Jali, pria yang berprofesi sebagai sopir pribadi, dan sudah cukup lama ikut dengan Barata Adiguna, menatap Larasati dengan tatapan bimbang. Dia mengerutkan dahi, seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh wanita muda di hadapan. Di mata Jali, Larasati masih sangat muda, dan mustahil jika wanita itu bisa menjadi ibu s**u untuk putra sang majikan.
Mbok Nah yang mengerti kebimbangan pria yang sudah sangat dikenalnya karena mereka berasal dari kampung yang sama, kemudian mendekati Larasati. Wanita paruh baya tersebut lalu menepuk pelan pundak wanita berhijab yang masih menatap ke arah Jali. Hal itu sontak membuat Larasati terkejut, lantas kembali mendudukkan diri.
"Maaf, jika saya lancang, Bu, Mas," kata Larasati yang kemudian menundukkan kepala. Dia juga merasa malu karena tatapan semua pengunjung warung yang kesemuanya pria, kini tertuju padanya.
Mbok Nah ikut duduk di samping Larasati. "Neng, apa Neng yakin bisa menjadi ibu s**u? Mbok lihat, Neng masih sangat muda." Pemilik warung tersebut memindai wajah bersih wanita yang duduk di sampingnya. Meskipun terlihat kuyu, tetapi itu tidak mengurangi kecantikan wanita belia yang sudah menjadi janda di usianya yang baru genap kepala dua.
Larasati mendongak membalas tatapan Mbok Nah. Dia nampak ingin berkata, tetapi ragu karena banyak pasang telinga yang akan ikut mendengarkan. Mbok Nah mengangguk mengerti dan wanita paruh baya itu kemudian beranjak.
"Jam istirahat kalian sudah selesai, 'kan? Kenapa masih pada berdiam diri di sini? Saya laporkan pada pak mandor, baru tahu rasa kalian!" ancam Mbok Nah dan mereka langsung membubarkan diri tanpa membayar makanan dan minuman karena semua akan dibayar oleh mandor bangunan. Hanya tersisa Jali di sana yang sedang menikmati kopi buatan Mbok Nah.
Pemilik warung itu kemudian kembali mendudukkan diri di samping Larasati.
"Saya baru saja melahirkan bakda subuh tadi, Bu," kata Larasati lirih dan dengan suara yang bergetar menahan tangis. Netra wanita berhijab tersebut diliputi mendung kelabu dan Mbok Nah dapat menangkap dengan jelas kesedihan itu.
"Apa anak yang baru Neng lahirkan, meninggal?" tanya Mbok Nah, hati-hati.
Larasati menggeleng pelan. "Mantan suami saya yang telah tega memisahkan kami, Bu."
Mbok Nah terdiam, mendengar penjelasan wanita yang duduk di sampingnya. Wanita paruh baya tersebut dapat merasakan kepedihan hati Larasati. "Mbok dapat mengerti kesedihan Neng. Yang sabar ya, Neng. Allah itu ndak pernah sare. Dia tahu mana yang terbaik untuk hamba-Nya."
Netra Mbok Nah berkaca-kaca mengatakan kalimat demi kalimat. Kenangan di masa silam, melintas kembali dalam ingatan. Mbok Nah pun pernah merasakan sedihnya kehilangan.
Larasati kembali menatap Mbok Nah. Bibirnya nampak bergetar. Wanita muda itu sepertinya hendak melancarkan protes, tetapi Mbok Nah kembali membuka suara.
"Jika Dia memberi Neng ujian seperti ini, artinya Neng itu kuat di mata Allah. Mbok yakin, suatu saat nanti Neng akan menemukan kebahagiaan yang sejati. Wong sabar iku bakale subur. Wong nandur bakale ngunduh. Ndak perlu menyimpan dendam. Jika memang kalian ditakdirkan untuk bertemu, yakinlah Neng jika suatu ketika nanti, Neng pasti bakal dipertemukan dengan anak Neng kembali," lanjut Mbok Nah seraya menepuk punggung Larasati, penuh rasa sayang.
Larasati tertegun mendengar ceramah panjang dari wanita paruh baya di sampingnya. Wanita muda itu membenarkan perkataan Mbok Nah, tetapi hati Larasati terluka parah dan dia masih menyimpan kebencian serta dendam untuk mantan suaminya.
"Rasanya, sulit untuk ikhlas, Mbok." Pelan, dia berkata.
Mbok Nah menganggukkan kepala. "Pelan-pelan saja, Neng. Ikhlas itu memang mudah diucapkan, tetapi sangat sulit untuk dilaksanakan. Sabar dan terus bertawakkal, insyaAllah seiring waktu Neng akan bisa ikhlas atas semua yang telah terjadi." Wanita paruh baya yang memakai penutup kepala berupa udeng itu menatap penuh kasih pada Larasati.
Percakapan keduanya terhenti ketika terdengar suara Jali menerima panggilan telepon. "Iya, Ndoro Putri. Saya masih di proyek karena masih menunggu Pak Abi yang sedang makan siang di luar."
"Apa ibu s**u yang aku minta sudah kamu dapatkan, Jal?"
"Sudah, Ndoro Putri. Saya sudah mendapatkannya dan Ndoro Putri tidak perlu khawatir. Setelah saya bertemu dengan Pak Abi sesuai perintah Pak Bara, saya akan segera bawa pulang dia," balas Jali seraya melirik ke arah Larasati yang juga tengah menatapnya.
Jali segera menutup telepon ketika panggilan dari sang nyonya majikan berakhir. Dia lalu sedikit mendekat ke arah Larasati. "Apa yang Neng katakan tadi sungguh-sungguh? Barusan, majikan saya telepon dan ...."
"Saya sungguh-sungguh, Mas," sergah Larasati, sebelum Jali menyelesaikan kalimatnya.
"Baik, Neng. Neng bisa tunggu di sini sebentar, saya akan menemui asisten bos dulu di dalam sana. Sepertinya, Pak Abi sudah kembali," pinta Jali seraya menunjuk ke arah gedung bertingkat yang merupakan bangunan apartemen mewah dan Larasati menganggukkan kepala.
Setelah kepergian Jali, Mbok Nah dan Larasati melanjutkan perbincangan. Dari Mbok Nah, Larasati mengetahui bahwa bayi yang akan menjadi anak susuannya baru berusia lima bulan. Bayi laki-laki yang bernama Ibrahim, putra dari Barata dan Cantika yang baru meninggal dunia kemarin malam.
"Semoga saja, putra Pak Bara itu mau saya susui ya, Mbok," kata Larasati kemudian yang nampak sudah akrab dengan Mbok Nah. Wanita muda itu reflek mera*ba dadanya yang semakin basah.
"Apa Asi Neng Rara keluar terus?" tanya Mbok Nah khawatir karena melihat wajah Larasati yang nampak tidak nyaman.
Belum sempat Larasati menjawab, Mbok Nah melihat Jali telah kembali. Wanita paruh baya itu langsung beranjak dan menyuruh Jali untuk segera membawa Larasati pulang. Sebab, Asi wanita muda itu harus segera dikeluarkan agar tidak menyebabkan Larasati menjadi demam.
Jali patuh karena memang kedatangan ibu s**u untuk putra sang majikan sudah dinantikan. Pria itu segera melajukan mobilnya membelah jalanan beraspal ibukota yang tidak pernah lengang. Sepanjang perjalanan Jali terus saja mencuri pandang melalui pantulan kaca spion tengah, pada penumpang di bangku belakang.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, mobil mewah yang dikendarai Jali memasuki pintu gerbang. Pria itu memarkirkan mobil di antara deretan mobil lain dan kemudian menoleh ke belakang. "Kita sudah sampai, Neng. Ayo, turun!"
Larasati segera turun, mengikuti ajakan Jali. Wanita muda itu lalu mengekor langkah pria di depannya. "Maaf, Mas Jali. Tolong jalannya pelan sedikit," pintanya seraya meringis menahan sakit.
"Oh, iya, Neng. Maaf, saya lupa," kata Jali yang sudah mendengar meski samar cerita tentang Larasati ketika berada di warung tadi.
Kedatangan Jali yang membawa Larasati disambut baik oleh sang nyonya besar. Wanita anggun dengan kacamata yang membingkai sebagian wajah ayu meski usianya tidak muda lagi itu, mengulurkan tangan. "Selamat datang di rumah kami. Saya Andini, omanya Bram."
"Saya Larasati, Bu. Eh, em ... maaf, Ndoro Putri. Panggil saja saya, Rara," balas Larasati seraya menjabat tangan lembut Bu Dini yang tadi dia dengar Jali memanggilnya demikian dan Larasati ikut-ikutan.
Ya, mulai sekarang Larasati memilih dipanggil Rara, daripada Lara yang artinya sakit. Dia tidak mau hatinya kembali terluka karena disakiti. Cukup sudah baginya menanggung rasa sakit di hati yang diberikan oleh sang mantan suami.
"Panggil bu saja tidak apa-apa, Nak Rara. Mari, kita ke kamar cucu saya," ajak Bu Dini dengan ramah dan Larasati sedikit membungkukkan badan dengan sopan.
"Jali, tolong simpan koper Nak Rara di kamar tamu," titahnya pada Jali, sebelum melangkah bersama Larasati menuju kamar sang cucu. Sopir pribadi Bara itu mengangguk, patuh.
Tertatih, Larasati mengikuti langkah Bu Dini. Sepasang mata milik orang yang baru saja keluar dari kamar utama, memperhatikan dengan mengerutkan dahi. 'Siapa dia? Mau apa Mama membawanya ke kamar Bram? Apakah pengasuh Bram yang baru?'
Untuk menuntaskan keingintahuannya, pria bertubuh tinggi tegap tersebut mengejar sang mama. "Ma, tunggu!"
"Bara, kebetulan kamu sudah bangun, Nak. Kenalkan, dia Larasati. Dia yang akan menjadi ibu s**u untuk putramu." Bu Dini menunjuk ke arah Larasati dan wanita muda yang ditunjuk, menundukkan kepala.
Bara nampak kebingungan. Sang mama memang belum mengatakan idenya untuk mencari ibu s**u buat Bram pada Bara. Bu Dini sengaja berinisiatif sendiri karena kasihan melihat sang cucu yang terus menangis. Beliau juga kasihan pada Bara yang harus menggendong sang putra selama berjam-jam karena Bram terus saja rewel dan tidak mau minum s**u formula.
"Apa Mama yakin? Mama sudah mencari tahu asal usulnya? Bara tidak mau jika Bram disusui oleh sembarang orang, Ma! Kita belum tahu, apakah darah yang mengalir ditubuhnya ini baik atau tidak? Kita juga tidak tahu, apakah dia wanita yang sehat atau wanita penyakitan?" Bara mengucapkan setiap kalimat dengan penuh penekanan dan itu berhasil menambah luka di hati Larasati.
bersambung ...