Bab 10 : Rasa Takut

1121 Words
Kiran berdiri di tepi jembatan, memegang erat besi pembatas. Pakaiannya yang masih mengenakan seragam pasien rumah sakit tampak kusut dan rambutnya berantakan. Matanya memandang kosong ke arah sungai yang mengalir deras di bawah. Arga, yang kebetulan melihatnya dari kejauhan, berlari secepat mungkin ke arah adiknya itu. "Kiran! Apa yang kamu lakukan di sana? Ayo, cepat turun!" teriak Arga dengan suara penuh kepanikan sambil terus berlari mendekat. Kiran menoleh mendengar suara Arga. Tangannya yang menggenggam erat besi pembatas mulai merenggang, namun sebelum ia sempat melepaskan diri, Arga berhasil meraih tangannya. "Lepasin, Kak! Lepasin aku! Aku ingin mati saja," teriak Kiran sambil mencoba melepaskan genggaman Arga. "Kiran, apa yang ada di dalam pikiranmu? Apa kamu akan membunuh dirimu sendiri hanya karena Arka? Apa kamu akan menyerah begitu saja? Apa kamu akan merelakan Arka untuk wanita itu? Apa kamu akan membiarkan mereka bahagia sementara kamu menderita?" Arga mencoba berbicara dengan Kiran, berharap Kiran mau mendengarnya. Kiran terlihat sangat rapuh, matanya begitu sembab karena menangis terus-menerus. "Aku tidak bisa lagi. Aku tidak kuat lagi. Hati aku hancur, Arka telah mengkhianatiku. Dan aku tidak tahu bagaimana menghadapinya. Hidup ini terlalu berat untukku," jawabnya dengan suara yang patah-patah. "Kiran, dengarkan aku. Arka mungkin telah mengkhianatimu, tapi itu bukan alasan untuk mengakhiri hidupmu. Kamu harus bertahan demi anak yang ada dalam kandunganmu," kata Arga dengan tegas, mencoba menggoyahkan niat adiknya. "Tapi, Kak ... semua ini terlalu berat. Setiap kali aku melihat Arka aku merasakan sakit. Dia tidak menyayangiku, apalagi dengan anak yang ada di dalam kandunganku. Dia sendiri yang menyuruh aku untuk menggugurkan kandungan ini. Arka tidak sayang pada kami, Kak. Arka hanya mrnyayangi anak dan selingkuhannya …" tangis Kiran semakin menjadi-jadi. "Jangan pernah berpikir seperti itu, Kiran. Kamu tidak pernah sendirian. Lihat sekelilingmu. Kamu masih punya keluarga yang menyayangimu. Mama, aku, dan banyak orang lain yang peduli padamu. Kami di sini ada untuk mendukugmu. Jangan biarkan Arka dan wanita itu menghancurkanmu," kata Arga sambil menatap dalam-dalam ke mata Kiran. Kiran menundukan kepala, air mata terus mengalir deras di pipinya. "Tapi aku tidak tahu bagaimana cara melanjutkan hidup tanpa Arka. Dia adalah segalanya bagiku." Arga menghela napas panjang. "Kiran, lihat aku," pinta Arga sambil mengangkat dagu Kiran dengan lembut. "Kadang orang yang kita cintai mengkhianati kita. Itu memang menyakitkan, sangat menyakitkan. Tapi itu bukan akhir dari segalanya. Hidup terus berjalan, dan kamu harus kuat untuk melanjutkannya. Bukan demi Arka, tapi demi dirimu sendiri, demi anak yang ada dalam rahimmu, dan demi semua orang yang mencintaimu." Terdengar suara gemuruh kereta api yang melintas di bawah jembatan, menggema di udara malam yang dingin. Arga merasakan getaran dari rel yang ada di bawah mereka. Lelaki tampan itu langsung menarik tubuh Kiran dengan hati-hati dari tepi jembatan, dan langsung memeluknya erat. Ia mencoba menenangkan Kiran dengan mengelus rambutnya yang berantakan tertiup angin sepoi-sepoi. Sementara suara kereta api terus menggema di kejauhan. Kiran merasa hangat dalam pelukan Arga, merasakan ketenangan yang sudah lama hilang. Setelah beberapa saat, ketika Kiran sudah mulai tenang, Arga mengajaknya untuk pulang. "Malam semakin larut, lebih baik kita pulang saja," ajak Arga. Kiran melepaskan pelukannya dan menatap ke arah Arga. "Terima kasih, Kak," katanya pelan, suaranya penuh kelegaan dan rasa syukur. Arga tersenyum dan mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Kiran. "Tidak perlu terima kasih. Ayo, kita kembali ke rumah sakit," ujarnya sambil menuntun Kiran menuju mobil. Di dalam mobil, suasana terasa hening sejenak. Kiran memandang ke luar jendela, melihat pemandangan malam yang sepi. Lampu-lampu jalan menyala samar, menerangi jalan yang basah oleh hujan. Angin malam yang sejuk membuat suasana menjadi tenang, meskipun ada keheningan yang menggantung di antara mereka. Arga melirik ke arah Kiran yang duduk di sampingnya, masih dengan pandangan kosong. Dia ingin memastikan adiknya baik-baik saja. "Kiran, apa yang kamu pikirkan?" tanyanya pelan, mencoba memulai percakapan. Kiran menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Aku hanya ... merasa sangat bingung, Kak. Hidupku berubah begitu drastis dalam waktu yang singkat. Aku merasa seperti kehilangan segalanya," katanya dengan suara penuh emosi. Arga menatap jalan di depannya sambil terus mendengarkan. "Aku mengerti, Kiran. Tapi kamu harus ingat bahwa kamu tidak sendirian. Kami semua ada di sini untukmu, Mama, aku, dan sahabat-sahabatmu. Kamu punya banyak dukungan." "Aku tahu, Kak. Tapi kadang-kadang aku merasa seperti beban bagi kalian semua. Aku merasa tidak ada harapan lagi," kata Kiran sambil menundukkan kepalanya. Arga menggenggam tangan Kiran yang terletak di antara mereka. "Kamu bukan beban, Kiran. Kamu adalah keluarga kami, dan kami mencintaimu. Kami semua akan mendukungmu dalam setiap langkah yang kamu ambil." Kiran menoleh ke arah Arga, matanya masih penuh oleh air mata. "Kak, bagaimana aku bisa melupakan semua ini? Bagaimana aku bisa melanjutkan hidup setelah apa yang terjadi?" "Ini tidak akan mudah, Kiran. Tapi kamu tidak harus melakukannya sendirian. Kita akan mencari bantuan profesional, seperti terapis atau konselor, yang bisa membantumu mengatasi perasaan ini. Kamu juga bisa berbicara dengan kami kapan saja kamu butuh," kata Arga dengan lirih, mencoba memberikan harapan pada adiknya. Kiran mengangguk perlahan. "Aku akan mencoba, Kak. Aku akan mencoba untuk kuat dan menghadapi semua ini. Tapi aku masih merasa takut." "Rasa takut itu wajar, Kiran. Yang penting ... kamu tidak membiarkan rasa takut itu mengendalikan hidupmu. Kamu lebih kuat dari yang kamu pikirkan. Aku melihatnya malam ini, ketika kamu berani untuk bertahan," kata Arga sambil tersenyum. Mereka terus berbicara sepanjang perjalanan, Arga berusaha membuat Kiran merasa lebih nyaman dan didengar. Kiran mulai merasa sedikit lebih ringan setelah berbicara dengan Arga, meskipun rasa sakitnya masih ada. Setidaknya, dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Setelah beberapa menit lagi, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Arga memarkir mobil dan membantu Kiran keluar. "Mari kita kembali ke kamar, Kiran. Kamu perlu istirahat." Kiran mengangguk, ia merasa sedikit lega. "Terima kasih, Kak. Aku benar-benar beruntung memiliki keluarga seperti kalian." Arga merangkul bahu Kiran saat mereka berjalan menuju pintu masuk rumah sakit. "Kami juga beruntung memiliki kamu, Kiran. Ingatlah itu." Sesampainya di ruang Kiran, Maria yang melihat anaknya sudah kembali bersama Kiran merasa lega dan senang. Ia segera memeluk Kiran erat-erat. "Sayang, kamu ke mana saja? Mama begitu sangat khawatir sama kamu," ujar Maria dengan suara penuh kelegaan dan sedikit isak tangis. Kiran membalas pelukan mertuanya dengan erat. "Maaf, Ma. Aku hanya butuh waktu untuk sendiri," jawabnya pelan, air matanya kembali mengalir. Maria mengusap rambut Kiran dengan lembut. "Yang penting kamu sudah kembali dan aman sekarang. Mama selalu ada di sini untuk kamu." Arga yang berdiri di dekat pintu melihat momen haru itu, merasa sedikit lega bahwa Kiran sudah kembali ke tempat yang aman. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Pintu ruangan terbuka dan Arka, suami Kiran, muncul di ambang pintu. Kiran yang melihat kehadiran Arka, segera merasa kesal. Matanya yang sebelumnya penuh dengan air mata sekarang menyala dengan kemarahan. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanyanya tajam, suaranya penuh dengan kemarahan yang tertahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD