Kantin

1269 Words
Lusi sudah tiba di depan kantin. Dari jauh pun ia mengangguk karena berhasil menemukan keberadaan Wira. Sebelum memasuki kantin yang cukup riuh dengan mahasiswa dan mahasiswi yang sedang makan, Lusi mengambil kacamata yang bertengger di hidungnya, dan mengelapnya dengan tisu yang selalu ia bawa di kantong kemejanya. Lusi mengangkat kacamata tersebut dengan kedua tangannya, mencari cahaya agar bisa melihat dua kaca yang menyatu dengan kacamatanya. “Udah bersih, gue bersihin biar di sana gak salah orang. Biasa kan mata gue suka kabur, bahkan kadang-kadang gue gak mengenal siapa yang gue ajak ngobrol,” ucap Lusi dan membuang tisu yang bekas dipakainya itu ke tempat sampah. Dari kejauhan, Ardin sudah menyolek bahu Wira yang masih asyik meneguk minuman sisanya. Hingga Wira menyelesaikan minumnya, Ardin menunjuk ke arah pintu dan memberikan sebuah kode lewat matanya yang mengedip itu. Wira berusaha mengikuti arah bola mata milik Ardin, ia pun membalikan badannya. Wira pun sekejab membalikan lagi tubuhnya ke arah Ardin dan Jacob. “Dia datang, guys!” ujar Wira pelan-pelan dengan matanya yang menelik penuh deg-degan. “Santai ya, lo harus bersikap santai. Jangan kelihatan kalau lo lagi mencari kesempatan di dalam kesempitan!” bisik Ardin. Wira mengangguk paham, ia menarik napasnya panjang dan menghembuskannya. Aroma nasi toge rica-rica yang sempat dilahap Wira pun menguap hingga menusuk hidung Ardin dan Jacob. “Wlek! Wlek! Wlek!” kata Jacob sambil menutup hidungnya dengan tangan, sementara itu Ardin memundurkan badannya bersandar ke kursinya. Wira merapikan piring yang sudah kosong di depannya, diletakannya di meja sebelah yang juga penuh dengan piring dan gelas kotor. Tak lupa Wira merapikan rambutnya dengan minyak kemiri yang ia bawa kemana-mana. Perempuan yang memiliki ukuran baju eks el di badannya itu sudah berdiri di samping Wira. Dari kacamatanya, terlihat perempuan itu menyipitkan matanya menatap Wira. Wira menarik napasnya lagi secara diam-diam, dan menengadahkan kepalanya untuk berbincang dengan perempuan itu, Lusiana. “Eh, lo udah datang?” sapa Wira dengan senyuman manis menatap Lusi yang sedang berdiri di sampingnya. “Iya, maaf ya kalau gue telat. Lo udah lama ya di sini?” balas Lusi. “Enggak kok, gak terlalu lama. Lo mau pesan makanan apa? Cepetan pesan, gih,” ujar Wira. Ardin yang memiliki jiwa-jiwa cari perhatian namun emang baik beneran, beranjak dari duduknya dan mempersilakan Lusi. “Duduk di sini Lus, ya kali lo makan mau berdiri,” Ardin menyapu kotoran di atas kursi itu dengan tangan kanannya. “Oh, terima kasih, boleh ya gue duduk?” izin Lusi sambil tersenyum ke Ardin. “Ya boleh dong, sini sini,” Ardin lalu menghindari dari tempat duduk kosong itu dan mengambil kursi kosong yang berada di meja depan. Kini, Lusi dan Wira sangat berdekatan, mereka sampingan duduknya. Jacob melihat Wira yang sok ganteng seperti itu, ingin sekali meluakan makanan. Tak lama, Wira mengambil tempat untuk di samping Jacob. “Lo gak makan?” tanya Lusi ke Wira. “Hehehe, tadi gue makan duluan sama Ardin dan Jacob,” jawab Wira menyeringai. “Loh serius? Terus ngapain kita ke kantin? Dan, kenapa juga lo nyuruh gue pesan makanan? Gue gak enak kalau gue makan sendiri dan lo engga makan,” kata Lusi. “Udah, gak apa-apa. Oh ya, kenalin ya Lus, ini teman-teman gue, yang paling baik, selalu ada untuk gue, dan konyol abis. Yang ini, namanya Ardin, dia ketua BEM—“ Lusi langsung memotong. “Gue udah kenal sama Kak Ardin, ketua BEM yang paling banyak bicara saat ospek mahasiswa,” Lusi mengakui. “Dan, Kak Ardin juga pernah ribut di taman sama model kampus yang lagi ngehits itu, Mona ya namanya?” tambah Lusi. Ardin melempar pandangan heran ke Wira dan Jacob. Bisa-bisanya Lusi sampai mengetahui soal dirinya dengan Mona. “Maaf ya sebelumnya Lus. Emangnya lo kenal sama Mona? Kok bisa tau Mona sih?” Ardin melempar pertanyaan. Lusi terkekeh, “Jelas kenal dong, Kak. Mona teman baik gue, kok. Dia anak yang pekerja keras banget untuk mewujudkan cita-citanya sebagai model,” terang Lusi. Ardin mengangguk, “Oh ternyata kalian sudah kenal satu sama lain.” “Nah, Ardin ini suka sama Mona, beberapa kali ia cari cara untuk mendekati Mona. Dan, sebentar lagi bakal berhasil, deh,” tiba-tiba saja Jacob berkata seperti itu, tanpa dipikir terlebih dahulu. Ardin spontan mencubit lengan kiri Jacob yang kebetulan dekat dengannya. “Aw!” seru Jacob sambil mengusap bekas cubitan oleh Ardin. Lusi terkekeh lagi, “Ya gak apa-apa kalau Kak Ardin suka sama Mona. Itu gak ada salahnya, kok. Malahan kalau memang suka sama seseorang itu harus dikejar. Nantui diambil orang lain, loh!” balas Lusi. “Nah! Omongan lo benar, Lus!” Ardin menjentikan jarinya. “Nanti diambil orang kayak kasusnya ini nih,” Ardin mengedipkan mata ke arah Jacob. Jacob melirik kedipan mata yang dilakukan oleh Ardin. “Apa lo?!” protes Jacob membuat Ardin tertawa. “Sudah, sudah, kalian ini bikin ribut saja ya. Kasihan tuh Lusi habis rapat organisasi, berat banget tuh pikirannya. Kalian malah bikin lelucon di sini, bukannya tenang,” Wira mencoba mengentikan Ardin dan Jacob yang sedang melempar penderitaan. “Hehehe, gak masalah kali Wir. Toh anak-anak di organisasi juga rata-rata kayak mereka nih. Suka banget bercandaan. Justru itu yang bikin kita makin semangat dan terus memupuk keakraban,” balas Lusi. “Nah! Omongannya Lusi betul lagi, Wir!” Ardin menjentikan jarinya lagi. “Gue dan Lusi kan sama-sama anak organisasi, pasti tau lah gimana rasanya kumpul sama manusia-manusia konyol kayak kita,” Ardin menegaskan. “Permisi, gado-gado siram extra pedas satu, dan air mineral dingin satu,” seorang pelayan mendaratkan pesanan Lusi. “Iya, terima kasih ya, Mas,” balas Lusi ikut tersenyum. “Mas, minta total pembeliannya ya,” kata Wira. “Baik,” balas pelayan itu dan kembali ke peradabannya. “Wira, Kak Ardin, dan Kak Jacob, gue makan duluan, ya. Maaf loh gak sopan,” Lusi meminta izin lagi pada kakak-kakak tingkatnya itu. “Iya, silakan silakan,” timpal Ardin. “Oke,” ucap Jacob singkat. “Gak usah sok imut lo pada!” lempar Wira pada Ardin dan Jacob yang mengirimkan senyum pada Lusi. Ddddrrrttt…. Drrrttttt…. Drrtttt…. Mona “Hallo Kak Ardin, lo di mana?” Ardin sumringah menatap nama gadis pujaannya, Monalisa berada di layar ponselnya. “Lagi di kantin nih, ada apa ya Mon?” “Sekarang bisa ke depan kampus, gak? Yang ada tulisannya Universitas Merem Melek. Kita berangkat sekarang ke kantor Majalah Wajah Indonesia, gimana?” Tanpa perlu ba bi bu, Ardin siap segera melaksanakan keinginan Mona. “Siap, bisa kok. Gue ke sana sekarang. Lo tunggu di sana ya,” Ardin kembali menyimpan ponselnya ke dalam tasnya. Kunci motornya yang tergeletak di atas meja sebelumnya kini diraihnya dan dimasukan pula ke dalam kantong celananya. “Wir, Jac, Lus, gue cabut duluan ya,” ungkap Ardin yang sudah berdiri dengan tegaknya. “Mau ke mana lo?” tanya Wira. “Biasa, menjalankan misi,” jawab Ardin sambil menyisir rambutnya dengan sela-sela jari tangannya. “Sombong amat!” timpal Jacob. “Kenapa lo sewot, Jac? Lo harus kencangin lagi cara lo dapatin hati dia!” balas Ardin dengan santainya. “Iye, paham gue,” sewot Jacob lagi. “Ya udah deh, daripada waktu gue habis dengan percuma gara-gara ladenin orang kayak kalian semua, mending gue percepat langkah gue untuk menuju masa depan gue,” omongan Ardin kian digembor-gemborkan. “Bye!” kata Ardin melambaikan tangan ke Lusi, Jacob, dan Wira. Tampang tampan rupawan dengan tubuh tegak bak Captain America, membawa semerbak auro kejantanan yang melekat dalam diri Ardin. Hari ini, ia mendapatkan kepercayaan dari perempuan yang diincarinya, untuk menjadi wali. Akankah rencana itu berjalan lancar sesuai dengan ekspetasi?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD