Baru saja lima menit Lusi melontarkan siraman rohani pada Mona dan Ribka, Mona semakin memasang wajah masam ke Ribka. Bibir ujungnya dinaikan sedikit, karena tidak suka juga dengan gelagat Ribka.
“Heh! Kenapa wajah lo makin gak enak gitu?” ketus Ribka.
“Entah..” balasnya singkat dibubuhi keketusan pula.
Musik yang tadinya berhenti setengah, kini berderu kembali dengan irama lagu yang berbeda judul. Pasukan penonton kembali berdiri dan memadatkan lokasi acara di paling depan.
Baik, terima kasih teman-teman semua yang sudah meluangkan waktunya untuk menghadiri acara pada hari ini. Semoga kedepannya Majalah Wajah Indonesia akan selalu melekat di hati kalian. Sekarang, waktunya kita akan mengumumankan siapa model yang ter-photogenic, terfavorit dan terbaik pada hari ini. Dimohon seluruh model untuk kembali ke backstage.
Mona mengangkat roknya yang cukup panjang itu, walaupun masih terseret seret trotoar. “Daripada gue ladenin orang kayak lo! Waktu gue terbuang sia-sia. Udah ya, gue kan model terkenal, gak punya waktu buat ngobrol sama lo!” kata Mona dan perlahan mengikuti arahan seorang presenter yang ada di atas panggung.
Ribka memandang pundak Mona yang menjauh, ia melipatkan tangannya. “Lo kok mau berteman sama orang sombong macam dia, sih?!” tanya Ribka ke Lusi yang diperhatikan sangat dekat dengan Mona.
“Kita beberapa kali quality time. Dan, gue merasa nyaman aja ngobrol sama Mona,” jelas Lusi.
“Lo gimana sih? Kok nyaman ngobrol sama orang kayak gitu? Lo liat sendiri kan betapa ia sinis ke gue, gitu lo masih mau berteman sama dia?” Ribka menaiki nada bicaranya karena merasa tidak sepihak dengan Lusi.
Lusi terkekeh, “lo dan Mona itu hanya salah paham aja. Paling bentar lagi juga baikan, atau bahkan menjadi teman yang tak terpisahkan, hihi.”
“Ngaco lo ya! Gak mungkin. Udah ah, kita makan di kantin yok?” perut Ribka yang sedari tadi berbunyi, ternyata mengkode untuk diisi makanan.
“Gue mau liat Mona tampil, soalnya—”
“Halah, udah nanti aja. Besok besok juga masih ada acara ini kok. Cepetan deh nanti kantinnya tutup!” Ribka menarik tangan Lusi. Ribka yang cenderung kurus, namun bisa menarik Lusi yang memiliki berat lebih dari dirinya. Mau tidak mau, Lusi terseret dan harus mengikuti Ribka ke kantin.
***
Makanan dan minuman pesanan Wira yang beberapa puluh menit lalu dipesannya, sudah terpampang di atas mejanya. Namun, Wira yang dipikirannya hanya termenung, makanan dan minumannya itu tidak tersentuh. Tembok tinggi berlumut yang ia tatap, kini jadi pengobat hati. Loh kok bisa? Mana saya tau, saya kan ikan.
“Gimana caranya supaya Ardin mau maafin gue, ya?” pikir Wira.
Wira mengingat kejadian berkali kali saat dirinya dicuekin, dimarahi, dan dijutekin sama Ardin. “Ternyata, gak enak ya digituin sama teman yang bertahun tahun bareng, hanya soal perempuan. Padahal, bukan guenya yang salah. Tapi, Mona tuh ih!” geregatan masih tertanam di hati Wira pada Mona yang terus mengejarnya beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, Lusi dan Ribka memasuki kantin yang masih dipenuhi teman-teman dari Wira. Namanya juga anak gossip, kalau makanan dan minuman sudah habis, pasti gossip manja yang jadi acara selanjutnya. Melihat tidak ada kursi dan meja yang kosong satu pun, Ribka menghela napasnya panjang.
“Bisa bisanya tidak ada kursi yang tersisa. Mana perut gue lapar banget lagi!” gumam Ribka sambil memegangi perutnya yang selama perjalannya krucuk krucuk mulu.
“Haha, gimana kalau kita pesan makanan aja sambil nunggu salah satu diantara mereka ini pergi,” usul Lusi yang perutnya juga kelaparan.
“Boleh boleh!” Ribka dan Lusi pun menuju meja pemesanan dan membaca daftar menu satu per satu.
Setelah itu, Ribka dan Lusi memastikan lagi kira kira mana meja dan kursi yang akan kosong sebentar lagi.
“Kayaknya mereka semua betah deh di sini,” bisik Ribka yang sudah negative thinking.
“Sabar, kita tunggu aja dulu, lagian pesanan kita juga belum siap, kan,” balas Lusi yang membuat Ribka mingkem.
“Neng, ini pesanannya, ya,” kata seseorang pelayan yang membawakan makanan dan minuman pesanan Ribka dan Lusi di atas nampan.
“Oh iya, terima kasih,” kata Lusi yang mengambil alih nampan itu.
“Betul kan dugaan gue, gak ada meja dan kursi yang kosong,” Ribka membenarkan pernyataannya.
“Eh, gue punya ide deh,” bisik Lusi.
“Apa?” tanya Ribka.
Lusi melirik meja dan kursi yang paling besar, yang letaknya di paling pojok kantin. Di tempat itu, ada seorang laki-laki yang bengong meratapi nasib di dekat jendelanya. Lusi pun memberi kode pada Ribka. Rupanya, Ribka sudah paham saja biarpun tidak dijelaskan secara detail. Akhirnya, Ribka dan Lusi pergi menghampiri laki-laki yang dikenalnya, Wira.
“Ehem!” Ribka sengaja berdeham untuk membuyarkan lamunan Wira. Dan ternyata, perlakuan itu tepat.
Wira langsung berdiri ketika melihat Lusi dan Ribka berada di depannya. “Mau ngapain lo? Mau mukul gue lagi?!” ternyata Wira sudah parno duluan.
“Ahahaha,” Ribka geli melihat wajah Wira yang sawan seperti itu. “Lo kok mikir yang aneh aneh sih sama gue. Kali ini kedatangan gue ke sini baik, kok,” Ribka melembutkan bicaranya. Lusi di sampingnya hanya diam lempeng yang penting Ribka bisa mendapatkan tempat duduk itu.
“Apa?!” ketus Wira.
“Kan di meja ini yang paling besar tuh, dan hanya terisi sama lo doang. Kebetulan di meja samping sana penuh banget tuh, jadi—”
“Gak usah banyak cin cong ya. Lo mau ngerebut meja gue, gitu?” balas Wira.
Ribka pun menjentikan jarinya, “Nah! Anak cerdas, lo ngerti aja maksud gue, hahaha, buruan,”
Wira yang masih menyimpan dendam kesumat pada Ribka karena kakinya pernah terkilir, ingin sekali mengadu mulut. Namun, setelah dilihatnya Lusi yang berada di samping Ribka, sepertinya niat itu perlahan mulai pudar. Wira melirik perempuan yang akhir-akhir ini mengetuk hatinya ceileh. Lusi membawa dua porsi makanan dan minuman di atas nampan, yang ukurannya lumayan besar. Meskipun Lusi memiliki tubuh yang lumayan gemuk, entah mengapa dirinya getar getar memegang nampan itu.
“Ya udah sono!” Wira menunjuk kursi yang ada di depannya. Karena, Wira tidak tega melihat Lusi yang gemetar memegang nampan. “Daripada Lusi pingsan, kan gue yang repot. Mana klinik sudah tutup lagi,” batin Wira yang akhirnya memberikan tempat pada Lusi dan Ribka.
“Lo ngapain sendirian di sini? Mau mikir gimana caranya dapatin cewek, ya?” Ribka sok kenal.
“Ya kali gue mikirin gituan sambil meratapi tembok. Gak masuk akal, sih,” ketus Wira.
“Mungkin aja, kan setiap orang punya cara berpikir sendiri,” kata Ribka yang tidak direspon Wira lagi.
“Lo Wira, kan?” tanya perempuan di samping Ribka yang nadanya lebih lembut, Lusi.
“Iya,” jawab Wira tidak sambil memandang Lusi.
“Kalau diajak ngobrol sama orang, dilihat dong matanya. Kayak gitu gak sopan, tau,” nasihat Lusi masih dengan nada lembut.
Wira yang pikirannya masih berantakan soal Ardin itu, spontan mengabulkan permintaan Lusi. Wira melirik mata yang dimiliki oleh Lusi, cokelat terang. Wajah Lusi yang berbentuk bulat berhidung mancung, kini jelas sekali dimata Wira. Saat makan bersama Mona dan Lusi, Wira tidak sedetail itu memandang paras perempuan yang dikaguminya. Lucu, imut, cerdas, dan lemah lembut. Pasti Wira bakal selalu bersahaja jika dekat dengan Lusi.
“I.. i… i.. iya, benar,” ternyata tatapan Wira dibalas tajam pula oleh Lusi. Dan, tampaknya Wira menjadi gaguk.
“Gue minta maaf sekali lagi atas kesalah pahaman di koridor kampus. Dan, gue rasa lo baik juga orangnya,” ungkap Lusi sambil tersenyum.
“Te.. ter.. terima kasih, ya,” lagi-lagi Wira gagap.
“Lo kenapa ngomongnya terbata bata gitu?” tanya Ribka yang mengamati langsung percakapan itu.
“Eng.. enggak. Ini efek lapar, kok!” Wira menutupi kesalah tingkahannya itu dengan meraih makanan yang telah mendingin. Satu gigitan burger yang dipesannya itu, membuat dirinya lebih tenang.
Begitu pula dengan Lusi dan Ribka, yang melanjutkan makannya. Tak lama kemudian, ponsel milik Lusi berdering di dalam tasnya. “Halo?” sapa Lusi.
“Lo di mana?” tanya seseorang dibalik telepon, Mona.
“Di kantin, lo sendiri di mana?”
“Masih di lapangan nih, emangnya kantin masih buka?”
“Masih kok, nih buktinya gue makan,”
“Ya udah, gue ke sana sekarang deh, kebetulan gue lapar juga. Tungguin ya, jangan pulang duluan,” pesan Mona dan dikabulkan oleh Lusi.
Setelah menerima telepon, Lusi kembali melanjutkan makannya.
“Siapa yang nelpon, Lus?” Ribka kepo.
“Biasalahhh,” jawaban Lusi tak memberikan jawaban.
Ribka yang terlanjur malas melanjutkan, memilih diam. Perempuan bergaun putih panjang itu berdiri di depan pintu kantin. Seluruh mata yang berada di dalam kantin, terutama teman teman Wira itu menatap penuh kekaguman pada perempuan itu, Mona. Mona memberikan senyuman pada setiap orang yang memandangnya. Berasa masih di atas panggung, Mona ikut melambaikan tangannya. Make up yang selaras dengan bentuk wajahnya itu, menambah kecantikan yang ia miliki. Monalisa, model Majalah Wajah Indonesia.
Mona melangkah masuk ke kantin, beberapa orang yang sungguh terkagum itu langsung menyalaminya. Tidak segan segan Mona meminta sesuatu hal. “Gue kasih salaman sama tanda tangan, tapi lo follow i********: gue, ya?” kata Mona.
Permintaan itu sangat mudah, akhirnya dikabulkan oleh para fans dadakannya. Riuh suasana membanjiri kantin yang sedari tadi dipenuhi teman-teman Wira. Tidak dapat dipungkiri, para laki-laki disitu pun membuat sebuah kesepakatan, siapapun yang bisa mendapatkan Mona, ia akan ditraktir anak kelas selama sebulan. Buset dah, Mona udah jadi bahan taruhan aja, Sh*t!
“Mon! Gue di sini!” Lusi menyapa Mona sambil melambaikan tangannya.
Mona yang sangat mengenal sosok Lusi, langsung berniat menghampiri. Sejenak, Mona lihat di pojok sama sudah ada Wira dan Ribka pula. “Satu orang yang gue keselin, dan satu orang yang gue incer ada dalam satu meja, hahaha,” batin Mona.
Sembari Mona menuju Lusi, jantung Wira berdegup lebih kencang dari semula. Tangan dan kakinya seolah mendingin, dan bibirnya terasa kaku ketika menggigit burger untuk yang ke sekian. Dan, Wira pun berbisik pada hatinya, “drama apa lagi yang akan Mona lakukan ke gue selanjutnya?”