"Gimana nyokap lo? Udah bener-bener nggak ngehubungin lo lagi ya?" Raina duduk pada meja bundar yang berada di kafetaria kantor. Sambil menyesap teh pesanannya, ia memandang Elea yang duduk di depannya dengan kedua alis terangkat. Elea tersenyum kecut. "Nyokap gue mungkin terlalu muak sama gue, sampai-sampai dia nggak pernah angkat atau balas pesan yang gue kirim ke dia." "Lo nggak berusaha jelasin keadaan lo? Nyokap lo salah paham soalnya." "Udah, tapi seperti yang udah-udah juga. Nyokap gue nggak akan percaya, mau gue jelasin kayak apa pun. Gue bakal tetep dianggap pembual," Elea menunduk lesu. Ia tahu, ibunya adalah orang yang keras kepala. Sulit mematahkan apa yang beliau percayai, sekali pun hal itu tidak benar. "Semua gara-gara bokap gue yang sama sekali nggak pernah hargai nyoka

