BAB 7

905 Words

Pagi itu Elea terlihat tidak baik-baik saja. Wajahnya pucat dan kantung matanya menghitam. Raina yang baru keluar dari apartemennya yang berhadap-hadapan dengan apartemen Elea mengerutkan keningnya dalam. Heran melihat kondisi sang sahabat. "Lo sakit, Le?" Elea menggeleng, ia hanya merasa pusing saja. Mungkin karena semalam ia sama sekali tak bisa memejamkan mata barang sekejap. Pikirannya terlalu tersita oleh hal-hal yang sudah lalu. "Gue baik-baik aja. Cuman tadi malam kurang tidur, udah dikejar deadline soalnya. Naskahnya harus selesai minggu ini," bohongnya. Ia tak mungkin mengatakan apa yang semalam terjadi padanya. "Tapi lo pucet banget. Izin nggak masuk kantor aja lo, gimana? Entar gue sampein sama Bu Dewinta," tawar Raina sambil berjalan mendekat dan menyentuh kening Elea. "Bada

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD