" cerita nya keren-keren loh, baru kali ini ada orang yang suka sama kumpulan buku yang kata nya isi buku itu norak, padahal kan ngak" gadis itu ternyata bernama Nina anak IPA 1 kelas A, pantas saja dia tak pernah lihat beda kelas beda jurusan
" Menurut ku ngak buruk-buruk amat kok, seru lagi aku bisa baca cerita nya yang kayak buku dongeng" jujur saja Fahri juga tak tau apa yang barusan di lontarkan oleh nya, dia rasa nya seperti pembual ulung
Ngomong apa sih gue ini, kenapa kayak sok bijak gini, sa bodoh ah, yang penting udah kenalan
" Sebenarnya selain suka cerita biografi dari orang hebat aku juga suka banget sama ilmu fisika teori zat kimia, walaupun aku anak IPS, yah udah terlanjur beda jurusan pengen deh punya temen yang satu frekuensi"
Nina tersenyum lebar, "pasti seru, kapan-kapan kau bisa meminta bantuan ku kok" tawar nya membuat Fahri dalam hati ingin terbang ke langit ke tujuh
" tapi kamu tadi terlihat cuek aku sapa, kalau aku meminta bantuan mu memang tak akan kau cuek Ki lagi?"
" Ha..ha..ha, maaf, maaf tadi aku terlalu fokus dengan buku ku, lagian terlalu aneh ada seseorang datang dan sok kenal, mana mungkin tiba-tiba kau kenal dan akrab"
Fahri mengangguk diam-diam, ya jelas aneh juga kalau sok kenal, berarti ketampanan ku tidak luntur dong, narsis nya dalam hati.
Hujan menderai sedari tadi nampak mulai menyisakan rintik, " hujan nya udah terang tuh" Nina melihat siluet tetesan air hujan hanya tingal rintik nya saja dari balik Kaca jendela ruangan mereka tempati
" Kau mau mencari penjaga perpus kan? Mungkin dia sudah datang"
Nina melihat jarum jam dari jam tangan ungu milik nya, buku-buku di meja segara ia bereskan masuk ke tas selempang nya
" Kau mau buru-buru" tegur Fahri sepontan, ia menutup mulut nya dengan telapak tangan, nampak konyol rasa nya
" Tentu aku mau pulang, hujan sudah reda. Untuk apa kita lama-lama di sini sedang jam pulang sudah dari tadi"
"Ada yang mau aku sampaikan"
Fahri ikut berdiri dengan Nina yang juga akan melangkah pulang, Nina cukup kaget ternyata Fahri jauh lebih tinggi dari nya, tubuh lelaki berkulit Tan itu terlihat ramping jika di lihat, jika pria itu tak berdiri ia tak tau betapa menjulang nya dia
" Hujan mengurung kita di sepi, semoga di terik hari aku bertemu dengan mu di lain hari"
Apa anak ini anak teater?
Nina menyugar helai rambut nya salah tingkah, "kalau terik hari kita tak bertemu mungkin jodoh kita hanya saat hujan" balas nya tak kalah sok puitis ia melenggang pergi dari sana
Sebelum Nina pergi jauh melenggang berjalan keluar ke pintu perpustakaan maka dia ber teriak, " Nina!! Walau IPA dan IPS memisahkan kita, kamu dan aku seperti zat kimia tunggal, ngak bisa di pisahkan!!" Teriak nya cukup membuat orang yang nyata nya masih ada di perpustakaan tertarik untuk melihat aksi seorang pengangu
" Kamuu, siapa yang suruh teriak di perpustakaan," hardik seorang wanita dengan kaca mata berbentuk lancip segera perempuan tak seberapa tinggi dari Fahri muncul menjewer anak bandel itu
Nina yang melihat tindakan konyol Fahri tersenyum bahkan ia sempat tertawa, beruntung dia sudah keluar dari ruangan perpustakaan tersebut jika tidak dia mungkin akan ikut terseret karena sekarang pun ia tergelak tawa
" Gila sih anak tadi, siapa nama nya, Fahri? Lucu juga" Nina berjalan riang melewati tanah-tanah basah dengan senyum manis terpatri di sana membuat sebagian anak-anak belum pulang terheran heran, siapa gerangan pelaku yang bisa membuat nya senyum-senyum sendiri.
" Ayah!!" Seru nya riang masuk ke mobil memeluk pria di balik kemudi tersebut
Merasa anak nya bertingkah di luar kebiasaan nya, menjadikan kumpulan tanda tanya di kepala nya,
" Kamu kenapa? Tumben-tumben peluk ayah di luar rumah" penglihatan nya masih tertuju pada jalanan usai tersiram air hujan, becek. Dia harus hati-hati mengemudi namun pendengaran nya ia fokus kan pada cerita si anak gadis nya
"Ngak papa yah, cuman tadi ada hal yang lucu saja"
Alibi si anak tak cukup kuat membuat seorang yang sudah paham asam garam nya hidup ini untuk tidak tahu anak terlah di besar kan nya itu tengah mengelak dari nya, " ada sesuatu atau seseorang membuat kamu nyaman ya"
" Ngak, ngak ada" tanggan Nina bergoyang kanan kiri, membantah tudingan dari si ayah tercinta
" Aku tak punya pacar kok yah, masih asik nge-jomblo aja"
" Yakin nih, pengen jomblo"
" Ya jangan, masa belum pernah pacaran, aku udah SMA masa belum pernah" melas nya, membayangkan dia tak memiliki kisah pacaran menjadikan nya sedikit sanksi
" Tapi udah ada yang kamu sukai emang nya" tanya nya pada putri nya
" Ngak ada sih, aku juga ngak tau bener-bener mau pacaran atau ngak, selama aku bisa nemuin yang aku sukai mungkin beda cerita"
Lelaki yang sudah bertahun-tahun membesarkan satu-satunya putri di cintai nya, punya satu anak lelaki tapi dia memilih pergi terbang jauh di luar kota menggapai mimpi nya, menyisakan anak perempuan nya yang masih belum menyusul Abang nya kuliah di luar kota.
Tak ada niatan untuk melarang putri nya ber-pacaran tapi juga ia tak mau putri nya kenapa-napa, karena selama ini ia jaga putri nya sungguh-sungguh bahkan anak nya ini belum pernah berpacaran sebelum nya, ia takut anak nya kenapa-napa.
" Nin, papah harap kamu menemukan sosok pria yang baik pada waktu nya, dan kalau kuliah jangan jauh-jauh dari ayah sama mama mu ya, cukup Abang mu aja keras kepala pergi"
Kakak nya ya? Ah. Dia sampai lupa dia punya Abang, karena sudah cukup lama dia tak bertemu dengan pria jauh lebih tua dari nya, bagaimana ya kabar lelaki itu di seberang sana?
Nina tersenyum manis mengelus telapak tangan ayah nya, nampak sekali tekstur kulit nya sudah tak kencang lagi, sudah berapa lama ya pria itu mendidik nya sampai ia luput kulit serta tubuh bugar pria tua itu sudah tak se-sehat dulu
" Tenang yah, Nina ngak kemanapun kok, Nina bakal satu kota terus sama ayah sama mama, Nina kan tetap anak ayah"
"Iya kamu anak ayah kok, kamu cinta nya ayah selain ibu mu loh ya" tangan sebelah nya menarik kepala putri nya agar bersandar ke pundak nya yang mulai mbungkuk tak se tegap dahulu
" Ih... Apa-apaan sih ayah, gombal" cloteh nya lucu, ayah nya kadang konyol