Tolong Pergi

1280 Words
Kiran terbangun dengan tubuh yang masih terasa lemah, namun kesadarannya sudah kembali sepenuhnya. Matanya langsung menangkap sosok Arka yang duduk di samping ranjang, wajahnya tampak begitu cemas. Tanpa pikir panjang, Kiran langsung menghempaskan tangan Arka yang sedang menyentuhnya. "Jangan sentuh aku!" Suara Kiran terdengar dingin. Arka terkejut, namun lebih dari itu, ia merasa panik. Sorot mata Kiran yang membulat sempurna, menatapnya begitu tajam, membuat ia sadar betapa dalam luka yang telah ia torehkan di hati istrinya. "Kiran ..." Arka mencoba membuka mulutnya, tetapi kata-kata itu seakan tersangkut di tenggorokan. "Apa yang kamu lakukan di sini?" Kiran bertanya dengan nada dingin. Tatapannya begitu tajam. Ia menatap Arka seolah-olah suaminya itu adalah orang asing, seseorang yang tak lagi ia kenal. Arka menelan ludah dengan susah payah, mencoba berusaha untuk tenang, meski Kiran terus menatapnya nyalang. "Aku hanya ingin menjaga kamu," jawab Arka pelan, suaranya hampir tak terdengar. Kiran mendengkus kesal, ia mencoba menahan perasaan yang membuncah di dadanya. "Kamu tidak perlu repot-repot menjagaku. Aku bisa menjaga diriku sendiri," jawabnya tajam. Kalimat itu seperti pisau yang menembus ke ulu hati Arka, sehingga membuat lelaki itu semakin merasa bersalah. "Kiran, bisakah kamu memaafkanku?" Kesalah Arka memang sudah terlalu besar untuk dimaafkan, tetapi ia tetap berharap ada sedikit ruang di hati Kiran yang masih bisa mengampuninya. "Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan yang begitu fatal kepadamu. Tapi percayalah, Kiran, di dalam hatiku, aku hanya mencintai kamu. Aku terpaksa harus menikahi Lita karena aku ingin bertanggung jawab atas kesalahanku padanya." Kata-kata Arka itu hanya membuat Kiran semakin marah. Ia tak bisa menerima alasan suaminya. Baginya, itu semua hanyalah alasan yang dibuat-buat untuk menutupi pengkhianatan yang sudah dilakukan Arka selama dua tahun. Arka mencoba meraih tangan Kiran lagi, berharap bisa meredakan kemarahan istrinya. Namun, Kiran dengan cepat menarik tangannya. "Aku mohon, Kiran ... aku benar-benar menyesal," ucap Arka dengan suara putus asa. "Aku tidak pernah ingin menyakitimu seperti ini. Kamu harus percaya padaku, aku hanya mencintai kamu." Namun, Kiran tidak bisa lagi mendengar kata-kata Arka tanpa merasa muak. Baginya, semua yang dikatakan Arka adalah kebohongan yang dibungkus dengan manis. "Cukup! Aku tidak ingin mendengar apa pun lagi darimu. Kamu sudah menghancurkan segalanya," jawabnya lirih, sebelum akhirnya membalikkan tubuhnya, menutup wajahnya dengan tangan, dan membiarkan air mata mengalir tanpa henti. Arka menatap punggung Kiran yang bergetar. Ia merasa hatinya remuk, melihat wanita yang ia cintai begitu hancur karena kesalahannya. Perlahan, Arka mendekat lagi, mencoba menggapai Kiran, namun Kiran langsung menepis tangannya tanpa menoleh sedikit pun. "Sayang, aku mohon jangan seperti ini," kata Arka sambil memohon. Ia berusaha keras menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Tolong izinkan aku untuk menebus kesalahanku. Maafkan aku. Selama ini aku sudah buat kamu kecewa terus. Aku masih salah dalam mengerti perasaanmu. Aku masih kurang peka. Aku bukanlah suami yang baik untukmu. Tapi tolong, maafkanlah aku ...." "Aku mohon, tinggalkan aku sendiri!" Suara Kiran terdengar lemah. Ia sudah terlalu lelah dengan segala drama dan luka yang Arka bawa ke dalam hidupnya. "Yang aku butuhkan sekarang hanyalah ketenangan. Kumohon, pergilah!" usir Kiran, berharap Arka akan mendengarnya. Namun, Arka tak mengindahkan ucapan Kiran. Kiran merasa frustrasi. Dengan tangannya yang masih gemetar, ia meraih nurse call button yang berada di samping tempat tidur. Ia menekan tombol tersebut dengan kuat, memanggil perawat ke kamarnya. Arka yang melihat Kiran memanggil perawat, merasa semakin putus asa. "Kiran, tolong jangan lakukan ini. Jangan usir aku," ucapnya dengan suara yang hampir terisak. "Aku hanya ingin ada di sisimu. Aku tidak akan mengganggumu, aku berjanji." Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke ruangan setelah mendengar panggilan dari nurse call button. "Ada yang bisa saya bantu, Ibu Kiran?" tanya perawat itu dengan sopan. Kiran berusaha mengendalikan emosinya sebelum menjawab. "Tolong, Suster, bisakah Anda menyuruh pria ini keluar dari ruangan saya? Saya butuh istirahat," pinta Kiran. Perawat itu sedikit bingung, ia sejenak menoleh ke arah Arka yang terlihat begitu putus asa. Namun, tugasnya adalah memastikan pasien mendapatkan apa yang mereka butuhkan, termasuk ketenangan. "Saya mengerti, Ibu Kiran," jawab perawat itu, sebelum beralih kepada Arka. "Maaf, Pak, saya harus meminta Anda untuk meninggalkan ruangan ini. Ibu Kiran perlu beristirahat." Arka berdiri di tempatnya. Wajahnya tampak murung mendengar itu. "Kiran, kumohon!" katanya dengan suara serak, berharap ada sedikit pengampunan yang bisa ia temukan dalam tatapan Kiran. Namun, Kiran tidak menoleh. Ia tetap membelakangi Arka, hatinya sudah terlanjur hancur oleh pengkhianatan suaminya. *** Lita sudah berkeliling hampir seluruh sudut rumah sakit mencari Arka. Kecemasan dan kebingungan menyelimutinya. Ia tidak mengerti kenapa Arka begitu sulit ditemui, padahal ia sangat membutuhkan bantuan suaminya. Cleo, anak mereka, menangis terus-menerus tanpa henti, dan Lita sudah kehabisan cara untuk menenangkannya. Ketika Lita akhirnya menemukan Arka di salah satu koridor rumah sakit, hatinya sedikit lega. Ia langsung bergegas menghampiri suaminya dengan harapan Arka bisa membantunya menenangkan Cleo. "Mas!" panggil Lita. Arka yang sedang duduk di bangku koridor itu hanya menoleh sebentar, wajahnya terlihat lelah dan penuh dengan pikiran. Lita tidak memperhatikan perubahan itu, ia terlalu sibuk dengan kegelisahannya sendiri. "Aku sudah mencarimu ke mana-mana, Mas," lanjut Lita sambil menarik napas dalam-dalam. "Cleo menangis terus sejak tadi, aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Tolong bantu aku menjaganya sebentar, aku benar-benar butuh bantuanmu," pintanya dengan nada memelas. Arka menatap Lita dengan sorot mata yang sulit dibaca. Seketika Lita menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dengan Arka, seolah ada jarak yang tiba-tiba terbentang di antara mereka. Lita mengerutkan keningnya, merasa ada yang tidak beres. "Aku tidak bisa," jawab Arka dengan suara yang dingin, berbeda dari biasanya. Lita merasa terpukul dengan respons itu, tidak menyangka Arka akan menolaknya begitu saja. "Apa maksudmu, Mas? Cleo adalah anak kita. Aku butuh kamu untuk membantuku sekarang," kata Lita dengan nada yang mulai putus asa, berharap suaminya akan mengubah pikirannya. Namun, Arka hanya menggeleng pelan. "Aku harus menjaga Kiran. Dia butuh aku sekarang," jawabnya tegas, meskipun ada nada frustrasi dalam suaranya. Lita terperanjat mendengar jawaban itu. Ia merasa seakan-akan dunia di sekitarnya runtuh begitu saja. "Kiran? Kamu serius? Mas, aku ini istrimu! Cleo adalah anakmu! Bagaimana kamu bisa lebih memilih menjaga Kiran daripada aku dan anak kita?" Lita merasa hatinya tercabik-cabik mendengar Arka mengatakan hal itu. Arka menghela napas panjang, mencoba menahan amarah yang mulai memuncak. "Lita, kamu tidak mengerti. Kiran sedang sakit, dia membutuhkan aku lebih dari apa pun saat ini. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian!" jawab Arka, suaranya meninggi karena tidak mampu menahan emosinya lagi. Lita merasa dadanya sesak, air mata mulai menggenang di matanya. "Mas, kamu tidak bisa terus begini. Kamu tidak bisa terus-menerus memprioritaskan Kiran sementara aku dan Cleo diabaikan begitu saja. Apa kamu sadar apa yang sedang kamu lakukan?" tanyanya dengan suara bergetar. Arka berdiri dengan cepat, ia tidak bisa lagi menahan emosinya. "Lita, ini bukan masalah prioritas. Ini tentang tanggung jawabku kepada Kiran sebagai suaminya. Aku tidak bisa membiarkan dia menderita sendirian. Dan lagi, kamu sudah tahu sejak awal bahwa pernikahan kita tidak seperti yang lain," kata Arka dengan tegas. Lita merasa semakin hancur mendengar kata-kata itu. "Mas, kamu tidak adil! Aku juga istrimu. Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?" Arka hanya menatap Lita dengan tatapan kosong. "Aku minta maaf. Tapi ini pilihan yang harus aku buat. Kiran membutuhkan aku sekarang, dan aku tidak bisa meninggalkannya," ujarnya dengan nada yang sudah tidak bisa ditawar lagi. Lita merasa seluruh tenaganya hilang seketika. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi. Melihat Arka yang sudah bertekad bulat, ia hanya bisa berdiri di tempat, sambil terisak pelan. Tanpa berkata apa pun lagi, Arka berbalik dan berjalan meninggalkan Lita sendirian di koridor rumah sakit. Lita hanya bisa menatap punggung suaminya yang semakin menjauh, merasakan luka yang semakin dalam di hatinya. "Ugh, Kiran lagi, Kiran lagi! Kenapa kamu selalu mementingkan wanita itu, Mas?" pekik Lita sambil memperhatikan Arka yang semakin terus menjauh darinya. "Kenapa kamu tidak mati saja, Kiran?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD