Dari luar, Wira sama sekali tidak bisa mendengar percakapan di dalam, antara Mona dan Ayahnya. Biasanya, Wira pasti mendengar ocehan Mona jika ia berjalan lancar. Merasa ada yang tidak beres, Wira langsung masuk ke ruangan Ayahnya.
Tok.. tok..tok..
“Iya, masuk,” kata Pak Widodo
“Yah, ini namanya Mona, teman kampus Wira. Dia minta dana untuk kelengkapan dirinya sebagai model melalui Ayah,” ucap Wira yang membuat Mona dan Pak Widodo terpaku padanya.
“Oh ternyata kamu kenal sama perempuan ini?” Pak Widodo balik bertanya.
“Iya, kenal,” jawab Wira dan mengambil posisi duduk di depan Pak Widodo.
Mona hanya berdiri dan tidak bergerak dari posisinya di awal.
“Bagaimana, apakah Ayah mau memodali Mona untuk melanjutkan karirnya sebagai model?” ulang Wira yang belum mendengar respon dari Ayahnya.
“Hahahahaha,” Pak Widodo tampak terkekeh, ia meletakan pulpen di atas meja, dan memandang ke arah Mona. “Kamu ikut model itu ada agensinya, tidak?” tanya Pak Widodo pada Mona yang sudah keringat dingin.
Mona mengangguk.
“Terus, kenapa kamu tidak meminta modal sama agensimu saja? Bisa bisanya kamu meminta sponsor lewat perusahaan saya, udah salah jalur kamu itu,” cerca Pak Widodo.
Pak Widodo memang orang yang tegas, dan sangat sensitif jika berhubungan dengan uang. Dengan Wira pun begitu, Wira tidak terlalu dimanjakan dengan uang milik Pak Widodo, kalau pun Wira minta, harus menjabarkan kebutuhan penting yang detail dan penjelasan panjang lebar kali alas kali tinggi. Maka dari itu, selama ini Wira meminta uang lewat Mamaknya saja, karena Pak Widodo akan luluh. Namanya bucin sama perempuan, Pak Widodo langsung saja memberi uang sejumlah Mamaknya Wira inginkan.
“Mon, kira kira lo udah tau maksud Ayah gue, gak?” lirik Wira.
Bibir Mona mulai pucat, lipstick matte-nya tampak hilang perlahan diterbangkan oleh dinginnya air conditioner. Namun, Mona masih memegang erat proposal miliknya, yang awalnya ia yakin akan berbuah manis.
Mona menunduk, “iya, gue ngerti, kok,” jawab Mona pasrah.
“Terima kasih ya Pak Widodo atas kesempatannya untuk berbicara dengan Bapak, maaf mengganggu waktunya. Saya mohon pamit, selamat siang,” Mona pamit sambil melengkungkan senyum manisnya, dan langsung keluar tanpa meminta balasan dari Pak Widodo.
Ceklek.
“Kamu ya yang beri akses perempuan itu masuk ke ruangan Ayah?” Pak Widodo ketus.
“Iya, gak apa-apa kan, Yah?” Wira memastikan.
“Harusnya kamu hubungi Ayah dulu sebelum membawa masuk perempuan itu, beri tahu ke Ayah dulu apa maksud dia datang ke sini,” Pak Widodo memperingatkan.
“Ayah selalu sibuk, pasti susah banget ngelihat ponsel. Ya udah, Wira bawa masuk aja sekalian. Maaf deh kalau mengganggu waktu Ayah,” sebagai anak yang baik, Wira lantas meminta maaf sebelum diomelin Ayahnya.
“Hufffft, ya udah Ayah mau ngelanjutin kerjaan yang numpuk ini,” Pak Widodo kembali duduk manis di atas kursi putarnya.
“Ehem…. Yah?” Wira berdehem. Ia memandang Pak Widodo dengan senyum merona, kedua matanya memincing seperti memberikan kode alam.
“Duit?” tembak Pak Widodo.
Wira mengangguk dan senyumannya makin lebar. “Ayah ngerti aja apa mau Wira, ehehe.”
Pak Widodo segera meraup sesuatu dari kantong jasnya, dan diberi ke Wira uang seratus ribuan sebanyak lima lembar. “Cukup kan?” katanya.
“Hmm, cukup aja sih, tapi kayaknya sehari doang,” Wira mengkode untuk menambahkan lagi. Tapi, Wira sudah punya firasat buruk kalau soal meminta tambahan pada Pak Widodo.
“Jadi, kamu mau ditambahin?” kata Pak Widodo.
Wira nyengir, dan Pak Widodo sudah paham maksud dari senyuman Wira. “Oke kalau gitu, Ayah kurangi, ya. Kamu jadi laki-laki harus bisa cari uang sendiri, harus mandiri dan gak boleh dikit dikit minta uang sama orang tua,” Wira sudah firasat, Pak Widodo bukan tipe orang yang mau menambahi jika kurang. Tapi, ia malah menguranginya dengan seenaknya.
“Nih,” Pak Widodo akhirnya memberikan Wira duit sebesar dua ratus ribu, dan berkurang dari tawaran awal.
Wira mencoba melapangkan d**a, syukur syukur dikasih duit dari modal minta. “Terima kasih ya Yah, semoga makin banyak uang dan cabang perusahaannya dimana mana, Aamiin,” ucap Wira sambil mencium cium uang pemberian Pak Widodo.
“Iya, sama sama. Kalau gitu kamu habis ini langsung pulang ke rumah ya,” pinta Pak Widodo. “Jagain belahan hati Ayah,” bisik Pak Widodo yang membuat Wira terbelalak.
“Haaaa? Bucin banget sih Ayah!” ucap Wira spontan.
Pak Widodo jadi kesemsem karena ketahuan bucin, “Udah lah! Sama Ayah nurut aja ya. Sana sana kamu waktunya pulang, jangan ganggu waktu kerja Ayah!” Pak Widodo mengusir halus Wira dengan menepuk nepuk pundak Wira.
***
Mona pulang dengan perasaan kecewa, ekspetasi untuk bisa mendekati Pak WIdodo Anwar, tidak semulus perkiraannya. Ia seperti mati kutu di depan Pak Widodo dan tidak bisa menyangkal apa pun yang diucapkan oleh Pak Widodo. Mona pun kecewa pada dirinya sendiri….
“Kenapa sih, gue tadi kayak orang plonga plongo?! Padahal, orang kayak Pak Widodo gitu, gampang lho ngadepinnya!” ucap Mona yang merasa bukan dirinya saat itu.
“Kayaknya gue harus ngabarin Vera nih, kalau semua rencana berjalan be ran ta kan!” ketusnya.
Akhirnya, Mona memutuskan untuk berhenti di sebuah kafe, yang terletak di Jalan Pendakian Utama. Kafe dengan suasana vintage dan serba vinyl itu membuat siapa pun yang hadir menjadi tenang, nyaman, dan pastinya gak mau pulang, maunya digoyang. Salah, maksudnya tidak mau pulang doang. Dan, Mona duduk merebahkan badannya di sofa yang paling besar di dalam kafe tersebut.
Rupanya, Jacob dan Ardin sedari tadi mengikuti Mona hingga bersamaan tiba di parkiran kafe bernuansa vintage tadi. Itu pun di jalan Jacob nyetir sambil ngomel ngomel sendiri karena Ardin ngelakuin hal yang bikin ia keki.
“Seriusan kita masuk temuin Mona? Udah tepat belum nih waktunya?” tanya Jacob ragu.
“Udah, udah, ini cara yang tepat! Kan gak ada Vera,” jawab Ardin mantap.
“Gue ikutan masuk?” tanya Jacob lagi.
“Ya iya lah!” jawab Ardin.
“Gimana kalau gue pulang aja? Lho aja yang masuk temuin dan jelasin semuanya ke Mona,” Jacob membuat penawaran.
“Dih!” Ardin mendorong pelan bahu Jacob. “Katanya lo mau ngebantu gue, gimana sih?!” protes Ardin.
“Lo gak janjian dulu kalau soal ini, gue kan udah niat mau pantengin pengumuman give away dari Siska Kohl,” balas Jacob murung.
“Ya elah!” Ardin nampol wajah Jacob dan menekan nekan hidungnya. “Percuma ganteng, kalau ngandelin give away!” seru Ardin.
“Udah lah, lo ikut gue masuk ya, cepet cepet,” Ardin melepaskan helmnya dan juga milik Jacob, dan mereka masuk menemui Mona.
Di dalam sana, Mona tampak menatap layar ponsel yang ia pegang. Mengetuk beberapa bagian ponselnya, dengan wajah yang masih sama seperti tadi, kecewa dan kecewa. Ardin memperbaiki sebentar rambut dan kerah bajunya, dan menarik lengan Jacob untuk mengikuti langkahnya.
“Mona?” sambut Ardin dan berhasil membuat Mona memalingkan wajah dari layar ponselnya.
“Kak Ardin?” balas Mona, dan mengintip seorang laki-laki lagi di belakang Wira. “Kak Jacob?” Mona menyeritkan dahinya. “Kenapa kalian bisa ada di sini?” tanyanya.
“Em.. kebetulan gue sama Jacob punya tujuan yang sama kayak lo. Boleh gue duduk?” ungkap Ardin.
“Boleh, boleh, silakan,” Mona menunjuk sofa kosong yang ada di depannya.
“Udah lama di sini, Mon?”Ardin basa basi.
“Belum sih, baru aja kok pesan minum. Kak Ardin sama Kak Jacob mau pesan minum juga? Biar gue panggilin pelayannya,” tawar Mona.
Ardin melirik sedikit ke Jacob, tersenyum kecil seperti mengode sesuatu. “Minta bayarin lo ya?!” bisik Jacob dan membuat Ardin terbatuk batuk.
“Dih, dasar gak modal lo! Untung aja gue selalu punya uang cadangan di dompet,” ketus Jacob dengan berbisik.
Jacob pun meraih dompetnya dan memberikannya pada Ardin. “Dah, gue ke meja kasir sendiri aja, kasihan kamunya repot repot manggil pelayannya,” kata Ardin dengan senyumannya yang tak ketinggalan kalau sudah di depan Mona.
Jacob memandang Ardin dan Mona, keduanya terlihat sama sama saling tersenyum dan seperti tidak memiliki kejadian yang tidak mengenakan. Padahal, kata Ardin waktu itu Mona sempat tidak sepakat dengan pernyataan Ardin, dan enggan menemui Ardin.
“Mon, lo gak marah sama Ardin?” tanya Jacob ketika Ardin masih memesan makanan di meja kasir.
“Enggak, emangnya gue sama Kak Ardin ada masalah apaan?” jawab Mona yakin.
“Oh, ya udah enggak jadi deh,” balas Jacob.
“Soal di basecamp kampus? Hmm, Kak Ardin ceritain semuanya ke Kak Jacob?” Mona gantian melempar pertanyaan.
“Ah.. enggak kok, enggak ada enggak ada,” Jacob enggan melanjutkan pertanyaan itu karena Ardin sudah mengarah kembali ke meja mereka.
“Kalian ngomongin apa, kok seru banget?” tanya Ardin dan kembali terduduk di atas sofa.
“Hmm, enggak ada apa apa sih Din,” timpal Jacob.
“Kak, Kak Ardin ceritain semua yang aku ucapin waktu di basecamp, ya?” Mona menembak dengan pertanyaan.
Ardin memandang ke Jacob, dengan memasang wajah geram. Jacob yang paham maksud Ardin, hanya terdiam dan watados! (baca: wajah tanpa dosa).
“Gue mau ngejelasin semuanya di sini, gak apa apa ya?” izin Ardin.
“Soal obrolan gue dan Vera di kantin, itu? Kenapa sih Kak Ardin selalu ikut campur soal urusan aku di dunia permodelan ini? Gue itu hanya minta bantuan ke Vera gimana caranya lancar di dunia model. Udah gitu aja,” beber Mona.
“Namun, cara lo dan Vera menjalankan itu, salah. Dengan tidak sadar, lo berdua malah memanfaatkan Wira dan Ayahnya untuk kemauan diri lo sendiri. Hasilnya gimana? Lo gagal kan menjalankan itu?” cerca Ardin yang membuat Mona membisu.
Mona menunduk, pernyataan yang baru saja didengarnya itu, mendekati benar. Sayang sekali, hari ini ia beneran gagal mendapatkan apa yang ia mau. Terutama soal dana sebagai jalan ninja untuk membeli perlengkapan dan melengkapi portofolio di dunia permodelan.
“Mon, gue bisa bantu lo dengan cara yang lebih elegan, tanpa memanfaatkan orang lain!” pungkas Ardin dengan nada tulus, alias cari perhatian biar dikira peduli sama Mona.