menarik kasar kursi lalu duduk kembali berhadapan dengan Zeva. Zeva yang sedang asyik memainkan gawainya mendongakkan kepalanya menatap wajah natural Selina. Matanya membola karena kagum dengan kecantikan Selina tanpa riasan. "Cantik," gumamnya pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD