Di Taman

1334 Words
Siang yang berteman dengan terik matahari, membuat kulit Ardin dan Mona terpapar hangatnya. Langit-langit yang sungguh terang dengan awan yang berjalan, menambah suasana siang semakin syahdu. Ditambah lagi ada dua sejoli yang sedang merasakan cinta monyet, Ardin dan Mona. Makin hari, Mona semakin paham bagaimana cara Ardin memperlakukan dirinya selama ini. Begitu pula ada hal yang ingin diungkapkan Mona siang ini pada Ardin. Makanya, Mona mengajak Ardin untuk duduk santai di taman depan kampus. “Kak Ardin?” sapa Mona. “Iya?” balas Ardin. “Besok gue sudah mulai traning untuk kelas model di Butik Nyonya Endah itu,” kabar Mona dengan lengkukan senyumnya. Tanpa sadar, Ardin turut melekungkan senyuman di bibirnya, “Serius? Akhirnya ya Mon, perjalanan karir lo di dunia model sedikit demi sedikit bisa tercapai.” “Iya, itu semua berkat campur tangan Kak Ardin juga, terima kasih ya Kak,” Mona memegang punggung tangan Ardin. Pertama kalinya, Mona memegang tangan burik milik Ardin. Tangan lembut milik Mona, kini bersentuhan langsung dengan tangan Ardin yang bertekstur kasar. Jantung Ardin berdetak tak menentu, ia tak menyangka bahwa Mona yang selama ini membuatnya berasmara, berkenan memegang punggung tangannya. “Tenang Din, tenang, tetep stay cool aja. Jangan nampakin kalau lo salah tingkah! Camkan itu!” Ardin berkata pada hatinya sendiri, tanpa terdengar Mona. “Selamat ya,” balas Ardin yang ikut senang. “Tapi, gue butuh bantuan Kak Ardin lagi, dong,” pinta Mona dan memanyunkan bibirnya sedikit. “Bibir itu….. ah, bibir itu…. Ingin rasanya….. ah sudahlah!” bisik Ardin dalam hatinya, yang selalu tertarik kepada bibir perempuan yang ia sukai. Kini, pemilik bibir itu adalah Mona. “Iya, minta tolong apa, Mon? ngomong aja, kalau gue bisa ya gue bantu,” balas Ardin santai. “Gue mau memutuskan kontrak menjadi model di Majalah Wajah Indonesia. Tapi, salah satu caranya itu ada wali yang mengetahui dan menanda tangani,” jelas Mona. “Wali? Ya udah lo cari wali lo aja dan suruh ke sini. Beres kan? Atau, lo minta bantuan gue buat ngomong ke wali lo soal masalah ini?” Ardin belum paham. Mona menggeleng, “Maksud gue bukan bantuin cari wali. Tapi Kak Ardin jadi wali gue gitu, hehehe,” Mona menyeringai. “Apa?!” Ardin terkaget. Hampir saja genggaman tangannya Mona terlepas, namun Mona menahannya kembali. “Iya, Kak. Wali yang dimaksud itu ya keluarga. Nah, gue mau meminta Kak Ardin untuk menjadi kakak sepupu gue, gitu, bisa ya Kak?” lagi lagi Mona manyun dan membuat Ardin tak tahan.  “Emang bisa, Mon?” Ardin sempat ragu. “Bisa kok, bisa. Gimana, Kak Ardin?” tanya Mona sekali lagi, kali ini senyumannya melebar hingga terlihat dua gigi kelincinya. Dengan seluruh rasa cinta dan kasih sayangnya kepada gebetannya ini, Ardin bersedia dengan sekuat jiwa dan raganya. “Pasti bisa, kok Mon. Gue akan usahain untuk ngebantu lo. Terutama soal cita-cita lo ini,” ungkap Ardin yang membuat Mona makin senang, terlihat dari tingkah Mona yang menghentak-hentakan kakinya. “Yey! Akhirnya, terima kasih banyak ya Kak Ardin!” dengan spontan pula, Mona memeluk laki-laki bertangan burik yang ada di sampingnya itu. BLUK! Pelukan Mona pun jatuh ke Ardin. Deg. Deg. Deg. Dapat terdengar bunyi jantung Ardin yang tidak normal….. panah asmara seperti nangkring di jantungnya paling dalam. Ingin rasanya Ardin bernyanyi…. Akhirnya, ku menemukanmu…. Saat raga ini mulai merapuh… Eh! Tapi jangan langsung senang dulu, ferguso! Tiba-tiba saja teman seperjuangan Ardin di organisasi pun datang. “Heh Ardin!” Vera datang memisahkan pelukan yang sudah lama diharapkan Ardin itu. Wajah Vera memancarkan aura-aura sinis untuk mempelai Ardin dan Mona. Lho kok sudah mempelai aja, sih. Ganti! Maksudnya, dua sejoli mencari cinta kayak Galih dan Ratnanya Om Chrisye gitu. “Lo ternyata ngebucin ya di sini?! Bisa-bisanya ya lo gak ikut rapat anggota dan enak-enaknya di sini sayang-sayangan sama perempuan satu ini!” tegas Vera hingga menunjuk-nunjuk ke depan wajah Mona. Mona yang tidak paham apa-apa, hanya terdiam, sambil bersembunyi di belakang badan Ardin. Ardin yang melihat Mona dirundung rasa ketakutan dengan hadirnya Vera, berusaha untuk menenangkan suasana siang itu di taman kampus. “Ver, Ver! Lo apa-apaan sih!” ucap Ardin kesal. “Ya lo itu apa-apa! Kenapa lo mangkir dari rapat yang seharusnya lo hadirin sebagai ketua organisasi!” balas Vera dengan emosinya yang meledak-ledak. Ardin mendekatkan wajahnya ke Vera, dan hal itu membuat Vera auto menatap kornea Ardin yang berwarna cokelat muda. “Lo tau gak yang barusan lo lakuin itu kayak kekanak-kanakan banget tau! Marah lo kayak letusan gunung merapi yang gak pengen dilihat bahkan didenger orang!” ungkap Ardin kesal sambil mengeraskan giginya bagian depan. Vera menatap tajam pula mata yang merekah di depan wajahnya. Bibirnya komat-kamit seraya mendengar sentuhan rohani yang keluar dari mulut Ardin. “Lo tuh yang kayak anak kecil, baru ngerasain cinta ya lo?! Makanya rela ninggalin rapat demi ngebucin!” ujar Vera lagi. “Jangan asal ngomong, ya! Gue sama Mona ini lagi bahas hal penting! Tentang masa depan Mona!” tegas Ardin. “Cih!” gerutu Vera meludah ke sepatu Mona. Mona terkejut dan menghentak-hentakan kakinya, “Gelayyyy Kak!” berharap ludah milik Vera akan segera hilang. “Ver, tolong Ver tolong!” Ardin menggenggam bahu Vera yang lebih pendek dari dirinya. “Lo jangan berlebihan gitu keselnya, malu dilihat orang-orang!” ujar Ardin yang baru menyadari kalau  mereka bertiga sudah dikelilingi mahasiswa bahkan dosen yang melewati taman itu. Akhirnya Vera pun menyadari jua. Wajahnya masih dirundung rasa kekesalan, dan berbalik badan. Tuk.. tak.. tuk.. tak.. langkah kakinya membunyikan hentakan kaki yang memiliki arti. Semakin nyaring dan terdengarnya hentakan kaki Vera, semakin besar pula amarah yang ia rasakan. Dengan kepergian Vera, disitu juga mahasiswa lain yang tadinya mengerubungi Mona, Ardin, dan Vera ikutan pergi jua. “Yah, drama queen sudah menyelesaikan alurnya,” “Hmm, gak seru ah, masa cuma sepuluh menit doang berantemnya,” “Kenapa gak ada jambak-jambakannya sih? Biar lebih greget! Gitu doang mah b aja,” Beberapa ocehan mahasiswa yang kecewa dengan kejadian itu, terdengar di telinga Ardin. Tak segan-segan pun Ardin melototi para mahasiswa yang berani berlaku demikian pada dirinya. “Mon, tolong maafin ya kesalahan Vera tadi,” kata Ardin sambil memegang lagi tangan Mona. Sayangnya, Mona melepaskan genggaman itu. Ardin jadi bingung, ini gak adil! “Ya elah, tadi lo megang tangan gue gak apa-apa, giliran gue yang pegang, malah lo lepas,” batin Ardin. Namun, ia harus memperlihatkan raganya yang stay cool. “Iya, Kak. Gimana, Kak Ardin mau kan menjadi wali gue untuk penanda tanganan di Majalah Wajah Indonesia?” tanya Mona untuk memastikan. “Iya, gue bersedia, kok. Besok lo kabari gue aja jam berapa dan janjian di mana,” jawab Ardin. “Oke.. ini gue kasih nomor gue ya, Kak,” Mona mengeluarkan secarik kertas dan dituliskannya nomor teleponnya. Ardin memancarkan wajah yang sungguh berbahagia, inilah keinginan Ardin sejak dulu kala. Yaitu mendapatkan nomor ponsel Mona secara cuma-cuma. “Disimpan ya Kak, jangan sampai hilang,” ucap Mona. “Pasti!” Ardin mengambil kertas itu dan dimasukan cepat-cepat ke dalam kantong celananya. Hal itu karena takut kalau playboy atau bad boy kampus memiliki niatan jahat untuk merampasnya. “Kalau gitu, gue ke kelas dulu ya Kak. Kak Ardin lanjut ke rapat organisasi aja dulu biar gak ribut lagi sama Vera,” ujar Mona. “Apaan, gak ada rapat kok hari ini. Vera itu memang sudah mengada-ngada, kebiasaannya dia dari dulu…” balas Ardin. “Dia gak bisa lihat kita seneng,” lanjut Ardin dengan nadanya yang melemah. “Hah? Maksudnya?” Mona mendapatkan radar yang membingungkan jiwanya. “Iya, lo sama gue tadi lagi seneng-senengnya kan duduk di taman, ngobrol, pegangan tangan sampai-sampai—“ “Kak, udah deh ya. Gak usah baper, gue ngelakuin itu supaya Kak Ardin bersedia jadi wali gue doang, gak lebih. Maaf ya, Kak. Next time, mungkin perasaan gue akan….. ah sudahlah, gue masuk kelas dulu ya Kak!” pamit Mona dan beranjak dari tempat duduknya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD