Bima ternyata baik

1033 Words
Ketiga pemuda baru pubertas itu tengah asik menyesap asap buruk pada paru-paru mereka secara berkala, Fahri masih konstan terbatuk-batuk karena masih baru untuk penikmat bakau kasaran. " Oh iya, kau bagaimana dengan si putri idola sekolah" kata satria Tiba-tiba, ampas rokok nya segera ia buang menginjak hancur putung rokok nya sudah habis. Bima tak ikut nimbrung hanya melirik dari sudut mata pada ekspresi Fahri tampak tak senang, " bosen" dingin nya tanpa lanjutan. Tentu pernyataan barusan mengundang keheranan ke-dua teman nya, satria dan Bima saling memandang Seorang Nina, Nina loh ini! Dia bilang bosan? Gilak, banyak cowok-cowok syirik dengan nya karena dia adalah cewek sempurna, bagaimana tidak; cantik, pintar, anak orang berada, baik lagi. Kalau dia sosok lain dari bidadari jatuh dari langit, mungkin itu terlihat berlebihan untuk menggambarkan dia tapi juga tak terlalu hiperbola jika di sanding kan dengan nya. 'cowok tak tahu terima kasih' kompak kedua nya saling lempar pandang. " Memang apa yang ngebuat kau sampai berfikir dia membosankan harus nya dia yang na'as ketemu sama cowok b******k kayak kamu" itu Bima, dia baru selesai nyebat, Putung rokok nya ia gesekan tanah hingga padam Fahri tak ingin melanjutkan linting rokok bakau nya, langsung saja ia injak hingga hancur, merasa pernyataan Bima juga tak salah dia terdiam merasakan rasa kesal nya saat membayangkan pacar ayu nya " Dia ngak bisa aku ajak pegangan, bahkan di sentuh aja ngak mau" keluh anak itu mengawang kejadian barusan " Alah, muna kali, muna... Aduh, sakit" mendengar satria berkata asal Bima mulai memukul keras bahu nya " Sakit tau, ini mana perih" Tak peduli teman nya tengah mengaduh sakit, Fahri tertarik dengan ceplosan pemuda itu, " muna giamana nya" " Ya, muna aja" satria mengelus sasaran pukul Bima, memandang kesal pria berkulit gelap, jika melihat kulit gelap dan tampang nya seperti itu nampak sekali wajah nya sangar padahal mereka seumuran tapi kenapa dia takut dengan Bima, tampang bos preman memang. " Gimana nya yang muna, hah. Sudah kenal dengan Nina Memang nya" tegur Bima kini tak memukul teman jamet nya, dia hanya mencebik kan bibir. " Gini-gini aku kenal banyak wanita ya, wanita itu kebanyakan sok banget jual mahal nya, di cium, di jajani, bisa udah di tiduri, malah semakin jual mahal dia Pengen di kerja sama Lo" Bima melihat mimik serius Fahri perasaan nya jadi campur aduk entah kenapa ketika melihat Fahri nampak serius dengan ucapan ngaco satria Usai terdiam Fahri berpamitan bergegas pergi, " Ya sudah, aku balik ke kelas dulu, be te we, makasih ya sat saran nya" kata anak itu segera pergi dari tempat itu meningalkan dua sosok tengah duduk klesotan di sana. " Sat, Lo kok b*****t sih!!" Bima menjambak helaian rambut anak jamet itu, tak peduli dengan kebotakan dini yang akan di alami anak itu, sungguh menderita kau nak. " Bim..Bim...aduh, Bim lepas Bim, sakit" terpaksa Bima melepas jambakan nya dari kepala anak itu, satria terhuyung memegangi kepala nya, terasa sekali pusing nya anak itu terlalu bar-bar sekali, apa dia titisan emak-emak kompleks sih, berkelahi kok Jambak men-jambak " Kamu gila apa" marah Bima entah kenapa ia tak tahu alasan nya. Satria masih setia memegangi rambut nya masih terasa sakit, " apa salah Dan dosa ku" kata nya dengan nada sing-a-song ala-ala nada lagu penyanyi dangdut Bima dibuat kesal sekali oleh nya, bagaimana tidak, teman nya ini lebih sering tidak menggunakan otak nya bahkan ia masih sempat nya bercanda. " Kau tak sadar dengan Fahri sekarang?" Dengan polos nya satria menggeleng kan kepala nya dengan pelan, bak anak di sidak guru nya beda nya satria tak ada imut nya amit-amit iya. " Apa yang kau katakan bisa berimbas loh dengan nya, kau tidak tahu Fahri Seperti apa? Dia seperti menanggapi serius omongan mu, kalau Nina di apa-apain gimana? Gak mikir muka nya Fahri serius kayak gitu nangepi omongan busuk mu" marah nya sesekali memaki bocah prematur otak itu. Satria malah tergelak tawa nya menggelegar hingga Bima segera membekap mulutnya dari pada ketahuan merokok di area sekolah, bangSATria memang cocok untuk nya, dulu ibu nya ngidam apa sampai lahir anak manusia seperti dia. " Ih, bima suka nya kekerasan" satria mengusap mulut nya, bekas dari tangan bau rokok tadi sangat tak nyaman di Indra pengecap nya, " heh, ngak mungkin lagi tuh bocah ngapa- ngapain Nina, orang Nina anak nya kek gitu cantik-cantik lurus" entah sedang memuji atau meledek lontaran satria pada ke-dua sejoli itu " Sat, kita boleh nakal tapi gua sendiri gak mau Lo atau pun Fahri nyemplung ke dunia yang bisa nyakitin cewek, kita ini lahir dari cewek, nakal boleh toh ngerusak diri sendiri itu hak-hak Lo man, tapi. Kalau sampe salah satu dari kita ngerusak anak orang itu yang gak gue suka sat" Satria hanya bisa terpaku mendengar kan kalimat yang dia tak pernah nyangka akan keluar dari bibir teman nya, ia rasa nya tertampar. Bima teman gila mereka, padahal anak itu; bolos iya, ngerokok udah mereka lakuin, ngamuk ngak jelas ya udah pernah, ngajak due guru pernah, di skors juga sering bahkan pernah dua kali pindah sekolah. Hari ini sesuatu yang tak pernah ia sangka akan keluar dari mulut nya Serta diri nya sendiri mendengar kan langsung perkataan anak itu, dia sama sekali tak bercanda soal perkataan nya barusan dia serius sekali, bahkan dari sorotan mata nya tampak sekali Bima tak sedang bercanda atau sekedar bohong, buat apa toh mereka sama-sama lelaki dan tak sedang memburu wanita Kesadaran nya merangkak naik, dia sama sekali tak pernah melihat orang yang telah di anggap pentolan bocah nakal itu memacari atau menganggu perempuan, dia baru ingat Bima bahkan menolak perempuan penghibur ketika mereka tengah asik di karoke, baru dia sadar sosok b******n yang pernah mengajak dia mabuk itu nyata nya sangat menghargai wanita apalagi tiap-tiap dia kerja sambilan yang nya akan di sih kan untuk keluarga nya Bima bukan sosok lelaki b******k! Sialan dia selalu berfikir dia itu anak baik di antara kedua teman nya, nyata nya dia sendiri pengecut " Tapi mana mungkin sih Fahri begitu ngak mungkin banget lah" satria mencoba memecah ketegangan di antara mereka, " apa Lo yakin dia ngak ngapa-ngapain anak orang, tau sendiri kan dia itu ambisius". Satria mengusap kasar wajah nya, otak bodoh nya di landa pikiran yang nama nya kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD