Di kantor administrasi rumah sakit yang dingin dan berbau disinfektan, Arya duduk dengan pena di tangan. Di depannya, tumpukan dokumen rekam medis Clara berserakan. Raka, asistennya, sibuk berbicara di telepon dengan pihak Singapura, sementara Arya hanya menatap kosong ke arah deretan angka dan istilah medis yang selama ini ia puja sebagai harapan. Tetapi malam ini, entah mengapa, semua dokumen itu terasa seperti tumpukan kertas sampah yang tidak berarti. "Pak, mereka minta konfirmasi ulang soal deposit tambahan untuk pengiriman sampel jaringan," ujar Raka sambil menoleh. Arya meletakkan penanya dengan kasar. "Lakukan saja, Raka. Berapa pun jumlahnya, bayar saja. Kenapa kau harus bertanya lagi?" Raka tertegun. "Biasanya Bapak ingin mengecek detailnya secara langsung agar tidak ada kesa

