Seperti biasa, antara rumah Wira atau Jacob yang menjadi tumpangan ngejulid bagi Ardin, Wira, dan Jacob. Dan hari ini, tumpangan itu jatuh di rumah Jacob, karena Wira mengantisipasi mamaknya bakal pamerin tas Hermes, atau celana dalam terbarunya dari Jerman. Tiga laki-laki berparas sedikit tampan, rebahan santai di sofa dengan posisi kaki lebih tinggi daripada kepala mereka. Biasa, kaki mereka lebih cool daripada otak mereka.
“Gile bro! Baru pertama kalinya gue pegang tangannya Mona, rasanya… alus pisan!” Ardin yang memiliki wajah paling bersemangat diantara mereka bertiga, membuka pembicaraan tentang kebahagiaannya siang ini.
“Udah gue duga, pasti lo yang nyosor duluan, kan?!” timpal Wira.
“Enggak dong! Serius deh, Mona duluan yang pegang tangan gue. Gue aja terkejut banget!” balas Ardin dengan matanya yang menyala-nyala.
Jacob yang masih asyik rebahan sambil menunggu pengumuman give away-nya hari ini, tidak menggubris sedikit pun berita yang diucapkan Ardin itu.
“Oy!” Ardin melempar ikat pinggangnya yang baru saja ia lepas ke Jacob.
“Hmm?” balas Jacob santai dan menyingkirkan ikat pinggang itu ke telapak kakinya.
“Gue bahagia banget hari ini! Kayaknya Mona mulai memiliki perasaan yang sama kayak gue, deh!” ungkap Ardin percaya diri.
Jacob mematikan layar ponselnya, “Sialan! Gara-gara ucapan lo tadi, give away gue gagal!” Jacob bangkit dari rebahannya, dan sekarang duduk.
“Ye! Bukan salah gue, kali. Memang nasib lo begitu. Lagian kenapa juga percaya sama give away gak jelas gitu!” cerca Ardin.
“Ye lo kan—”
“Sudah, Din, Jac. Bahas give away gak ada habisnya. Mau lo nasehatin Jacob gimana pun, dia tetep ngelakuin dan pantengin give away. Mending lo doain dia buat menang dan kita cipratannya,” Wira menengahi.
“Enteng banget ngomong lo!” wajah Jacob kecut.
“Jadi, gimana rencana lo selanjutnya sama Mona?” sambung Jacob.
“Mona minta bantuan gue tadi untuk menjadi walinya agar bisa menanda tangani surat pengunduran diri sebagai model Majalah Wajah Indonesia besok,” info Ardin.
“Terus, lo mau?” tanya Jacob lagi. Ardin mengangguk mantap. “Apa sih yang enggak buat Mona.”
Jacob memiringkan bibirnya, “Mau amat lo dimanfaatin,” ledek Jacob dengan santainya.
“Eh, jangan gitu ya lo ngomongnya! Pasti lo iri kan karena gak bisa deketin gebetan lo? Lo itu udah ketinggalan jauh sama gue,” gertak Ardin dengan urat di lehernya yang menonjol manja.
Wira yang memilih diam dan tidak ikut-ikutan pertengkaran antara Ardin dan Jacob, sok-sokan aja asyik baca buku pelajaran. Walaupun hanya gimmick sih. Lagi pula, masalah Ardin sama Wira waktu itu kan pernah berbuntut panjang, makanya Wira tidak mau mengulang hal itu.
“Slow Din, lo kayak gak ngerti bercandaan kita-kita aja,” Jacob menahan d**a Ardin sebelum Ardin memukul hidung Jacob.
Urat leher punya Ardin tiba-tiba menghilang saja, seperti gudikan yang dibubuhi salep Scabimitte. “Oh, lo bercanda? Kirain lo mau ngatain gue,” Ardin memundurkan langkahnya, dan kembali duduk di sofa empuk.
Karena peseteruan itu terbilang sebentar saja, Wira mengelus dadanya lega. Dimasukannya lagi buku pelajarannya ke dalam tasnya, BRAK!
“Gue ikut bahagia karena lo dan Mona sudah mulai peka satu sama lain. Lumayan cepat ya lo dan Mona sampai-sampai udah pegangan tangan aja,” ucap Jacob berdiri di depan Ardin dengan kedua tangannya di pinggang.
“Gue gitu loh!” Ardin menyombongkan diri sambil memperbaiki jambul khatulistiwa di rambutnya.
“Ajari dong…” tiba-tiba Jacob memelas sambil memajukan bibirnya. Hal itu membuat Ardin geli melihat bibir tebal yang mengarah padanya.
“Dih! Jijik amat tau gak lo!” ungkap Ardin risih.
Wira hanya tertawa saja, apalagi melihat b****g Jacob yang sedikit ke belakang.
“Cepetan napa Din, kasih tau caranya biar gue gak pingsan kalau ketemu Ribka,” sontak saja Jacob keceplosan tentang perempuan yang selama ini menjadi belahan dadanya, eh hatinya.
“Hah?!” Jacob dan Wira bersama-sama terkejut setelah mendengar bahwa Ribka-lah yang selama ini menjadi belahan hatinya.
Jacob terbelalak dan memukuli mulutnya pelan-pelan karena sudah membongkar rahasianya sendiri. Plak plak plak.
“Jadi, selama ini lo ngincar Ribka?” Ardin kembali berdiri dari duduknya.
“Serius lo Jac?!” Wira memberi penekanan.
Jacob menunduk, ia mencari cara agar tidak dibully atau diapa-apain sama Wira dan Ardin, “Gue gak bermaksud gitu, maksud gue….”
“Ribka yang pernah nendang kaki gue sampai kaki gue pincang tuh!” Wira memberi informasi sebuah kejadiannya tempo hari dengan Ribka.
Deg. Deg. Deg. Jacob benar-benar belum mendapatkan alasan untuk bisa lari dari keceplosannya yang haqiqi itu. Biarpun Jacob jago semua pelajaran dan bisa menjawabnya dengan baik dan benar, namun itu sama sekali tidak berlaku ketika ucapan yang ia lontarkan mendarat di telinga Ardin dan Wira.
Ardin dan Wira berpandangan satu sama lain, mereka mengangkat bahunya bersamaan.
“Lo kok gak ngomong, Jac?” Ardin melangkahkan kakinya untuk lebih dekat dengan body Jacob.
Jacob malah memundurkan langkahnya, jadilah peristiwa maju mundur cantik antara Jacob dan Ardin. Tatapan Ardin yang mengarah ke Jacob, seolah penasaran dengan jawaban yang setelah ini dikeluarkan oleh Jacob.
“Udah, jawab aja Jac, gak usah sungkan. Malu sama wajah ganteng lo lah!” celetuk Wira.
“Iya, ngomong aja, gue gak akan macam-macam kok. Lagi pula gue kan gak paham siapa itu yang namanya Ribka,” timpal Ardin.
Akhirnya, dengan beberapa persen keberanian dan ketangguhan mentalnya, Jacob mulai menengadah dan kini wajahnya terlihat oleh Ardin dan Wira. Keringatnya sudah mendarat bertubi-tubi di atas keningnya, pipi, bahkan lehernya pula. Maklum, Jacob memang suka mengeluarkan banyak keringat, jika berada dalam situasi panik.
Jacob tersenyum, “Hehehe, kalau bener, gimana?”
Ardin meraih tangan kanan Jacob dan TOS! Ardin juga melengkungkan senyum untuk Jacob. “Akhirnya lo berani terus terang soal gebetan lo. Malahan gue kira lo itu gak punya gebetan sama sekali, Jac!” balas Ardin.
Tak kalah dengan Ardin, Wira juga menghampiri Jacob dan berjabat tangan, “Akhirnya.. lo suka dan tertarik sama perempuan juga ya. Gue kira laki-laki yang pintar kayak lo, cuma tertarik sama rumus Kimia dan Fisika doang, hahaha,” ledek Wira.
“Semoga gebetan lo punya perasaan yang sama kayak hati lo saat ini, ya. Sukses!” Ardin menepuk bahu Jacob.
“Nah sekarang giliran lo!” Ardin menyenggol Wira.
Wira pura-pura linglung, dan matanya melirik kesana-kesini tidak menentu. “Hey hey!” Ardin menyenggol lagi. “Jangan banyak alasan deh lo Wir!” tambah Ardin.
“Hehehe, kayaknya gue belum siap mengakui di depan kalian semua deh. Soalnya… hm…” Wira menggaruk rambutnya yang sedikit gatal.
“Yah! Gak seru lo ah!” timpal Ardin sambil mendorong pelan bahu Wira.
“Iya, kayaknya nanti aja deh waktu gue udah chatingan sama doi,” tawar Wira.
“Lo belum chatingan? Tapi nomornya sudah dapat, kan?” tanya Ardin.
Wira mengangguk, “Gue udah chat sebentar sih, cuma gue belum nyebutin nama gitu. Gue takut, nanti kayak kasusnya Jacob yang tiba-tiba pingsan,”
Jacob pun tertawa sendiri mengingat kebodohan dia saat di depan Ribka waktu malam itu.