Biarpun Jacob tidak terus terang kalau dirinya bengek, Ribka sudah tau duluan apa yang sedang dialami Jacob ketika ada di dalam barisan. Ribka tertawa geli lagi, lalu ia mendekatkan dirinya ke Jacob. “Kalau lo gak kuat bertahan dalam situasi yang buruk seperti itu, lebih baik gak usah ikut-ikutan. Gak usah kebanyakan gaya,” tutur Ribka dengan halus, namun menyayat hati Jacob.
Jacob menelan ludahnya, yang kini terasa pahit. Jacob menunduk karena tidak ingin berucap sepatah kata pun. Ribka yang tidak mendapatkan hal yang diinginkannya itu, dan Jacob juga tidak penting buatnya, segeralah ia meninggalkan Jacob.
Jacob memandang perempuan dengan rambut sebahu itu dengan rinci, langkah demi langkah yang dimiliki Ribka dicoba Jacob untuk dihapalkan. Bahkan, Jacob sudah merekam paras dan suara nada yang ada di diri Ribka. Jacob menampilkan senyum kecilnya sembari langkah Ribka terus melangkah menjauhinya.
“Keras kepala, kuat, dan perhatian… tiga sifat yang langsung gue tau dalam sehari,” batin Jacob dengan perasaan asmara yang bergebu-gebu. Jacob tidak akan melupakan hari ini, hari dimana dirinya dan Ribka bercengkrama cukup dekat, bahkan kontak kulit secara langsung.
‘Hmm, kalau bisa gak mandi, gue gak bakal mandi nih biar bekas genggaman tangan Ribka nempel terus di tangan gue,” Jacob mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya, dibolak-balikan telapak dan punggung tangannya. Dilihatnya, dirabanya, dan senyuman itu terus berkembang lewat bibir tipis Jacob.
“Woy!” Ardin menepuk pundak Jacob yang masih meliuk-liukan tangan kanannya di udara. Sontak saja Jacob membalikan suara dan mengenali suara itu, “Ardin?” balas Jacob.
“Lo ngapain di sini? Lo gak ngelihat acara di lapangan? Seru banget…… sambil cuci mata, hihihi,” kata Ardin yang memang demen melihat perempuan cantik yang mondar-mandir.
Jacob menggeleng, “gue udah coba, yang ada gue rebutan oksigen di dalam barisan itu.” sepertinya Jacob tidak mau mengulang hal kedua kalinya.
“Terus, lo gak mau dua kali? Eh Jac, lo bisa kehilangan kesempatan buat kenalan sama—”
“Sssttttt!” Jacob menghentikan omong kosong Ardin itu dengan menaruh jari telunjuk di depan bibir Ardin. “Gue beda sama lo, gue gak tertarik sama acara begituan, sudah cukup gue kejepit sampai bengek di sana.”
“Lagian, gue bakal suka sama perempuan yang jalan di atas karpet itu, gue tetap memegang teguh pendirian untuk mendapatkan Rib—” untung saja Jacob bisa menjaga rahasianya sendiri, dan cepat-cepat menghentikan ucapannya.
Ardin melirik telunjuk Jacob dan ditepisnya. “Jangan sok kecakepan mentang-mentang pesona lo mirip orang Barat, padahal mah lo Jowo!”
“Terserah lo deh. Eh, by the way lo ada lihat Wira gak hari ini?” tanya Jacob.
“Huffffft,” Ardin menghela napas. “Dia lagi, dia lagi, lo udah tau kan jawaban gue gimana? Yang pasti gue udah gak ada urusan sama Wira!” Ardin melangkahkan kakinya menjauhi Jacob yang masih duduk di atas tandu.
Bisa-bisanya Ardin masih menyimpan dendam pada Wira, sobat yang ia kenal selama 3 tahun lamanya. Jacob memikirkan cara bagaimana untuk membuat Ardin dan Jacob baikan seperti sedia kala, tanpa ada perselisihan. Rupanya, di atas tandu itu juga Jacob bertindak menggunakan otaknya dan membuat sebuah rencana. Karena dirasa Jacob lama sekali mikir, perempuan berjas putih yang tadi memberinya inhaler, menegurnya.
“Mas, mas, tolong minggir dulu ya, ini ada yang pingsan mau pakai tandunya,” perempuan itu sudah menggotong satu orang laki-laki yang pingsan.
Toengggg! “Oh iya, iya maaf, silakan, silakan,” Jacob bergegas berdiri dan membiarkan beberapa tim medis merebahkan laki-laki itu.
***
Pintu kantin kampus masih terbuka setengah, ketika jam dua belas siang. Padahal, pukul setengah dua belas, semua warung harus segera tutup. Namun, karena Wira memesan tiga puluh lima porsi untuk teman sekelasnya, jadilah warung kantin belum tutup seluruhnya. Tampak canda suka cita mewarnai wajah-wajah teman sekelas Wira ketika diberi tahu bahwa Wira mengadakan traktiran kecil-kecilan.
Seluruh meja yang ada di kantin dipesan habis, dan dijajah oleh teman-teman Wira. Hanya saja, Wira seorang diri memilih duduk di kursi pojok yang di depannya ada jendela. Kalau di luar lihat pemandangan asri sih gak apa-apa, lah ini hanya kelihatan tembok besar yang berlumut.
“Eh, eh, Wira kenapa melongo di sana dari tadi, ya?” bisik teman perempuannya dari kursi seberang, bersama teman sebelahnya.
“Gak ngerti, udah gitu tatapannya kosong…. Gue takut deh kalau lama-lama…..”
“Wira kesurupan, karena kan di situ tempat kosong. Lo paham kan kalau seorang diri melamun gak jelas, itu tandanya…….”
Mereka saling menatap satu sama lain ketika bulu kuduknya sama-sama berdiri tegak. Beberapa teman perempuan yang menghebohkan tingkah laku Wira di pojok sana, jadi parno sendiri. Bulu kuduk mereka tiba-tiba saja berdiri dan enggan ditidurkan kembali.
“Sudah, sudah, daripada kita ikutan kesurupan, mending nikmatin Siomay gratisan aja dah!” tiga buah mangkok Siomay pesanan ciwik-ciwik manja itu mendarat juga di atas mejanya.
***
“Permisi, permisi!” Ribka menyusuri kembali barisan menjengkelkan itu untuk mencari Lusi. Karena ada Jacob yang kesulitan napas ketika masuk ke barisan, Ribka menerka bahwa akan terjadi hal serupa pada Lusi. “Hmm, Lusi mana ya…” mata Ribka fokus mengamati satu per satu penonton yang masih bersorak bahagia itu.
Jleb! Barisan depan yang tadinya tempat Lusi berdiri, ternyata sudah tidak ada Lusi di sana. Namun, kontes seraya berlangsung walaupun hanya ada tiga perempuan di atas panggung. “Lho!?” seru Ribka ketika tidak mendapati teman yang ia cari.
Ribka terus mencari keberadaan perempuan berbadan gempal itu, ia tidak ingin hal tidak beres terjadi padanya. Ribka yang pertama kali menolong Ribka dari laki-laki yang tidak dikenal, kini Ribka siap menolong Lusi kembali jika diperlukan.
“Hahahahahhaha!” seru tawa dari seorang perempuan yang sangat diingat Ribka.
“Ah! Itu kan suara Lusi!” respon Ribka saat ketawa itu masih terdengar di telinganya.
“Ribka! Ribka! Ribka!” suara Lusi memanggil Ribka yang sedang celingak-celingkuk kayak anak nyariin Mamak-nya di Mall. “Gue di sini!” Lusi melambaikan tangannya plus senyuman terlukis di wajahnya.
“Hufffttttt! Lusi, Lusi!” Ribka menghela napas mengetahui Lusi sudah duduk di atas trotoar sebelah kanan lapangan.
Ribka membalass senyuman itu pun langsung mendekat. Akan tetapi, langkah Ribka terhenti saat ada perempuan lain yang duduk di samping Lusi, dan itu Mona. “Aisssss, bête banget gue kalau harus deket-deket sama perempuan itu lagi!” batin Ribka mengamati gelagat Mona yang dirasanya sok cantik itu.
“Ayok, sini! Ngapain kamu diam di situ, Ribka?” Lusi kembali melambaikan tangannya.
Demi ke-professionalitasan pertemanan, Ribka lanjut jalan aja deh walau dirinya muak dengan perempuan berhidung mancung itu, Mona.
“Ribka, kenalin, ini Monalisa,” Lusi menjulurkan tangan Mona ke Ribka. Namun, tiba-tiba saja Mona menepis.
“Lo kenal dia, Lus?” Mona malah melempar pertanyaan, bukanya salaman terlebih dahulu.
Lusi menatap wajah Mona, “iya, gue kenal dia. Ini namanya Ribka, dia jago banget silat sampai-sampai laki-laki gedek sama dia,” Lusi berkata jujur.
Mona terkekeh. Menatap kembali perempuan yang pernah membuat hatinya jengkel ketika di parkiran kampus. “Lo masih ingat gue, gak?” kali ini Mona melempar pertanyaan pada Ribka.
“Ya masih dong! Apalagi ngingetin peristiwa yang tidak mengenakan di parkiran motor waktu itu,” Ribka menjawab sambil membuang muka.
“Oh ternyata lo masih ingat juga. Gimana, pasti anggota komunitas lo sepi banget kan? Ya itu sudah gue tebak sih semenjak attitude lo yang gak sopan tempel-tempel brosur di motor gue!”
Ribka mengangkat dagunya, “dih! Maksud lo apa?! Lo masih gak terima gitu?!”
“Bukannya gak terima ya, gue mau mengeluarkan unek-unek aja sih. Gimana dong, beneran sepi kan yang ikut? Atau.. malah gak ada yang ikut sama sekali?!”
Tangan Ribka yang mengepal itu tiba-tiba saja ingin menonjok wajah Mona yang masih berbalut make up. Namun, untungnya saja tidak sampai mengenai Mona lantaran Lusi menahannya. “Stop! Stop! Kalian berdua sepertinya tidak baik-baik saja nih, ayo baikan baikan!” Lusi si peace lover itu menyuruh Ribka dan Mona diam. Hanya berselang dua belas detik, Mona dan Ribka ternyata ribut lagi.
“Lo mau cari masalah lagi ya sama gue?!” kata Mona dengan wajah yang sinis.
“Lo duluan ya yang cari masalah! Ngapain coba ungkit-ungkit yang lalu! Gak penting. Atau, emang lo gabut ya suka bahas yang gak penting?!” balas Ribka tak kalah sinisnya.
“Eh, mikir ya Ribka, lo itu baru aja mau menghancurkan wajah gue yang mehong ini. Lihat nih lihat! Wajah gue glowing mempesona dan tiap bulan pasti laser lho gue! Gak kayak lo yang hmm…..” Mona mengangkat wajah Ribka, diliriknya setiap sudut wajahnya, yang dipenuhi jerawat setengah matang. Ya elah kayak telor aja setengah matang, hahaha.
“Jerawat lo banyak banget, gak pernah dirawat, ya?!” ungkap Mona yang mengecilkan senyumnya.
Bahas soal dunia per-mukaan, nyali Ribka langsung ciut. Ia menunduk, wajahnya yang memiliki jerawat menahun sekian tahun ini, menguburkan kepercayaan dirinya. Anehnya, trotar itu tiba-tiba menampilkan wajah Ribka yang sedang teriak-teriak saat beberapa jerawat di wajahnya matang semua.
“Diem lo diem!” Ribka mulai geregetan. Ia mundur tiga langkah, telunjuknya menunjuk ke arah Mona. “Lo jangan sok kecantikan gara-gara lo menang dalam sisi paras ya, tapi ingat! Biarpun wajah lo mirip Asian Next Top Models—“
“Ketinggian, Indonesian Next Top Models aja kali,” sahut Mona watados.
“Ya serah lo ya Mon! ingat pesan gue, sesuatu yang lo jaga dengan kesombongan, bakal hilang dalam sekejab! Apalagi persoalan wajah doang, bertahun-tahun yang akan datang pun lo bakal tua, keriput, kendur, ah begitulah…..!” terang Ribka yang tak terima jerawatnya dilirik-lirik.
Mona senyum kecut, “gak mungkin! Duit gue kan banyak, gue bisa perawatan gak kayak lo—“
Ribka mencoba mencakar wajah Mona, kekesalahannya memuncak karena Mona mengagungkan apa yang ia miliki dan merendahnya Ribka. Untungnya lagi-lagi, Lusi berhasil menangkis tangan Ribka yang ingin mendarat di wajah Mona itu.
“Thanks ya Lus!” bisik Mona ke Lusi.
“Tenang, kalian berdua tenang dulu ya. Ini hanya kesalahanpaham anak-anak baru dewasa saja. Gini… gini.. gue tau kalian punya cek-cok yang kurang berkenan di hati kalian masing-masing. Tapi, ayo dong bersikap dewasa dengan hal itu. Kalian sudah dewasa, harusnya gak perlu merendahkan satu sama lain, atau menggunakan kekerasan untuk menumpahkan sebuah kekesalan,” terang Lusi sambil melirik Mona dan Ribka secara bergantian yang tampaknya memperhatikan tiap detik kata yang dilontarkan Lusi.
“Sampai sini, kalian paham?” tanya Lusi kembali ke keduanya.