(1)

1958 Words
Jacob memasukan tangannya ke dalam saku celananya, dan mencari rupiah yang sempat terselip di sisi kantongnya. Selembar uang dua puluh ribu rupiah berwarna hijau, berhasil ia temukan dan seperti biasa terkembanglah senyumannya di bibirnya. Jacob membayar untuk membeli buah apel dan pir untuk Ribka. Dan, setelah semuanya usai, Jacob langsung menuju ke klinik untuk menemui seseorang yang sempat pingsan di lapangan tadi. Sesampainya di sana, seperti biasa banyak sekali mahasiswi atau mahasiswa yang berlalu-lalang di dalam klinik. Tak heran juga jika beberapa kamar pasien hampir penuh. Ini sudah menjadi kebiasaan warga terhormat (baca: mahasiswa dan mahasiswi) Universitas Merem Melek setiap akhir semester. Pasalnya, mereka sangat mudah sekali untuk cidera, pingsan, ya pokoknya dikit-dikit langsung minta dilarikan ke klinik untuk istirahat. “Hmm, penyakitnya anak-anak di sini ya kan, bilang aja mau ngehindari pelajaran di kelas,” bisik Jacob melewati beberapa ruangan rawat sementara yang hampir semuanya penuh. Namun nyatanya, di dalam situ hanya ada mahasiswi dan teman mereka yang bersenda gurau sambil memakan mie ayam dan cireng bumbu rujak. Langkah Jacob berhenti tiba-tiba ketika melihat Ribka sedang berjalan dan melemparkan senyum pada Tono, di sampingnya. Langkah Jacob tampak ragu, ingin maju atau mundur cantik. Ia melirik ke samping kanan, ada sebuah bangku kosong. Akhirnya, ia menuju ke kursi kosong itu. “Terima kasih banyak ya, Ton, lo udah ngangkatin gue yang pingsan tadi. Dan lo ngebawa gue ke sini, hehe,” ujar Ribka saat melintas di depan Jacob. Tono yang berada di samping Ribka, ikut tersenyum, “Iya, sama-sama, Rib. Kan sesama anggota pencak silat dan berjuang bersama untuk Universitas Merem Melek,” “Oh ya, gue mau bayar utang gue dong, berapa tadi harga air mineralnya? Kan tadi beli airnya pakai uang lo, kan?” Ribka menghentikan langkahnya dan membuka resleting tasnya. Tono memegang tangan Ribka yang berusaha membuka resletingnya itu, “Ah, gak perlu Rib. Gak usah gantiin deh. Sekarang ini niatnya gue mau ngajak lo makan, mau nggak?” tawar Jacob. “Boleh deh,” balas Ribka mengangguk. “Ayok, ke mie ayam kesukaan lo, kan?” Tono merangkul Ribka. Ribka mengangguk tegas. Ribka dan Tono akhirnya keluar dari pintu klinik, tanpa menatap sedikitpun ke arah Jacob yang sedang terduduk dan membawa apel juga pir dengan kantong kresek putihnya. Jacob membungkukan badannya, dan menaruh kresek putih itu di depan kakinya. “Gue telat, gak sih?” tanya Jacob pada dirinya sendiri. Ia menundukan kepalanya, ditatapnya lantai yang bermotif kotak-kotak hitam putih itu. Di pikiran Jacob sudah banyak sekali hal-hal yang ingin ia bicarakan bersama Ribka, melalui sekantong kresek apel dan pir ini. Jacob pun beranjak dari duduknya, matanya tampak sayu dan lemah melihat kepergian Ribka dan Tono dengan senyum lebar di masing-masing bibir mereka. Jacob membuka ponselnya, dan mengirimkan sebuah pesan untuk Ardin. “Lo di mana, Din?” Tak menunggu lama, Ardin langsung membalasnya. “Di kantin nih sama Wira, lo sendiri di mana?” “Gue masih di klinik. Ya udah sekarang gue ke kantin ya nemuin kalian berdua,” Mengikuti langkah Ribka dan Tono, akhirnya Jacob keluar juga dari klinik kampus. Di sisi lain, tepatnya di belakang pillar besar berwarna putih, di depan pintu klinik. Dua perempuan yang sedari tadi mengikuti dan memperhatikan Jacob, merasa ada sesuatu yang berkilau dari pandangan mereka. “Eh, Li! Coba lo liat deh, itu di kresek putihnya kok ditinggal sama Kak Jacob, ya?” tanya Floresia pada Liliana sambil menunjuk ke kresek yang masih terikat rapi di depan kursi. “Gak tau, coba kita liat yuk!” ajak Liliana, langsung mengambil langkah cepat. Lilianalah yang berhasil tiba duluan, dengan sigap ia meraih kantong kresek putih dan menyembunyikannya di belakang punggungnya. Floresia menyeritkan dahinya. “Lo apa-apaan sih! Gue duluan kali yang liat! Sini gak?!” Floresia berusaha merebut kantong itu dari belakang punggung Liliana. Namun, Liliana memutar balikan badannya hingga Floresia berkali-kali gagal mengambilnya. “Ini bagian gue, Flo! Lo mending jangan ikut-ikutan deh!” Liliana memegang makin erat kantong kresek itu. Floresia yang terlanjur kesal dengan kelakukan teman satu organisasinya itu, pergi menemui satpam klinik dan membisikan sesuatu. “Pak, coba usir perempuan itu, Pak, dari tadi bikin ribut terus di sini,” bisik Flo dan mengarahkan jari telujuknya ke Lili yang mulutnya ngedumel dan menatap sinis ke Flo. “Oh, iya, Mbak, siap siap, demi ketenangan di klinik ini,” ujar satpam itu dan langsung pergi menuju tempat Lili. “Mampus lo!” geram Flo dan langsung ikutan melangkah keluar dari klinik. “Maaf, Mbak, lebih baik Mbak keluar saja ya dari klinik ini. Di sini tempat orang istirahat dan sakit, Mbak, jangan bikin kericuhan yang gak penting,” satpam menegur Lili. Lili memincingkan matanya ke satpam itu, “Kenapa sih Pak, mau aja disuruh sama Flo,” ujar Lili lalu ngacir ke luar dan tidak ketinggalan dengan kresek putih yang sudah ia incar dari tadi. *** Di dalam kantin sudah ada Ardin dan Wira yang sedang makan sambil bersenda gurau tentang keseruan hari ini. Datanglah Jacob dengan bibirnya yang sayu dan matanya yang tidak bersemangat. Langkahnya juga perlahan-lahan menuju ke meja dua temannya itu, tatapannya kosong. BRAK! Jacob duduk di kursi kosong sebelah Jacob dengan sengaja menghentakan kaki kursinya. Spontan Ardin dan Wira langsung mengarahkan kedua mata mereka ke Jacob. “Kenapa lo?!” senggol Ardin. “Iya, kok datang-datang murung begitu?” timpal Wira lalu menyuapkan nasi toge ke mulutnya. Orang kaya mah makannya toge. Jacob masih belum menjawab, ia malah menatap satu per satu makanan yang ada di depan Wira dan Ardin. “Jac? Lo laper, ya?” Ardin menebak asal-asalan. “Nih nih, nasi toge kesukaan gue, makan dulu gih,” Wira menyodorkan piringnya ke depan Jacob. Jacob malam menggelengkan kepalanya. “Gak, gue lagi gak lapar kok, Din, Wir,” kata Jacob dan mengembalikan lagi piringnya “Jadi, kenapa? Cerita dong!” Ardin memaksa. “Tapi kalau gak bisa sekarang ceritanya, gak apa-apa sih, Jac,” timpal Wira. “Ih sekarang aja ceritanya,” Ardin kepo. “Jangan gitu, Din. Kita gak tau kalau sekarang hati Jacob sedang sedih atau senang. Gak boleh maksa seseorang bercerita ketika sedang sedih,” Wira mengeluarkan kata-kata mengejutkan dari mulutnya. “Tumben lo ngomong gini, Wir!” kata Ardin menepis hidung Wira. “Ya gimana ya, gue juga pernah di posisi Jacob, galau dengan sebuah keadaan dan gak siap untuk menceritakan hal itu pada siapapun,” balas Wira lagi. “Iya deh iya, gue paham,” Andin mengangguk dan meneguk es jeruk yang telah dipesannya beberapa menit yang lalu. Jacob mengangkat wajahnya, ia melihat Wira dan Jacob satu per satu. “Gue rasa Ribka ada yang ngincer selain gue, deh,” ungkap Jacob. “Serius? Laki-laki yang tadi gendong dia, bukan?” Ardin mematikan. Jacob mengangguk pelan. “Dan gue udah ketinggalan jauh pendekatan ke Ribka. Laki-laki itu satu organisasi pencak silat, lebih lama kenal dibandingkan gue. Otomatis Ribka lebih enjoy ngobrol atau dekat sama laki-laki itu,” tutur Jacob dengan mata yang berkaca-kaca. Wira memegang bahu Jacob, “Jalani aja, Jac. Biarpun mereka sedekat nadi gimana pun, tapi kalau Tuhan berkehendak kalau Ribka adalah jodoh lo, semua gak ada yang bisa ngalangin,” ujar Wira. “Betul, itu. Jadi, lo gak usah khawatir dengan apa yang terjadi. Lo tetep aja berusaha dapatin Ribka, dengan cara terbaik lo sendiri, ya,” Ardin menimpali. Jacob pun kembali melukis senyum di bibirnya, “Gue juga gak habis pikir kenapa gue terlalu telat sama laki-laki itu. Salah gue sendiri sih gak cepat-cepat deketin Ribka. Harusnya ketika gue pingsan waktu acara kampus, gue—“ “Udah, Jac, lo kalau menyesali segala sesuatu yang udah terlewat, gak akan maju-maju. Yang penting lo optimis aja, aman,” kata Wira. Jacob yang termasuk laki-laki yang overthinking, biasa sekali menyesali segala perbuatan yang dilewatkannya beberapa hari, atau beberapa bulan yang lalu. “Janji deh, Jac, lo gak boleh kebiasaan mikirin yang aneh-aneh, yang gak terlalu bersangkutan lo,” Ardin menimpali. Jacob pun tidak keberatan melengkungkan senyumnya lagi. “Udah udah, daripada pikiran lo sumpek ya kan, cepetan gih pesan makanan dan minuman kesukaan lo. Gue yang traktir,” ucap Wira dan meraih menu yang berada di meja sebelahnya. “Idih, giliran Jacob datang ditraktir. Gue dari tadi kenapa bayar sendiri? Gak adil lo mah jadi temen!” Ardin tidak terima. Wira baru ingat kalau membicarakan soal “percuanan” atau “dunia traktiran” di depan Ardin itu harus melibatkan dirinya. “Eh iya gue lupa, ya udah makanan sama minuman lo gue bayarin juga, Din,” Wira berusaha adil. “Yeah, baik baner lo Wir. Kalau ditraktir begitu, gue mau nambah dong ya. Boleh kan?” tawar Ardin. “Ini nih, dikasih hati minta jantung,” Wira mendenguskan napasnya dan geleng-geleng. Ardin menyeringai, “Alah, duit lo dan keluarga lo gak bakal habis hanya karena traktir kita-kita di kantin ini, Wir. Gimana, boleh ya ya?” tawar Ardin sekali lagi. Wira mengangguk pelan, “Iya Din, iya. Sana pesan sepuas lo!” “Nah, kalau kayak gitu kan enak di gue hahahah. Eh by the way ada angin apaan nih lo traktir gue sama Jacob?” tanya Ardin. “Ya elah Din, masih sempat-sempatnya nanya begituan,” Wira menggelengkan kepalanya. “Oh apa jangan-jangan untuk menselebrasikan karena lo dan Lusi sudah berhasil menjalankan misi pertama, ya?” tebak Ardin. “Atau…. Karena sebentar lagi lo akan melaksanakan kencan pertama, dan lo traktir kita-kita ini sebagai bentuk perayaan kecil-kecilan?” tebakan Ardin makin ngawur. “Terserah lo, Din, terserah lo! Udah deh, tinggal pesan makanan sama minuman aja kok repot,” ungkap Wira. Jacob yang enggan berbicara, hanya senyum-senyum melihat tingkah laku kedua temannya itu di depan mata kepalanya sendiri. Bukan namanya trio wek wek kalau tidak melakukan hal-hal konyol, atau memperdebatkan hal tidak penting. Everything is remphongggg. *** “Baik teman-teman sekalian. Terima kasih atas waktu kalian yang sudah menyempatkan waktu untuk menghadiri rapat organisasi sastra ini. Gue harap, acara kita akan berjalan lancar dengan segala rencana yang sudah kita buat. Salam sastra mengudara!” tutup Lusi dalam rapat organisasinya yang dihadiri dua puluh lima anggota inti. Setelah selesai, Lusi beranjak dari duduknya dan membuka ponselnya. Kedua matanya tertuju pada nomor yang baru saja hadir di kontaknya beberapa jam yang lalu, Wira. Disaat itu pula, Lusi mengirimkan pesan singkat untuk Wira. “Hallo, apa benar ini Wira?” kata Lusi. “Iya, benar. Ini siapa, ya?” balas Wira. “Gue Lusi.” “Oh iya Lus, gimana? Rapat lo udah selesai ya? Apa mau sekarang kita berangkat cari danaya?” balas Wira menggebu-gebu. “Wih, semangat banget lo ya! Boleh deh. Tapi, gue mau makan dulu ya. Biar di jalan gak cari makan lagi, hahaha.” “Oke kalau begitu. Lo ke kantin aja sini gue traktir makan. Kebetulan gue sama temen-temen se-geng lagi makan dan traktiran,” Wira menawarkan Lusi. “Oke, boleh deh, Gue langsung cuss ke kantin kok, bye!” tutup Lusi. *** “Woaaaaaahhhhhhh ngeri ngeriiii!!!!!!!!!!” seru Ardin yang membaca seluruh pesan antar Lusi dan Wira. Wira yang sengaja memperlihatkan pesan itu pada Ardin dan Jacob, tidak menyangka respon yang diberikan pada Lusi. “Ternyata dia mau diajak gue makan, bro!!!” Wira kesenangan. “Iya, selamat ya bro!” Jacob ikutan senang, walau tadi hatinya begitu dicampakkan. “Rapiin rambut lo, biar kalau Lusi datang ke sini, tampang lo udah kayak Oppa-oppa Korengan, eh Korea maksud gue!” Ardin mengeluarkan sisir kecil yang berada di dalam kantong kemejanya. Sisir kecil berwarna merah itu disisirkannya mengarah ke rambut Wira yang sedikit berantakan. “Lo harus menghadirkan penampilan terbaik versi lo ketika kencan sama perempuan yang lo suka. Apalagi kencan pertama kali,” ucap Ardin sambil menyisir rambut Wira. Wira yang senyam-senyum dari tadi membayangkan bagaimana bisa agar rencana kencannya kali ini bisa berhasil. Cari dana untuk acara bareng, romantis sekali, gak?!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD