Setengah tidak percaya dengan ucapan Ardin, Mona menaikan alis kanannya sambil menatap ke Ardin. Mona menatap tajam kedua bola mata Ardin, Jacob yang menyaksikan kejadian itu merasa heran. Ada apa dengan mereka berdua? Apakah menyimpan sebuah rahasia tertentu?
Tidak berminat mengiyakan usulan Ardin, Mona melemparkan pertanyaan. “Lo serius? Atau lo mau diam diam ngejebak gue?”
Ardin terkekeh sebentar, ia meraih tangan Mona yang nganggur itu. “Percaya sama gue, Mon, gue beneran pengen ngebantu lo untuk gapai cita cita lo, dan satu hal yang harus lo ketahui kalau gue benar benar—“
“Hallo guys!” Perempuan dengan high heels berbunyi klutak klutuk itu membuyarkan Ardin dan Mona. Mona juga langsung menarik tangannya dari genggaman Ardin.
Sontak saja Ardin, Jacob, dan Mona memandang ke arah perempuan itu. Perempuan yang tingginya hampir mirip seperti Mona, memakai rok hitam dan blouse putih, lengkap dengan bandana putihnya yang terpampang cantik di rambutnya.
“Vera?” sambut Ardin dan Vera langsung memancarkan senyumannya untuk Ardin.
“Hai Ardin,” Vera membalas sambutan itu dan mengelus elus pundak Ardin. “Lo udah lama di sini?” tanya Vera dengan nada lembut.
“Baru sih, sama kayak Mona lah,” jawab Ardin.
“Hmm, gak ada tempat duduk lagi, ya?” tanya Vera ketika melihat sofa di sekitar yang terisi penuh. “Yah, gue gak bisa gabung sama kalian dong, karena gak ada tempat duduk,” Vera manyun.
Vera yang masih berdiri itu, membuat Jacob terketuk. “Lo duduk di sofa gue aja,” Jacob sudah setengah berdiri, namun Vera menolak.
“Duh, londo jowo gak perlu repot repot lah, gue bisa duduk di sini, kok,” kata Vera dan kali ini tangannya berpindah untuk mengelus paha Ardin.
Jacob menelan ludahnya, dan masih tidak menyangka Vera melakukan hal tersebut pada Ardin. Mona pun demikian, matanya terpaku pada tangan Vera yang mengelus paha Ardin yang berbalut celana jeans.
“Ver!” Ardin melepaskan tangan Vera dari tangannya. “Banyak orang, gak enak dilihat,” bisik Ardin.
“Oh, jadi lo mau ditempat sepi dan gak ada orang gitu, terus gue bisa duduk di paha lo?” balas Vera dengan bisikan.
Mona yang melihat telinga Ardin dekat sekali dengan bibir Vera, memalingkan pandangannya. Jacob pun, tidak suka dengan pemandangan itu segera mengambil ponselnya dan pergi ke akun give away.
“Ver, lo ngapain sih?” ketus Ardin dan menggeser duduknya menjauhi Vera.
Bukannya peka karena Ardin merasa tidak nyaman, Vera malah menduduki paha Ardin. “Gue mau nemuin lo di sini,” nada ucapan Vera semakin melembut.
Entah merasa belum cukup umur melihat pemandangan seperti itu, Mona menundukan kepalanya, dan kembali fokus dengan layar ponselnya. Ardin berusaha sebisa mungkin untuk menghindar, entah semakin menggeserkan tempat duduknya hingga Jacob kesempitan, atau mencubit pinggang Vera agar Vera beranjak dari pahanya.
Akan tetapi, Vera yang mengetahui inilah kesempatan yang tepat untuk bermanja dengan Ardin, tak gentar meskipun Ardin selalu menjauhinya. Malah, hal itu membuat Vera untuk terus mengejar dan berusaha mendapatkan perhatian Ardin. Hingga akhirnya, Ardin yang tak suka diperlakukan seperti itu, terlebih di depan Mona yang dicintainya, Ardin memilih berdiri.
“Kalau lo masih deketin gue, gue gak bakal mau ngelihat muka lo lagi, bahkan di organisasi BEM sekali pun!” tegas Ardin dengan matanya yang membesar, dan bibirnya yang tertutup rapat.
Vera terdiam sejenak, entah apa yang dipikirkannya, apakah ia ingin menghentikan perbuatannya, atau justru membuatnya ingin melakukannya lebih?
Lalu Vera terkekeh kencang, membuat Ardin, Jacob, dan Mona seketika berdiri bersamaan. Tatapan Vera mengarah lurus ke arah Mona, disertai dengan gumaman bak harimau. Apakah setelah ini Vera melakukan acting aing maung seperti audisi jagoan biskuat?! Sayangnya tidak, karena audisi tersebut sudah tutup. Setelah terkekeh, Vera terdiam, tidak lama lagi ia tersenyum geli dan menggaruk garuk kepalanya. Ardin, Jacob, dan Mona saling berpandangan satu sama lain, mereka bertiga gak paham apa apa dan berusaha tenang. Namun, mereka telah mengira bahwa ada yang salah dengan Vera.
“Kesurupan?” bisik Jacob ke Ardin. Ardin menaikan kedua bahunya, pertanda tidak paham.
“Kenapa tuh Kak?” tanya Mona juga. Tetapi, jawaban yang sama dari Ardin.
Ardin melirik Vera, diliriknya belakang kepala Vera, dan dirambut milik Vera. “Kali aja ada susuk atau jarum yang ketusuk di kepala Vera, kayak di film film Suzanna yang gue tonton waktu SD,” batin Ardin sambil mengelilingi Vera yang masih tertawa.
“Udah lah, kayaknya kita harus panggil orang pintar, deh!” usul Mona.
“Gue, pintar,” Jacob mengajukan diri. “IPK gue berturut turut nyaris empat, dan gak pernah dapat nilai B, selalu B plus ke atas,” Jacob menerangkan lebih lanjut.
“Serius?! Pintar juga ya Kak Jacob ternyata,” Mona mangut mangut. Dan yes, Jacob berhasil bersombong ria di depan Mona. Gak kenapa kenapa jelek, yang penting sombong. Ya, begitu lah slogan dari Jacob.
“Eh tapi maksud gue bukan kayak gitu, Kak! Kita panggil orang pintar yang bisa ngobatin orang yang….. kesurupan kayak Vera,” Mona mulai khawatir.
“Emangnya dia beneran kesurupan? Gue baru lihat ih orang kesurupan, kirain lagi galau,” sempat sempatnya Jacob melempar canda.
Tak lama kemudian, Vera merebahkan dirinya ke sofa. Lalu, membuka matanya perlahan lahan, menatap langit langit kafe dan sekitaran kafe itu. Jacob, Ardin, dan Mona lantas menjauh sedikit, khawatir Vera akan mengamuk tau justru melempar benda bahaya di sekitarnya.
“Kalian ngapain?” Vera heran melihat ketiga temannya itu berbaris rapi, mata tertuju ke Vera, dan keringat membasahi pelipis mereka.
Ardin memajukan langkahnya sedikit demi sedikit, “Lo udah sadar?” tanya Ardin dengan penuh kehati hatian.
Vera berdecak, “emangnya gue kenapa?”
“Kesurupan,” ujar Ardin.
“Hah? Lo ngira gue kesurupan, Din? Dan, kalian berdua, Jacob dan Mona apakah kalian juga mengira gue kesurupan?” tanya Vera.
Tanpa menunggu lama, Jacob dan Mona menganggukan kepala mereka secara bersamaan. Udah gitu, wajah dari Jacob dan Mona tampak pucat dan sudah memasang kuda kuda jika Vera datang menyerangnya. Vera dan Jacob mengepalkan kedua tangannya di depan dadanya bak finalis tinju nasional.
“Hahahahahah, kalian semua ini parno banget ya! Masa iya perempuan cantik kayak gue ini bisa kesurupan di siang bolong gini? Yang ada setannya malah ngajakin gue nge-date kali karena saking cantiknya gue!” seru Vera dengan percaya dirinya. Memang, Mona yang memiliki fisik cantik layaknya kriteria industri, tidak pernah merasa insecure atau tidak percaya diri dengan penampilannya. Vera berani menunjukan kecantikan yang ia miliki di depan umum, tanpa malu malu meong.
“Gimana, kira kira akting marah gue udah keren, belum?” toeng! Pertanyaan Vera itu membuat Mona, Ardin, dan Jacob mengelus d**a.
“Jadi lo lagi akting?” Ardin memastikan.
“Latihan, karena besok ada kelas akting untuk Majalah Wajah Indonesia,” info Vera.
Mendengar kalimat Majalah Wajah Indonesia, Mona menurunkan kepalan tangannya tadi. Ia pelan pelan mendekat ke Vera dan bertanya, “hah? Kelas akting besok? Kok gue gak tau apa apa ya soal itu, lo dapat kabar dari mana?”
Vera memincingkan matanya ke Mona, “Mona, Mona, lo itu niat gak sih jadi model? Kelas yang sedang diadain agensi aja gak ngerti! Gak update banget sih. Pantes aja lo terkenal dengan orang yang lemot, dan—“
“Dan gampang lo suruh suruh dan mengaminkan permintaan lo, gitu?” Ardin memotong.
“Maksud lo, Din?!” Vera terkejut Ardin berkata demikian.
“Ver, lo gak usah sok ngebantu Mona dalam hal modeling deh. Gue yakin Mona bisa maju tanpa suruhan dari lo, tanpa rencana bulls*it yang sedang lo rancang. Please Ver! Rencana lo untuk minta dana ke Ayahnya Wira melalui proposal itu gagal total!” cerca Ardin dan membuat Vera menyeritkan dahinya.
Mona yang merasa rencananya terbongkar, langsung kaget dan tidak percaya kalau Ardin sampai mengerti soal proposal itu. “Kak, dari mana Kak Ardin tau?” tanya Mona dengan berbisik ke Jacob.
Jacob enggan memberi jawaban.
“Ver, tolong lo bimbing adik tingkat lo ini dengan penuh kejujuran, kasih sayang, dan perhatian. Kalau lo malah nyuruh ke hal negatif apalagi ngerugiin orang lain, sama aja lo menghambat karir lo!” sambung Ardin.
“Siapa yang nyuruh ngelakuin hal negatif sih?!” Vera bingung.
“Secara gak langsung, begitu. Lo manfaatin Wira dan Ayahnya untuk kebutuhan model. Dan, gue paham sih kalau sebenarnya lo mau ngeporotin Wira dan Ayahnya, lalu bikin Mona kalah di dunia model!”
“Kok bisa ngerencanain Mona kalah? Asumsi lo gak jelas deh!” Vera tak terima.
“Iya, karena lo udah paham Ayahnya Wira gak bakal menerima proposal itu. Hal itu udah lo ketahui karena bertahun tahun proposal lo gak pernah tembus di sana. Harusnya, lo kasih tau ke Mona kemana proposal itu harus di berikan, kasihkan link ke Mona untuk mendapatkan dana yang real, yang kayak lo lakuin!” rupanya, karena sudah lama satu organisasi dengan Vera, Ardin pun tahu kemana proposal yang sering Vera kirim untuk biaya potret dan sebagainya. Ardin mengetahui itu pula dari proposal Vera yang sering disimpannya di laptop Ardin.
“Mon, kalau emang Vera baik sama lo, harusnya dia kasih link yang nyata mendapatkan sponsor dan dana, contohnya Hush and Puppies, Batik Kuntul Perak, Kemenparekraf, dan sebagainya. Semua daftarnya ada di laptop gue, nanti gue kasih lo!” pungkas Ardin dan langsung meninggalkan Vera dan Mona. Jacob pun ngebuntutin di belakang Ardin.