Menjemput Kiran

1016 Words
Arga langsung menuju mobil yang terparkir rapi di area khusus eksekutif. Dengan setelan jas hitam yang masih rapi membalut tubuhnya, lengkap dengan dasi berwarna biru gelap yang sedikit longgar, ia tampak sangat gagah. Kemeja putih bersih di balik jasnya masih terlihat tanpa noda, meski seharian penuh ia berkutat dengan pekerjaan. Lelaki itu berjalan sambil membawa map berisi dokumen penting yang dibawanya dari kantor. Setelah membuka pintu mobil dengan tenang, Arga duduk di kursi pengemudi dan menaruh map tersebut di kursi penumpang sebelahnya. Ia menarik napas panjang, mencoba melepaskan sedikit kelelahan yang ia rasakan setelah seharian bekerja. Namun, sebelum ia sempat menyalakan mesin mobil, ponselnya berdering. Ia melihat layar ponselnya dan mendapati nomor ibunya terpampang jelas di sana. Arga segera mengangkat telepon itu. "Halo, Ma," sapanya dengan suara hangat. "Arga, kamu sudah selesai bekerja?" tanya Maria, suaranya terdengar mendesak. "Sudah, Ma. Ada apa?" Arga merasakan ada kekhawatiran di suara ibunya. "Arga, mama ada urusan mendadak hari ini, dan tidak bisa menjemput Kiran di rumah sakit. Bisakah kamu yang menjemputnya?" Maria terdengar sangat menyesal karena tidak bisa memenuhi janjinya kepada Kiran. Arga tersenyum kecil mendengar itu, meskipun ibunya tidak bisa melihat. "Tentu, Ma. Tidak masalah. Aku akan langsung ke rumah sakit sekarang," jawab Arga tanpa ragu. Baginya, menjemput Kiran adalah hal yang sangat penting dan ia tidak ingin Kiran menunggu lama di rumah sakit. "Terima kasih, Arga. Kamu memang selalu bisa diandalkan. Mama senang kamu bisa membantu," ujar Maria dengan nada lega. "Jangan khawatir, Ma. Aku akan memastikan Kiran sampai di rumah dengan selamat," janji Arga sebelum menutup telepon. Setelah mengakhiri percakapan itu, Arga langsung menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya keluar dari area parkir perusahaan. Di usianya yang menginjak 32 tahun, Arga memang sudah mencapai banyak hal dalam kariernya, namun bagi Arga, keluarganya tetap menjadi prioritas utama. Tak lama kemudian, Arga tiba di rumah sakit. Ia segera memarkir mobilnya dan bergegas masuk ke dalam gedung. Lelaki tampan itu berjalan cepat menuju lift. Tepat di dalam lift, Arga melirik pantulan dirinya di cermin. Wajahnya menunjukkan kelelahan, tetapi juga ada ketegasan dan ketenangan yang membuatnya tetap terlihat berwibawa. Ia mengencangkan kembali dasinya dan merapikan jasnya. Ketika pintu lift terbuka, ia melangkah keluar dengan penuh percaya diri, menuju kamar di mana Kiran sedang menunggu. Sesampainya di depan kamar Kiran, Arga mengetuk pintu pelan sebelum membukanya. "Kiran, aku di sini," ucap Arga. Senyuman tipis yang menenangkan terlukis di wajahnya ketika melihat Kiran yang masih duduk di brankar. Kiran tersenyum saat melihat Arga berdiri di ambang pintu. Rasa lelah yang masih menggelayuti tubuhnya sedikit terangkat saat melihat kehadiran Arga. "Mama bilang dia tidak bisa menjemputmu, jadi akulah yang menjemputmu," jelas Arga sambil melangkah masuk. "Terima kasih, Kak, sudah menjemputku," ujar Kiran dengan suara pelan. Meski Kiran tahu bahwa Arga adalah kakak iparnya, dan bukan suaminya, Arga selalu menunjukkan perhatian yang besar terhadap dirinya, terlebih dalam kondisi seperti ini. Arga membantu Kiran berdiri dengan hati-hati, memastikan bahwa adik iparnya itu tidak merasa terlalu lelah. "Pelan-pelan saja. Tidak usah terburu-buru," katanya, sambil menjaga agar Kiran tidak terjatuh. Kiran tersenyum tipis, melihat kekhawatiran di wajah Arga. "Tidak apa-apa, Kak. Aku bisa sendiri kok," jawabnya sambil berusaha meyakinkan Arga bahwa ia baik-baik saja. "Benar? Kalau kamu merasa lelah, bilang saja, ya?" Arga masih khawatir, meskipun Kiran mencoba untuk menunjukkan bahwa dirinya sudah kuat. "Iya, Kak. Aku baik-baik saja." Kiran mengangguk, berusaha untuk tidak terlalu menunjukkan kelelahan yang sebenarnya masih ia rasakan. Arga mengamati Kiran sejenak sebelum bertanya, "Di mana baju-bajumu? Sudah kamu kemas?" Kiran menunjuk ke arah sudut ruangan, di mana sebuah tas kecil sudah tertata rapi. "Sudah, Kak. Aku sudah memasukannya ke dalam tas itu." "Baiklah," kata Arga sambil mengambil tas tersebut. "Kalau begitu, kita ke bagian administrasi dulu, ya. Biar urusannya cepat selesai dan kamu bisa segera beristirahat di rumah." Kiran hanya mengangguk pelan, merasa bersyukur ada Arga yang membantu dan memperhatikan dirinya saat ini. Ia mengikuti Arga yang membimbingnya keluar dari ruangan, menuju bagian administrasi. Sesampainya di bagian administrasi, Arga dengan cekatan mengurus semua dokumen yang diperlukan, sementara Kiran menunggu di kursi yang tersedia. "Sudah selesai, kita bisa langsung pulang," kata Arga sambil kembali menghampiri Kiran. Ia menawari tangan untuk membantu Kiran berdiri lagi. Kiran mengangguk dan menerima uluran tangan Arga. "Terima kasih, Kak." "Sama-sama, Kiran. Sudah jadi tanggung jawab aku untuk memastikan kamu baik-baik saja. Apa kamu butuh sesuatu sebelum pulang?" tanya Arga, ingin memastikan semua kebutuhan Kiran terpenuhi. Kiran menggeleng lemah. "Tidak, Kak. Aku hanya ingin cepat pulang dan beristirahat di rumah," jawabnya dengan nada yang masih terdengar letih. Arga mengangguk. "Baiklah." Mereka berdua hendak pergi, namun langkah mereka terhenti ketika Arga melihat sosok yang sangat dikenalnya—Arka, adiknya, yang tengah berjalan bersama Lita. Lita menggendong Cleo, bayi kecil mereka yang tampaknya juga sudah diizinkan pulang oleh dokter hari ini. Arka, yang melihat Kiran berada di bagian tempat administrasi bersama kakaknya, merasa heran, ia pun segera menghampiri mereka. "Sayang, barusan aku ke ruanganmu, tapi tidak menemukanmu. Ternyata kamu sudah di sini," ucap Arka dengan nada yang berusaha terdengar hangat sambil menatap Kiran dengan penuh harap. Namun, Kiran tak mengindahkan perkataan suaminya, ia hanya memalingkan wajah, enggan untuk menatap Arka. Hatinya sudah terlalu muak dengan situasi ini, terutama melihat suaminya berdiri di sana bersama wanita lain—Lita, selingkuhannya. Arka merasa canggung dengan reaksi dingin Kiran, namun mencoba untuk tidak memperlihatkan perasaannya. "Aku akan membayar tagihan rumah sakit dulu," katanya sambil beralih ke meja administrasi. "Maaf, saya ingin membayar biaya tagihan rumah sakit untuk anak saya yang bernama Cleo, dan juga istri saya yang bernama Kiran," ucap Arka ketika sudah berada di dekat meja administrasi. Petugas administrasi menatap Arka sejenak sebelum mulai memeriksa data di komputernya. "Baik, Pak. Sebentar, saya cek dulu," jawabnya sambil mengetik beberapa kali di keyboard. Sementara itu, Arga yang mendengar ketika Arka hendak membayar biaya rumah sakit Kiran langsung menyela, "Kamu tidak perlu repot-repot membayar biaya administrasi Kiran." Arga menatap lekat adiknya. "Aku sudah menyelesaikannya." Arka menoleh dengan cepat, wajahnya berubah marah saat mendengar kata-kata Arga. "Apa maksudmu, Kak? Kamu pikir aku tidak bisa membayar biaya rumah sakit untuk istriku sendiri?" ucap Arka dengan nada tajam, merasa harga dirinya diinjak-injak. Baginya, tindakan Arga seperti merendahkannya sebagai seorang suami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD