Perjanjian

1657 Words
Perempuan yang tujuh hari terakhir ini terus mengusik hidup Wira, kini meletakan dirinya tepat di samping kanan Wira. Seluruh pemilik mata yang ada di kantin itu, menatap penuh keanehan ketika Mona, si model yang sedang naik daun ini duduk di samping Wira. Dan kini, Wira duduk di antara tiga perempuan, Mona, Ribka dan Lusi. Wira mencoba menggeser duduknya ke kiri, namun sayangnya sudah mentok ke tembok. “Kak Wira?” sapa Mona penuh kesenyuman yang bersahaja. “Iya?” balas Wira yang tidak memandang wajah Mona sama sekali. Wira pun kembali fokus dengan burger yang belum habis itu. “Apakah Kak Wira sudah lama ngumpul sama Ribka dan Lusi?” seperti biasa, Mona demen membuka pembahasan ke Wira. “Gue yang lama di sini, mereka berdua baru aja,” jawab Wira seadanya. “Lus, lo kok pinter banget sih pilih tempat makan? Hmm, gue dan Kak Wira jadi ketemu, kan,” nada Mona merayu ke Wira, dan membuat Lusi terkekeh. “Haha, gak ngerti juga nih, tiba-tiba aja waktu datang ke kantin ya cuma meja ini aja yang kosong,” balas Lusi. “Lo seneng banget ya deket sama dia?” tanya Lusi yang mengarah ke objek Wira. Mona mengangguk dengan spontannya, “bukan senang lagi, rasanya tuh seperti terbang di atas awan menembus langit ke tujuh bidadari,” jawab Mona dan menggeserkan duduknya mendekati Wira. Senyuman tetap dipersembahkan Mona untuk Wira. Wajah Wira yang tidak menggugah selera, membuat Ribka menyimpan pertanyaan. “Ada apa gerangan?” dalam hati Ribka yang menahan dirinya untuk julid. “Kalau Kak Wira sendiri, gimana? Apa senang banget ketemu sama gue?” tanya Mona yang sengaja men-toel Wira. Wira tidak menjawab, ia masih sibuk melahap burgernya yang sebentar lagi habis. “Eh Lus, kenapa muka cowok itu kayak nahan eeg, ya?” bisik Ribka ke Lusi. “Hmm, gue juga gak paham. Mukanya selalu begitu kalau ketemu gue dan Mona. Apa memang kebetulan aja ya, ah entahlah,” timpal Lusi. “Apa dia (Wira_Red) beneran pengen eeq ya?” Ribka malah berasumsi yang aneh-aneh. “Ssssttttt, kita lagi makan loh, jangan ngomongin begituan, gak baik, pamali tuh kalau katanya orang Kalimantan,” setitik nasihat (lagi) yang diberikan Lusi. “Dih, pakai acara ikutin omongannya orang Kalimantan. Padahal lo orang Cilandak, ya kan?” “Sssssst, gue mau habisin makanan dulu ya, sayang kalau gak habis,” Lusi mengakhiri pembicaraannya. Sementara itu, Ribka tetap memerhatikan gelagat yang ditunjukan Mona dan Wira. Memang, keduanya menimbulkan kesan yang berbalik seratus delapan puluh derajat. “Kak Wira, tadi lihat gue tampil di lapangan kampus, gak?” Mona tak gentar, tetap membuka pertanyaan untuk Wira. “Enggak,” jawab Wira dengan wajah datar dan singkat. “Kok enggak sih? Padahal, itu penampilan gue persembahkan buat lo, Kak!” rayu Mona. Wira terbelalak sampai menumpahkan burger yang ada di mulutnya. Batuk yang datang secara tiba-tiba itu membuat kerongkongan Wira gatal. Terlebih lagi, gatal itu hadir ketika Mona berusaha merayunya. “Minum minum! Air mana air!” cakap Wira yang gelabakan mengambil air minumnya. Namanya netizen, dari jauh pun dilihat baik-baik apa yang terjadi. Begitupula dengan teman-teman Wira yang super kepo itu. Dari awal Mona duduk di samping Wira, sampai-sampai Wira menumpahkan seluruh makanannya yang masih berada di dalam mulutnya. Seluruh netizen saling memandang, apa yang dilakukan Mona sehingga membuat Wira tidak begitu bercahaya? Padahal, Mona tergolong perempuan cantik, modis, dan terkenal di kampus ini. “Lo udah nerima pesan dari gue, kan?” tanya Wira seraya mengelap tangannya yang basah. “Sudah, terus?” kata Mona. “Lo paham kan apa yang gue maksud dari pesan itu?” tanya Wira lagi. “Paham..” kata Mona lagi dengan singkatnya. “Terus, lo kok gak ngelakuin apa yang gue minta, sih?” “Karena… itu adalah sesuatu yang gak penting,” Mona makin ketus. “Mon, denger ya. Gara-gara lo persahabatan gue sama Ardin jadi renggang, gara-gara lo sekarang Ardin gak percaya lagi sama gue. Pokoknya semua ini gara-gara lo, ya!” Wira menegaskan, dan tidak peduli walaupun Mona adalah perempuan. “Tapi semua yang gue lakuin ke Kak Wira itu kan gak ada sangkut pautnya sama Ardin,” ungkap Mona. “Hah? Apa lo bilang? Gak ada sangkut pautnya? Tapi, semua yang lo lakuin ke gue, berdampak besar bagi gue dan Ardin!” Wira malas berdebat dengan seorang perempuan. Baginya, memberi penjelasan yang terlalu panjang, juga sangat sia-sia. Wira menuju meja kasir dan membayarkan semua pesanan dirinya dan teman-temannya. Wajahnya masih dibaluti dengan keresahan, lalu keluar pintu kantin. “Wir! Wir! Wiraaaaa lo kenapa, woy?!” hampir seluruh temannya menyimpan pertanyaan pada Wira. Mona melepas high heels-nya dan berusaha mengejar Wira. “Kak Wira!” panggil Mona sambil mengangkat gaunnya yang menyapu lantai. Di dalam pikiran Wira hanyalah menjauhi Mona sebisa mungkin. Wira tidak ingin persahabatannya dengan Ardin semakin kacau. Rupanya, Mona mengejar Wira dengan sekuat tenaganya hingga akhirnya berhasil merangkul Wira. “Heh! Apa apaan lo!” Wira menepis tangan Mona yang mendarat di bahunya. “Kak Wira kok menghindar terus sih tiap gue deketin, padahal kan gue cantik….” Mona berusaha meraih kembali bahu Wira dan lagi lagi ditepis. “Lo ngerti Bahasa Indonesia, kan? Jelas-jelasnya lo gue suruh jauhin gue!” ucapan dari Wira mendarat tegas di telinga Mona. Mona menelan ludahnya dalam-dalam. Wira menjauh kesekian kalinya, Mona tidak bisa berkata apa-apa lagi dan memilih untuk membiarkan Wira pergi. Sementara itu, Vera yang sempat menguping apa yang terjadi antara Mona dan Wira, segera menghampiri Mona yang wajahnya sudah kusut dan bersemangat. “Mon, lo gak apa-apa?” tanya Vera yang memegang wajah Mona, dan menatap tiap sisi bentuk wajah Mona. Mona menghela napasnya, “kayaknya gue gak mampu ngejalanin apa yang lo katakan, deh,” terang Mona. Wajahnya benar-benar tampak putus asa. “Semangat, Mon! Gue ada di sisi lo, gue akan ngebantu lo deket sama Wira biar sponsor lo makin banyak. Gue paham banget kalau lo anak yang bermimpi besar dan gue mau bantu mewujudkan itu, kok,” sebuah kalimat manis menjalar di telinga Mona, yang berasal dari Vera. Vera kembali menggambarkan senyum di wajah Mona yang tadinya sempat mencucut. “Janji, ya?” Mona menekankan. “Janji!” sahut Vera. “Ngomong-ngomong lo kok baik banget sih sama gue. Padahal, kita kan viral di dunia modeling,” Mona baru sadar kalau selama ini Vera selalu menyemangatinya untuk mendapatkan sponsor. “Emmm……” Dalam benak Vera terhambur rasa tawa setelah berhasil membuat Mona percaya pada dirinya. Padahal, Vera memang sangat ingin kompetisi ini berjalan sengit, yang mana jiwa Vera memang seorang competitor. “Mona.. Mona, gue memang pengen ngalahin lo di Majalah Wajah Indonesia, tapi ada satu hal yang bikin gue kesel sama lo. Karena lo berhasil memikat hati Ardin, yang mana itu inceran gue dari maba. Maksud gue dukung lo deket sama Wira ya, supaya lo dijauhin Ardin, hahahhaa,” permainan nakal Vera memulai. “Emm… karena kita sama-sama teman dan sama-sama seorang model! Bukankah harus saling menolong dan menyemangati?” timpal Vera dengan tersenyum pada bibir merahnya yang merona. Mona seperti mendapat angin segar atas kehadiran Vera saat ini. Mona yang sangat ingin mengejar cita-citanya itu, merasa terbantu karena Vera. “Terima kasih banyak ya! Gak ngerti lagi gue harus ngebalas semua jasa dan support lo pakai apa!” kata Mona yang memeluk erat Vera, teman sesama modeling-nya. Vera pun membalas pelukan itu, dalam hatinya Vera berkata, “lo ngebalas dengan cara ngejauhin dan bikin Ardin ilfeel aja, gue udah puas kok,” batinnya sinis. *** Wira mencari tempat dimana dirinya aman dengan segala kegundahannya ini. Setibanya ia di depan Gedung Aula, Wira memutuskan untuk duduk di atas trotoar. Baru saja Wira duduk, tiba-tiba Bruk.. bruk.. bruk.. Sebuah pukulan mendarat di bagian belakang kepalanya. Wira yang tidak bisa menahan, langsung tersungkur dan memegangi kepalanya pasca pukulan itu menimpa dirinya. “Aduh, sakit…..” geram Wira. “Lo itu kalau mau ngambil Mona, ngambil aja! Gak usah sok-sok menghindar!” tanpa disangka pukulan itu dilakukan oleh Ardin. “Din! Din! Lo bisa gak sih tenangin diri lo dulu!” Jacob tampak lari terengah-engah dengan wajah yang kecewa. Jacob langsung memegangi bahu Wira, yang masih meringkuk kesakitan. “Lo gak kenapa-kenapa, kan Wir?” tanya Jacob yang wajahnya sudah memucat. “Gak apa-apa kok, hanya sedikit sakit,” kata Wira. “Din! Lo itu hanya salah paham soal Mona. Lebih baik kita selesaiin dengan cara baik-baik deh!” Jacob mengusulkan. “Gak usah pakai acara baik-baik segala, toh Wira ngelakuin semuanya ini dengan cara yang tidak baik, kan?” Ardin menolak dengan tersirat. “Din, gue mohon… lebih baik kita clear kan masalah ini sama-sama. Gue gak mau terus-terusan perang dingin sama lo!” Wira menyetujui usul Jacob. “Iya Din! Lagian kita semua sudah dewasa, masa iya persahabatan kita hancur hanya karena perempuan?” Jacob menyakinkan Ardin untuk mengikuti usulannya. “Hmm,” Ardin bergumam. Pikirannya yang campur aduk antara cemburu dan benci, tidak mampu membuatnya berpikir jernih. Hanya gertakan dan omelan yang akhir-akhir ini ditumpahkan pada Wira. Terlebih, Ardin sangat sensitif jika berbicara soal gebetan, dimana Ardin tidak suka keinginannya direbut begitu saja. “Maksud lo berdua diselesaiin gimana?” tanya Ardin. “Kita datangin Mona, kita minta penjelasan,” kata Jacob. “Iya, gue juga pengen dengar penjelasan dari Mona. Apapun itu yang akhir-akhir ini suka buntutin gue. Gue pun sebenarnya gak suka. Gue juga sudah berusaha kirim sms ke Mona untuk jauhin gue,” terang Wira. “Dan, itu semua gue lakuin demi menjaga pertemanan kita, Din,” sambung Wira. Ardin yang sebenarnya tidak tega melihat Wira yang sudah dibogemnya, langsung saja menyetujui perkataan dua sahabatnya itu. “Ya udah, gue setuju dengan usulan kalian. Kapan kita mulai selesaikan ini?” tanya Ardin. “Besok! Kalau hari ini gue masih ada tugas, hehe,” sempat-sempatnya Jacob memikirkan tugasnya. Maklum, Jacob kan bucinnya tugas. “Oke, gue setuju!” jawab Ardin dan langsung meninggalkan Wira dan Jacob di depan Gedung Aula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD