Bab 8

2057 Words
Malam hari yang diikuti derasnya rintik hujan, Cylvi menduduki dirinya di teras depan rumah milik anggota Kingnezs berkumpul. Ia menatap diam pada ponsel yang ia taruh di sampingnya yang sedari tadi bergetar menandakan ada sebuah telepon masuk. Gaara Alvaro. Nama itu terus-menerus tertera jelas di layar ponselnya yang berkedap-kedip. Bukan ada maksud tertentu gadis itu mengabaikan telepon dari cowok yang menganggapnya sebagai pacar, ia hanya sedang tak ingin berurusan ataupun mendengar suara cowok itu. "Cyl, lo kenapa sih? Termenung aja di sini," tanya Mita seraya memilih duduk di samping Cylvi. Ia mengabaikan embusan angin di sekitarnya, menambah suasana suram dan sunyi yang sebelumnya sudah terasa pekat. “Lagi galau ya lo?” “Gue kan emang pendiam orangnya,” sanggah Cylvi sembari menyetel mode sunyi pada ponselnya. Mita mengerutkan dahinya, lalu memberikan tatapan tak percaya. “Pendiam? Yakin lo?” tukasnya lalu melihat ke arah ponsel di genggaman Cylvi. “Itu kenapa lo gak angkat teleponnya?” Cylvi menghela napasnya berat. "Gak kenapa-kenapa, lagi gak pengin ngomong aja sama tuh orang." Ia segera membalikkan layar ponselnya ke arah bawah agar Mita tak dapat melihat nama orang yang meneleponnya. Kernyitan dahi Mita semakin terlihat. “Emang dari siapa sih?” Ia lalu memeluk lututnya menahan dingin. “Gaara?” tebaknya yang dibalas erangan gusar dari Cylvi. "Ya elah Cyl... gue kira dari siapa gitu sampe lo gak mau angkat tuh telepon. Lagian wajar dong kalo dia telepon lo, dia kan cowok lo,” ucap Mita enteng. Ia agak tersinggung ketika mendapati Cylvi yang tak mau merespons perkataannya. “Lo denger gue gak sih, Cyl?” “Iya, tapi gue gak pernah nganggep dia itu cowok gue." Cylvi membuka suaranya, nada bicaranya menunjukkan ia amat sangat jengah dengan situasinya sekarang. “Dia sendiri yang ngaku ke orang-orang, gue kan gak bilang ok,” sanggahnya lagi. "Lo kok gak mau sama Gaara sih, Cyl? Penasaran gue. Gaara kan gak buruk juga,” ujar Mita tak mengerti maunya Cylvi. “Atau jangan-jangan... lo emang belom bisa move on ya?” tebaknya yang sukses menimbulkan ekspresi terkejut di wajah Cylvi. "Gue cuma gak mau terlibat lebih jauh sama Gaara. Cukup segini aja, gue udah males," gerutu Cylvi tanpa menutupi rasa amarahnya. Mita terkesiap dengan nada tak bersahabat yang dingin dilontarkan ketuanya tersebut. "Jangan bilang lo emang belum bisa move on? Demi Tuhan Cyl, Andreas tuh udah lama gak ada di sini, gak di samping lo dan lo sendiri yang bilang kalo dia milih ke Amerika dulu." Ia menguncang tubuh Cylvi yang mendadak kaku. “Lo gak berharap lagi kan sama Andreas?” Cylvi mengatup bibirnya rapat-rapat setelah akhirnya mengucapkan kalimat yang membuat Mita frustasi. "Tapi gak tau kenapa gue bisa ngerasain kalo Andreas sebenarnya udah ada di sini, dia udah pulang ke Indonesia." "Lo liat rekaman tadi ya? Rekaman yang berisi si Dera di-bully? Dan lo mikir Andreas bakal keluar gitu belain Dera?" Mita berusaha membaca pikiran Cylvi yang absurd untuknya. Cylvi tak bergeming. Ia tak bisa mengungkapkan semuanya pada Mita, sekalipun gadis itu adalah teman baiknya. Ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya, melarangnya untuk berucap lebih banyak. "Cyl? Lo harusnya tau kalo ini tuh cuma jebakan doang. Mereka pasti mau bikin lo keluar sendirian, salah satunya ya... jebak lo sama Dera. " Mita melirik waspada. “Gue gak tau Dera itu siapanya Andreas, tapi gue rasa lo paling tau seberapa bahayanya tuh cewek. Jadi gak mungkin dong kalo dia sampe bisa di-bully kayak gitu,” jelasnya panjang lebar. "..." "Cyl," panggilnya sembari mendirikan tubuhnya yang sudah menggigil. "Tolong, Mit. Gak usah bahas ini dulu, biar gue yang mikir nanti gimana  ke depannya." Cylvi menenggelamkan kepalanya di antara kedua lututnya. “Yang jelas, gue gak mau Gaara ikut terlibat. Cukup kita aja yang tau masalah ini, orang lain gak perlu tau soal apapun itu.” Ia melanjutkan katanya pelan. Mita hanya bisa menghela napasnya dengan susah payah. Jika Cylvi sudah memutuskan sesuatu, maka tak ada lagi yang bisa ia katakan untuk membantah ucapan gadis tersebut. Cylvi sudah tak bisa dilarang, ia itu orang yang sangat keras kepala dan Mita tahu jelas sifat buruk ketuanya yang kadang menjengkelkan. "Gue percaya sama lo, Cyl. Lo pasti tau apa yang terbaik buat lo sama orang-orang di sekitar lo," ucap Mita setelah memikirkan beberapa kata agar tak menyinggung perasaan Cylvi. "Thanks." "Masuk, Cyl. Udah malem, di sini dingin banget. Dan lo coba kirim seenggaknya satu chat ke Gaara. Dia pasti khawatir banget sekarang sama lo, lo ditelepon gak mau angkat." "Hmm." Cylvi berjalan memasuki kamarnya seraya mengunci pintunya agar tak diganggu oleh siapapun. Ia pun menduduki dirinya di atas kasur sambil membuka kontak Gaara. Gadis itu menatap ponselnya lelah, Gaara masih tetap berusaha menghubunginya walau sudah diacuhkannya beberapa kali. Setelah kedip layar ketiga, Cylvi akhirnya memilih mengangkat telepon itu. "Hallo?" Ia berusaha menenangkan suaranya yang tiba-tiba menjadi serak. "Lo di mana?" Suara dingin itu menyapa gendang telinga Cylvi. "Di rumah." Cylvi tak ingin memberitahu Gaara tempat ia berada sekarang. Cukup cowok itu tahu bahwa ia baik-baik saja, ia tak perlu tahu lebih lanjut mengenai keberadaannya. "Jangan bohong, Cyl. Gue barusan dari rumah lo." "Hm...” gumam Cylvi panik. “Lo ke rumah gue?" "Iya." Terdengar suara helaan napas berat di sana. “Ngapain?” Cylvi membaringkan tubuh pegalnya. "Lo gak apa-apa?" Gaara tiba-tiba melempar pertanyaan tanpa menjawab pertanyaan dari Cylvi. "Gue baik-baik aja kok." Walaupun sempat kaget, Cylvi memilih menjawab pertanyaan itu. "Ada yang mau lo ceritain?" "Gak ada. Gue—“ Cylvi menggelengkan kepalanya kuat. “Gak jadi. Gak ada apa-apa." "Lo kenapa sih, Cyl?" Ada nada khawatir di sana, dan Cylvi tak menyadarinya. Cylvi terkesiap. "Gue kenapa? Maksudnya?" Ia memilih berpura-pura tak mengerti maksud Gaara. "Ada yang aneh sama lo." "Terus?" Ia berharap Gaara tak mengetahui apapun. "Kasih tau gue." "Kasih tau lo soal apa? Gak ada yang gue sembunyikan, Gaar." "Kenapa?" "Kenapa apanya?" Cylvi mengembuskan napas sebalnya. "Lo nyimpen sesuatu. Ada yang lo gak mau ceritain ke gue." "Gue bukannya gak mau, cuma bener-bener gak ada yang bisa gue ceritain ke lo. Gue gak ada cerita apapun." "Lo terpaksa sama gue?" "Maksud lo?" "Lo gak tau gue dari tadi muter-muter cariin lo, dari ke kelas lo sampe ke rumah lo. Gue juga mampir ke tempat yang dibilang Abang lo itu tempat favorit lo, dan lo gak mau cerita apapun mengenai hilangnya lo hari ini." Terselip nada marah di intonasi Gaara. "Gaar—" Cylvi membelalakkan matanya tak mengira Gaara akan mencarinya sampai seperti itu. "Cyl, lo juga gak bisa kan bilang lo sekarang di mana? Lo gak bisa jujur ke gue." "Gue—" "Lo nyimpen sesuatu, Cyl. Gue rasain itu sejak liat lo di kantin." "Gaar—" Tut tut tut... Cylvi meletakkan kasar handphone-nya di atas kasur. Bukan, bukan ia yang ingin merahasiakan sesuatu pada Gaara, ada suatu hal yang menjadi penghalangnya yang bahkan membuat Cylvi tidak dapat bercerita dengan siapapun. "Lo kenapa lagi, Cyl?" tanya Mita kemudian mengetuk pintu kamar Cylvi. Gadis itu kembali menuju ke kamar Cylvi karena merasa Cylvi memiliki masalah yang belum bisa ia ceritakan. Ia tak mendapati jawaban dari Cylvi selama beberapa detik. "Gue gak apa-apa." Cylvi memejamkan matanya yang entah sejak kapan mulai basah. Cylvi selalu berkata tidak terjadi apapun di hidupnya, Mita tahu itu. Ia paham dengan sikap Cylvi yang tidak ingin merepotkan siapapun, ketuanya itu lebih memilih membebankan apapun untuk dirinya sendiri daripada menceritakan masalahnya pada orang lain. "Lo tau Cyl... gue selalu ngerasa lo itu ketua yang kuat, yang gak butuh siapapun di belakang lo. Lo bisa ngelawan siapapun yang ganggu lo, lo bisa jadi tameng buat temen-temen lo, lo bisa jadi pendengar yang baik dan pemberi nasihat terbaik. Lo ketua yang tegas, lo gak goyah, lo punya hidup yang hampir terancang sempurna." Mita memandang kosong pintu kamar Cylvi di depannya. "..." "Makanya Cyl, gue selalu ngerasa bersyukur lo masih mau berdiri di depan gue, di depan yang lain. Lo selalu bisa membawa diri lo dalam kondisi apapun, lo juga bakal nerima gitu aja kalo misal ada salah satu dari kita yang gak sengaja libatin lo dalam masalah. Lo emang gak banyak omong, gak pernah complaint untuk masalah apapun yang kita buat. Kingnezs di bawah lo selalu terasa hidup." Cylvi mengerjapkan matanya, membiarkan air matanya jatuh membasahi sprei tempat tidurnya. "Mit, gue juga punya kekurangan. Gue gak bisa terbuka." Mita tersenyum samar, ia mengerti dan sudah tahu. "Lo bisa. Cuma lo gak secepat orang lain. Lo butuh proses lebih. Gue tau lo, Cyl. Lo itu orang yang super duper mandiri." "Thanks, Mit. Lo udah ngertiin gue sejauh ini." "You are welcome, Cyl. By the way, lo udah kirim chat ke Gaara belum? Dia pasti cariin lo setengah mampus," kata Mita dengan cepat. “Dan bisa nggak lo buka nih pintu. Gue berasa lagi ngomong sama pintu.” Cylvi mengusap pipinya kasar. Ia membuka pintu setelah memastikan tak ada jejak air mata di pipinya. "Gue udah angkat teleponnya tadi." "Terus?" "Dia marah-marah." Cylvi mengedikkan bahunya sedikit. Tak disangka, Mita justru tertawa lebar. Baginya respons Gaara sangat lucu namun melihat Cylvi yang berpura-pura cuek juga terlihat sangat lucu, cewek itu sedang berenggut karena ditertawakan olehnya. "Lo harus minta maaf ke dia, Cyl. Dia pasti terlalu khawatir sama lo. Oh, gue balik dulu ke kamar gue. Gue mesti telepon Harry juga kalo gak mau disembur kayak lo." Terpancar sinar godaan di mata Mita. "Anjir lo. Lo seneng gitu liat gue disembur Gaara?  Gue bahkan belom sempet ngomong apa-apa, tuh anak udah matiin telepon,” adu Cylvi dongkol. "Lo sih nyebelin, Cyl. Makan tuh semburan." Tawa Mita menjadi-jadi. Mita akhirnya memilih keluar dari kamar Cylvi setelah mendapat lemparan bantal dari ketuanya tersebut. Cylvi kembali mengambil ponselnya yang sebelumnya tergeletak di kasur. Ia menimbang-nimbang perkataan Mita sambil membuka ponselnya. From : CVM Winata Gaar, gue di tempat Kingnezs. Gak  jauh dari sekolah. Gue bakal cerita sama lo, tapi gak sekarang. Kasih gue waktu. Setelah mengirim pesan itu, Cylvi tidak berharap Gaara akan membalasnya. Sungguh, Cylvi tidak terlalu berharap untuk itu. Ia sadar kesalahan, namun matanya tetap melirik khawatir ke arah ponselnya. TING! From : Gaara Alvaro Hm. Gue bakal tunggu lo cerita. Sekarang tidur. Udah malem. Kenyataannya setelah mendapati balasan Gaara, membuat Cylvi tersenyum tanpa sadar. Ia suka dengan sifat Gaara yang berusaha mengerti keinginannya, Walaupun cowok itu sebenarnya ingin tahu apa yang terjadi padanya, tetapi Gaara tidak mencoba memaksanya bercerita. From : CVM Winata Gue belom bisa tidur. Lo sendiri kenapa belom tidur? Diliriknya jam di dinding, pukul 23.15. Besok bukan hari minggu, kemungkinan besar Cylvi akan begadang malam ini dan tidur di dalam kelasnya. Lalu mendapat panggilan dari guru BP, menambah daftar namanya di buku tercinta guru itu. Ia sudah hafal semua itu. TING! From : Gaara Alvaro Lagi main game. Kenapa gak bisa tidur? Gue telepon aja. Susah main game kalo sambil chat. Ribet. Baru selesai ia membaca pesan dari Gaara, ternyata cowok itu langsung meneleponnya. "Hallo?" Cylvi tersenyum kikuk. "Lo kenapa gak bisa tidur?" Nada bicara Gaara terdengar jauh lebih tenang dibanding tadi. "Idih, bales halo dulu kek baru nanyain ini itu,” dumel Cylvi sesekali membetulkan posisi tidurnya. "Kelamaan, Cyl. Jadi?" "Jadi apanya?" Cylvi mengerutkan dahinya bingung. "Hm." "Apaan sih lo, Gaar... kadang suka gak ngerti gue sama lo." Gerutuan itu dibalas kekehan kecil. "Lama-lama juga lo bisa ngerti." Cylvi mencibir kecil. "Oh ya?" "Hm." "Kok bisa gitu?" Cylvi menutup matanya berat, rasa kantuk sudah menyerangnya. "Kan lo pacar gue. Udah seharusnya lo ngertiin gue." "Lo ngarepin gue ngertiin lo gitu?" goda Cylvi sekenanya. "Hm. Siapa sih yang gak mau dingertiin pacar sendiri?" "Anjir. Kok gue ngerasa lo baper sih, Gaar?" Ia membuka matanya kembali, mengusir kantuk yang sudah menyergapnya. "Baperan mana pas gue nyium lo atau pas gue minta lo ngertiin?" "Eh, gue masih marah ya pas inget-inget lo main nyium gue!" sahut Cylvi merajuk. "Kenapa? Karena gue bukan nyium bibir lo?" Kali ini Gaara yang menggoda Cylvi. "Kok lo jadi m***m gitu sih?" cibir Cylvi yang jelas tak bisa dilihat oleh Gaara. "m***m sama pacar sendiri itu gak apa-apa." "Kata siapa?" tantang Cylvi dongkol. "Kata gue lah." "Lagian gue juga belom bilang mau jadi cewek lo." "Tinggal bilang aja, gak susah,” tandas Gaara tak peduli. Cylvi mengacak rambutnya kasar. "Lo itu ya bawa semua hal jadi gampang." "Lo mau gue buat susah?" "Gak mesti gue juga kali,” tukas Cylvi jengkel. "Kan sekarang bahasnya elo." "Iya deh iya. Gue kasih seneng aja," ucap Cylvi menyerah dengan tingkah Gaara yang mendadak menyebalkan. "Lo mau kasih gue seneng?" "Apa?" "Cium gue besok. Gue bakal lupain kejadian tadi." "Hah?" Cylvi membangkitkan tubuhnya otomatis, ia terduduk kikuk. "Gue maunya di bibir." "Apaan sih lo?" bentak Cylvi setengah malu. "Bila perlu, lamain dikit biar kerasa." Gaara memancing amarah dari gadis yang ia hubungi. "m***m lo," tuduh Cylvi marah. "Gak apa kali kalo sama lo." "Apaan sih lo, Gaar!" "Lo gak balik ke rumah?" Gaara mengalihkan pembicaraan sebelum Cylvi ngambek padanya. "Malam ini nginep gue." "Ok. Dan lo harusnya tidur sekarang." "Lo sendiri belom tidur,” tukas Cylvi cepat. "Gue boleh jadiin itu sebagai tanda kalo lo mulai care ke gue?" "Jangan mulai, Gaar." "Ok. Yang penting gue besok dapet ciuman dari lo." "Makin m***m lo." "Your first kiss is mine. Dan lo beneran harus tidur sekarang, biarpun gue masih mau ngomong sama lo. Good night, Cyl." Tut tut tut... Bukankah barusan Cylvi mengatakan untuk tidak ingin terlibat jauh dengan Gaara, tetapi kenapa rasanya menyenangkan saat Gaara menggodanya dan membuatnya melupakan segala hal yang memusingkan? Cowok itu berusaha membuatnya tersenyum. Biarpun rasanya aneh, Cylvi tetap tak mampu menurunkan sudut bibirnya yang terangkat. Ah, cewek... mudah sekali berubah-ubah seperti bunglon.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD