Tantangan dari Ardin

1076 Words
Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa trio wek-wek itu hanya ada satu anggota yang mampu menaklukan hati perempuan, yaitu Ardin. Ardin yang sudah diajarkan cara public speaking di beberapa organisasi yang digelutinya selama SMA, tak jarang ia gunakan ilmu tersebut untuk menaklukan seseorang yang ditemuinya, dan kali ini soal perempuan. Dan pantas saja jika Ardin mampu berbicara dengan lawan bicaranya cas cis cus layaknya my heart will go on. "Gini gini," Ardin merangkul Wira dan Jacob, ia mulai menundukan kepalanya dan mengatur napas untuk berbicara dengan dua cowok cupu di samping kiri kanannya itu. "Hal yang paling utama dan pertama, niat dan berani. Lo udah niat mau deketin perempuan, lo juga harus berani untuk berhadapan langsung sama mereka," Ardin membuka materi. "Kalau soal niat sih gue nomor satu. Tapi, berhadapan sama doi, gue auto cupu bro!" Jacob mengaku. "Kalau gue sih niat dan berani berhadapan sama doi udah pernah dan beberapa kali. Cuman.... untuk bikin obrolan murni antar kita berdua, gue belum berani," Wira menambahkan. "Nah itu artinya lo berdua belum menjalankan perintah yang utama dan pertama dengan baik. Gue kasih kalian tantangan deh. Dalam minggu ini, kalian harus bisa berhadapan langsung dengan gebetan kalian masing-masing dan membuka obrolan berdua," ujar Ardin sambil melirik bergantian pada Wira dan Jacob yang masih menunduk dengan wajah lesunya. Dan sontak saja, Jacob dan Wira menampilkan wajah yang mana otot-ototnya mulai menegang dan bola mata mereka bermain ke segala arah, bingung. "Lo gila apa ngasih tantangan kayak gitu?!" Spontan ujaran Jacob, matanya terbelalak dan membuat besar lensa mata yang berwarna biru laut itu. "Ini tantangan yang sangat pemula sekali. Anggap aja gebetan lo itu ya temen sepantaran lo. Teman sepermainan yang sudah biasa lo ngobrol sama dia," Ardin memperjelas. "Iya, tapi lo tau sendiri kan, gue aja cuma berhadapan depanan sama Ribka aja bisa pingsan, gimana ngobrol woy! Mana gue lagi yang harus buka obrolan," Jacob geleng-geleng dan sudah menggenggam jiwa pesimisnya. Ardin terkekeh. "Lo itu kurang pemanasan dan tidak terbiasa aja deket sama Ribka. Kalau udah sering kan malah enak ngobrolnya. Lo pingsan itu karena syok! Bukan karena lo lemah bro!" Ardin menguatkan Jacob dengan menepuk-nepuk bahunya pelan. Jacob masih menggelengkan kepalanya, kali ini kembali menunduk dan keringat di dahinya mulai bercucuran. Tak lama, Wira menyentuh bahu Jacob dengan genggaman tangannya. "Lo pasti bisa, Jac! Percaya aja sama niat dan diri lo sendiri," kata Wira dengan senyuman yang terkembang. Jacob menengadah, ia melirik ke arah Jacob secara cepat dan matanya menyipit sedikit demi sedikit. "Lo kenapa Wir? Kok tiba-tiba ngomong kayak gitu? Pakai acara senyum gitu lagi ke gue. Gue kan jadi geli," cerca Jacob. Wirab tersentak dan melepaskan tangannya dari bahu Jacob. "Gue ngomong gitu buat nyemangatin diri gue juga sih. Kita punya rasa yang sama kok," balas Wira. "Iya tapi senyum lo gue risih. Mana bibir lo tebel lagi," kata Jacob. "Sst! Ini bukan waktunya bercanda wahai trio wek wek!" Ardin menyentuh bibir kedua sohibnya itu dengan dua jari telunjuk di tangan kiri dan kanannya. "Daripada kalian berdua ribut soal masalah gak jelas, lebih baik coba jalani tantangan yang gue kasih dan lepaskan semua rasa ketidak percaya dirian kalian," tutur Ardin seperti memberi siraman rohani, sangat lembut. Jacob dan Wira menatap Ardin, dan tiba-tiba saja senyuman bermekaran di bibir mereka masing-masing. Dengan tanpa berkata-kata. "Eh maaf tapi kalau senyuman kalian berdua kayak gitu, gue keberatan buat bantu kalian," seketika saja Ardin juga mengkritik senyuman yang terpancar dari bibir dua konco e iku. "Tuh kan senyum lo memang mengerikan!" Kata Jacob seraya menepuk bibir Wira. "Senyuman lo juga kali!!!!" Wira tak terima, dan menyentil tangan Jacob yang beraninya menyentuh area sensitif alias bibirnya. "Udah ya, kayaknya kesalahan gue yang bikin masalah sepele ini berlanjut. Udah ya kita akhiri saja pembahasan tentang senyuman manis itu. Dan gue akui itu memang menjijikan. Tapi, inti dari bahasan gue adalah dekati gebetan kalian dalam waktu minggu ini, minimal membuka pembicaraan yang konsen pada kalian berdua," Ardin mengulangi lagi tantangan yang diketusnya. Dengan jurus menelan ludah sedalam dan sebanyak banyaknya, hati terdalam Wira dan Jacob pun menerima tantangan yang diucapkan oleh Ardin. Walaupun maju mundur getir getir, sih. Ardin menatap Wira dan Jacob yang mematung, tidak melemparkan kata apapun. "Jacob sama Wira ada masalah apaan dih, kok tiba tiba diem kayak gini. Tekanan batin atau dosa dosanya lagi meraung, ya?" Batin Ardin yang sedari tadi bertanya-tanya. "Hey hey hey hey!" Ardin mengangetkan Jacob dan Wira. Dan prok prok prok! Ardin kembali menepukan kedua tangannya hingga membuat Jacob dan Wira bergerak. "Kalian gak lagi kena angin duduk atau keram otot kan? Yang tiba-tiba diem kayak patung gitu," tanya Ardin. Dan leganya Ardin ketika Wira dan Jacob menggelengkan kepalanya dengan cepat dan bersamaan. Ardin mengelus dadanya sebagai bentuk selamat. Ardin melepas rangkulannya, ia mulai melangkah ke arah foto keluarga milik Jacob yang terpasang di ruang tamu. Foto keluarga yang terdiri dari keluarga inti Jacob berpakaian serba putih itu, ditatap Ardin sambil mengacak pinggangnya. "Lihat foto keluarga yang sangat indah dan menawan ini. Penuh keharmonisan, cinta, dan kasih sayang yang abadi. Pakaian putih senada ini menambah rasa kebahagiaan dan kesucian bahwa tidak ada yang mampu merusak keluarga ini. Dan, suatu saat nanti keluarga abadi yang seperti inilah yang kalian bisa dapatkan bersama gebetan kalian," Ardin seperti pidato saja membanggakan foto keluarga milik Jacob itu. "Tumben lo ngomongin keluarga dengan kata-kata yang syahdu seperti itu," Jacob heran. "Iya, biasanya juga lo maki maki atau tidak terĺalu percaya dengan keluarga yang abadi," tambah Wira. "Kalau soal itu, yang dibicarakan Wira adalah benar. Gue memang tidak percaya keluarga abadi ketika berada di kondisi atau lingkungan keluarga gue. Tapi, segala yang ada dipikiran gue akan berubah seiring bedanya kondisi," jelas Ardin. "Gue malas mikir sih, dari tadi di kepala gue berputar gimana caranya biar gue gak pingsan lagi di depan Ribka," ujar Jacob yang lugu itu. "Ya udah lah gak usah dengerin omongan gue. Gue cuman memotivasi diri gue sendiri," balas Ardin yang masih menatap foto keluarga Jacob dan kali ini disentuhnya. Wira tersenyum, "setidak enaknya keluarga yang berada di lingkungan kita atau yang kita alami, percayalah bahwa tiap orang menginginkan keluarga harmonis yang abadi." "Nah! Thats the poin! Gue panjang banget ngomongnya tapi intinya ya cuma gitu sebenarnya," Ardin menyeringai. "Gue paham sih gimana lo, Din. Emang suka boros kata kata kalau ngomong!" Tambah Jacob. "Eheheheh, ember bro!"Ardin mengamini. "Ya udah, pokoknya inti dari bahasan kita hari ini, sangat menyepakati tantangan yang gue buat ya?!" Kata Ardin sambil menaikan nada bicaranya. "YA!" Balas Jacob dan Wira secara lantang dan bersamaan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD