Amarah (lagi)

1024 Words
Melihat sosok Ardin yang begitu berkecamuk dengan amarah, membuat Jacob segera bertindak untuk menenangkannya. “Din! Lo bisa sedikit tenang, gak?” kata Jacob sambil memegangi kedua bahu milik Ardin. Ardin menjatuhkan badannya di sofa, “gue gak nyangka aja, Jac!” serunya. “Lo kayaknya harus minta keterangan dari Wira dulu sebelum lo marah marah kayak gini. Lo ngerti kan, cari pernyataan yang akurat itu gak hanya dari satu sumber!” ungkap Jacob. Ardin melempar tatapan ke Jacob, “apa lo bilang? Gue harus minta keterangan dari Wira lagi, gitu? Ogah!” Jacob melengos, akhir-akhir ini Ardin tampak begitu sensitif jika berbicara soal Mona dan Wira. Dan apakah benar, kalau sebenarnya Ardin telah terbakar cemburu yang begitu dalam? “Jadi lo maunya gimana sekarang? Tolong jangan memperkeruh suasana,” ucap Jacob. “Entahlah, yang ada di dalam pikiran gue pun hanya ingin jauh dari Wira untuk sementara waktu dan—“ “Din! Jadi lo mau mencoba memutus tali persahabatan kita sama Wira? Ih, itu gak banget lah!” “Jadi lo bela Wira, Jac?!” Ardin langsung menaikan nadanya. Jacob menggeleng. “Gue hanya bela mana yang benar.” Ardin beranjak dari tempat duduknya dan mengambil kunci motornya yang tergeletak di atas meja tamu. Tanpa pamit dengan Jacob, Ardin langsung mengarah ke pintu keluar dan menyalakan mesin motornya. Brum.. brum.. brum.. dan seketika saja motor matic milik Ardin itu melaju kencang bersama pengendaranya, Ardin. *** “Loh.. loh.. loh!?” Wira gelabakan membongkar seluruh isi tasnya. Dan satu barang yang tidak sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya, yaitu ponselnya. “Perasaan tadi ponsel gue ada di dalam tas deh. Kok sekarang gak ada, ya?” Wira memastikan kembali di mana letak ponselnya. Seketika saja Wira teringat akan kejadian tadi siang. Ketika makan siang di restoran bersama Mona dan Lusi, ia baru saja mengingat kalau ponselnya masih tergeletak di atas meja makan. “Oh iya, baru ingat!” Wira menepuk jidatnya. “Terus gimana dong caranya supaya ponsel gue balik? Mau nanya ke Lusi, gue sama sekali belum dapatin nomornya, mau nanya ke Mona, yang ada perang sama Ardin makin berlarut larut ntar,” Wira memikirkan cara lain, ia memutuskan menghubungi Jacob lewat media sosialnya. Wira meraih laptop sebesar 14 inch dari dalam lemarinya, dan dibukanya media sosial bernama i********: itu. Dicarinya nama Jacob, teman dekatnya dan segera mengirimkan pesan. Halo, Jac! Maaf ganggu lo malam-malam gini, gue mau informasiin kalau ponsel gue ketinggalan di restoran. Kalau sekiranya tadi siang sampai sore lo nelpon gue, berarti tidak tersambung sama gue, ya. Dan, Jacob pun mengirimkan pesan yang serupa kepada Ardin. Halo, Din! Lo ada ngehubungin gue gak antara tadi siang sampai sore, kalau pun ada, gue minta maaf ya karena ponsel gue ketinggalan di restoran. Dan sampai sekarang gue belum nemu, terima kasih. Klik! Dan pesan untuk Jacob dan Ardin pun terkirim dengan cepat karena Mak-nya Wira baru saja bayar tagihan Wi Fi. “Semoga Jacob atau Ardin gak ada hubungin gue lah ya tadi siang atau sore. Takutnya ada oknum-oknum pinjaman online ngeganggu mereka, lagi!” harap Jacob. Sambil menunggu balasan dari dua sahabat congor-nya itu, Jacob membuka buku catatan Kimia Analitiknya. Sudah memasuki semester ke 7 ini, Jacob memiliki tuntutan yang lebih dari kuliahnya. Yaitu, mengerjakan tugas akhir kuliahnya secepatnya. “Kira-kira judul tugas akhir gue, yang mana yang diterima sama dosen pembimbing, ya?” pikir Jacob lagi. Duh, Jacob memang suka memberatkan pikirannya kalau soal kuliah. Treng.. treng.. treng.. lampu di layar laptop milik Jacob pun mengeluarkan dering dan pancaran lampu. Kebetulan, media sosialnya itu belum di log out dan itu berarti ada balasan dari Jacob atau Ardin. “Aha! Jacob dan Ardin membalas pesanku!” Wira mengeringai kalau dua temannya itu membalas pesannya. Halo juga, Din! Iya, ponsel lo sudah ada sama gue kok. Tadi sore Mona sendiri yang mengembalikan ke gue. Besok pagi sebelum kuliah, lo bisa ambil ponsel lo sekalian kita berangkat kuliah bareng. Begitu balasan dari Jacob. Lalu, Wira pun membalas pesan itu dengan segera. Ah, syukurlah kalau ponsel gue gak ketinggalan. Gue was was banget soalnya materi tugas akhir kuliah gue sebagian besar gue simpan di situ xixixi Tak lama, Jacob tampak mengetik…. Iya, ponsel lo aman dan selamat sama gue di sini. Tapi, yang perlu lo was was-in bukan hanya materi tugas akhir lo yang ada di ponsel, tapi tentang Ardin… Dengan balasan Jacob yang seperti itu, Wira merasa bingung. Apa yang sebenarnya yang salah dengan dirinya pada Ardin? Kok malah disuruh was-was sih? Loh, emangnya ada apa sama Ardin? Balas Wira. Hmm.. tadi siang kan gue sama Ardin duluan tuh ke rumah gue. Niatnya tuh gue mau bikin klarifikasi kecil-kecilan antara lo dan Ardin. Cuma, waktu gue nelpon lo tiba-tiba yang ngangkat tuh perempuan. Perempuan itu langsung mau balikin ponsel lo ke gue. Terus, gue kasih alamat ke dia, eh sampai di depan rumah gue ternyata perempuan itu Mona. Dan kebetulan juga Ardin tadi. Ya, you know-lah apa yang terjadi… Wira menarik napasnya dalam-dalam, hanya perkara makan bareng dengan Mona dan Lusi, malah berakhir petaka. Padahal, niat Wira makan bareng mereka itu mencari gratisan saja. “Nasib nasib! Kenapa sih gue selalu ada di dalam lingkaran masalah antara Ardin dan Mona? Kayaknya gue benar-benar harus tindak tegas soal Mona deh! Keterlaluan banget dianya, bisa-bisa persahabatan gue sama Jacob dan Ardin hancur gitu aja,” ucap Wira. Wira memutuskan untuk tidak menjawab pesan dari Jacob. Wira yang ingat kalau ponselnya masih di Jacob, memberanikan diri untuk meminjam ponsel Mak-nya. “Mak!” tegur Wira yang lihat Mamaknya kutak katik Tik Tok pakai ponsel. “Hmmm?” begitu saja jawab Mak-nya Wira. “Pinjam hape bentar, dong!” Wira mengulurkan tangan kanannya. Mak-nya Wira menurunkan kacamatanya, “buat apa?” “Mau ngirim pesan ke teman gue bentar, Mak,” “Loh, hapemu sendiri kemana?” “Ketinggalan di rumah Jacob,” “Astaga, anak laki kalau bergosip juga ngeri ya, hapenya sampai sampai ketinggalan,” ucap Mak-nya Wira sambil menggelengkan kepalanya. “Hehehehe, biasa lah. Terima kasih ya Mak!” balas Wira sambil menyeringai dan ngacir ke dalam kamarnya untuk mencari kertas yang isinya nomor telepon Mona yang sempat disimpannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD