Malam Itu

1163 Words
Persis seperti apa yang ia pikirkan tadi sore, Jacob tidak mau ketinggalan satu langkah dari Ardin dan Wira. Makanya, malam ini ia sudah duduk manis di pos ronda bersama ponselnya. “Namanya jodoh paling ketemu malam ini,” ujar Jacob yang menantikan Ribka melintas. Sambil menunggu Ribka, daripada gabut tidak bermanfaat, seperti biasanya Jacob mengutak-atik ponselnya yang ada di tangannya. “Give away time!” Seru Jacob dengan wajah bersinar-sinar tersenyum, tampak giginya yang begitu rapi. Mungkin, jika ponsel Jacob bisa berbicara, ia akan protes pada Jacob kalau dirinya selalu jadi tepat untuk berjudi. Kok bisa berjudi? Iya, selalu menanti undian yang hanya mengandalkan roda-roda yang berputar, mengiringi namanya. “Lumayan ini mah dapat hadiah laptop!” wajah Jacob yang selalu terbelalak bila melihat hadiah yang harganya begitu fantastis. “Cusssss!” seru Jacob lagi dan ia mulai mengikuti syarat-syarat untuk berkesempatan mendapatkan hadiah laptop yang ia incar itu. Tidak hanya satu give away, Jacob yang setia menduduki sifat “pecinta gratisan” itu membuatnya tidak puas jika hanya berkontribusi dalam satu give away. Makanya, ia tak gentar untuk mencari gratisan yang lainnya. “Sebenarnya hidup mengandalkan keberuntungan dari give away saja tidak cukup, tapi gue yang gak ada kerjaan gini, cuma kuliah, pulang, kuliah, pulang, gak memungkinkan gue untuk dapat uang. Ya mau gimana lagi,” gerutu Jacob sambil men-scroll ponselnya. Kurang lebih setengah jam Jacob sendirian terduduk di pos ronda hanya dengan ponselnya, ia mendapati gadis incarannya yang sudah ia tunggu-tunggu, Ribka. Perempuan yang memakai baju pencak silat serba hitam-hitam itu, terlihat ingin melewati pos ronda, di mana Jacob berada. “Nah, yang ditunggu-tunggu pun tiba juga,” Jacob antusias. Saking antusiasnya, ia sudah membawa cermin, pengeras rambut, dan sisir, agar terlihat gantleman di depan Ribka. Sambil menunggu Ribka mempercepat jalan ke arahnya, Jacob mengambil cerminnya dan memakai sedikit pengeras rambut. Sisir kecil mungil yang dibawanya, tak terlepas dari rambutnya yang sudah berkilau karena pengeras rambut. Tidak hanya itu, selesai memperbaiki rambutnya, Jacob tak ada henti-hentinya memuji wajahnya sendiri di depan cermin yang telah dibawanya. “Jacob … Jacob … lo ternyata tampan ya, nyokap lo Jawa, bokap lo Belanda, lo lahir menjadi lelaki tampan dan memikat hati banyak wanita. Ini saatnya lo membuktikan ketampanan lo di depan Ribka,” kata Jacob. Tidak lama kemudian, Ribka perlahan-lahan sudah dekat dengan Jacob. Namun, karena keasyikan bercermin memperbaiki rambutnya, tanpa sadar Tono sudah ada di samping Ribka, ketawa-ketiwi sama Ribka. Hati Jacob yang tadinya tampak antuasias menyambut kedatangan belahan jiwanya itu, tiba-tiba mulai terguncang dan tidak mampu merasakan sakit yang ia rasa. Hati yang tadinya utuh, kini menjadi terbelah berkeping-keping karena pemandangan dua manusia yang sangat tidak diharapkan oleh Jacob. “Perih … sakit … kenapa malah jadinya kayak gini? Lah itu Tono kenapa langsung ada di samping Ribka? Sial!” geram Jacob yang menatap sinis laki-laki berbadan kekar yang berada di samping Ribka. Jacob hanya bisa menunggu Tono dan Ribka melintas di depannya. Matanya sudah sangat tajam menatap dua orang yang akan lewat di depannya malam-malam itu. “Ih, tadi itu seru banget ya latihannya!” ucap Tono pada Ribka, dengan memperlihatkan gigi-giginya yang besar. “Hehe, kayaknya tiap hari memang seru, deh,” balas Ribka dengan senyumannya pun. “Kalau kemarin-kemarin kayaknya enggak, soalnya gue gak pulang bareng lo!” ucap Tono dengan nada merayu. “Apaan sih, haha, tiap hari kan sering ketemu, di tempat latihan, di kampus, di komunitas, ya walaupun gak pulang bareng, sih,” balas Ribka santai. Jacob hanya bisa melihat Ribka dan Tono saling bercengkrama tanpa ada perselisihan di dalamnya. Ingin rasanya berteriak karena kegagalan untuk kedua kalinya mendekati Ribka. Selalu saja ada Tono yang menghalanginya. Walaupun kedua mata Jacob sangat intim melihat Tono dan Ribka, sayangnya Tono dan Ribka tidak memperhatikan keberadaan Jacob di pos ronda pada malam itu. “Besok lusa lo latihan malam lagi, gak?” tanya Tono ke Ribka. “Ya jelas dong, kan mau ada lomba, masa iya males-malesan latihannya?” jawab Ribka. “Baguslah kalau gitu, kalau lo gue antar jemput saat latihan malam gimana? Kasihan lo sendirian pulang pergi jalan kaki, mana sudah malam, perempuan lagi,” tawar Tono yang hinggap di telinga Jacob. Jacob hanya bisa menggerutu mengeraskan gigi-gigi depannya mendengar ucapan Tono yang dianggapnya sok gentle. “Liat nanti aja ya, sebenarnya gue gak masalah mau pulang pergi latihan sendirian. Toh, gue kan sudah jago pencak silat, kalau ada yang macem-macem sama gue, bisa gue balas balik!” balas Ribka menceritakan kejagoannya. “Betul juga sih, hahaha,” timpal Tono. Tono dan Ribka pun melewati pos ronda, dan keluar gang dengan dibumbui perbicangan yang asyik, lengkap dengan canda tawa yang tergambar di wajah mereka masing-masing. Never mind I’ll find someone like you … I wish nothing but the best for you, too … Don’t forget me, I beg .. I remember to said … Sometimes ot lasts in love, but sometimes it hurts instead … Tiba-tiba saja backsound yang menyanyikan lagu Adelle – Someone Like You itu terdengar di telinga Jacob. Dan sontak saja, rasa kalut di dalam dadanya begitu meronta. Kalutnya hati dirasakan Jacob cukup mendalam, pasalnya perjuangannya menunggu Ribka di pos ronda malam-malam begini malah berakhir tak penuh canda. “Nasib gue, nasib gue … “ keluh Jacob. Ia menatap rambutnya yang tersisir rapi, dengan balutan pengeras rambut yang membuat rambut hitamnya sedikit berdiri. “Nyatanya, rambut gue yang sudah cetar ini malah tidak membuahkan hasil. Gagal lagi deh,” katanya sambil menggelengkan kepalanya. “Ada apa sih yang salah sama gue? Kenapa selalu keduluan sama Tono?!” marahnya dan Jacob memutuskan untuk pulang berselimut rasa kecewa. Sian amat! *** Wira sudah nyantai di kamarnya yang sebagian besar terbuat dari batu marmer mahalan. Ia memikirkan sosok Lusi, yang seharian tadi bersamanya untuk meminta dana. Senyum-senyum lugu dihaturkan pada Wira, yang tak menyangka bahwa ia dan Lusi bisa sedekat itu. “Gak nyangka ya, biasanya gue cuma liat Lusi dari kejauhan, eh sekarang sudah satu motor aja,” kata Wira. Namun, terlintas pula pikiran Wira yang menimbulkan tanda tanya mengenai Bu Andya. Wira miliki firasat yang sangat kuat, melihat kejadian tadi siang. “Kira-kira siapa ya sebenarnya Bu Andya itu? Kenapa waktu ketemu gue tuh auranya kayak beda,” terka Wira. Wira berusaha mengingat kata demi kata yang diucapkan Bu Andya tentang dirinya, begitu pula dengan mimik wajah Bu Andya ketika berbicara dengan Wira. Malam sudah mulai bergulir dan semakin gelap. Wira mencoba menenangkan dirinya untuk berdamai dengan apa yang ia jalani hari ini. Mungkin, esok hari akan dibuatnya lebih paham dan mendalami apa yang sebenarnya terjadi. Jam di dinding sudah menunjukan pukul 01.00 dini hari. Mata Wira yang dipaksa untuk tidur, merasa tidak mampu. Wira lalu membuka matanya, samar-samar terdengar sebuah keributan yang berasal dari kamar sebelahnya, kamar milik ayah dan mamaknya. “Aku gak mau ya kalau Andya sampai ngancurin keluarga kita! Apa dia gak puas dengan semua yang sudah kita beri ke dia?!” bunyi ucapan Mamaknya Wira sampai ke telinga Wira. Wira terbelalak, seakan-akan enggan tidur malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD