Kontrak Kerja

1103 Words
Mona sudah membuat perjanjian dengan pemilik Butik Nyonya Endah. Hari ini, Mona mendatangi butik tersebut untuk tanda tangan kontrak sebagai model launching. Perasaan semringah mewarnai raut wajah Mona, yang merasa selangkah lebih maju. Mona memasuki butik serba cokelat, dengan ukiran Jawa di bagian dindingnya. Beberapa blankon berbagai warna, disusun rapi membentuk hiasan pita. Mata Mona berkaca-kaca memandangi tempat yang sangat heritage, yang baru dilihatnya. “Monalisa?” tegur perempuan paruh baya menggunakan kebaya khas Jawa. “Iya, Bu, saya Monalisa,” balas Mona sambil menunduk lembut. “Saya Bu Endah Pratiwi, pemilik butik ini,” Bu Endah menyodorkan tangannya ke Mona. “Baik, Bu Endah, saya Monalisa,” balas Mona dengan penuh kesopanan. Membalas jabatan tangan yang diberikan Bu Endah. Bu Endah melirikan matanya ke Mona, dari atas hingga bawah. Senyum-senyum Bu Endah ketika kembali menatap wajah Mona yang sedari tadi tak lepas dari senyum manisnya. “Nak Mona sangat cantik,” ujar Bu Endah yang membuat Mona malu-malu menunduk. “Mari, masuk ke ruangan Ibu,” pinta Bu Endah, mengalungkan tangan kanannya ke pinggul Mona. Mona pun mengikuti langkah dari Bu Endah. Tibalah Mona di dalam sebuah ruangan berukuran 6 m x 6 m. Ruangan itu serba cokelat muda, lebih muda warnanya dari background yang ada di bagian tengah butik. Uniknya, lukisan-lukisan perempuan yang dipotret pada zaman Belanda, terpampang di setiap sisi dinding. Mona semakin terkesima, senyum senang menatap pemandangan itu. “Nak Mona, silakan duduk,” sila Bu Endah untuk Mona menempatkan kursi kosong yang ada di hadapannya. “Nak Mona, ini ada surat kontrak yang harus Nak Mona tanda tangani. Sebelum menanda tangani, Nak Mona harus membaca secara detail dan sepaham-pahamnya. Ini berkaitan dengan kontrak kerja, dan tidak bisa main-main. Silakan ditanyakan jika ada yang belum dimengerti,” Bu Endah tersenyum sambil menyodorkan kertas HVS putih lima lembar yang sudah ada ketikan tinta hitam di dalamnya. Mona menggapai kertas itu, dan membacanya dengan teliti. Beberapa poin yang tertulis di kertas itu adalah: 1. Model harus mematuhi segala bentuk aturan yang ada di Butik Nyonya Endah, seperti menjaga nama baik, menolak plagiasi, dan selalu mengembangkan karya ternama. 2. Model tidak boleh mengkir dari jabatannya ketika sedang dalam masa acara yang berlangsung lama (lebih dari dua hari). 3. Model harus tepat waktu mendatangi Butik Nyonya Endah jika acara berlangsung, in time sangat dibutuhkan. 4. Sikap disiplin, bertanggung jawab, sopan santun, adalah sikap yang wajib dimiliki oleh model. 5. Model tidak boleh memiliki kontrak kerja dari agensi mana pun, harus memegang satu agensi yakni, Butik Nyonya Endah. 6. Kontrak model yang diberikan kepada model yang bersangkutan adalah, dua puluh empat bulan sejak ditanda tangani surat kontrak ini. Mona sudah membaca secara rinci isi-isi yang tersebar di surat kontrak itu. Namun, ada sesuatu hal yang sulit untuk Mona ketike membaca poin nomor lima. “Model tidak boleh memiliki kontrak kerja dari agensi mana pun…..” Padahal, saat ini Mona terikat oleh agensi Majalah Wajah Indonesia yang cangkupannya se Indonesia Raya. “Bagaimana Nak Mona, apakah Nak Mona mau menanda tangani kontrak menjadi model Butik Nyonya Endah?” tanya Bu Endah. Bu Endah menanti jawaban Mona, Mona masih berpikir dua kali. Apa yang harus dia pilih? Menjadi model di butik ini, atau meneruskan karirnya bersama model lainnya di Majalah Wajah Indonesia? “Lo pilih aja karir lo di sini, Mon,” suara tegas khas Ardin, mendarat di telinga Mona. Ardin datang dari arah kiri Mona. Mona terkejut, “Kak Ardin kok bisa di sini?” tanya Mona. “Ya bisa lah,” jawab Ardin, menyilakan tangannya. “Nak Ardin ini yang menghubungi Butik Nyonya Endah untuk merekrut Nak Mona menjadi model di sini. Tidak hanya Nak Ardin saja yang mengajukan model, tiap harinya banyak sekali model yang melamar, hampir seratusan. Namun, Ibu memilih kamu menjadi model di butik ini,” jelas Bu Endah. Mona terharu, Ardin membantunya meraih mimpinya sampai detik ini. Bahkan, Mona pernah menghina Ardin, dan enggan bertemu. Mona senang sekali sikap Ardin yang begitu dewasa. “Terima kasih banyak ya Kak Ardin, gue gak tau harus bales apa ke Kak Ardin,” ujar Mona tersenyum ke Ardin. Lagi lagi Ardin sangat memfavoritkan senyuman yang dimiliki Mona itu. Senyuman hangat seperti teh hangat sehabis dari ceret, ditambah gula putih beberapa sendok. Manis, hangat, dan tidak pahit di lidah. Mona, benar-benar bidadari yang turun dari kampus yang dikenal Ardin lewat ospek mahasiswa baru. “Sama-sama, yang gue mau lo berusaha menjadi model dengan jalan yang baik. Syukurnya, Butik Nyonya Endah mau menampung lamaran gue tentang lo!” balas Ardin. Mona melirik ke Bu Endah, Mona mengangguk yakin, “Dengan penuh keyakinan, saya Monalisa akan menanda tangani surat kontrak ini, untuk menjadi model di butik ini,” kata Mona. Mona mengambil pulpen bertinda biru, dan membubuhi tanda tangannya di kolom tanda tangan paling bawah. Dengan penuh kebahagiaan, Bu Endah memberi salaman dengan tangannya. “Mulai besok, kamu akan bekerja di sini ya, Nak Mona. Ruangan kamu ada di paling ujung, kalau kamu masih bingung bisa tanya ke saya saja,” jelas Bu Endah. “Baik Bu terima kasih banyak. Apa urusan surat kontraknya sudah selesai, Bu?” tanya Mona sebelum beranjak dari duduknya. “Sudah selesai, Nak Mona. Sekarang bisa kembali pulang,” ujar Bu Endah. Mona beranjak dari duduknya, Ardin tersenyum dan mengucapkan, “Selamat ya, Monalisa.” Mona tersenyum malu, ia mengarah ke pintu keluar. Ardin berpamitan juga pada Bu Endah, dan mengikuti Mona dari belakang. “Mon?” sahut Ardin. Mona menoleh, “Iya, Kak?” “Lo pulang naik apa?” tanya Ardin. “Tadi pakai ojek online sih, Kak. Karena motor gue bannya kempes,” jawab Mona. Tanpa pikir panjang, Ardin menawarkan tumpangan, “Pulang bareng gue, mau gak?” tawar Ardin. Mona tersenyum makin lebar, membuat Ardin nyut-nyutan bibirnya. Kok bibirnya nyut-nyutan, sih? Apa mau…… ah sudahlah. “Boleh!” Mona mengangguk. “Tuh, motor gue ada di sana, yuk!” kata Ardin dan tanpa sadar menggandeng tangan kanan Mona. Mona tertegun, namun ia juga enggan melepaskan tangannya. *** Motor matic Ardin melaju sedang, suasana di perkotaan menjelang senja itu sangat indah nan penuh kemacetan. Untungnya, langit berwarna oranye itu membuat mood Ardin tidak jatuh. “Langitnya bagus ya, Mon,” ujar Ardin. “Iya, bagus. Kak Ardin suka senja?” tanya Mona. “Suka sih, yang lebih tepatnya gue suka warna oranye-nya saja, hehe,” jawab Ardin. “Kalau begitu sama dong, gue juga suka warna oranya,” ungkap Mona. “Serius? Hmm kalau begitu kita………….” “Apa hayo?” “Kalau jawabannya jodoh, apa boleh?” Ardin pun memecahkan tawa Mona tepat di saat senja mulai datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD