Sedikit Perhatian

1035 Words
Malam itu berlalu seperti mimpi buruk yang enggan berakhir. Arya menghabiskan sisa malamnya di ruang kerja, menenggak sisa whisky sampai botolnya kosong, berusaha membunuh suara rintihan Laras yang terus bergema di kepalanya. Ia meyakinkan dirinya bahwa ia melakukan hal yang benar, bahwa kekerasan itu adalah obat keras agar Laras segera pergi. Namun, saat fajar mulai menyingsing dan kesadarannya kembali pulih dari pengaruh alkohol, sebuah kegelisahan yang aneh mulai merayap. Ruang makan tetap gelap. Tidak ada aroma kopi. Tidak ada suara denting sendok. Tidak ada sosok hitam yang berjalan kaku menyiapkan sarapan. Hening. Sunyi yang memekakkan telinga. Arya bangkit, langkahnya sedikit goyah saat menaiki anak tangga menuju kamar utama. Ia berhenti di depan pintu kayu jati yang semalam ia banting dengan penuh amarah. Perlahan, ia memutar kenop pintu. Pemandangan di dalamnya membuat napas Arya tercekat. Laras masih tergeletak di posisi yang sama seperti semalam. Tubuhnya meringkuk seperti janin di atas ranjang yang berantakan. Ia tidak bergerak sedikit pun. Cadarnya sedikit tersingkap di bagian bawah, memperlihatkan kulit lehernya yang kini berubah warna menjadi ungu gelap, bekas cengkeraman tangan Arya. "Laras?" panggil Arya, suaranya parah. Tidak ada jawaban. Arya melangkah mendekat, jantungnya berdegup kencang oleh sesuatu yang ia sangkal sebagai ketakutan. Ia menyentuh bahu Laras, dan seketika ia menarik tangannya kembali. Kulit Laras sangat panas, membara oleh demam yang tinggi. "Laras! Bangun!" Arya membalikkan tubuh wanita itu. Wajah Laras yang tertutup kain tampak pucat pasi, dan napasnya terdengar pendek-pendek serta berat. Pertama kalinya selama pernikahan mereka, Arya merasakan ketakutan yang nyata bukan karena Clara, melainkan karena wanita yang ia benci ini. Ia segera menggendong tubuh Laras yang terasa sangat ringan, bahkan terlalu ringan untuk wanita seusianya dan memindahkannya ke posisi yang lebih nyaman. Ia mengambil air hangat dan handuk, lalu mulai mengompres dahi Laras. Saat ia menyeka leher Laras, matanya tertuju pada lebam itu. Jari-jarinya gemetar. Ia melihat bentuk tangannya sendiri yang tercetak jelas di sana. Ada rasa mual yang mendadak muncul. Bukan mual karena Laras, tapi karena ia menyadari betapa pengecutnya ia, melampiaskan kemarahan pada wanita yang bahkan tidak pernah membalas pukulannya. Ia telah menjadi monster yang lebih mengerikan daripada luka di wajah istrinya. "Kenapa kau begitu keras kepala?" bisik Arya, suaranya bergetar. "Kenapa kau tidak minta cerai saja? Kenapa kau membiarkan aku menghancurkanmu seperti ini?" Di tengah ketidaksadarannya, bibir Laras bergerak samar. Ia menggumamkan sesuatu yang membuat Arya membeku. "Jangan ... jangan pergi ... apinya panas ...." Arya terdiam. Apinya panas? Ia teringat kembali pada ledakan itu. Untuk sesaat, ia merasa ada sesuatu yang salah, sebuah potongan teka-teki yang tidak pas. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, bayangan Clara yang menariknya dari dalam mobil yang terbakar tumpang tindih dalam ingatan. Sekitar jam sepuluh pagi, Laras mulai melenguh. Matanya terbuka perlahan, tampak sayu dan merah. Hal pertama yang ia lihat adalah Arya yang sedang duduk di tepi ranjang dengan wajah kuyu. Laras secara refleks tersentak kecil, mencoba menjauh, tapi rasa sakit di leher dan sekujur tubuhnya membuatnya merintih. "Mas ...." "Diamlah. Jangan banyak gerak dulu," potong Arya. Suaranya tidak membentak, meski masih terdengar kaku. Ia menyodorkan segelas air putih ke bibir Laras yang pecah-pecah. "Minum." Laras meminumnya dengan bantuan tangan Arya. Air itu terasa seperti embun di padang pasir. Setelah beberapa tegukan, Laras kembali bersandar, matanya menatap Arya dengan pandangan bingung yang menyayat hati. "Kenapa Mas nggak pergi? Bukankah Mas benci melihatku?" bisik Laras, suaranya hampir hilang karena tenggorokannya yang sakit akibat dicekik semalam. Arya terdiam cukup lama. Ia menatap tangannya sendiri, lalu membuang muka ke arah jendela. "Aku tidak ingin berurusan dengan polisi kalau kau mati di rumah ini. Ayahku akan bangkit dari kubur kalau tahu aku membiarkan istriku tewas karena demam." Laras tersenyum sangat tipis di balik cadarnya. Ia tahu itu hanya alasan. Bagi Laras, fakta bahwa Arya tidak meninggalkannya dalam keadaan pingsan sudah merupakan keajaiban kecil. Dua hari berikutnya, rumah itu menjadi sangat sunyi, tapi dengan kesunyian yang berbeda. Arya benar-benar menjaga jarak dari alkohol. Ia bahkan memesan makanan sehat dari restoran dan membawakannya sendiri ke kamar Laras. Ia tidak banyak bicara, tapi ia memastikan Laras meminum obatnya tepat waktu. Sore itu, Laras sudah merasa sedikit lebih kuat untuk duduk di balkon kamar. Angin sore memainkan ujung hijabnya. Arya masuk membawa sepiring buah yang sudah dipotong-potong. "Mas Arya," panggil Laras saat pria itu hendak keluar lagi setelah meletakkan buah. Arya berhenti, tangannya masih di kenop pintu. "Apa lagi?" "Terima kasih. Untuk tiga hari ini." Arya tidak menoleh, tapi bahunya tampak sedikit menegang. "Cepatlah sembuh. Aku tidak tahan melihat rumah ini berantakan karena tidak ada yang mengurusnya." Laras menatap punggung suaminya. Ia tahu Arya sedang berbohong. Rumah ini sudah ada yang membersihkan, Arya diam-diam memanggil jasa pembersih profesional saat Laras tidur walau sebenarnya ada ART yang mengurus rumah, tapi ia tidak puas karena hasilnya tidak seperti hasil tangan Laras. "Mas, apa aku masih punya kesempatan?" tanya Laras tiba-tiba, suaranya penuh harap. "Kesempatan untuk membuatmu tidak lagi merasa tersiksa dengan kehadiranku?" Arya tertegun. Kalimat itu menghantam sisi nuraninya yang paling dalam. Ia teringat noda darah di seprai, ia teringat pengorbanan Laras yang tetap diam meski disiksa, dan ia teringat bagaimana wanita ini merawatnya dengan tulus selama dua tahun terakhir sebelum ia menemukan Clara. Untuk sesaat, Arya ingin berbalik dan mengatakan sesuatu yang lembut. Namun, bayangan tentang masa lalu dan rasa bersalahnya pada pahlawan yang koma itu kembali membentengi hatinya. "Sembuhlah dulu, Laras. Kita bicarakan itu nanti," ujar Arya pelan, lalu keluar menutup pintu. Di koridor, Arya bersandar pada pintu kayu itu. Jantungnya berdegup tidak keruan. Ada bagian dari dirinya yang mulai merasa nyaman dengan ketenangan Laras, tapi ada bagian lain yang terus berteriak bahwa ia sedang mengkhianati pahlawannya jika ia mulai luluh pada wanita bercadar ini. Laras di dalam kamar menarik napas panjang, menghirup aroma udara sore. Sejak mereka menikah, beberapa hari ini, pertama kalinya ia merasa bisa bernapas sedikit lebih lega. Ia tidak tahu apa yang ada di pikiran Arya, tapi perhatian kecil suaminya selama ia sakit telah menyalakan kembali api harapan yang hampir padam. Ia tidak tahu, bahwa di bawah sana, di dalam tas kerja Arya, pria itu masih menyimpan berkas-berkas dari pengacara tentang hak waris yang begitu rumit. Namun setidaknya, untuk hari ini tidak ada piring yang pecah, tidak ada leher yang dicekik. Hanya ada keheningan yang sedikit lebih hangat dari biasanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD