“Baik mahasiswa dan mahasiswi sekalian yang Ibu sayangi dan banggakan, hari ini kalian sudah melewati ujian harian Dinamika Kimia yang cukup rumit. Apapun hasilnya yang keluar, Ibu mohon jangan terlalu puas diri ketika nilai kalian tinggi, dan jangan terlalu tertekan jika nilai kalian rendah. Stay cool aja, toh ujung-ujungnya kalian sama-sama memegang gelar Sarjana Sains (S.Si),” ucap seorang dosen yang sedang membereskan kertas-kertas penuh jawaban yang sudah terkumpul di depannya.
“Baik, Bu,” koor beberapa mahasiswa di kelas itu.
“Ibu gak mau lagi ngelihat kalian posting story i********:, w******p, atau f*******: kalian dan menceritakan betapa beratnya ujian pada pagi hari ini. Apalagi kalian yang habis ini depresi atau minta di drop out dari jurusan Kimia,” pesan dosen yang sudah merapikan kertas-kertas dan peralatan ngajarnya.
“Iya, Bu,” koor mahasiswa lagi.
“Okelah kalau begitu, Ibu keluar kelas dulu ya, nikmati hari-hari istirahat kalian,” dosen itu melebarkan senyumnya dan melangkahkan kakinya ke arah pintu kelas.
“Selamat pagi Bu, terima kasih,” koor mahasiswa di kelas itu lagi.
Baru saja selangkah dosen tersebut meninggalkan ruang kelas pasca ujian harian, seluruh mahasiswa dan mahasiswi di kelas tampak riuh, seperti biasanya. Ada yang langsung membanting kursi karena hanya bisa menjawab satu soal, itupun ragu. Ada juga yang sedang menangis histeris sampai menelpon kedua orang tuanya di kampus. Ada juga yang diam, ketawa-ketiwi karena menyadari betapa bodohnya diri mereka.
Tok.. tok.. tok..
Seluruh orang-orang di dalam kelas langsung terdiam dan mengarahkan pandangannya ke pintu kelas. Dan ternyata dosen yang barusan keluar tadi kembali ke kelas. “Oh ya, sekali lagi Ibu tidak menerima surat dadakan ya, tiba-tiba ada surat di atas meja Ibu dan minta naikin nilai, atau tiba-tiba nge-chat dan mengumbar kesedihan ke Ibu. Ibu gak suka, soalnya Ibu suka baper!” Brak! Dan pintu itu langsung ditutup begitu saja.
Para mahasiswa dan mahasiswi saling bertatapan heran. “Kelakuan siapa noh yang suka nerror Ibunya?” tanya Lusi kepada teman-temannya.
Seperti biasa, tidak ada yang mau mengaku, dan semuanya menampilkan keluguan, kepolosan, dan wajah-wajah bayi tanpa dosa. Hmm, padahal dosanya sudah seabrek Mount Everest!
“Makanya, kalau mau ujian itu belajar yang benar, belajar yang rajin, kalau gak tau kan bisa nanya sama temannya yang lebih paham,” Lusi yang sangat sangat menghormati dosen dan juga pelajaran, memilih untuk angkat bicara soal informasi yang diucapkan ibu dosen.
Namanya sebagian besar mahasiswa memilih bodo amat, mereka tak satupun yang menggubris ucapan Lusi. Maklum, namanya mahasiswi ambisius kayak Lusi kan akan sebisa mungkin untuk menghormati apapun yang diajarkan di jurusan ini. Lusi yang juga kesal dengan informasi itu, keluar kelas untuk menghilangkan kepenatannya.
Lusi mengangkat tas slempangnya, dan menuju pintu yang tertutup. Dan ketika ia membuka pintunya.
“Hai!” laki-laki bermata cokelat muda, dengan hidung yang mancung ke depan, melebarkan senyumannya ke Lusi.
Lusi syok minta ampun, ia sampai mengelus-elus dadanya karena jantungnya berdetak begitu cepat. “Gue kaget!” seru Lusi.
“Hehehe maaf ya, gak bermaksud kok,” balas Wira sambil menyeringai.
“Ngapain di sini?” tanya Lusi yang dadanya masih berdebar hebat.
“Gak apa-apa, gue tadi ada kelas di samping, eh ternyata dosennya lagi ada kesibukan lain. Dan, akhirnya diliburkan, deh, seneng banget gue!” info Wira yang sebenarnya itu hasil karangannya saja.
Lusi menyeritkan dahinya, “Lo lebih suka pelajaran kosong daripada kelas terisi?” tanya Lusi.
Wira menganggukan kepalanya mantap.
“Ya elah, percuma aja kalau kuliah malah cari kelas kosong. Kuliah itu untuk menuntut ilmu, untuk mencari cara bagaimana bisa memahami konsentrasi ilmu yang suka kita pilih. Apalagi, kuliah ini biayanya gak gratis tau, bayar, dan terbilang cukup mahal. Kasihan banget orang tua yang sudah mati-matian cari uang untuk kuliah, ternyata anaknya lebih pilih kelas kosong,” sebutir siraman rohani yang dilontarkan oleh Lusi, pada seseorang yang berdiri tegak di depannya, Wira Brata Umur Silasa. Wira hanya bisa tersenyum dan menggaruk rambutnya seraya mendengarkan Lusi selesai menyampaikan siraman rohaninya.
Sementara itu, beberapa orang berdeham tepat di belakang Lusi. Lusi menoleh ke belakangnya. Mata Lusi terbelalak, “Eh maaf maaf,” kata Lusi sambil menunduk dan merapatkan telapak tangannya ke depan, bentuk permintaan maaf.
“Kalau siramam rohani jangan di depan pintu dong, kasihan nih kita-kita mau keluar tapi dihalangin sama kalian berdua,” ucap teman sekelas Lusi, yang memiliki rambut hitam pekat nan keriting itu.
“Oh iya, Mbak, Mas, mohon maaf sebesar-besarnya, ya. Silakan keluar,” ucap Wira lalu membuka lebar pintu kelas.
Sepuluh mahasiswa yang sudah mengantre rapi seperti antre sembako, dengan cepat keluar dari dalam kelas dan satu per satu dari mereka memincingkan sinis mata mereka ke arah Wira dan Lusi. Ada juga yang sengaja menyenggol bahu Lusi dan Wira.
“Udah, gak apa-apa, Lus!” bisik Wira.
“Ya emang gak apa-apa,” balas Lusi.
“Oalah, kirain lo khawatir gara-gara temen sekelas lo pada jutekin lo soal ngalangin jalan, hehe,” ucap Wira.
“Gak, paling besok mereka baik sama gue, kan besok ada tugas Biokimia II, dan hanya gue yang paham materi itu di dalam kelas ini. Otomatis kalau mau jawaban yang baik dan benar, harus baik-baik dulu ke gue,” kata Lusi dengan santainya.
“Oh gitu,” Wira mangut-mangut dan baru menyadari kalau perempuan incarannya ini merupakan role model mahasiswi yang rajin, taat, bisa diandalkan, dan tempat bergantung para mahasiswa lainnya untuk mengerjakan soal yang rumit.
“Ya udah, gue duluan ya mau rapat organisasi, kebetulan sebentar lagi ada kegiatan besar dan gue sebagai penanggung jawab,” Lusi menyingkirkan badan Wira dengan menepis bahu Wira yang menghalangi jalan Lusi.
“Eh, Lus, Lus, lo gak makan?” Wira memanggil Lusi.
“Belum, gue belum lapar. Nanti juga di organisasi ada iuran makan bareng dua ribuan, gue makan di situ aja,” jawab Lusi dan melanjutkan niatnya untuk berkumpul di organisasinya.
Wira tidak mau ketinggalan momen bersama Lusi, ia mengikuti langkah Lusi berjalan seraya berpikir sesuatu agar bisa memiliki waktu luang untuk bersama Lusi.
“Kalau boleh tau acara apaan, Lus, kali aja gue bisa bantu,” seru Wira dari belakang Lusi.
Lusi yang sangat welcome dengan seseorang yang ingin membantu, membalikan badannya dan tersenyum. “Yakin lo mau bantu?” Lusi memastikan.
Wira mengangguk sambil melengkungkan senyumnya, “Gue bantu lah, sebisa gue, karena gue juga punya keterbatasan, eehehe.”
“Tapi, gue menghargai niat lo yang mau ngebantu gue melancarkan acara ini. Jadi, gue dan seluruh anggota organisasi gue ini mau mengadakan—“
“Bentar ya, maaf gue potong, lebih baik kita minggir dulu deh duduk di kursi panjang itu aja, nanti ngalangin orang jalan lagi,” Wira memotong pembicaraan Lusi dan memegang bahu Lusi untuk duduk bersama di kursi kosong itu.
“Oke gue lanjut ya, jadi gue ada acara launching majalah tahunan. Dan, tipis-tipis merayakan ulang tahun organisasilah. Tapi, sebulan sebelum acara ini dana masih banyak yang belum terkumpul. Jadi….”
“Mau dibantu cari dana, ya?” Wira seperti bisa membaca pikiran perempuan yang ada di depannya itu.
Ribka langsung menyeringai dan tiba-tiba saja memegang pundak Wira, “Benar, lo seriusan kan mau bantu gue?”
“Iya, gue serius kok Lus! Kalau soal itu gue bisa,” kata Wira yang membuat Lusi tersenyum ke sekian kalinya.
Wira pun menatap ke arah kanannya, seseorang laki-laki sedang mengintipnya sambil meminum santai air mineral yang ada di tangan kanannya. Ardin, ia sengaja memantau perkembangan temannya, Wira. Ardin yang melihat Lusi sudah membubuhkan senyuman dan memegang bahu Wira, Ardin percaya kalau selanjutnya akan berjalan lancar.
“Gue gak ngerti apa yang mereka bahas, yang penting aura positif datang dari Lusi untuk Wira,” batin Ardin yang merasa bangga.
Ardin pun mengacungkan senyuman dan jempol kanannya ke arah Wira. Lalu Wira pun mendongakkan kepalanya ke Ardin, ikutan tersenyum.