Bukan hanya Mona yang menatap pekat mata Ardin, Ardin pun merasakan bahwa dua mata Mona yang menatapnya itu penuh alasan. Ardin tetap fokus menjalankan rencananya seperti yang dibicarakan diawal, membuat investigasi perihal Majalah Wajah Indonesia. Namun, wajah Mona yang membuatnya menjadi semakin semangat.
“Mon?” tegur Ardin melihat perempuan di depannya itu bengong sambil menatapnya.
“Eh, iya?” Mona menggelengkan kepalanya, dan memperbaiki posisi duduknya. Kali ini dagunya tidak lagi ditopang oleh tangannya, melainkan tangannya dilipat manis di atas meja.
“Lo masih paham kan gimana rencana kita?” tanya Ardin.
“M … m … m … masih, kok Kak,” jawab Mona dengan gaguk.
“Baik kalau gitu, apa balasan dari Rosalinda?” Ardin melirik sedikit ke ponsel Mona.
“Oh ini,” imbuh Mona dan mendekatkan ponselnya ke Ardin.
Mona yang sedikit mengangkat duduknya dari kursi, begitupun dengan Ardin. Mereka sama-sama memfokuskan pandangannya ke layar ponsel Mona, yang sudah terlihat balasan pesan dari Rosa.
“Kegiatan di kantor Majalah Wajah Indonesia ditutup sementara waktu, Mon,” balas Rosa lewat pesan.
Ardin dan Mona saling memandang heran, mereka sama-sama menyeritkan dahi mereka dan mata mereka seolah menimbulkan pertanyaan.
“Mending lo langsung telepon aja, deh, kayaknya ada yang gak beres,” pikir Ardin.
Mona yang sepemikiran dengan Ardin, cepat-cepat menekan tombol calling yang tertera di pojok layar ponselnya.
Calling … Rosalinda.
“Hallo, Mona? Iya, ada apa Mon?” Rosa mengangkat begitu cepatnya.
“Hai, Ros. Lo sibuk nggak kira-kira?” tanya Mona sebelum membuka pembahasan lebih jauh lagi.
“Gak juga sih, gue lagi nyantai aja kebetulan tugas kuliah gue udah kelar,” kabar Rosa.
“Oh baik lah kalau gitu. Ros, sebelumnya maaf kalau bahasan gue di telepon kali ini kurang berkenan di hati lo. Lo keberatan gak kalau gue ajakin bahas tentang Majalah Wajah Indonesia?” tanya Mona dengan keraguan dan mengigit pelan bibir bawahnya. Jemari di tangan kanannya pun menjentik di atas meja.
“Hmm, keberatan kenapa coba? Ya ayo dibahas saja,” kata Rosa santai.
Mona menampilkan jempol tangan kanannya ke Ardin dengan senyuman kecil di bibirnya. Ardin yang paham kalau suasana sudah aman dan bisa dilanjutkan, ia ikutan mengeluarkan jempol tangannya untuk Mona.
“Good luck!” ucap Ardin tanpa bersuara.
Masih menelpon Rosa …
“Ros, lo kan tadi ngomong tuh kalau seluruh kegiatan yang ada di kantor majalah itu berhenti sementara. Kalau boleh tau mulai dari kapan diberhentikannya?” tanya Mona yang sudah mengarah pada inti pembicaraan.
“Terakhir yang gue paham sih, waktu pelatihan terakhir ini. Kan rencananya kita mau pelatihan dua hari yang lalu, semua persiapan sudah mateng seratus persen, tiba-tiba diberhentikan aja,” jawab Rosa.
Mona mangut-mangut, “Gak ada alasannya kah kenapa mereka memberhentikan acara kalian?”
“Enggak,”
“Kalian sudah bayar penuh semua?”
“Ya sudah, bahkan tiga hari sebelum acara, semua peserta kayak kita tuh harus sudah melunasi,” aku Rosa.
Mona berpikir sejenak, sepengetahuannya selama menjalani kegiatan di agensi tersebut, para model harus mengeluarkan uang untuk acara sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah. Namun, Mona masih bersikap positif, ia melanjutkan menggali informasi lagi lewat Rosa.
“Pembayarannya berapa, Ros?” tanya Mona. “Sama kayak acara di kampus gue itu, bukan?”
“Iya, benar, sama Mon. Seluruh kegiatan kan memang disuruh bayar segitu,” terang Rosa.
Mona menelan ludahnya, pikirnya pun sudah tertebak dan menimbulkan jawaban yang benar.
“Terus, pihak kantor ada ngomong sama model-model nggak kapan pelatihan akan dilaksanakan?” tanya Mona lagi.
Rosa pun menggeleng. “Gak ada. Ya, kita semua hanya bisa berdoa aja sih Mon, semoga kita tetap bisa mengejar mimpi sebagai model,” tandas Rosa.
“Aaamiiiin, gue bantu doa ya. Oh ya, lo punya kontak orang kantor nggak? Mungkin manager atau HRD deh,” tanya Mona yang sudah siap-siap memegang pulpen dan kertas untuk mencatat.
“Ada, Pak Veri. 0 8 1 2 4 5 2 2 2 4 4 2 itu ya, Mon,” terang Rosa dan Mona sudah dengan sigap mencatatnya.
“Oke terima kasih banyak ya, atas informasinya, Ros. Maaf gue ganggu waktu lo siang-siang begini, hehe,” kata Mona mengakhiri teleponnya.
“Iya, sama-sama, Mon. Gak kok, lo lagi gak ganggu, santai aja,” Rosa mengelak.
“Bagus lah kalau begitu, ehehe. Udah dulu ya teleponnya, segera lanjutkan aktivitas lo,” ucap Mona.
“Oke, Mon, bye!”
“Bye!”
Telepon itu kian tertutup dan Mona meletakan ponselnya di atas meja. Ia menarik dan menghela napasnya dalam-dalam. Melirik ke arah Ardin yang dari tadi memperhatikannya ia berbicara dengan Rosa lewat telepon.
“Gimana hasilnya, Mon? Ada titik terang?” tanya Ardin sambil menyeruput air mineral yang baru saja dipesannya.
“Gak ada, sejauh ini Rosa cuma tau kalau operasi kantor ditutup sementara waktu sampai dengan batas waktu yang gak ditentukan,” jawab Mona dengan tatapan sayu.
“Ya semoga kedepannya pelan-pelan kita bisa dapatin info lebih. Menurut lo ada sesuatu yang janggal lagi, gak?” tanya Ardin.
“Soal duit sih. Pihak kantor sudah mengantongib satu setengah juta milik para model untuk acara pelatihan. Dan kalau sampai gak tau kapan pelatihan itu dilaksanakan, pikiran gue mengatakan kalau—”
“Kantor itu penipu?” timpal Ardin dan membuat Mona tersentak.
“Ternyata bukan hanya gue yang berpikiran seperti itu,” imbuh Mona.
“Udah sering kejadian kayak begitu di kota ini, yang menyasar ke mahasiswa kampus. Pokoknya alih-alih bantuan sosial, atau mengikuti sekelumit acara, mereka dengan seenaknya minta uang sana-sini ke mahasiswa dan entah dibuat apa. Ya, semogalah pikiran kotor gue gak berhasil membuktikan kantor itu. Kasihan kalau memang itu kantor penipu,” Ardin membasuh dirinya dengan pikiran jernih.
“Iya, semoga saja ada cara yang baik dan elegan dari kantor supaya bisa menghargai para model-model,” harap Mona.
“Coba nanti gue bantu tanya sama Vera sekalian, ya,” timpal Ardin.
Mona menyeritkan dahinya. “Loh, kok ke Vera? Katanya tadi nggak usah,” balas Mona.
“Ya kalau gue mood, gue tanya, tapi lebih banyak gak mood-nya sih, hehehe,” Ardin nyengir.
“Ye! Dasar lo Kak! Gak usah ngomong kalau gitu!” Mona menepis pelan Ardin dengan tangannya.
“Hehehe, oh ya, kita cabut sekarang, kah?” tawar Ardin yang melihat pesanan di atas mejanya sudah habis dan rapi tak tersisa.
“Boleh, boleh, boleh,” Mona memasukan ponselnya ke dalam tasnya, dan beranjak dari duduknya untuk membayar.
***
Jacob hanya duduk termenung di depan teras rumahnya. Hari ini, dua sahabatnya, Ardin dan Wira sedang bercengkrama manis dengan perempuan incaran mereka. Tidak dengan Jacob yang belum melakukan apa-apa, Ribka sudah diselip duluan sama Tono yang badannya kekar dua kali lipat dibandingkan Jacob yang olahraga aja ogah-ogahan.
“Hmm, memang nasib gue gini, ya, jomblo abadi,” katanya sambil menatap awan-awan yang bergerak di langit.
“Kalau gue tadi itu langsung sok kenal dan bantuin Ribka, apa gak menimbulkan pertanyaan bagi Ribka? Nanti tiba-tiba gue ditentang kayak kasusnya Wira tempo hari,” Jacob menyadari kesangaran yang dimiliki Ribka. Sekali ada orang yang menguntitnya, tidak membuatnya nyaman, atau bahkan sok kenal dengannya, Ribka akan memasang kuda-kuda atau persiapan diri untuk membuat orang itu tersungkur.
Dan tidak ingin menjadi jomblo satu-satunya di trio wek wek, Jacob memikirkan cara lain lagi untuk bisa mendapatkan hati Ribka.
"Gimana kalau malam ini gue stand by di depan pos ronda lagi, ya? kali aja Ribka pulang lewat sini habis latihan. Ah ide bagus!" kata Jacob menjentikan jarinya.