“Ya udah, lo lanjutin aja ke organisasi lo buat rapat. Nanti semua anggota lo pada nungguin lo, lagi,” ujar Wira ke Lusi.
Lusi mengangguk, “Oke deh, gue tinggal dulu ya, terima kasih banget udah mau bantuin gue, oh ya, nomor lo berapa? Setelah rapat gue bakal hubungi lo supaya kita langsung ngerjain,” Lusi mengeluarkan ponselnya, dan menyodorkan ponselnya ke Wira.
“Catet ya, nol delapan satu dua tiga empat lima enam tujuh delapan sembilan sepuluh,” kata Wira sembari Lusi mencatatnya nomornya dengan baik dan benar.
“Sip, thanks ya!” Lusi kembali mengembalikan ponselnya ke tempat semula, yaitu di dalam tasnya. Dengan sergap pula, ia melambaikan tangan ke Wira dan pergi menuju ruang organisasi yang letaknya di ruangan koridor paling ujung.
Wira menatap Lusi yang berjalan setengah berlari, sembari Wira tersenyum dan dadanya bergejolak bahagia karena baru kali ini ia berani berbicara langsung berdua dengan Lusi.
Niat hati ingin langsung mengabarkan ke Ardin yang berdiri di sebelah kirinya itu, ternyata Ardin sudah hilang saja dan tidak terlihat dari pandangan Wira, “Ahelah Ardin udah pergi aja rupanya,” Wira menghela napasnya.
Tidak berpikir panjang, Wira pergi menuju kantin untuk mengisi keroncongan perutnya. Sedangkan, Ardin sedari tadi sudah berada di sebrangan lapangan, melihat gerak-gerik temannya yang memiliki paras tampan rupawan, Jacob. Bak menonton bioskop dadakan, Ardin memfokuskan pandangannya sambil ngemil pentol goreng.
***
Beberapa mahasiswa berseragam putih mulai dari baju hingga sepatu, memenuhi lapangan bola basket membentuk lingkaran. Jacob yang seorang diri duduk manis di kursi panjang berwarna putih itu, tatapan matanya tertuju pada gerombolan mahasiswa dan mahasiswi yag dikenal sebagai komunitas pencak silat Universitas Merem Melek.
“Mana ya si Ribka, kok gak ada kelihatan dari tadi,” batin Jacob yang sudah menilik satu per satu mahasiswa yang berkumpul. Namun nyatanya, ia tidak menemukan sosok perempuan yang pernah menolongnya saat nyaris pingsan di acara kampus.
Rupanya tatapan yang lahir dari kedua pupil Jacob yang berwarna biru langit itu, membuat mahasiswi yang berada di barisan tersebut merasa kagum. Dua mahasiswi berkali-kali melemparkan senyuman manis yang diarahkan untuk Jacob. Jacob yang tidak merasa keberatan, ikut melempar balik senyum dua mahasiswi itu.
“Tampan banget ya kayak Harry Potter!” bisik satu perempuan pada satu perempuan lainnya yang juga melirik Jacob.
“Iya, bener, bikin gak konsen aja ya kan,” balas perempuan lainnya dalam satu bisikan.
Jacob tetap mengembangkan senyumnya, dan membuat dua mahasiswi yang berada di lapangan itu oleng. Mereka tidak benar-benar memperhatikan latihannya. Seorang perempuan berpakaian serba hitam pula, datang dari arah belakang barisan dua perempuan yang ngintipin Jacob mulu.
“Hey! Yang fokus ya latihannya!” ujar Ribka menepuk bahu kedua perempuan itu lumayan keras.
Dua mahasiswi itu tersentak, dan bergegas mengulang gerakan yang sempat mereka tidak lakukan.
“Pada niat kan ikut lomba pencak silat antar kampus minggu depan?!” ujar Ribka sekali lagi dengan nada sedikit meninggi.
“Si si siap, Kak!” balas dua perempua itu, mereka pun melakukan pemanasan dengan tangan dan kakinya.
“Tunjukan niat kalian berdua! Kalau sudah berada di tempat latihan, simpan jiwa dan raga kalian di tempat ini! Jangan kemana-mana, jangan lirik sana lirik sini! Paham? Ribka yang mengacak pinggangnya sambil menatap dua perempuan yang dianggap tidak fokus, terus memfokuskan matanya, melihat gerak demi gerak yang dilakukan dua perempuan ini.
Dari arah kursi putih panjang nan kosong itu, Jacob baru menemukan paras belahan jiwanya yang sedari tadi ditunggu-tunggunya itu.
“Nah, itu dia!” ucap Jacob dalam hatinya, dengan berusaha tenang tanpa melakukan gelagat mencurigakan dan konyol itu.
Jacob melihat dua perempuan yang sempat menorehkan senyum untuknya, tiba-tiba saja memasang wajah yang kaku, dan auto kembali melakukan pemanasan. Padahal dari tadi cuma jalan di tempat. Ya, semua itu berubah saat Ribka datang dan menepuk pundak mereka berdua.
“1 2 3 4 5 6 7 8, ulangi!” kata Ribka mendikte anggotanya di depan barisan.
TOENG! TOENG TOENG!
Nada dering datang dari ponsel Jacob. Layar ponselnya terlihat ada pesan masuk dari temannya, Ardin.
“Eh Jac! Kenapa dari tadi lo duduk di situ doang?! Pakai acara senyam-senyum pula!” kata Ardin melalui pesan singkat.
“Iya, gue lagi cari cara buat ngomong sama Ribka. Lo bisa liat sendiri kan Ribka lagi asyik banget latihan pencak silat,” balas Jacob.
“Oke lah kalau begitu, good luck ya!” balas Ardin kembali, dan Jacob memasukan ponselnya ke dalam saku celananya.
“Pemanasannya yang serius, ya! Kalau main-main, nanti kalian akan cidera, dan itu bisa berakibat fatal bagi kalian sendiri,” seru Ribka untuk barisan pencak silat tersebut dan semuanya tampak fokus melakukan latihan.
“Kayaknya si Ribka ini tipe-tipe mandor, deh ya,” tebak Jacob dalam hatinya sambil melihat pergerakan yang dilakukan oleh Ribka.
Tak lama kemudian, Ribka juga mengikuti gerakan yang dilakukan barisan berseragam hitam itu. Ribka berloncat-loncat sambil mengayunkan tangannya ke depan. Dan, tidak lama kemudian….. BRAK! Tubuh Ribka terkulai lemas dan terjatuh ke tanah.
“Ribka kenapa woy!” ujar salah satu anggota pencak silat dan spontan semuanya memberhentikan aktivitasnya.
Seluruh anggota pencak silat mengerubungi Ribka yang sudah terbujur di tanah. Namun apa daya, Ribka sudah ditolong oleh laki-laki berkulit sawo matang, dan memiliki hidup mancung, Tono. Jacob yang tersentak berdiri, berniat untuk menolong Ribka. Pandangan Jacob yang masih mengarah pada Ribka dalam dekapan laki-laki seperti Tono, hanya bisa melihat saja. Jacob merasa terlambat sekali menjadi penolong Ribka pagi itu.
Tono sudah menggendong Ribka dan langkah lakinya mempercepat untuk menuju ruangan klinik. Semua anggota yang tadinya serius, tiba-tiba berubah menjadi kacau, tidak terarah, bahkan dua perempuan yang melirik Jacob tadi menghampiri Jacob.
“Halo Kak!” sapa dua perempuan berambut hitam dan berkulit putih itu pada Jacob.
“Eh, iya, halo juga,” Jacob menyapa balik.
“Perkenalkan, Kak, nama aku Liliana dari jurusan Ekonomi Pembangunan,” balas perempuan yang menyapa Jacob itu, yang hidungnya sedikit mancung.
“Perkenalkan juga, Kak. Nama aku Floresia dari jurusan Pendidikan Matematika,” perempuan disebelahnya yang menggunakan topi rotan ikut memperkenalkan dirinya, mengikuti Liliana.
“Oh iya, kalau nama gue Jacob, gue anak Sains dan Teknologi,” Jacob tidak ketinggalan untuk memperkenalkan dirinya.
“Oh Kak Jacob!” Liliana angguk-angguk sambil melirik sedikit ke Floresia.
“Wah keren banget anak Sains. Semester berapa, Kak Jacob?” Floresia membuka pembicaraan.
“Gak perlu lah masalah semester itu, hehehe,” jawab Jacob.
“Ya udah deh, kalau boleh tau kenapa dari tadi Kak Jacob duduk di sini selama kita latihan? Kak Jacob ngelihatin siapa sih sebenarnya,” kata Liliana sambil membuka ikatan di rambutnya, dan dielus-elusnya.
“Iya, Kak, apa ada seseorang yang Kakak tungguin dan ingin kenalan, gitu?” topi rotan milik FLoresia dibukanya. Ia ikut-ikutan mengelus rambut ikalnya mengikuti perempuan di sebelahnya.
Jacob terdiam, dan memperhatikan kedua perempuan yang berdiri di depannya sambil mengelus rambutnya itu. Tak lama kemudian, ponsel Jacob berdering, dan lagi-lagi layar ponselnya tertulis jelas nama Ardin.
“Lo ngapain di situ?! Bukannya tadi gue liat Ribka pingsan ya, kenapa gak lo kejar? Malah ladenin dua perempuan itu,” pesan Ardin.
Jacob menelan ludahnya. “Gue pikir setelah Tono ngegendong Ribka untuk ke klinik, gue udah gak perlu lagi nolongin,” balas Jacob.
“Ya gak gitu mainnya, Jac! Lo tetap harus kejar Ribka. Walaupun lo gak sempat nolong dia waktu pingsan, tapi kan lo bisa datengin ke klinik dengan bawain makanan atau buah gitu,” kata Ardin lagi.
Jacob yang baru memiliki ide berkat pesan dari Ardin, langsung menjentikan jarinya dan senyumnya terlengkung lebar.
“Thanks so much, Din! Gue gak kepikiran kayak gitu sebelumnya, hahaha. Ya udah gue mau beliin makanan untuk Ribka dulu,” balas Jacob dan menyempilkan kembali ponselnya ke saku celana.
“Kak! Kak! Nge-chat siapa sih, kayaknya senang banget deh sampai senyumnya lebar gitu,” tutur Liliana tak lupa dengan senyumanya pula.
“Eh, enggak, ini ada teman yang ngechat dan ngabarin kalau ada kelas kosong,” Jacob berbohong.
“Oh gitu…”
“Oh ya, kalau boleh tau tadi Ribka digendong sama pacarnya, atau?” Jacob berusaha mengulik soal Ribka lewat FLoresia dan Liliana.
Floresia dan Liliana saling pandang, “Itu Kak Tono, gue gak tau gimana hubungan antara Kak Ribka dan Kak Tono. Yang pasti, dimana ada Kak Ribka, pasti ada Kak Tono. Dan, Kak Tono baik banget sama Kak Ribka,” info Floresia.
“Tapi mereka gak pacaran, kan?” Jacob menegaskan pertanyaannya.
“Kayaknya enggak sih,” balas Liliana.
Senyuman di bibir Jacob mengembang lagi, “Terima kasih ya Liliana, Floresia, atas informasinya, gue mau pergi dulu, bye!” pamit Jacob pada dua perempuan yang berharap memiliki obrolan lebih banyak dengan Jacob.
“Eh, Flo! Kayaknya Kak Jacob itu tertarik sama Kak Ribka deh,” celetuk Liliana.
“Iya, bener. Dugaanku sih gitu. Apalagi ketika liat responnya waktu lo bilang Kak Tono dan Kak Ribka gak pacaran,” Floresia menegaskan.
“Kenapa gak suka sama gue aja sih, padahal kan gue lebih cantik daripada Kak Ribka,” nyinyir Liliana, sambil mencium rambutnya yang habis dimaskerinya tadi malam itu.
“Kak Jacob pantes buat gue, kali!” Floresia sewot.
“Eh apa lo bilang?! Enggak lah! Eh, gue duluan ya yang ngedatengin Kak Jacob!” Liliana gak terima.
“Tapi kan gue duluan yang bisikan lo kalau ada Kak Jacob duduk di sini!” Floresia gak mau kalah.
“Gue ah!” timpal Liliana.
“Gue!” kata Floresia.
“Diem lo!”
“Lo yang diem!”
“Berisik amat, Kak Jacob pasti milih gue, lah!”
“Gak mungkin, pasti suka gue lah!”
“Apaan sih lo!”
“Lo yang apaan!”
“Ayo duel pencak silat!”
“Ayo!”
Bukannya Liliana dan Floresia duel pencak silat, mereka malah melakukan aksi jambak-jambakan antar perempuan dan teriak-teriak di tengah lapangan. Ardin yang melihat kelakuan dua perempuan yang ada di depan pandangannya, geleng-geleng.
“Kalau mau berkelahi ya liat tempat juga, keles!” seru Ardin dan meninggalkan tempat itu.