Peringatan (1)

1150 Words
Untungnya saja Mak-nya Wira baik banget tuh minjemin ponselnya buat Wira. Maklum, di keluarga Wira tidak membenarkan tidak berbagi antar orang rumah. Apalagi soal pulsa, kecil aja lah menurut mereka. Bahkan, kalau pulsanya habis pun Wira sekeluarga bisa beli sekalian sama konter-nya saking kesultanan. Wira membongkar lemarinya dan mencari kertas yang berisi nomor telepon Mona. “Nah! Beruntungnya masih ada, kirain udah kebuang,” Wira mengambil kertas itu dan segera mencatat di ponsel Mak-nya. “Kosong delapan satu dua…. Sekian sekian, dan sekian,” ketika nomor itu berhasil tersimpan, Wira segera mengirimkan pesan yang sengaja ditujukan untuk Mona. Mon, gue Wira. Sebelumnya terima kasih karena sudah mengamankan dan mengembalikan ponsel gue ke Jacob. Hanya terima kasih yang bisa gue kasih ke lo. Kalau lo minta lebih, maaf gue gak bisa. Oh ya, gue mau memperingatkan ke lo kalau mulai sekarang lo jangan deket-deketin atau ngejar gue lagi, ya. Ini bikin gue risih banget, dan mengancam pertemanan gue sama Ardin. Terima kasih atas pengertiannya. Oh ya, gue lupa lagi. Kalau sampai lo masih ada di hadapan gue, hidup lo gak bakal tenang! Lo bakal dihantui rasa kecewa dan ketakutan yang mendalam. Thanks. Pesan itu terkirim tanpa basa-basi. “Hmm, semoga saja Mona mau bekerja sama dengan baik dan gak ngeselin,” harap Wira. *** Tuing.. tuing.. tuing.. Mona yang lagi medicure pedicure di sebuah salon ternama pada malam itu, dikejutkan dengan pesan dari nomor yang tidak disimpannya. Segera ia ambil ponselnya yang sudah memanggil untuk membaca pesan yang masuk. “Siapa ya?” “Dih! Apa urusannya lo sama Ardin?!” Mona tampak ketus usai membaca pesan yang baru saja masuk ke nomornya. “Cuih!” sambungnya. Vera yang lagi ada di sebelah Mona, ikutan kepo, “Ada apa, sih Mon? Muka lo kok tiba-tiba jutek gitu,” tanya Vera. “Nih, si Wira. Katanya gue gak usah deket-deketin dia lagi karena bisa ngerusak hubungan pertemanannya sama Ardin. So, apa urusannya sama gue, sih?! Kenapa coba bisa bawa-bawa Ardin!” Mona yang merasa terintimidasi oleh isi pesan itu, mulai naik pitam. Vera terkekeh, salah satu usahanya berhasil dengan sempurna. “Terus, lo mau tetep deketin Wira?” balas Vera. Mona memalingkan wajah ke Vera. “Menurut lo?!” ucap Mona dengan senyuman kecil di ujung bibirnya. Vera mengangguk, “lanjutkan saja, karena ini berkaitan dengan profesi lo sebagai model.” Vera mendekati kursi Mona seraya berbisik. “Lo ngerti sendiri kan menjadi model terkenal membutuhkan dana yang sangat banyak. Dan—“ “Dan gue harus nguras semua uangnya Wira supaya bisa mewujudkan cita-cita menjadi model papan atas itu,” Mona menambahi. Tos! Rupanya Mona sudah pandai menjalankan misi yang sudah ia rancang bersama Vera jauh-jauh hari. Mona tidak membalas pesan yang dikirimkan oleh Wira. “Habis-habisin pulsa doang kalau ngebales pesan lo yang gak penting gini!” Mona melemparkan kembali ponselnya ke dalam tasnya. Kuku kaki dan tangan milik Vera dan Mona sudah mengkilap bak rambut indah Suns*lk. Jemari-jemarinya yang cantik itu, menambah kesan girlie terhadap perawakan Vera dan Mona. Malam ini, management yang mengurus tentang model Majalah Wajah Indonesia itu sengaja memberikan perawatan medicure dan pedicure gratis untuk modelnya. “Baik, models, terima kasih kepada kalian semua karena sudah menyempatkan waktu untuk datang ke semi acara model. Semoga kalian bisa menikmati dan kita semua di sini bisa menjadi saudara baik di lingkaran pekerjaan maupun di luar pekerjaan,” seutas pidato dilontarkan oleh perempuan yang memiliki tinggi seratus tujuh puluh lima sentimeter itu di depan beberapa model. Riuh tepuk tangan dari lima belas model yang hadir, menciptakan suasana kegembiraan. Begitu juga dengan Vera dan Mona, mereka yang menyukai dunia kecantikan dan model itu, sangat antusias menikmati acara yang dihadirkan oleh management. Di situ pula, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing. “Mon, besok lo ngejar Wira lagi, gak?” tanya Vera saat berada di dalam mobil Mona. “Ya jelas dong, sebentar lagi kan ada Festival Wajah Indonesia, gue belum dapat sponsor satu pun. Nyokap bokap gue yang benci sama dunia model, pasti gak mau modalin acara dan gaun gue nantinya. Ya, salah satu cara mendapatkan gaun terbaik ya dengan nguras hartanya Wira. Bener, gak?” jawab Mona panjang kali lebar. “Anak cerdas!” balas Vera lalu mengacak-acak rambut Mona. “Ver, lo enak banget dapat sponsor banyak. Gimana sih caranya?” Mona pun penasaran dengan daftar sponsor yang antri untuk memodali seorang Vera. “Gue kan model lama, Mon. Portofolio gue udah banyak banget, jadi wajar kan kalau sponsor membanjiri hidup gue?” celetuk Vera. “Sombong amat ya lo! Haha!” balas Vera yang langsung tancap gas mobilnya. *** “Ya Tuhannnnnn! Wiraaaaaaa!” Mak-nya Wira yang masih asyik nonton sinetron, tiba-tiba meneriakan nama anak tunggalnya. Wira yang lagi baca buku dongeng Puteri Salju, terloncat dan segera menghadap Mak-nya. “I.. iya, Mak, ada apa ya?” tanya Wira dengan polosnya. “Lihat ini isi pesanmu, kenapa kamu kasar sekali?!” duh, kesalahan Wira nih yang tidak menghapus seluruh pesan yang baru ia kirim ke Mona. Wajah Wira mendatar, ia hanya bisa menggaruk-garuk rambutnya. Padahal, rambutnya gak ada ketombe ataupun kutu beras. “Em… jadi gini Mak. Jadi, Wira itu—“ “Wira, dengar ya. Mamak gak pernah ya ngajarin kamu untuk kasar sama orang lain. Kamu itu harus mewarisi sikap Mamak dan Papah, selalu sopan santun dan lemah lembut!” Mak-nya Wira yang memang lembut dengan semua orang mengalahi bulu ketiak, langsung saja cap cip cup dengan jurus nasihatnya. “Gini lho Mak, teman Wira itu selalu ngikutin Wira kemana pun Wira pergi. Wira risih dong, dan merasa terhantui,” Wira mencoba menjelaskan. “Nak, ketika orang lain terus mengikuti kamu, itu artinya kamu termasuk orang penting dan membutuhkan kamu. Kamu gak mau menolong dengan sesama, ya? Jahat banget ya kamu, Mak gak per—“ “Mak! Ini bisa ngancurin hubungan pertemanannku sama Ardin. Wira dan Ardin beberapa hari terakhir itu selalu cuek-cuekan dan dingin. Itu karena ada satu perempuan incaran Ardin yang berusaha deketin Wira mulu. Hal itu membuat Ardin cemburu dank eras banget ke Wira,” Wira jadi lega bisa menjelaskan apa yang ia rasakan selama ini. Mak-nya Wira terdiam sejenak. Ia mencoba menelaah perkataan yang tertata dari mulut anak tunggalnya. “Itu artinya, kamu sedang dikejar-kejar sama perempuan, ya?” tanya Mak-nya Wira. Wira pun mengangguk. “Dan, Wira sama sekali gak suka,” “Tapi… kalau menjadi kamu pun dilema ya. Antara cinta dan persahabatan. Ih, kok cerita kamu sama sih kayak drama Korea yang Mamak nonton? Ceritanya tentang anak remaja yang jatuh cinta pada gadis yang sama. Lalu—“ “Mak! Omongannya jangan ngelantur, dong. Sudah malem juga pula,” sekejab Wira menaruh angka satu di depan bibir Mak-nya. Rupanya, Mak-nya Wira tidak berkata lagi, mungkin takut bibirnya digunting sama Wira kali ya, hihi. “Ya udah, Wira mau ke kamar lagi, cerita dongeng yang dibaca belum tamat,” ujar Wira lalu meninggalkan Mamaknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD