Bab 9

1393 Words
Cylvi sangat membenci sekolah. Jika ada seseorang yang bertanya padanya hal apa yang paling ia benci di dunia ini, ia akan menjawab tanpa ragu jika itu adalah sekolah. Ia membenci semua kegiatan di sekolah dan pelajaran-pelajaran yang sebenarnya tak ingin ia pahami. Kehadirannya di sekolah semata-mata hanya untuk mencari teman dan kesenangan yang tak didapatkannya di rumah. Namun jika diberikan pilihan, ia tetap memilih sekolah ditiadakan untuk satu bulan penuh atau bahkan untuk selamanya. Ia sangat tidak suka ketika harus bangun dan mandi di pagi hari yang masih dingin, yang menurutnya lebih cocok untuk bergulung selimut di atas kasur. Masalahnya bertambah runyam saat ia mendapati di bawah matanya tampak menggelap, salahkan Gaara yang semakin membuatnya enggan bangun pagi karena tak bisa menutup matanya barang sedetikpun semalaman. Ia baru bisa jatuh tertidur nyenyak ketika matahari mulai mengintip malu-malu di antara awan-awan. Cylvi menggerutu kesal pada orang yang tak mau ia pedulikan itu menarik kasar selimutnya. Matanya tetap tertutup rapat, menghalau sinar matahari yang menyilaukan. “Cyl, bangun!” Suara itu menggertak kesal. “Lo jadi ikut gue ke sekolah nggak hari ini?” Mita mengguncang tubuh Cylvi yang meringkuk nyaman. “Gak jadi, gue mau tidur aja. Ngantuk!” Cylvi kembali mengambil selimutnya seraya menutup seluruh tubuhnya. Geram dengan respons Cylvi yang tak lekas bangun, Mita berjalan menuju toilet yang terletak di samping lemari pakaian. Ia memutuskan untuk membangunkan Cylvi dengan menyiramkan air dingin di kulit gadis yang masih menutup mata itu. Cylvi menegakkan tubuhnya kaget merasakan dinginnya air di kulit tangannya. “Lo apa-apaan sih, Mit? Lo kira gue tanaman pake disiram segala pake air?” Pelototan itu tak dihiraukan Mita. Mita mendesah lega. “Lo susah banget sih dibangunin,” cengirnya kemudian berjalan ke arah pintu kamar Cylvi. “Lagian anggap aja ini balesan dari tanaman yang lo siram pake cat, Cyl! Dia ngebalesnya lewat gue." Ucapan santai dan kekehan itu membuat Cylvi tak tahan untuk tak melempar bantal pada Mita, ia jengkel karena harus bangun dari tidurnya dan harus segera bersiap-siap ke sekolah. "Cyl, di sana ada cowok lo tuh." Tunjuk Salsa ketika matanya menatap kagum ke sekelompok cowok yang sedang asyik bermain basket di lapangan. "Biarin aja," ujar Cylvi sekenanya. “Bukan urusan gue,” lanjut lalu cepat-cepat pergi dari sana. Siska refleks menahan lengan Cylvi yang terayun bebas. “Lo mau ke mana, Cyl? Kita kan mau ke kantin bukan ke kelas,” tukasnya menyatakan jika sang ketua berjalan ke arah yang salah. “Gue gak jadi ikut ke kantin, mau tidur di kelas aja,” jawab Cylvi buru-buru. “Ngantuk banget gue.” Cylvi berencana untuk tak bertemu dengan Gaara hari ini, mengingat percakapannya dengan cowok itu semalam. Ia agak kikuk dan bingung harus berbuat apa jika cowok tersebut menyapanya, ia benar-benar belum mempersiapkan diri dan mentalnya apabila hal itu terjadi. "Gue pergi," ucap Cylvi kepada teman-temannya yang sibuk melihat cowok-cowok itu. "Cyl, si Gaara lagi liat ke sini," pekik Ananda menghentikan langkah kaki Cylvi. Cylvi menoleh pelan, ia ingin secepatnya meninggalkan tempat itu namun entah mengapa kakinya mendadak terasa lemas. Gaara sebenarnya tahu jika Cylvi sedari tadi berdiri tak jauh darinya, gadis itu hanya berdiri menunggu teman-temannya di depan mobil dan ia hanya menunggu Cylvi berjalan lewat di depannya. Namun melihat Cylvi yang tak juga melakukan apapun, Gaara mengambil insiatif dengan menghampirinya dan berdiri di depan Cylvi. "Lo kenapa, Cyl? Muka lo kok merah?" Itu percakapan pertama yang dimulai Gaara, ia mengernyitkan dahinya. “Lo sakit?” "Gue gak kenapa-napa," jawab Cylvi memasang ekspresi kaget. “Ada tugas yang belom gue kerjain, gue ke kelas duluan.” Belum selangkah Cylvi berjalan, Gaara sudah menahan tangan gadis itu. "Lo yakin?" “Iya," ujar Cylvi seraya melepaskan tangan Gaara. “Gue mesti cepat-cepat pergi sekarang sebelum bel berbunyi,” lanjutnya tergesa-gesa. Gaara mendekati wajahnya yang secara refleks Cylvi memundurkan kepalanya. “Sejak kapan lo peduli sama tugas sekolah, Cyl?” godanya. "Muka lo makin merah, Cyl. Lo beneran gak apa-apa?" ‘Anjir! Nih cowok pake acara godain gue di depan anak-anak lagi. Gue mesti balas!’ Cylvi menegakkan kepalanya menantang. "Gue gak apa-apa, Gaar. Lo kok tiba-tiba jadi perhatian banget sih," kata Cylvi sambil mengelus pipi Gaara yang tirus. Gaara tersentak kaget sebelum akhirnya ia menyeringai puas sembari kembali mendekati wajahnya, ia senang karena berhasil memancing Cylvi. "Gue suka sama sentuhan lo." Suaranya sengaja ia beratkan. Cylvi membungkam bibirnya yang hendak mengumpat. Ia merasa, Gaara sengaja mengerjainya di depan teman-temannya. "Tapi gue lebih suka kalo—" Cylvi terperanjat kaget saat Gaara berbisik di telinganya. "Bibir gue nyentuh bibir lo." Ada raut angkuh dan arogan di wajah Gaara. Ia benar-benar suka menggoda cewek itu. Dengan secepat kilat, Gaara kembali menempelkan bibirnya di atas pipi Cylvi dan memeluk pinggul ramping cewek itu. Ia tidak memedulikan tatapan orang lain di parkiran itu, bahkan mengabaikan teman-teman Cylvi yang terlihat sedang menahan napas kaget. Cylvi sendiri membeku di tempatnya bahkan setelah Gaara menjauhkan wajahnya. Gaara menciumnya dua kali tanpa izin, dan cowok itu terus memasang seringai puas di bibirnya. "Lo mau tau rasanya?" tanya Cylvi tiba-tiba memancing kerumunan semakin ramai mengelilinginya. Gaara mengangkat alisnya sebelah, tak mengerti. "Apa?" "Ciuman lip to lip." Giliran Cylvi yang berbisik di telinga Gaara yang dibalas dengan tatapan menantang dari Gaara. "Show to me and make me feel that." Dengan kesal, Cylvi menempelkan bibirnya di atas bibir Gaara yang dengan sialnya justru sempat dilumat pelan oleh Gaara. Hanya beberapa detik dan ciuman itu terlepas, Cylvi menundukkan wajahnya yang memerah. Bagaimana ini? Ia sangat malu dan menyesal telah melakukan sesuatu tanpa berpikir panjang. Situasi semakin tak menguntungkan untuknya ketika menyadari ia yang mencium Gaara terlebih dahulu. Ia baru menyadari sesuatu bahwa dirinya benar-benar terpancing oleh Gaara. Gaara hanya bermaksud menggodanya dan ia dengan polosnya mengikuti permainan Gaara, yang jelas-jelas berakhir kekalahan di pihaknya. "Morning kiss. Thanks, honey," ucap Gaara dengan nada menggoda, senyum tetap tersungging manis di sana. Cowok itu masih sempat mencuri satu ciuman lagi di bibirnya dan segera berlari ke tengah lapangan untuk melanjutkan permainan basketnya. Cylvi? Ia segera berlari menuju ke kelasnya. "Anjir! Lo ciuman sama Gaara di parkiran? Nyesel gue kagak ikut kalian tadi," tutur Anna kaget. Memang ia berangkat lebih awal dibanding yang lainnya. "Lo sih pake acara berangkat duluan, jadi ketinggalan kan lo,” ucap Mita kelewat santai. “Mana si Cylvi yang nyium Gaara duluan di bibir. Mungkin itu balesan buat ciuman Gaara di pipinya," tukas Salsa tertawa keras. "a***y. Replay dong, cyl. Gue belum liat," protes Anna yang dibalas delikan dongkol dari Cylvi dan kekehan geli dari Salsa. "Tenang aja, nanti pasti bakal banyak replay-nya soalnya kan mereka udah ciuman dua kali di bibir tadi," ejek Mita yang terus menyemburkan tawanya. "Sering-sering dah pasti lo berdua," goda Vina tak mau kalah. “Diem deh,” ucap Cylvi namun tetap tak mampu membuat teman-temannya berhenti menertawai dan mengejeknya. Cylvi yang dari tadi dibicarakan akhirnya lebih memilih menelungkupkan kepalanya di lipatan lengannya. Ia masih malu jika mengingat aksi nekadnya. "Tapi gue baru sadar lho, kalo ternyata Cylvi itu bisa agresif juga," kata Mita. “Agresif banget malah.” "Anjir. Gue malahan gak percaya kalo gak liat sendiri." Cylvi ingin menggali lubang untuk menyembunyikan dirinya, ia malu dan jengkel pada Gaara.   "Kaget gue sama kejadian di lapangan tadi," ujar Gilang sembari memainkan ponselnya. “Gue gak nyangka kalo Cylvi sebucin itu sama lo, Gaar.” Jacky menandas habis sisa air di botolnya. “Gue rasa Gaara yang godain Cylvi deh, bukan si Cylvi yang ngebucin.” Gilang menggeleng-gelengkan kepalanya dramatis. “Kagak mungkin. Gue lebih percaya kalo si Cylvi yang bucin.” Mereka sudah menyelesaikan permainan basket dan memilih pergi ke kantin guna mencari minuman dan beristirahat. Gaara tetap bungkam tak mau membicarakan tentang yang terjadi tadi di parkiran. "Lo sama Cylvi udah kasih tontonan gratisan ke anak-anak," ledek Johan. "Gue cuma nerima ciuman sekaligus bales," jawab Gaara sekenanya, tak ada raut jengah walau sudah diejek oleh teman-temannya sejak mereka melihat adegan mesra tersebut. "Itu first kiss kalian?" tanya Riko penasaran. "Hm." "Dan langsung di parkiran gitu? Wah, sungguh luar biasa. Gue kira kalian udah lakuin beberapa kali makanya berani di parkiran tadi," sahut Zilo membelalakan matanya. "Hm. Seperti yang lo liat." "Gue gak nyangka," cetus Johan. "Apalagi gue," tutur Jacky menyetujui kalimat Johan. "Gue kira lo sama Cylvi cuma main-main doang. Gak taunya sampe kissing segala, di depan umum lagi," ujar Zilo sedikit tak percaya. "Hm." Gaara juga tak keberatan ciuman di parkiran dan harus menjadi tontonan. Ia cuek dengan keadaan sekitarnya dan ia juga tahu Cylvi sama tak pedulinya dengannya. Dan lagi yang terpenting, Gaara bisa menikmati apa yang dilakukannya dengan Cylvi tadi. Itu sesuatu yang menyenangkan. Gaara berpikir untuk sering-sering memancing Cylvi agar mau menciumnya lagi. ‘Cylvi, bersiap-siaplah!’   Drrtt... drrtt... "Hallo?" Cylvi mengangkat teleponnya tanpa melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Ia masih ngantuk, dan ini masih pukul dua pagi. Untuk siapapun yang meneleponnya pagi-pagi buta begini, ia siap untuk mengutuk orang yang meneleponnya sekarang kalau membawa kabar tidak penting. "Lo masih ingat dengan suara gue kan, Cyl?" Itu suara cowok. Suara yang masih diingat jelas oleh Cylvi. Suara yang dari dulu ingin didengar Cylvi. Orang yang dirindukan olehnya, sekaligus orang yang meninggalkannya dulu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD