Bab. 3 - Menjadi Ibu Su-su

1254 Words
Wanita muda berhijab merah maroon itu berjalan pelan mendekati pintu, lalu mengambil sebuah map yang diletakkan di atas koper berukuran sedang. Larasati meyakini bahwa yang ada di dalam koper tersebut, pastilah barang-barang pribadi miliknya. Rupanya, Abimana memang telah merencanakan semua dengan matang, dan bodohnya Larasati tidak pernah menaruh curiga. Tangan Larasati kembali bergetar membuka map tersebut. Map yang berisi data salinan surat yang telah dia tanda tangani tadi. Surat gugatan cerai Abimana dan pengalihan hak asuh sang putra, pada mantan suami. Air mata kembali luruh. Sesungguhnya dia sudah lelah menangis dan tidak ingin lagi mengeluarkan air mata. Namun, Larasati tidak sanggup mencegah air mata yang menyeruak, dan memaksa keluar ketika mengingat semuanya. "Aku tidak butuh uangmu, Mas! Aku hanya butuh anakku!" jerit Larasati ketika tatapannya tertuju pada selembar cek yang di dalamnya tertera deretan tujuh angka. Lima juta rupiah. Ya, hanya seharga itulah luka hati Larasati di mata Abimana. Wanita muda itu meremas cek tersebut hingga kusut tak berbentuk lagi. Dia lalu membuangnya dengan asal seraya merutuk, "aku bersumpah, Mas! Kamu akan merasakan kepedihan yang lebih dahsyat dari yang aku rasakan!" Puas memaki sang mantan suami yang pastinya tidak dapat mendengar caci makinya, Larasati mencoba menenangkan diri. Dia mengambil napas panjang dan menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya untuk mengisi penuh paru-paru, lantas mengembuskan perlahan. Setelah merasa cukup tenang, Larasati menyapu wajah dengan ujung jilbab dan kemudian segera meninggalkan rumah yang penuh kenangan mesra, tetapi ternyata semua hanya semu semata. Tertatih, Larasati menyusuri gang perumahan yang nampak lengang. Udara yang panas dan memang ini adalah jam istirahat siang, membuat warga di komplek perumahan tempat Larasati selama hampir setahun ini tinggal, malas untuk keluar. Mereka pasti lebih memilih untuk berada di dalam rumah dan menghabiskan waktu dengan beristirahat. "Aku baru sadar sekarang, kenapa Mas Bima tidak mengizinkan aku membeli barang-barang keperluan untuk anak kami," gumam Larasati sambil terus berjalan, seraya menyeret koper yang berisi pakaian miliknya yang tidak seberapa banyak. Suaminya hanya mengizinkan dirinya membeli pakaian bayi, itu pun seperlunya saja. Kejanggalan lain yang baru disadari oleh wanita muda itu adalah, suaminya juga tidak setuju jika Larasati ingin membeli barang-barang lain untuk melengkapi atau mempercantik tampilan rumah sederhananya. Seperti, membeli perlengkapan dapur atau sekadar mengoleksi barang rumah tangga lain seperti kebanyakan para wanita. Sehingga di dapur minimalisnya hanya terdapat lemari pendingin berukuran kecil, satu kompor dengan satu tungku, penggorengan kecil, dan panci untuk memasak sayur yang juga berukuran kecil. Semua yang ada, serba sederhana, dan kecil. "Enggak perlu membeli peralatan masak macam-macam, Sayang. Kalau pengin sesuatu, kita beli saja. Aku tidak mau kamu kelelahan nantinya jika harus memasak," larang Abimana, beralasan. Alasan yang mampu membuat hati Larasati melayang karena merasa disayang dan diratukan. Begitu selalu yang dikatakan sang suami jika Larasati ingin membeli barang. Sehingga di rumah sederhana dengan tipe 36 yang dibelikan oleh Abimana dan sudah diatasnamakan Larasati tersebut, tidak banyak terdapat barang-barang di dalamnya. Hanya ada satu set sofa minimalis di ruang tamu. Satu kasur lantai di ruang keluarga yang biasa digunakan ketika sedang menonton televisi yang berukuran 21 inci. Sementara di dua kamar yang ada di rumah itu, masing-masing hanya ada satu tempat tidur berukuran sedang, dan satu lemari pakaian yang juga tidak seberapa besar. Lamunan Larasati buyar ketika sebuah motor membunyikan klaksok dengan nyaring, tepat di sampingnya. Pengendara motor itu lalu berhenti. Dia membuka kaca helm dan tersenyum manis pada Larasati. "Mbak Lara mau kemana?" tanyanya, sopan. "Eh, Mas Galuh. Ini, saya mau ke depan, Mas." "Butuh tumpangan?" tawar pria muda bernama Galuh yang merupakan tetangga Larasati dan selama ini sering mencuri-curi pandang pada wanita muda itu. "Lho, Mbak Lara sudah melahirkan? Kapan? Kok enggak ada kabar apa-apa?" Galuh mengerutkan dahi setelah menyadari bahwa perut wanita di sampingnya, kembali rata. "Mas, maaf, ya. Saya buru-buru harus segera sampai di rumah ibu," elak Larasati yang sengaja menghindar dari cercaan pertanyaan pria muda, yang sepertinya menaruh hati padanya. Setelah mengangguk seraya tersenyum, Larasati segera berlalu menuju ke ujung jalan yang sudah terlihat di depan. Tepat di saat yang sama, sebuah angkutan melintas dan wanita muda itu melambaikan tangan. Buru-buru, dia naik ke dalam angkutan karena tidak ingin Galuh mengejar. Setelah berada di dalam angkutan umum, Larasati kembali merenung. Wanita berhijab maroon itu nampak bingung. Dia belum menentukan, kemana tempat yang harus dia tuju untuk bernaung. "Apa aku harus balik ke resto? Siapa tahu 'kan masih ada lowongan pekerjaan untukku di sana? Tapi, dengan kondisiku yang masih seperti ini, apa bisa aku langsung bekerja?" Larasati meringis, menahan ngilu di area inti tubuh. Dia sudah banyak bergerak sedari tadi dan berjalan terlalu jauh. Rasa perih serta panas di bagian bawah tubuhnya sana, mungkin saja karena ada jahitan yang terbuka. "Tidak-tidak. Aku belum sanggup jika harus langsung bekerja. Apalagi pekerjaan di sana, butuh kecekatan dan kesigapan dalam melayani pelanggan. Kalau keadaanku seperti ini, yang ada bos akan marah-marah. Sebaiknya, aku mencari tempat untuk memulihkan kondisi tubuhku dulu," monolog Larasati dalam diam. Wanita itu lalu memutuskan kemana tujuannya. Dia berganti angkot setelah sampai di terminal angkutan kota. Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, sampailah dia di tempat tujuan. Larasati tertegun ketika baru saja turun dari angkutan kota. Tatapannya terpaku pada bangunan gedung bertingkat yang menjulang ke atas cakrawala. Bangunan dengan banyak jendela itu memang belum jadi sempurna, tetapi Larasati sudah dapat memperkirakan kemewahannya. "Apartemen Mutiara?" gumam Larasati, membaca papan nama pembangunan apartemen tersebut. "Lalu, kemana panti asuhan dipindahkan? Kemana ibu panti dan adik-adik?" Air mata mulai menggenang di pelupuk mata wanita muda yang wajahnya terlihat kuyu tersebut. Larasati berdiri dengan kaki gemetaran. Kondisinya belum pulih benar pasca persalinan tadi, ditambah rasa sakit yang dia rasakan. Bukan hanya di area inti, kini dia juga merasakan sakit di kedua gunung kembar miliknya yang semakin membesar. Larasati meraba dadanya yang mulai basah. "Apa kamu haus, Nak?" Air mata semakin meleleh ketika ingatan wanita muda itu tertuju pada bayinya. Harusnya, saat ini dia sudah menyusui putranya. Namun, sang mantan suami dengan tega memisahkan mereka berdua. Wanita berhijab itu memindai keadaan sekeliling bangunan bertingkat. Di ujung area parkir gedung, dia melihat sebuah warung kecil yang cukup ramai. Langkahnya tergerak menuju ke sana, sekadar untuk mencari minuman sebagai pelepas dahaga, dan numpang berteduh untuk melepaskan penat. "Bu, teh hangat manis satu," pintanya pada pemilik warung. Larasati kemudian duduk setelah dipersilakan dengan ramah oleh wanita paruh baya pemilik warung tersebut. Wanita muda itu memilih duduk di bagian belakang karena semua pengunjung warung adalah kaum pria yang merupakan pekerja proyek bangunan. Larasati duduk terdiam, sambil menyeruput teh hangat pesanannya yang baru saja datang. Dia tidak menghiraukan kelakar para pekerja proyek yang mulai menggodanya dengan kata-kata yang kurang sedap didengar. "Kopi hitam satu, Mbok!" pinta seseorang dengan wajah murung yang baru saja masuk ke dalam warung. "Kusut benar wajahmu, Jal?" tanya pemilik warung tanpa menjawab pesanan pria berusia sekitar tiga puluh tahun tersebut. "Gimana enggak kusut, Mbok? Dari kemarin sore, anak bos rewel enggak mau minum s**u. Aku sampai bolak-balik ke super market untuk membeli s**u aneka merek dan rasa, tapi tetap saja Den Bram enggak mau nyusu. Dia hanya mau minum air putih, kasihan sekali 'kan? Dan sekarang Den Bram demam, Mbok," keluh Jali, sopir pribadi bos kontraktor yang membangun apartemen Mutiara. "Kasihan sekali, ya, putra Pak Bara. Masih bayi, tapi sudah ditinggal pergi mamanya," kata Mbok Nah, pemilik warung tersebut, bersimpati. "Ndoro putri sampai memintaku untuk mencari ibu s**u buat cucunya, lho, Mbok. Lah, aku 'kan jadi semakin bingung. Nyari di mana ibu s**u seperti itu?" lanjut Jali, membuat Larasati langsung berdiri dan menatap pria yang baru pertama kali dilihatnya itu. "Ibu s**u? Jika diperbolehkan, sa-saya bersedia menjadi ibu s**u putra majikan Anda, Mas." bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD