Belanja (1)

1440 Words
Suara yang masih terdengar dari kamar tidur Wira, membuat Wira semakin sulit untuk memejamkan kedua matanya. Pasalnya, nama Bu Andya yang sempat menyorot perhatian Wira, tampak ada sesuatu yang tidak beres mengenai Bu Andya. “Hah? Bu Andya? Ada apa dengan Bu Andya, ya? Kok mamak sampai ngomong segitu kencangnya tentang Bu Andya,” pikir Wira. Wira beranjak dari tempat tidurnya, dan berusaha menguping pembicaraan antara ayah dan mamaknya di kamar sebelah. Wira menempelkan telinga kanannya ke dinding yang langsung menyambung ke kamar kedua orang tuanya. Samar-samar namun masih bisa diterima oleh telinga, Wira sigap mendengarkan perbicangan tengah malam itu. “Tenang Ma, tenang … “ ucap Pak Anwar. “Gimana mau tenang, aku sudah rela mengorbankan semuanya, tapi malah diejek-ejekin tuh sama si Andya!” gerutu Mamaknya Wira. BYAR! Suara pecahan kaca terdengar sangat jelas, membuat nada bicara Pak Anwar semakin meninggi. “Kamu tolong atur emosi kamu! Jangan dikit-dikit lempar ini, lempar itu!” ungkap Pak Anwar. Memang, Mamaknya Wira memiliki kebiasaan yang suka membanting segala hal yang ada di dekatnya jika emosinya meluap-luap. Dan bahkan pernah ponsel seharga lima ratus juta dilemparnya dengan cuma-cuma karena mendapati Pak Anwar yang berduaan dengan sekretaris perempuannya di kantor. Akibat cemburu buta, Mamaknya Wira naik pitam dan tidak mau mendengar penjelasan lebih detail dari Pak Anwar. “Apa perlu aku datengin si Andya itu supaya berhenti ikut campur?!” ungkap Mamaknya Wira. “Tenang, Sayang, kamu harus tenang!” terdengar suara Pak Anwar yang membisik Mamaknya Wira. “Sstttt sudah malam, Sayang. Gak enak kalau Wira beneran dengar pembicaraan kita tentang Andya,” Pak Anwar mencoba meredakan amarah Maknya Wira. Satu menit. Dua menit. Hingga sepuluh menit kemudian, sudah tidak terdengar sama sekali pembicaraan dengan nada tinggi yang mengarah pada Bu Andya. Padahal, Wira masih menempelkan telinga kanannya dan siap mendengarkan pembahasan yang selanjutnya. Namun, Wira yang memiliki firasat bahwa kedua orang tuanya tidak akan melanjutkan pertengkaran itu, langsung melangkah mundur. “Semoga semuanya akan baik-baik saja,” lirih Wira. Wira kembali menuju tempat tidurnya, selimutnya siap untuk memeluk dirinya kala dinginnya air conditioner di dalam kamar. Wira memejamkan kedua matanya dengan terpaksa. Walaupun di dalam benaknya masih banyak tanda tanya yang belum terjawab, terutama soal Bu Andya. *** Keesokan harinya, Jacob menelpon kedua temannya, Wira dan Ardin untuk menemaninya di kantin. Cepetan ke kantin sekarang, gue habis dapat give away, kalian semua bakal gue traktir! Bunyi pesan Jacob yang seperti itu sudah terkirim ke masing-masing nomor Ardin dan Wira. Pesan diterima. Wira. Oke, Jac. Gue bakal ke sana setelah kelas gue selesai. Nih dosen killer, susah mau kabur. Jacob meletakan ponselnya di atas meja, karena memang tujuannya hanya mengirimkan pesan ke Ardin dan Wira untuk berkumpul seperti biasa. Lima belas menit kemudian, datanglah laki-laki yang wajahnya biasa-biasa saja, tidak ada perubahan. “Oy! Maaf ya sudah nunggu lama,” laki-laki bernama Wira itu menepuk pundak Jacob dan langsung menduduki kursi kosong yang ada di samping Jacob. “Enggak kok, sekitaran setengah jam doang gue nunggu,” balas Jacob. “Oh gitu. Baguslah. Oh ya, Ardin mana? Udah lo sms, kan?” tanya Wira yang tidak biasa Ardin tidak ikut dalam pertemuan kelompok wek wek itu. “Gak tau ya, udah gue sms. Tapi gak ada balesan,” jawab Jacob sambil menaikan kedua bahunya, yang artinya benar-benar tidak tau. “Coba sms aja lagi, kali aja dia gak buka hape,” saran Wira. “Okelah,” balas Jacob. Jacob meraih ponselnya kembali dan mengetikan sebuah pesan untuk dikirimkan ke Ardin. “Bro, di mana? Gue sama Wira udah ada di kantin nih. Sini yok ngumpul,” kata Jacob. Tidak lama kemudian, pesan dari Ardin pun datang. “Maaf bro, gue lagi bantuin Mona siapin acara pameran besok. Ini gue lagi ada di butik, maaf banget ya kali ini ngumpulnya skip dulu,” balas Ardin. Jacob mangut-mangut dan kembali meletakan ponselnya di atas meja. “Biasalah, ngebucin,” terang Jacob pada Wira yang membuat Wira ngeh. “Oh gitu, ya udah biarkan aja, emang itu kan keinginan Ardin dari dulu, bisa deket sama Mona, bahkan macarin Mona,” Wira santai. “Iya bener, kalian berdua enak, ya. Bisa deket sama inceran kalian masing-masing. Kalau gue, mesti keduluan terus sama laki-laki yang namanya Tono itu! Sebel gue!” jelas Jacob. Wira terkekeh melihat Jacob untuk pertama kalinya mendekati perempuan, raut wajah yang Wira lihat pun untuk pertama kalinya seperti itu. “Sumpah lo kesel gara-gara Ribka diselip? Gue kira lo cuma kesel ketika dosen ngacangin lo atau mata kuliah lo gak dapat nilai A,” kekeh Wira. “Ye! Itu mah beda cerita lagi. Gue bener-bener deh, kesel banget sama yang namanya Tono itu!” kata Jacob mengepalkan tangannya. “Sabar, sabar, kalau memang jodoh pasti ketemu dan bersatu, kok,” Wira menenangkan sambil mengacak rambut Jacob. “Ya udah, lebih baik kita makan dulu biar gak emosi,” ajak Wira dan Jacob mengamini. *** Suasana tempat perbelanjaan di siang ini dipenuhi oleh perempuan yang rentan umurnya delapan belas hingga tiga puluh tahun. Apalagi ketika disebuah spot yang menyediakan khsusu kelengkapan perempuan. Hal itu membuat Ardin geleng-geleng kepala banyak sekali perempuan yang sibuk dengan urusannya masing-masing mencari barang yang susah memenuhi kriteria mereka. Begitu pula dengan Mona, sudah hampir dua jam mutar-mutar di tempat perbelanjaan ini, belum satupun barang yang berhasil memikat hatinya. Berkali-kali pula ia menanyakan “keindahan” barang tersebut pada Ardin, namun usulan Ardin tidak juga dipakai. Biasalah namanya juga perempuan. “Kak Ardin, kira-kira cocok nggak ya di gue?” tanya Mona sambil menempelkan baju warna ungu muda lengkap dengan pernak-pernik emas di bagian dadanya. “Bagus kok! Semua yang lo pegang tadi bagus-bagus semua,” jawab Ardin mengacungkan kedua jempolnya. “Serius? Apa gue beli yang ini aja, ya?” jelas Mona yang masih memegang baju ungu muda itu dan berputar-putarlah Mona menatap keindahan baju itu. “Iya, beli itu aja Mon! Cocok banget di lo! Lo bagaikan putri raja!” Ardin menekankan Mono untuk segera mengambil baju itu dan membayarnya. “Tapi—“ Mona meletakan lagi baju itu ke raknya. Ardin menghela napasnya, “Sudah berapa kali Mona melakukan hal itu?” batin Ardin. “Tapi kayaknya gak cocok deh sama dress code pameran besok. Kan warnanya harus merah muda, ayo kita cari lagi, Kak!” timpal Mona yang masih diselimuti rasa semangat. Berbeda dengan Ardin yang terus mengikuti Mona dari belakang, memasang wajah bahagia namun dalam hatinya lelah. Mona masih menelusuri satu per satu rak-rak baju yang berjejer itu. Tangannya menyelip ke sela-sela baju yang tersusun, dan dilihatnya sekejab demi sekejab. Hanya dengan sentuhan tangannya selama 5 detik, Mona sudah mampu menyimpulkan kualitas dari baju itu. Ardin masih setia menguntit Mona. “Kak Ardin gak apa-apa nih nemenin gue belanja?” tanya Mona dengan matanya yang fokus diantara rak-rak baju. “Ya gak apa-apa, emangnya ada apa?” jawab Ardin. “Kali aja ada rapat organisasi atau kelas gitu, atau acara ngumpul kecil-kecilan sama temannya. Nanti gara-gara gue, malah rencana itu gagal,” ungkap Mona. “Santai aja, gue kan udah janji mau nemenin lo. Ya harus gue lakuin sampai tuntas, lah,” Ardin pun tak mempersalahkannya. Baginya, kesempatan ini adalah kesempatan emas, bisa seharian jalan di sebuah Mall bersama Mona. “Baiklah, gue segera dapatin baju pilihan gue, Kak!” tandas Mona yang membuat wajah Ardin tampak membaik. “Kak Ardin capek? Nanti kalau capek, duduk aja dulu,” Mona melirik ke kursi kosong yang berada di bawah air conditioner. “Ah enggak, gue masih kuat kok, bahkan kaki gue diciptakan untuk mengarungi samudra, masa iya capek? Gak dong!” Ardin mengelak. Lagi-lagi Ardin suka sekali berbohong demi terlihat “perhatian” di mata Mona. Padahal … “Gile lu Mon! kaki gue udah getar-getar dari tadi lo masih santuy aja ngajak gue keliling-keliling” ucap Ardin dalam hatinya. Tidak lama kemudian, pandangan Mona tertuju pada baju dress berwarna merah muda dengan garis putih membentuk pita di pinggangnya. Bagian bawah dress yang memekar, serta di bagian pinggang yang mengerucut, membuat Mona ingin mendapatkan dress itu. “Ini cantik banget, Kak!” ucap Mona antusias sambil mengangkat baju itu. “Nah iya! Cocok banget nih sama lo! Paling cocok gak ada tandingannya!” jawab Ardin gak kalau antusiasnya. “Ini aja ya gue beli?!” kata Mona yang sudah memeluk dress merah muda itu. “Iya, sekarang yuk bayar bayar. Tuh kasirnya di sana!” Ardin menunjuk ke kasir untuk menggiring Mona agar segera membayarnya. “Ya ya ya!” Mona menganggukan kepalanya dan menuju kasir dengan wajah semringah karena telah mendapatkan baju sesuai dengan kemauannya. Ardin dari belakang hanya berbatin sambil bernyanyi … A … khir … nya … kumenemukanmu …  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD