8

3614 Words
“Apa yang kau dapatkan kali ini, Rue?”tanya seorang laki-laki tampan berambut hitam tepat saat Rue melangkah masuk ke dalam rumahnya. Rue hanya mengernyit kesal melihat Rainhart duduk di sofa ruang tamunya dengan nyaman, padahal sang pemilik rumah baru saja tiba. Tapi percuma saja mengatakan itu pada ahli komputer yang bisa meretas semua sistem keamanan bahkan milik Parlemen sekalipun. Rainhart tidak pernah merasa harus meminta izin pada pemilik rumah saat dia ingin memasuki tempat itu. Laki-laki sudah tidak bisa mengubah kebiasaannya sejak bergabung menjadi hunter resmi asosiasi darah campuran yang mereka ikuti bersama. “Dua vampir yang sedang ‘makan malam’ di pinggir selokan kumuh dan satu imp yang mencuri dari seorang manusia.”gumam Rue ringan sambil melintasi ruang tamu menuju kamarnya. Tapi Rue tidak masuk ke dalam kamarnya. Alih-alih masuk ke dalam kamarnya, Rue menekan dinding di sebelah pintu kamarnya hingga dinding itu berputar pada porosnya dan memperlihatkan ruangan gelap di dalamnya. “Lampu menyala penuh.”ujar Rue saat melangkah masuk ke dalam ruang rahasia itu dan meletakkan bawaannya di atas meja. Dibelakangnya, Rainhart ikut melangkah masuk dan mengamati ruang sebesar 3x4 meter yang merupakan gudang penyimpanan senjata milik Rue. Untuk ukuran sebuah ruang senjata, ruangan Rue bisa dibilang kecil. Tapi kalau melihat teknologi apa saja yang di install Rue di dalam ruangan itu, bahkan ruang berukuran lemari sapu bisa membuat senjata untuk satu batalyon tentara. Selama beberapa detik Rainhart kembali kagum dengan apa yang dilihatnya meski hal itu sudah cukup sering terjadi setiap kali dia memasuki ruang rahasia milik sahabatnya ini. Hanya ada beberapa rak-rak yang disusun berbaris disana. Namun Rainhart tahu kalau setiap rak itu memiliki additional yang sama ukurannya di dalam dinding tanpa membutuhkan ruang tambahan lain. Salah satu teknologi terkini yang sangat digemari banyak kalangan. Dengan santai Rainhart mengulurkan sebuah PC di atas meja yang dipenuhi senjata kepada Rue. “Lima kali pembunuhan dalam waktu dua bulan. Semua korbannya adalah anak-anak. Usianya cukup untuk membuatnya bertahan di bawah mentari pagi selama beberapa jam. Belum ada klan yang mengklaimnya sebagai anggota atau vampire hunter yang memburunya. Setidaknya aku tahu kalau vampir lokal masih belum melakukan tindakan untuk sampah ini.”ujar Rainhart cepat. “Kenapa aku merasa kalau vampir lokal sekarang jarang sekali bertindak untuk mengamankan vampir-vampir yang menggila? Apa saja yang mereka lakukan belakangan ini hingga ada begitu banyak vampir sampah berkeliaran di penjuru London?” Rainhart mengedikkan bahunya santai tanpa benar-benar menatap Rue, “Sepertinya mereka punya masalah yang lebih penting daripada mengejar-ngejar vampir sampah seperti ini.”sahut Rainhart ringan, “Apa itu tidak masalah untukmu? Menurut penyelidikan, mereka cukup tangguh untuk dihadapi seorang diri.” Rue mengamati data di Layar PC milik Rainhart sebelum mengangguk. “Usia bukan masalah.”gumam Rue datar. “Kapan kau akan bekerja kembali, Rainhart?”tanya Rue saat berbalik dan menatap laki-laki tampan itu. “Aku sudah lama kembali ke lapangan, Rue. Saat ini aku tidak ada jadwal syuting ataupun pemotretan. Aku tidak mengatakannya supaya kau bisa leluasa memburu mereka dengan caramu sendiri. Kau tidak harus mengikuti caraku, Rue. Kita mungkin punya alasan yang sama, tapi caranya pasti berbeda. Dengan gayamu sendiri, kau terbukti lebih bersemangat melakukan hal ini.” Rue meninju perut Rainhart pelan sebelum melangkah keluar dari ruang rahasia itu. “Bilang saja kalau hasil buruanku lebih banyak darimu.” Rainhart terkekeh pelan sambil merangkulkan lengannya di bahu Rue. Wanita itu lebih rendah 30cm daripada dirinya. “Tentu saja, Hun. Kau sangat hebat! Sekarang beri aku makan. Aku benar-benar lapar.”ujar Rainhart dengan nada penuh pemujaan agar Rue mau memasakkannya makanan untuk makan malam. Rue kembali menyikut pinggang Rainhart. Kali ini sedikit lebih kuat dibandingkan tinju yang tadi diberikannya. Rainhart meringis dan langsung melepas rangkulannya di bahu Rue saat itu juga. Kalau manusia biasa yang melakukannya, Rainhart mungkin tidak akan merasakan apapun. Tapi yang melakukan hal ini adalah, Rue, Succubus berdarah setengah vampir. Darah Succubus dalam tubuhnya sudah memastikan Rue memiliki kekuatan lebih dari manusia normal dan ditambah dengan darah vampir dari ayahnya, Rue benar-benar bisa menyakiti makhluk abadi sekalipun. Melihat hal itu, Rue langsung terbahak penuh kepuasan. Rue tidak pernah menyangka kalau bocah yang dulu dibencinya dengan seluruh jiwanya saat mereka masih kanak-kanak, ternyata sekarang menjadi sosok yang seperti saudara baginya. Begitu juga dengan Rainhart. Tidak satupun dari mereka yang menyangka kalau di saat dewasa mereka lebih seperti saudara dibandingkan musuh bebuyutan. “Oh ya, ngomong-ngomong, apa kau menyadari sesuatu, Rainhart?”tanya Rue saat membuka lemari pendingin dan mulai mengeluarkan bahan-bahan makanan. “Apa?” “Ada banyak anak hilang di berbagai penjuru Inggris, Rainhart.” Rainhart mendadak menghentikan langkahnya dan menatap Rue dengan tatapan asing. “Ada apa?”tanya Rue saat tatapan Rainhart semakin membuatnya tidak nyaman. “Jangan ikut campur apapun tentang masalah itu, Rue. Aku serius.” “Kau mengetahui sesuatu?” Rainhart menggeleng pelan. Penyesalan diwajahnya membuat Rue mau tidak mau percaya dengan ucapan Rainhart selanjutnya. “Aku tidak tahu. Hanya saja beberapa rumor mengatakan kalau ‘pihak-pihak’ yang lebih berkuasa sudah mulai turun tangan untuk masalah ini. Dan itu artinya kalau makhluk-makhluk seperti kita diharapkan untuk tetap bersikap tidak tahu apa-apa.” “Kau yakin ini tidak akan menjadi masalah untuk kita nantinya?” “Semoga saja tidak. Karena bagaimanapun, kalaupun ada masalah yang menghampiri Inggris, kita harus percaya kalau penguasa tanah ini akan berbuat sesuatu untuk penghuninya.”gumam Rainhart pelan dan jelas terdengar enggan. *** Axel sudah kembali ke unit apartemennya di pusat kota sejak siang tadi. Kemarin malam kedua orangtuanya sudah kembali ke Regnum Angelorum. Ayahnya hanya bisa meluangkan waktu tiga hari dan selama tiga hari itu Axel mendapat kejutan yang tidak pernah dia pikir akan didapatkannya. Kemunculan Lucifer dan latih tanding dengan ayah serta Pa-nya pada hari pertama, menjadi shopping assistant sehari untuk wanita-wanita yang dicintainya pada hari kedua, dan kesempatan menggunakan pedang warisan pendahulunya, Kilgorin, di hari ketiga sekaligus latihannya yang terakhir bersama sang ayah sebelum Navaro kembali ke Regnum Angelorum. Waktu yang dihabiskannya untuk berlatih dengan Kilgorin menjadi momen paling berharga dalam hidup Axel saat ini melebihi kenangan lainnya. Sejak bisa berpikir dan mengingat, Axel sudah mengagumi pedang itu sebagaimana dia mengagumi ayahnya. Pemandangan London 2064 jauh berbeda dengan puluhan tahun sebelumnya. Dulu setiap kali Axel berkunjung ke bumi dan menikmati pemandangan malam hari ibu kota Inggris itu, cahaya lampu menerangi jalanan layaknya sungai cahaya. Kini lampu-lampu kendaraan itu tidak hanya membentuk sungai cahaya di jalanan sana, tapi juga mengudara tergantung pilihan kendaraan dan sistem navigasinya. Membuat cahaya lampu dari setiap kendaraan yang mengudara terlihat seperti kunang-kunang dalam gelapnya malam. Kemajuan teknologi di bumi tidak bisa dibendung. Berbagai penemuan mutakhir bermunculan selama dekade awal Axel berkunjung ke bumi. Bahkan Axel adalah salah satu dari penemu itu dan dia sendiri sudah banyak menciptakan teknologi yang laku keras di pasaran dan menjadi incaran para perusahaan terkemuka di dunia kalau saja dia belum bekerja seumur hidup untuk Pisaca. Sekarang, PrimeNet mungkin lebih pintar daripada otak manusia itu sendiri dan sudah ada MainData, dimana semua berkas pribadi manusia ada disana. Dan seperti Axel, tidak hanya manusia yang memiliki penemu dalam bidang teknologi dan menciptakan jaringan untuk kaumnya. Beberapa makhluk non manusia memiliki network mereka sendiri seperti WolfNet untuk network para werewolf, diciptakan oleh salah satu sentinel raja werewolf pada akhir tahun 2020. V-Net adalah jaringan yang diciptakan oleh Axel bersama Alby untuk para vampir dan semakin berkembang sejak pertama kali dia bereksperimen dengan dunia teknologi pada awal 2020, ImpNet untuk jaringan para Imp, L-Net untuk jaringan para keturunan Lilith sang Dewi Succubus, dan banyak network lain yang tidak bisa diakses oleh spesies lain selain jenis mereka sendiri. Walaupun begitu, beberapa orang dengan bakat seperti Axel, manusia ataupun non manusia, bisa meretas network milik spesies lain dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi mereka. Meskipun kemajuan teknologi sudah mengubah banyak hal, masih ada satu hal yang tetap sama seperti dahulu. Keberadaan para makhluk non manusia tetap dirahasiakan. Bahkan setelah zaman serba elektronik seperti saat ini, keberadaan non manusia sebagai legenda pun tidak lagi dipercaya manusia. Manusia, memiliki sifat terjelek yang pernah ditemukan Axel. Mempercayai hanya apa yang mereka ingin percayai saat masih banyak hal nyata yang bisa dibuktikan keberadaannya. Manusia lebih suka berpikir dengan logika mereka dan menolak apapun yang tidak sesuai dengan logika. Karena itulah keberadaan makhluk-makhluk non manusia dirahasiakan keberadaannya. Memandang langit yang cerah tanpa awan membuat Axel ingin sekali menikmati waktunya seperti saat di Regnum Angelorum. TerLiam bebas dari menara pengawas dengan bentangan sayap lebar di udara. Menikmati sentuhan angin di seluruh tubuhnya saat terbang. Tapi selama keberadaan non manusia hanya dianggap dongeng, Axel tidak akan bisa melakukan aktivitas kesukaannya dengan terbuka. Karena malaikat adalah keberadaan yang paling dirahasiakan. “Terbang.”bisik Axel penuh kerinduan meskipun baru kemarin dia terbang berkeliling Acasa Manor bersama ibunya dan menghabiskan satu jam berikutnya dengan terbang melintasi langit London dibawah kekuatan ayahnya sehingga tidak satupun manusia yang bisa melihat mereka bertiga. Malaikat yang terbiasa menggunakan sayapnya, akan merasa sangat kehilangan saat dia tidak bisa mengepakkan sayap-sayapnya meski hanya sehari. Rasanya seperti kehilangan salah satu anggota tubuh. Axel bukannya tidak ingin membentangkan sayapnya hanya untuk menikmati sensasi penuh kenikmatan setiap kali hembusan angin menerpa setiap helai bulu sayapnya. Axel bukan tidak ingin melakukannya. Dia tidak bisa melakukan hal itu setiap kali keluar dari perlindungan. Axel bisa saja tetap tinggal di Acasa Manor lebih lama agar dia bisa bebas menggunakan kekuatannya dan juga bisa mengembangkan sayapnya kapanpun yang dia inginkan. Tapi Axel tidak suka terbang sendiri. Dia juga tidak bisa mengajak Wren atau Lily menemaninya untuk terbang mengingat Kaly sedang liburan panjang bersama orangtuanya dan klan Ursa. Meski keduanya tidak akan menolak, tapi Axel tahu kalau ada banyak hal yang harus mereka lakukan dibanding menemani Axel memanjakan sayap-sayapnya. Satu-satunya hal yang bisa dilakukannya saat ini dengan kekuatannya sebagai malaikat hanyalah fisik yang sedikit lebih kuat daripada manusia bisa. Kekuatan yang cukup untuk membuat Axel menjaga dirinya dari manusia, tapi tidak dari makhluk non manusia lainnya. Tato kembar rangkaian huruf kuno di punggungnya yang mengapit tulang punggung Axel adalah bukti nyata dari terbatasnya kekuatan yang Axel miliki di luar perlindungan. Tato itu adalah segel yang dibuat Lucifer atas permintaan ayahnya sejak Axel memutuskan untuk belajar hidup di tengah manusia. Saat itu segel dipasang untuk mengontrol kekuatan Axel yang masih tidak stabil. Berubah wujud menjadi sosok malaikat sempurna di tengah-tengah kerumunan manusia jelas hanya akan membawa bencana. Manusia-manusia berhati lemah akan langsung meninggal sementara manusia berhati lembut dan baik akan mengalami halusinasi seumur hidup yang tidak bisa diperbaiki. Saat itu penyegelan kekuatan Axel sangat diperlukan. Bukan berarti ayahnya tidak bisa memberikan segel terhadap kekuatan Axel, namun lebih ke arah kenyataan kalau segel Navaro baru akan lepas kalau Navaro sendiri yang melepaskannya. Segel Lucifer jauh lebih fleksibel meski menurut semua orang yang dikenalnya, segel Lucifer merupakan segel kuno yang sangat rumit untuk dilakukan oleh malaikat dibawah tingkat satu. Segel itu hanya mengikat kekuatan Axel dan akan menghilang setiap kali melewati selubung perlindungan Regnum Angelorum yang dibuat dengan gabungan esensi kekuatan Lucifer dan Navaro. Axel tetap memiliki keabadian malaikat meski segel itu aktif. Segel itu juga bisa dilepas oleh orang yang berdarah sama dengan Lucifer. Hanya ada satu orang yang memiliki darah Lucifer dalam tubuhnya dan Axel mempercayai orang itu sepenuh hatinya, karena itulah Axel memiliki segel Lucifer di tubuhnya. Segel yang katanya dulu hampir di tanamkan Lucifer untuk Lily walau akhirnya Lucifer malah menyegel darah Lily mengingat Lily tidak hidup dengan membawa kekuatan perlindungan Regnum Angelorum. Tiba-tiba saja Axel merindukan sosok seseorang malam ini. Axel merindukan gangguan yang disebabkan oleh orang itu. Axel merindukan keributan dan semua sifat manja orang itu malam ini. Dengan cepat Axel masuk ke dalam apartemennya yang bernuansa putih dan meletakkan ponsel pipihnya ke sebuah dock yang terletak di atas konsol bening dan duduk di sebuah sofa tunggal bulat yang menghadap ke jendela apartemennya. Axel mengulurkan tangan untuk menyalakan ponsel dengan menyentuh Layarnya. “Kalyca Amarys, holo call.”ujar Axel agar ponselnya memulai melakukan pencarian berdasarkan voice command. Konsol bening persegi di hadapan Axel tiba-tiba menyala terang dan berubah menjadi Layar datar proyeksi dari tampilan ponsel Axel. Sebuah pop up window muncul di sana dengan nama Kaly tertera di tittle box. Kurang dari lima detik kemudian sesosok tubuh terproyeksi di atas konsol membentuk wujud hologram Kaly yang sedang duduk dengan pemandangan deretan bangunan apartemen lama berwarna-warni yang berada di tepi tebing curam. Wajah cantik gadis itu merengut menatap Axel saat ini. “Hallo, Kaly. Sepertinya kau liburan tidak jauh dari tempatku.”sapa Axel ringan sambil memastikan kalau pemandangan di belakang Kaly adalah deretan apartemen tua di Chinque Terre, Riviera, Italia. Situs lokal yang sepertinya masih dipertahankan oleh pemerintah Italia sebagai objek wisata hingga saat ini. “Halo, Kaly?”tanya gadis itu dengan mata melotot, “Kau tidak menghubungiku! Tidak pernah, Axel! Dan kau hanya mengatakan ‘halo, Kaly. Sepertinya kau liburan tidak jauh dari tempatku’.” Axel berusaha mempertahankan wajah tanpa emosinya walau dia ingin sekali tertawa melihat wajah kesal Kaly. Dibesarkan bersama Kaly membuat Axel terbiasa dengan segala sikap manja dan egois gadis yang sudah seperti adik baginya itu. “Ralat kalau aku salah, Kaly. Tapi bukankah kau juga tidak menghubungiku sejak meninggalkan London?” “Kau tidak bisa membuatku merasa bersalah, Axel. Selalu kau yang menghubungiku lebih dulu. Harus kau yang lebih dulu!”sembur Kaly kuat hingga membuat sebuah sosok lain ikut muncul dalam bentuk hologram di hadapan Axel. “Astaga... Kenapa harus berteriak?”tanya Gabby pada putrinya sebelum menoleh ke Layar untuk menatap Axel. “Halo, Axel. Aku tidak percaya kau baru menghubungi setelah tiga hari.”tambah Gabby cepat yang kali ini berhasil membuat Axel menyemburkan tawanya. Wanita-wanita dalam hidupku memang tidak ada yang bisa ditebak.pikir Axel kagum. “Baiklah, baiklah. Kalau ibu dan anaknya sudah bersatu untuk melawanku, lalu aku bisa apa?”tanya Axel ringan dengan seringai di wajah tampannya. “Mom dan Ma menyita semua waktuku, Aunty. Aku bahkan baru bisa kembali ke apartemenku sendiri malam ini. Lagipula ada banyak kejutan yang terjadi dua hari lalu setelah kalian pergi.” “Kejutan?”tanya Kaly cepat sambil mendorong ibunya keluar dari Layar hingga sosok hologram Gabby pun ikut menghilang di hadapan Axel, “Kejutan apa?”tanya gadis itu lagi tanpa merasa bersalah sudah menyela pembicaraan ibunya. “Grandpa Lu dan Uncle Reynard datang berkunjung paginya. Tapi yang paling hebat adalah, Dad melatihku bertarung saat itu! Dia bahkan mengizinkanku menggunakan Kilgorin!”seru Axel yang masih bisa merasakan sensasi asing saat tangannya menyentuh Kilgorin. Sekelebat kejadian muncul di kepalanya saat itu dan masih bisa diingatnya hingga saat ini. Potongan kejadian saat Navaro membunuh Icarus dan beberapa petarungan lainnya yang dilakukan Navaro ataupun kakeknya, Dragunov. Dan dari Navaro-lah Axel tahu kalau Kilgorin menyimpan semua kenangan yang dilakukan pedang itu dan akan membiarkan orang yang menyentuhnya melihat kembali ingatan-ingatan itu. Semakin dekat hubungan darahnya dengan pemilik pertama Kilgorin, maka akan semakin jelas dan lengkap potongan ingatan yang disampaikan Kilgorin. Meski Kilgorin cukup pemilih dalam hal orang yang bisa melihat kenangan yang tersimpan dalam pedang hitam itu. “Benarkah? Wow! Tapi aku ingin bertemu dengan Grandpa Lu juga, Axel. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya dan dia selalu datang saat aku tidak ada.”ucap Kaly manja dan berakhir dengan mengerucutkan bibirnya. “Sepertinya Grandpa akan sering datang ke Acasa Manor nantinya. Kalau kau kembali dari liburan dan menghabiskan sisa waktu setelah pulang sekolah disana, mungkin kau akan bertemu dengannya kapan-kapan.” “Bagaimana denganmu, Axel?” “Seperti biasa, Kaly. Kalau tidak ada kuliah aku akan bekerja di Pisaca. Setelah itu baru ke Acasa Manor untuk berkunjung. Aku pasti akan berkunjung setiap hari, Kaly, kalau kau ada disana.” Kaly tersenyum puas. “Itu janji, Axel. Kau tidak boleh mengingkarinya.” “Aku tahu. Tenang saja.”sahut Axel santai, “Sampaikan salamku untuk Uncle dan Aunty. Jaga diri baik-baik, Kaly. Jangan menyusahkan orangtuamu.” “Sebenarnya yang orangtuaku itu kau apa mereka, Axel?! Kenapa kau yang begitu sibuk berpesan agar aku tidak membuat masalah?”sembur Kaly yang sepertinya tidak sadar kalau ayahnya sudah berdiri di belakangnya. “Halo, Uncle Zac. Bagaimana liburan kalian?”tanya Axel seketika dan langsung membuat Kaly terperanjat sebelum menoleh ke belakang dan mendapati ayahnya sedang memperhatikan obrolan mereka dengan tangan di masukkan ke dalam saku celananya. “Aku pikir tadi aku mendengar kalau kau mengatakan Lucifer datang ke Acasa Manor.” “Iya, Uncle. Grandpa memang datang walau cuma sebentar. Sepertinya ada yang ingin disampaikannya pada Ma dan Pa.” Zac mengangguk paham lalu membisikkan sesuatu pada Kaly hingga membuat Kaly merengut tidak senang saat memberikan ponselnya kepada Zac. Seiring berlalunya waktu, Zac mulai bisa mengontrol kekuatannya sehingga ia tidak lagi menghancurkan atau merusakkan benda-benda elektromagnetik yang disentuhnya, meski masih ada beberapa benda eletronik yang mengalami gangguan pada sirkuitnya saat disentuh oleh Zac. “Sampaikan pada Wren dan yang lainnya untuk berhati-hati. Entah kenapa sejak menginjakkan kaki di Italia, aku merasakan tekanan energi asing yang tidak terlalu besar namun terlalu kompleks untuk bisa kudeteksi lebih jauh.” Dahi Axel berkerut mendengar perkataan Zac. Jarang sekali mendengar sang Nosferatu itu tidak bisa melakukan sesuatu. “Aku akan menyampaikannya. Jaga diri Uncle. Jaga diri kalian semuanya.”ucap Axel tulus tepat saat bel apartemennya berbunyi. Axel tidak langsung pergi untuk melihat siapa yang datang hingga hologram di hadapannya menghilang. Dan begitu koneksinya terputus, Axel beranjak dari sofa menuju panel interkom di dinding untuk melihat siapa tamunya. Kerutan kecil di dahi Axel langsung muncul saat melihat seorang wanita cantik berdiri di depan pintunya. Axel tidak mengenal tamunya sama sekali dan malam ini Axel sedang enggan beramah tamah dengan orang asing apalagi seorang wanita. Tangan Axel sudah terjulur untuk mematikan Layar interkom saat sebuah suara dari speaker interkom menarik perhatiannya. “Astaga, Mom. Kebiasaan memberikan bingkisan kepada tetangga saat baru pindahan itu sudah tidak ada lagi. Lagipula ini Amerika, Mom, bukan Asia. Tidak ada yang peduli siapa yang pindah kemana.”ujar seorang pemuda pada sang wanita. Wanita cantik diLayar itu terlihat mengulurkan tangan untuk menepuk pelan bahu si pemuda yang sepertinya adalah puteranya dan menegur pelan yang tidak terjangkau oleh penerima suara. Seulas senyum muncul di wajah Axel saat dia memutuskan untuk membuka pintu bagi tamunya. Akhirnya Axel memiliki kesempatan bertemu muka dengan tetangga barunya. “Ada yang bisa saya bantu?”tanya Axel begitu membuka pintu dan mendapati kalau sang wanita masih belum selesai menegur puteranya. Keduanya terperanjat menyadari keberadaan Axel dan serangkaian kata maaf langsung meluncur keluar dari mulut sang wanita. Saat itulah Axel mengenali kalau kedua tamunya adalah werewolf. Pemuda were itu menatap Axel sejenak sebelum menggerutu pelan dan pergi tanpa mengucapkan apapun pada Axel yang membuat ibunya mendelik tidak percaya melihat kelakuan puteranya. “Maaf, ada yang bisa saya bantu?”tanya Axel lagi karena sang wanita masih belum mengatakan apapun selain melotot kesal ke arah unit apartemen di sebelah Axel, tempat puteranya masuk dan menghilang dari pandangan. “Oh! Maaf, maaf. Kami hanya ingin memberi salam. Ini ada sedikit bingkisan. Tolong diterima. Kita bertetangga. Kami pindah beberapa hari lalu, namun belum sempat menyapa pemilik apartemen lain di lantai ini.”ujar sang wanita begitu ramah dan sopan. Axel tersenyum sambil menerima bingkisan mungil dari wanita cantik di hadapannya. “Tidak perlu repot-repot. Tapi terima kasih untuk bingkisannya.”ucap Axel tulus dan bersiap untuk kembali ke dalam saat menyadari kalau wanita di hadapannya ini masih belum ingin pergi dan malah memperhatikan Axel dengan seksama. “Ada yang bisa saya bantu lagi?” “Bolehkah saya bertanya sesuatu?” “Tentu. Silakan.” “Apa kamu masih sekolah? Maksudku, kau terlihat seusia dengan puteraku.” “Saya sedang menyelesaikan kuliah saya, uhm, maaf siapa nama anda?”tukas Axel cepat bahkan sebelum tamunya selesai mengatakan keinginannya. “Diana.” “Ah, Mrs. Diana. Saya sudah kuliah dan sedang menyelesaikan tugas akhir saya.”jawab Axel cepat. Diana menatap Axel curiga sebelum menggeleng cepat, “Ah, maaf. Wajahmu terlihat masih seperti anak sekolah. Aku pikir mungkin saja kalau kau bersekolah di sekolah yang sama dengan puteraku.” “Tidak masalah. Saya mengerti.” “Apa kamu tinggal dengan orangtuamu?” “Tidak. Saya tinggal sendiri, Mrs. Diana. Orang tua saya tinggal cukup jauh dari sini walaupun mereka pasti akan datang kalau saya memintanya.” Sekali lagi Diana menatap Axel curiga hingga membuat Axel ingin sekali tertawa. Meski kekuatannya disegel, Axel tetap bisa menebak isi pikiran were wanita dihadapannya ini. Were ini mengira kalau Axel adalah seorang artis jika dilihat dari wajah dan fasilitas tempat dimana dia tinggal. Tapi bukan itu yang paling membuat Axel nyaris tidak bisa menahan tawanya. Diana sempat mengira kalau Axel adalah bandar obat-obatan terlarang. Gedung apartemen tempatnya tinggal memang lebih banyak dihuni oleh selebritis dan masyarakat dengan tingkat pendapatan yang sangat tinggi daripada masyarakat biasa. Pernyataannya tentang kemungkinan Axel satu sekolah dengan puteranya hanya untuk menutupi isi pikirannya yang begitu imajinatif. “Ada lagi yang bisa saya bantu, Mrs. Diana?”tanya Axel memecah keheningan diantara keduanya itu. Perlu tekad kuat dan pengendalian diri luar biasa bagi Axel untuk tidak tertawa saat Diana kembali membayangkan berbagai kemungkinan tentang jati diri Axel yang sebenarnya. “Tidak, tidak. Terima kasih. Mohon bantuannya.”ujar Diana sambil membungkuk singkat dan langsung bergegas kembali ke unit apartemennya sendiri bahkan sebelum Axel sempat mengatakan apapun. “Tentu, Mrs. Diana.”sahut Axel yang hingga kunjungan singkat itu usai sama sekali tidak memperkenalkan namanya pada tetangga barunya itu. Begitu tetangganya kembali ke unit apartemen miliknya sendiri, Axel menutup pintu apartemennya. “Were yang ramah dan berasal dari Asia. Kalau dia ibu dari pemuda itu, kenapa dia baru pindah sekarang dan sejauh ini? Bane jelas sudah satu kelas dengan Kaly sejak tiga tahun lalu. Kenapa dia pindah ke gedung milik musuh kaumnya?”gumam Axel merujuk pada malaikat yang merupakan anak dari pasangan Archangel yang menjadi sekutu ayahnya itu. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD