Rumah keluarga Mahendra kini tak ubahnya seperti medan tempur tanpa suara. Arya pulang lebih awal sore itu, tapi bukan untuk beristirahat. Kepalanya dipenuhi oleh fakta pahit dari pengacara ayahnya, bahwa satu-satunya cara untuk menguasai kembali seluruh aset dan menyingkirkan Laras tanpa kehilangan sepeser pun harta adalah jika Laras sendiri yang menggugat cerai, atau ketika Laras meninggal dunia.
Arya membanting tas kerjanya di sofa ruang tamu. Ia melihat Laras sedang menyiram tanaman di taman dalam, gerakannya tenang dan anggun, sesuatu yang entah kenapa membuat darah Arya mendidih. Ia benci melihat Laras yang tampak begitu berdamai dengan keadaan, sementara ia sendiri tersiksa oleh rasa bersalah dan obsesi.
"Laras! Kemari!" teriak Arya, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru rumah.
Laras segera meletakkan penyiram tanaman dan berjalan mendekat. "Iya, Mas?"
Arya menunjuk ke arah lantai marmer yang sebenarnya sudah bersih mengkilap. "Aku melihat debu di sini. Dan di sana. Kau bilang kau istri yang berbakti, tapi mengurus rumah saja kau tidak becus. Apa saja yang kau lakukan seharian? Meratapi wajahmu?"
Laras menunduk, menatap lantai yang ditunjuk Arya. "Maaf, Mas. Aku akan membersihkannya lagi."
"Jangan pakai alat pel!" Arya menendang ember di dekatnya. "Gunakan kain lap kecil. Bersihkan seluruh lantai lantai bawah ini dengan tanganmu sendiri. Aku ingin melihatmu berlutut dan membersihkan setiap sudutnya sampai aku bisa melihat bayanganku di marmer ini."
Ini penghinaan yang disengaja. Arya ingin melihat Laras meledak. Ia ingin Laras berteriak bahwa ia bukan pelayan, lalu meminta cerai karena tak tahan lagi. Namun, Laras hanya mengangguk pelan. Ia mengambil kain lap, lalu mulai berlutut di atas lantai yang dingin.
Selama dua jam, Arya duduk di sofa sambil menyesap whisky, matanya terus mengawasi punggung Laras yang bergerak maju-mundur membersihkan lantai. Ia sengaja menjatuhkan abu rokoknya ke area yang baru saja dibersihkan Laras.
"Masih kotor, Laras. Ulangi," desisnya kejam.
Laras berhenti sejenak, menatap abu rokok itu, lalu kembali mengelapnya tanpa sepatah kata. Tidak ada air mata yang jatuh terlihat, tidak ada bantahan. Ketenangan Laras justru menjadi senjata yang paling mematikan bagi kewarasan Arya.
"Kenapa kau tidak marah?!" Arya akhirnya berdiri dan mencengkeram bahu Laras, memaksa wanita itu bangkit. "Aku menghinamu! Aku memperlakukanmu seperti sampah! Kenapa kau tidak minta cerai dan pergi dari hidupku?! Apa kau begitu haus akan harta Mahendra hingga kau rela merangkak seperti ini?"
Laras menatap mata Arya. Di balik cadarnya, suaranya terdengar sangat stabil. "Jika harta yang aku cari, aku bisa saja melaporkan perbuatanmu semalam ke polisi dan mengambil selutuh asetmu tanpa harus berlutut di sini, Mas. Tapi aku masih di sini. Karena aku menghargai janji ayahmu pada ayahku."
"Persetan dengan janji itu!" Arya mendorong Laras hingga wanita itu menabrak meja jati. "Kau tahu apa yang aku inginkan? Aku ingin kau menghilang! Aku ingin membawa Clara ke sini dan menjadikannya nyonya rumah ini! Kau hanya bayangan yang merusak pemandangan!"
Arya mengambil sebuah vas bunga kaca dan membantingnya ke lantai, tepat di samping Laras. Pecahan kacanya mengenai punggung tangan Laras, menimbulkan luka baru yang mulai mengeluarkan darah segar.
"Minta cerai dariku, Laras! Katakan sekarang juga!" raung Arya.
Laras menatap darah di tangannya, lalu kembali menatap Arya dengan iba. "Jika Mas Arya ingin aku pergi, Mas Arya yang harus melepaskanku. Tapi aku tidak akan meminta cerai. Aku akan tetap menjadi istrimu sampai kamu sendiri yang memintaku untuk berhenti bernapas."
Arya terperangah. Ia merasa seperti sedang memukul tembok baja yang dilapisi beludru. Tidak peduli sekeras apa ia memukul, Laras tidak hancur. Kegilaan di mata Arya perlahan berubah menjadi rasa frustrasi yang luar biasa.
Arya menatap Laras yang masih bersimpuh di dekat pecahan kaca. Napas pria itu memburu, aroma whisky yang ia tenggak di ruang kerja tadi kini bercampur dengan amarah yang meledak.
"Kau tidak mau minta cerai, hah?" Arya melangkah mendekat, suaranya rendah dan berbahaya. "Kau pikir dengan diam seperti ini, kau terlihat seperti pahlawan? Kau terlihat menjijikkan di mataku!"
Tanpa peringatan, Arya merenggut lengan Laras, menariknya paksa bangun dan menyeretnya menuju kamar atas. Laras terhuyung, kakinya yang masih perih karena luka semalam terpaksa mengikuti langkah lebar Arya yang tidak punya belas kasih.
"Mas, tolong ... lepaskan, sakit!" rintih Laras, tapi Arya seolah tuli.
Begitu sampai di kamar, Arya menghempaskan Laras ke atas ranjang yang seprainya bahkan belum sempat diganti dari sisa pergulatan semalam, noda darah itu masih di sana, mengering sebagai saksi bisu. Arya tidak memberi ruang bagi Laras untuk bernapas. Ia langsung menindih tubuh mungil itu, tapi kali ini tangannya bergerak ke leher Laras.
Arya mencengkeram leher itu, tidak sampai membunuh, tapi cukup untuk membuat Laras kesulitan bernapas.
"Minta cerai dariku sekarang, Laras! Katakan bahwa kau benci padaku dan kau ingin pergi!" perintah Arya dengan mata yang berkilat gila.
Laras mencengkeram tangan Arya yang ada di lehernya, berusaha mencari celah udara. "Mas ... tolong hentikan ... Mas ... aaaakkh ... ini sakit!" Suara Laras tercekik, air mata mulai mengalir deras membasahi cadarnya.
"Sakit? Ini belum seberapa dibandingkan rasa sakitku melihat Clara menderita!" Arya semakin beringas. Ia tidak peduli pada rintihan itu. Baginya, Laras bukan lagi manusia, Laras adalah samsak tempat ia membuang segala frustrasinya.
Arya mulai melampiaskan kemarahannya dengan cara yang paling kasar. Tidak ada sedikit pun rasa kasih, hanya ada nafsu untuk menghancurkan. Ia ingin Laras merasa begitu terhina, begitu hancur, hingga besok pagi wanita itu akan lari ke pengadilan untuk menceraikannya.
"Ceraikan aku! Katakan kau menyerah!" Arya terus berbisik dengan nada kejam di tengah tindakannya yang brutal.
Laras hanya bisa memejamkan mata erat-erat. Di tengah rasa sakit fisik yang luar biasa dan cengkeraman di lehernya yang membuat pandangannya mulai berkunang-kunang, ia membisikkan kata-kata yang membuat Arya membeku sejenak.
"Aku ... tidak akan ... menyerah padamu, Mas ...." Suara Laras sangat lemah, nyaris seperti embusan angin.
Kalimat itu justru membuat Arya semakin gelap mata. Ia terus melampiaskan kebenciannya hingga tenaganya habis. Ia ingin merampas setiap inci martabat yang masih coba dipertahankan oleh Laras di balik kain hitamnya. Baginya, malam ini adalah cara tercepat untuk mengusir parasit ini dari hidupnya.
Setelah semuanya berakhir, Arya bangkit dan berdiri di samping tempat tidur, merapikan pakaiannya dengan tangan gemetar. Ia menatap Laras yang tergeletak tak berdaya, tubuhnya bergetar hebat dengan bekas merah di leher yang sangat jelas.
"Jika besok kau masih belum meminta cerai, aku akan melakukan hal yang lebih buruk dari ini," ancam Arya, suaranya dingin tanpa penyesalan.
Arya keluar dari kamar dan membanting pintu, meninggalkan Laras dalam kehancuran yang mutlak.
Di dalam kamar yang gelap, Laras meringkuk. Rasa sakit di lehernya masih berdenyut, dan tubuhnya terasa seperti baru saja dihantam badai. Ia menyentuh cadarnya yang kini basah kuyup. Mata Laras perlahan terpejam hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.