Arya tidak bisa membiarkan keheningan yang menyesakkan ini terus berlanjut. Setelah salat isya, ia masuk ke kamar dan melihat Laras sedang melipat mukenanya. Cahaya kamar itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur di atas nakas, menambah kesan suasana yang kini terasa menyakitkan bagi mereka berdua. Arya mwndekat perlahan-lahan, Ia duduk di tepi ranjang, menunduk, sambil meremas jarinya sendiri. "Laras, soal semalam ...." Arya mulai percakapan, suaranya sedikit gemetar. "Boleh aku menjelaskan sesuatu?" Laras berhenti melipat mukena, tapi ia tetap berdiri membelakangi Arya. "Mas tidak perlu menjelaskan apa pun. Aku sudah mengerti." "Tidak, kau tidak mengerti," sergah Arya pelan tapi tegas. Ia berdiri dan melangkah mendekati Laras, berhenti tepat satu meter di belakangnya. "Laras, to

