Perbicangan tiga laki-laki akrab ini, memang keseringan bahas soal “peranjangan”. Namun, diantara mereka bertiga, tidak ada yang berani melakukan itu. Bahkan, untuk memegang tangan perempuan saja, sudah gemetar. Eh, tapi bedanya sama Ardin sih, kayaknya tangannya sudah haram pegang-pegang tangan perempuan mulu! Kok bisa sih?
Ardin seorang ketua BEM yang super sibuk dan banyak anggotanya yang perempuan. Karena Ardin dirasa berwibawa dan pemimpin able, perempuan manja suka mendekati Ardin dan sentuh-sentuh tangannya. Ya, begitulah ceritanya. Kalau zaman sekarang sih, yang bisa mendapatkan hati para organisasi kampus, dianggap keren dan uwu banget.
“Wir, Ayah lo beneran gak ada kenalan untuk memasukan model-model gitu?” tanya Ardin usai sebotol tehnya ludes.
Wira berpikir sejenak, menatap langit-langit rumahnya yang mewah itu.
“Aha!” seru Wira menjentikan jarinya. “Kayaknya Ayah gue pernah pesan batik yang super mahal deh, kebetulan nomor owner-nya ada di ponsel gue.”
Ucapan Wira membawa kabar aduhai, ia langsung mencari nomor toko yang pernah ia hubungi beberapa tahun lalu.
“Nih, coba lo catet, tapi gak tau ya masih aktif atau tidak. Coba aja,” Wira menyodorkan ponselnya dan Ardin mencatat nomor yang diperlihatkan.
“Terima kasih ya Wir! Tapi, gimana caranya gue ngomong ya? Rencananya gue mau jadiin Mona model di sana,” Ardin tampak bingung.
“Eleh! So sweet amat ya perjuangan lo, Din!” Jacob geleng-geleng merasa perbuatan Ardin dirasa berlebihan untuk memperjuangkan mimpi seseorang.
“Namanya juga cinta, bro!” balas Ardin.
“Terus waktu Mona udah jadi model terkenal, lo malah ditinggal, hahahaha,” cela Jacob hingga membuat Wira menyimburkan teh yang ada di mulutnya.
***
Ruang kosan yang ditinggali Mona sejak sebulan terakhir ini, menjadi tempat istirahatnya kala masalah kuliah menghadang. Bahkan, soal permodelan pun dikisahkan Mona pada dinding-dinding kamarnya. Entah, ia tidak memiliki wadah untuk menampung ceritanya. Sama halnya pada malam hari ini, Mona duduk di kursi rotan yang satu-satunya berada di kamarnya.
“Gue gak bisa bayangin gimana pertemanan gue sama Vera kedepannya,” Mona lirih, memeluk kedua kakinya yang tertekuk.
Ia merebahkan kepalanya di atas lutut yang terpeluk, “Apa gue harus minta maaf, tapi apa Vera benar-benar mau memaafkanku?” rasa pesimis itu pun muncul.
Tiba-tiba saja, ponsel Mona berdering tiada henti. Ia lirik sedikit di layarnya, banyak pesan yang masuk di Instagramnya. Mona yang hobinya memeriksa pesan di media sosialnya satu per satu, memutuskan untuk membukanya.
“Selamat malam, Monalisa. Kami dari Batik Nyonya Endah, ingin menawarkan Anda menjadi model kami dalam acara “Launching Batik Nusantara 2021” di lima kota besar. Manfaat yang bisa kami berikan adalah, biaya photoshoot, catwalk, dan sepuluh persen pembelian produk batik terbaru. Apabila Anda berminat, silakan hubungi nomor ini, 08999999999.”
Kalau ujung-ujungnya soal karir, Mona memanfaatkan skill membaca skimingnya. Seperti jatuh di tanah hingga terguling, dan setelah mendapatkan pesan itu jadi bangkit hingga menyingkirkan kotoran-kotoran. Tanpa sadar, bibirnya menorehkan senyuman khas Mona, yang tipis dan indah.
“Huh! Apakah ini pertanda awal dari sebuah karir?” Mona senyum-senyum.
Tanpa pikir panjang dan melupakan soal Vera, Mona membalas pesan untuk akun bernama @batikNyonyaEndah melalui SMS. Entah kenapa ia bisa mengesampingkan permasalahannya dengan Vera. Ah, tetapi Mona harus tetap maju untuk menggapai mimpinya.
“Selamat malam dan terima kasih telah menghubungi saya, Batik Nyonya Endah. Suatu kehormatan bagi saya untuk ditawari menjadi model Anda. Saya dengan senang hati menerima menjadi model acara “Launching Batik Nusantara 2021” di 5 kota besar. Semoga Batik Nyonya Endah semakin terdepan dan sukses selalu, Aamiin.”
Klik. Pesan itu terkirim sempurna melalui SMS (short message service). Memang terkesan ketinggalan zaman dimana banyak orang yang memanfaatkan w******p. Tetapi, itu bukan masalah yang cukup serius, kok.
Mona meluruskan kedua kakinya yang sempat tertekuk, dan mencium-cium ponselnya, “Kabar baik, berpihaklah pada gue! Please no debat!” serunya.
Selang 5 menit kemudian, ponsel Mona berbunyi lagi dengan dering pesan di Instagramnya.
“Cepat banget dibalasnya,” pikir Mona dari akun yang tadi mengirimnya pesan.
Namun, ketika Mona buka dan betul-betul memperhatikan nama akunya, ternyata pesan itu diberikan oleh Vera. Vera juga memiliki i********: dengan foto profilenya yang menggunakan tank top dan bandana putih. Mona menyeritkan dahinya, setengah takut membuka pesan tersebut.
“Monalisa, selamat ya lo sudah jadi salah satu model di Batik Nyonya Endah. Lo sudah melampaui gue satu langkah, dan jangan harap lo akan menang di pemodelan selanjutnya. Keren banget ya perjuangan Ardin untuk ngebantu lo cari sponsor! Tepuk tangan yang meriah deh buat lo dan Ardin!”
Mona membaca pesan itu menggunakan nada Vera ketika mencerca dirinya di kafe. Rupanya, kekesalan Vera masih meledak-ledak terhadap Mona. Mona juga menggelengkan kepalanya ketika membaca bahwa semua ini adalah rencana Ardin.
“Kok Vera bisa bicara kayak begini, sih? Pakai bawa-bawa nama Kak Ardin segala. Kan gak make sense!” Mona protes dalam diamnya, ia sengaja tidak membalas apapun agar tidak memperkeruh suasana.
Mona mengunci ponselnya dan meletakan di atas meja belajar putihnya, Entah, malam ini perasaannya naik turun bak rolecoaster di Taman Impian Ancol. Padahal Taman Ancol lagi PPKM ngikut Pemerintah, gimana bisa naik? Ya tidak tahu, itu hanya perasaan Mona saja, tidak usah diambil pusing ya.
Jam dinding bermotif apel yang dipasang Mona di dinding kamarnya, sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Mona merebahkan badannya ke tempat tidurnya, dan menghadap ke kanan. Pikiran dan raganya tiba-tiba menjadi lelah dan enggan untuk melakukan apapun. Mungkinkah karena pesan yang baru dikirimkan Vera kah yang menjadi penyebabnya?
“Apa itu artinya Vera sudah menjadikan aku rival di dunia permodelan, ya? Kata-katanya kok mengancam gue!” pikir Mona sudah kotor.
Ia menggelengkan kepalanya, dan mengacak-acak rambutnya. “Ini gak boleh terjadi, gak boleh!”
Kepala Mona mulai mencekik, sakit vertigo yang dideritanya sejak kelas satu SMA, selalu kambuh ketika pikirannya kacau.
“Aaaaarh! Ini penyakit kenapa pakai acara datang segala, sih!” geramnya dan memaksakan kedua matanya untuk tidur.
***
Meraih cita-citanya menjadi seorang model terkenal, memang sudah dijalani Vera sejak duduk di bangku kuliah. Namun, sifat Vera yang tempramen dan ingin menang sendiri, menjadikannya egonya lebih tinggi dari mimpinya. Malahan, ia jadi pusing sendiri memikirkan rencana selanjutnya untuk menyingkirkan model yang dianggapnya sebuah ancaman karirnya.
“Parah! Ardin segitunya banget sih bantuin Mona untuk jadi model! Kenapa sih semuanya gak adill sama gue! Gue yang lebih dulu terjun dan pengalaman di model, harusnya dipilih dong!” gerutu Vera sambil men-scroll i********: yang sedang mencari model pemotretan.
“Bukan dipilih malah Mona si model kemarin sore! Ilmu masih sekecil upil gue, kok dijadiin model? Fix, gak kompeten banget semua butik ini!” Vera melempar ponselnya ke tong sampah plastiknya. Untung saja isi sampahnya kertas-kertas saja.
“Monalisa, lo jangan senang dulu ya karena lebih dulu direkrut jadi model. Gue akan menghentikan mimpi lo!” sinis Vera, menyilakan kedua tangannya. Bibirnya komat-kamit melumat kekesalan, matanya tajam mengarah dan membayangkan sosok Mona ada di depannya.