Ardin, Jacob, dan Wira tetap memfokuskan mata dan telinga mereka untuk mendapatkan informasi sejelas-jelasnya. Tanpa ada kata yang terucap dari mereka bertiga, suara bisikan antar Mona dan Vera yang berada di dalam kantin pun terdegar jua. Ardin meliukan senyumnya, cara ini pasti akan berhasil.
“Jadi, apa yang harus gue lakuin selanjutnya untuk deketin Wira?” tanya Mona.
“Gampang, lo sudah tau kan yang mana motornya Wira?” jawab Vera.
“Tau, motor gede itu kan. Ya pokoknya motor gede yang ada di parkiran tengah ya cuma punya Wira,” imbuh Mona.
“Betul! Setiap lo selesai kelas, lo harus nangkring di atas motornya Wira. Usahakan, lo cari alasan yang masuk akal supaya Wira mau antar lo pulang,” Vera memberi saran. Ketiga laki-laki yang lagi nguping itu turut mendengarkan arahan Vera untuk Mona.
“Lo yakin? Ntar gue dikira perempuan ganjen lagi, dan bisa bisa Wira ngusir gue,” Mona mulai khawatir dengan usulan Vera.
“Tenang, Wira orangnya gak gampang ngusir perempuan kok, gue tau itu,” Vera meyakinkan.
“Semisal usaha itu gagal, apa lagi rencana yang lain?” Mona meminta sebuah usul alternatif.
“Nih,” Vera memberikan sepucuk kartu nama yang bertuliskan nama “Widodo Anwar” pada Mona.
“Wah, kartu nama siapa ini? Manager PT. Oil and Gas cuy!” Mona sumringah, di dalam pikirannya pun timbul keinginan lebih. “Ini orang kaya, ya kan? Manager gitu, a***y!”
“Itu kartu nama Ayahnya Wira. Dia memang pengusaha kaya dan sukses dibidang minyak dan gas. Disitu ada alamat kantor yang tertera juga nomor ponselnya. Nah, kali ini agak ekstrim sih, lo harus pendekatan sama Ayahnya,” pendapat Vera kali ini membuat Mona tercengang.
“Seriusan lo?!” Mona masih memelek-an kedua matanya, “Lo sadar nih kasih usul ke gue begini?”
Vera mengangguk. “Ini jalan yang paling terakhir. Orang tua adalah restu tertinggi anaknya. Lo deketin Ayahnya, dan dengan mudahnya lo bakal dapatin Wira……”
Mona setengah yakin. “Dan lo bisa kuasain semua duitnya untuk keperluan model lo!” sambung Vera.
Pernyataan tersebut membuat Wira geram. Diam-diam Mona dan Vera memiliki niat jahat pada Ayahnya. Begitu pula dengan Ardin yang terdiam seribu bahasa, wajah dan bibirnya kaku setelah mendengar perbincangan dua perempuan itu. Jacob merasa puas, apa yang diributkan selama ini akhirnya terbongkar jua.
“Din, lo ngerti sendiri kan kalau ternyata ini semua ulah Vera yang nyuruh Mona deketin Wira,” Jacob langsung menarik kesimpulan.
Ardin sama sekali tak berkata. Matanya tertuju pada Mona yang menyayangkan karena sudah mempercayai dan terus menuruti permintaan Vera. Seperti yang Ardin tau, Vera adalah orang yang licik dan pandai memanfaatkan orang lain. “Kalau ternyata kayak gini yang sebenarnya, gue gak kaget sih. Vera memang tukang cari masalah,” gerutu Ardin.
“Sekarang, udah jelas. Dan, gue senang lo sudah paham yang sebenarnya terjadi,” timpal Wira.
Tiba-tiba saja Jacob menginjak rumah semut angkrang yang berada di bawahnya. Seketika saja amarah semut angkrang saat rumahnya digusur pakai kaki, memurka. Semut-semut itu menaiki punggung kaki Jacob dan tak segan-segan untuk menggigitnya. Dan…..
“Aaaaaaaah…. Aaaaaaaaaaaaa! Sakit! Sakit!” seru Jacob dan tergesa menyingkirkan semut angkrang sebisanya.
Wira yang ikut gelabakan, segera mundur tiga langkah dan berusaha menjauhkan diri dari semut angkrang yang sedang demo. Sementara itu, Jacob terus menerus memisahkan semut dari kakinya. Ardin yang terbelalak melihat kaki Jacob direbungi semut angkrang, ikutan menendang kaki Jacob agar semut itu terusir.
“Husssss husss husss!” seru Ardin.
“Aaaaah! Kaki gue bentol-bentol!!!!” teriakan Jacob kali ini lebih kencang.
Teriakan itu memicu Mona dan Vera untuk melirik ke samping pintu kantin. Terlihat dari jendela yang samar-samar, tiga orang laki-laki yang dikenalnya berada di sana. Mona dan Vera memasang wajah yang panik, mereka yakin sekali kalau Jacob, Ardin, dan Wira mendengar segala perkataan atau rencana yang baru disusun.
“Ayo, kita pergi sekarang!” tukas Vera sambil menenteng gaun roknya yang panjang.
“Eh eh! Mona dan Vera kabur tuh!” Wira yang melihat dua perempuan itu lari tergesa-gesa.
“Bantuin kita dulu sini, ini semutnya kurang ajar banget sumpah! Hus hussss!” Ardin dan Jacob masih bergelut dengan semut itu.
“Dah, lari lari!!!!” pinta Wira.
Mereka bertiga pun langsung lari dan meninggalkan tempat terngeselin minggu ini, samping gedung kantin.
“Huh, kaki gue jadi sasaran empuk tuh,” Jacob menggaruk-garuk punggung kakinya yang merah dan bentol.
“Gak apa-apa sekali kali ya kan,” celetuk Ardin.
Ardin melirik ke Wira, “Wir, gue minta maaf ya atas kesalahan gue ke lo! Gue selalu marah dan emosian terus setiap bertemu lo, apalagi bahas soal Mona. Ternyata, ada dalang di balik semua ini,” Ardin meraih tangan Wira, “Lo mau kan maafin gue?” tanyanya.
“Pastinya, gue akan maafin lo, Din. Tapi pesan gue ya, setiap lo marah sama seseorang, berusahalah untuk berkepala dingin, tenang, dan mencari tau dahulu apa yang sejujurnya terjadi,” Wira menerima maaf itu.
Ardin mengangguk. “Dan, kepala lo masih benjol ya bekas gue tumbuk?”
“Udah enggak, kok, semalem Mamak gue yang ngobatin,” sahut Wira.
“Terus, Mamak lo bilang gimana? Panik gak panik gak?” tanya Ardin.
“Gak sih, kan gue bilang karena jatuh dari motor. Jadi, gue yang kena omel. Malah itu SIM sama motor gue mau ditarik,” cerita Wira yang membuat Jacob dan Ardin menyeringai.
“Maaf ya Wir, gue jadi bikin lo ngenes, hahaha!” sahut Ardin.
“Untung lo temen gue, kalau bukan ya bakal gue masukin penjara tuh karena kasus penganiayaan,” tutur Wira.
“Iye, kayaknya Wira bakal gampang banget ngelaporin dan masukin orang ke penjara. Ayahnya kaya raya punya banyak pengacara dan pastinya bisa nyogok kepolisian….. ups!” Jacob yang notabene-nya pendiam, ikutan celetuk.
“Oh… Jacob mulai kritis ya,” timpal Ardin sambil angguk-angguk.
“Dari dulu gue emang kritis kali, cuma nunjukin kebegoan aja, hahaha,” seru Jacob.
“Alasan aja lo tong!” cela Ardin.
“Eh tapi, Jacob memang anak yang kritis, kan? Buktinya aja tiap semester nilainya selalu banyak yang A, IPK-nya nyaris 4 terus. Ya kan, Jac?” Wira mengungkit soal kecerdasan yang dimiliki Jacob.
“Ehem! Lo jangan ninggiin gue gitu lah. Nanti gue makin terbang nih….sekarang udah terbang nih!” ungkap Jacob dengan wajahnya yang memerah.
“Oh iya lupa, diantara kita bertiga kan yang paling pinter dalam pelajaran ya Jacob!” Ardin pun mengakui. “Tapi, kalau soal percintaan….. Jacob paling cupu! Hahahaha,” tiba-tiba Ardin malah mencela Jacob. Seperti lirik lagu kuajak kau melayang tinggi, dan kuhempaskan ke bumi. Kumainkan sesuka hati, lalu kau ku tinggal pergi…..
Ardin dan Wira menumpahkan tawanya. Jacob memincingkan senyumnya, “kalian berdua jangan puas dulu dong, emangnya kalian jago soal percintaan? Kalian kan jomblo sejak maba, hahahaha,” Jacob tak mau kalah, ikut menyindir dua temannya itu.
“Tapi kan dedek gemes banyak yang perhatian dan kepo soal gue, wle!” seru Ardin yang kesombongan mentang-mentang hanya ia yang memiliki “nama” di kalangan mahasiswa tingkat bawah.
“Kalau gue…….. gak ada sih! Kita samaan Jac! Hahaha,” Wira menertawai dirinya.
“Eh, kayaknya ini bakal seru deh. Kita bertiga kan sudah punya sasaran tuh, gimana kalau kita tancap gas buat pacarin mereka?” Ardin yang sudah kebelet pengen pacarin Mona, seenak udelnya bikin perjanjian.
Jacob dan Wira saling pandang, mereka berdua kurang berkenan dengan permintaan Ardin, “Kayaknya, gue gak bisa!” kata Jacob dan Wira berbarengan.
“Ya elah, payah kalian!” Ardin menggampangkan segalanya, wajar berkata seperti ini.
“Let it flow aja lah, Din. Yang keburu-buru pacaran juga gak baik. Kan kita harus paham sifat lahir batin pasangan kita, kan?” jawab Jacob dengan bijaknya.
“Kelamaan! Kan kita ajang seru-seruan aja, kalau sampai ke jenjang yang lebih serius ya artinya bonus. Kalau selesai di tengah jalan ya, nasib, hahaha,” ucap Ardin.
“Ye! Jangan gitu dong, perempuan juga punya hati, Din! Jangan segitunya mainin hati perempuan kali, emangnya lo mau dipermainkan juga?” Wira mencibir.
“Iya nih, Ardin mah gampang aja gonta ganti perempuan, lah kayak gue dan Wira mah cari perempuan lama, sekali putus ya paling kita yang tersakiti,” Jacob makin merendah.
“Kayak drama telenovela aja lo berdua, nikmatilah masa-masa muda kita dengan bermain perempuan. Nanti—“
“Din! Maaf kali ini gue gak sepakat sama lo,” Wira langsung memotong ucapan Ardin. Wira sudah terbayang-bayang sosok Lusi yang polos nan tidak tau apa-apa itu. Wira juga bukan tipe laki-laki yang tega mempermainkan perempuan.
“Sama, gue gak sepakat juga,” Jacob senada dengan Wira.
“Ya udah deh, gue gak maksa. Tapi, gue akan berusaha mendapatkan Mona, karena gue udah tau kalau sebenarnya Mona gak suka sama Wira. Hahaha,” ungkap Ardin.
“Silakan. Tapi, gue minta tolong sama lo untuk bilangin ke Mona, jangan sekali-kali manfaatin gue dan keluarga gue, Please!” mohon Wira.
“Iya, lo kasih peringatan ke Mona dan Vera juga noh. Kalau mau eksis sama dunia permodelan, usaha sendiri, cari modal sendiri, jangan korbankan orang lain buat mewujudkan mimpinya,” Jacob mulai geram juga dengan prilaku Mona dan Vera.
“Siap, siap! Wira kan teman sejati gue, yang baik banget kalau diutangin, jadi gue akan kasih pelajaran ke Mona. Gue juga gak mau kali Wira diporotin gitu,” imbuh Ardin.
“Oke, kalau gitu, jalankan keinginan lo dari sekarang, pacarin dah tuh Mona! Tapi, jangan lupa pesan gue,” pungkas Wira.