Meskipun Ardin sudah mengerti bahwa apa yang dilakukan Mona itu salah, tetapi Ardin ingin sekali memperbaiki kesalahan dari Mona. Ardin tuh udah kayak malaikat lah ke Mona, ingin memperbaiki dan menuju jalan yang besar. Etdah, gak lama nikah juga nih bocah Ardin sama Mona. Benar saja, pikiran Ardin selalu ingin membahas tentang Mona, Mona, dan Mona.
Ardin mengikuti arah kemana Mona dan Vera pergi. Menguntit seseorang adalah kesukaan Ardin, apalagi buntutin Mona. Serasa cuci mata selama mengendap-endap. Pikrian Ardin yang auto mengerti segalanya tentang Mona, langsung memincingkan mata ke arah basecamp model kampus. “Nah, Mona sama Vera lagi masuk tuh!” ucap Ardin yang mengetahui juga dimana Mona dan Vera berada.
Tampak gelagat yang panik mewarnai wajah dari Mona dan Vera. Keduanya mempercepat jalannya dan memilih menutup pintu seerat-eratnya. Ardin yang tidak akan melepaskan pencariannya, segera mendekati pintu utama basecamp tersebut. Ardin menguping di jendela basecamp dan mengintip sedikit, di dalam sana hanya ada Mona dan Vera.
“Ehem!” Vera yang menyadari kedatangan Ardin, menegur Ardin.
Ardin mengangkat wajahnya dan melihat ke jendela. Di depannya sudah ada Vera yang menyilakan kedua tangannya, sambil memandang sinis ke Ardin. “Ngapain lo? Kayak mau maling jemuran aja,” sambut Vera.
Ardin harus bersikap stay cool dan berdiri tegak menghadap Vera. “Gue lagi mau ketemu Mona, kebetulan gue lihat Mona masuk ke sini,” ucap Ardin.
Vera menatap ke Mona, Mona pun menggeleng.
“Ada perlu apa sama Mona?” tanya Vera.
“Ya itu urusan gue lah, gue mau ketemu Mona. Buka pintunya!” jawab Ardin yang membuat Vera merasakan keberatan.
Ardin menggedor pintu yang masih terkunci itu, namun Vera memandang Ardin semakin sinis. “Kayaknya lo ini mau ngehancurin karir kita berdua, ya?” ucap Vera.
“Lo ngomong apa, sih?” gerutu Ardin.
“Gue nanya ke lo! Maksud lo ngikutin kita berdua dari tadi itu, apa?” Vera menekan.
Mona yang sedang duduk di kursi merah, segera berdiri dan memasang badannya di samping Vera. “Kak Ardin, coba jelasin kenapa Kak Ardin nguntitin kita berdua? Gue tau kok, dari tadi Kak Ardin ngelakuin itu,” kata Mona.
Ardin menelan ludahnya, Mona sudah masuk ke dalam permainan yang sudah diciptakan oleh Vera. Mona berada di dalam lingkaran Vera. “Mon, gue mau ngomong sebentar doang sama lo. Apa lo bisa?” tanya Ardin.
Mona menggeleng. “Gue gak mau bicara sama orang yang suka kepoin orang lain. Terutama, kejadian di kantin tadi. Kak Ardin mendengar semua pembicaraanku sama Vera, kan?” sambung Mona.
“Mon… bisa dengerin penjelasan gue dulu, gak? Ini penting banget!” Ardin tampak memohon.
“Ibaratnya sebuah rahasia besar, tiba tiba sengaja dicuri untuk kepentingan pribadi. Ya, begitulah yang Kak Ardin lakuin ke gue,” umpan Mona.
Melihat Mona yang menjelek jelekan Ardin, Vera cukup puas. “Semoga saja Mona benar benar membenci Ardin hingga Ardin tidak bisa mendekati Mona sedikit pun!” batin Vera sambil memincingkan senyumnya.
Ardin tidak hilang semangat, dirinya harus menunjukan pada Mona bahwa Mona sedang berada dalam alat yang dirancang Vera. “Mon! lo itu lagi dimanfaatin sama Vera, lo itu sedang disuruh suruh sama Vera. Sebenarnya, Vera itu iri sama lo dan—”
“Kak Ardin stop!” Mona memotong tegas ucapan Ardin. “Jangan bicara sembarangan soal Vera, ya. Selama ini Vera membantu gue banyak hal di dunia model. Kak Ardin gak usah ikut campur!” tegas Mona lagi sambil menaikan emosinya.
“Mon, coba lo renungin lagi dari rencana yang Vera berikan sama lo. Lo itu ngerasa dibegoin gak sih? Harusnya—”
“Ssssttttt! Gue bilang diam ya diam! Sekarang Kak Ardin mending pergi deh dari sini, urus tuh organisasi kampusnya yang cuma duduk duduk doang!” kata Mona dan langsung menutup rapat jendelanya.
Brakkkkk!
Ardin menyenderkan tubuhnya di pintu basecamp, yang ia lakukan hari ini tidak selancar yang ia pikirkan. Rupanya, Mona belum memantapkan hatinya untuk mempercayai Ardin. Itu artinya, Ardin adalah orang yang tidak penting dalam hidup Mona. “Masa iya gue gak dikasih kesempatan sama sekali untuk ngomong? Parah deh!” Ardin memutuskan untuk meninggalkan niatnya. Ditatapnya jendela yang tadi ada wajah Mona, dan tersenyum kecil.
***
Mona dan Vera masih betah di dalam basecamp-nya. Foto-foto para anggota model banyak yang tercoret dari daftar anggota. “Ini kenapa dicoret coret fotonya?” tanya Mona yang menunjuk salah satu foto perempuan cantik, mirip dengannya.
“Itu Geisha, anak perbankan Syariah yang memutuskan untuk keluar dari komunitas model ini,” jawab Vera.
“Apa yang membuatnya untuk keluar?” tanya Mona lagi.
“Dia adalah model baru, seperti yang lo ketahui, menjadi model baru itu susah. Harus banyak jam terbang, portofolio, modal, dan dukungan. Dan, dia gak mampu melakukan itu, membuatnya stress berada di dunia model,” jelas Vera.
Seketika saja Mona seperti bercermin pada dirinya sendiri. Mona baru saja terjun ke dalam komunitas model, terutama masuk kategori Majalah Wajah Indonesia. Mona hanya memiliki sekelumit ilmu di dunia permodelan, yang hanya mengerti bagaimana catwalk dan berjalan dengan membawa buku. Mona pun tidak memiliki jam terbang, portofolio, apalagi modal. “Apa jangan-jangan nasib gue…….. ah lupakan!” sempat terlintas sedikit rasa kacau dalam benak Mona.
“Apa hal yang sama terjadi pada mereka mereka, juga?” tanya Mona lagi tentang lima foto perempuan lainnya.
Vera mengangguk. “Semuanya sama, lo harus paham dari awal ya, gue kasih tau,”
Vera menyuruh Mona duduk, dan berbisik tepat di telinga Mona. “masuk ke dunia model itu berat, lo harus dituntut cantik, perfect dan harus mendatangkan keuntungan bagi orang-orang yang modalin lo. Ketika lo gak mampu, lo harus mengubur mimpi dalam diri lo dalam-dalam!”
Mona tertegun, rasanya dia semakin jatuh mendengar bisikan dari Vera itu. “lalu, apa selama ini lo berhasil? Kan lo bertahan sudah sejauh ini,” balas Mona.
Vera tertawa hingga tersedak, batuk-batuk ringan dialaminya sejenak. “Banyak pengorbanan yang sudah gue lakuin untuk menjadi model. Dan, baru kali ini gue berkesempatan masuk di kategori Majalah Wajah Indonesia. Lo termasuk perempuan yang beruntung Mon!”
“Lo diberi anugerah sama Tuhan untuk menjaga kecantikan lo, hidung mancung, kulit putih bersih, badan tinggi, dan kurus seperti model-model Internasional kebanyakan,” lanjut Vera sambil menyentuh area wajah, hidung, dan lengan atas Mona pelan-pelan.
Sebenarnya, Mona merasa geli. Namun, jantungnya langsung berdetak kencang dan darahnya mengalir deras. “Terima kasih atas pujiannya,” ungkap Mona sambil tersenyum walau hatinya diselimuti kekhawatiran.
“Sebuah pujian yang gue lontarkan sama orang sesama model, itu adalah suatu ancaman bagi gue,” Vera berbicara tanpa sadar.
Mona menyeritkan dahinya. “Maksud lo, apa?”
“Ah lupakan! Ayo kita pulang sekarang, nanti malam masih ada acara Majalah Wajah Indonesia, lagi kan? Segera bersihkan diri, ubah penampilanmu secantik mungkin, dan kita berangkat,” Vera memalingkan pembahasan lain, dan keluar dari pintu.
Mona menatap kepergian Vera, di dalam hatinya masih timbul rasa aneh kenapa Vera bisa berkata seperti itu. “Ucapan Vera yang terakhir itu tanda baik atau buruk ya bagi gue?” pikir Mona.
“Ah lupakan saja lah, Vera sudah baik banget ke gue. Gak mungkin banget dia ngelakuin hal hal yang ngerugiin gue,” Mona berusaha berpikir baik.
Mona kembali menyelipkan tangannya ke kantong, dan mendapatkan kartu nama. “Gue harus tetap menjalankan yang diarahkan sama Vera. Gue harus deketin Ayahnya Wira!” pungkas Mona.
***
“Gawat gawat gawat!” Ardin datang dengan terengah engah dan langsung menemui Jacob dan Wira.
“Ada apa? Minum dulu!” balas Wira dengan memberikan segelas air mineral.
“Soal Mona,” ucap Ardin usai menghabiskan segelas air itu.
Jacob menimpali, “kenapa lagi Mona? Lo sudah berhasil pacarin dia?”
Ardin menggeleng, “harapan gak secantik itu. Semuanya ambyar!” tutur Ardin dengan wajahnya yang panik.
“Coba deh lo ceritain yang sebenarnya terjadi. Lo tenang ya, tenang dulu!” Wira mengambilkan kembali segelas air mineral.
Glek.. glek.. glek.. tiga tegukan mendarat membasahi kerongkongan milik Ardin. Lantas, Wira dan Jacob siap untuk mendengarkan apa yang sudah didapatkan oleh Ardin.