Bab 9 : Selamat Tinggal

1110 Words
"Mas, dari tadi aku mencari kamu. Cleo sudah lebih membaik," kata Lita dengan nada cemas. Maria menatap remeh ke arah wanita yang ada di samping anaknya itu. Sekarang, ia bisa melihat wajah dari wanita yang telah menghancurkan keluarga anaknya. "Oh, jadi kamu wanita pelakor itu," hardik Maria dengan tatapan tajam, penuh amarah dan penghinaan, matanya menatap nyalang ke arah Lita. Lita terlihat gugup ketika menerima hinaan dari wanita yang ada di depannya. Ia tidak tahu bahwa wanita itu adalah ibunya Arka. "Maaf, Bu...," ujarnya dengan suara bergetar. "Maaf? Kamu pikir maafmu itu cukup? Kamu menghancurkan pernikahan anakku, menghancurkan hati menantuku, dan sekarang kamu dengan santainya datang ke sini? Kamu tidak punya rasa malu!" seru Maria dengan marah. "Ma, tolong jangan seperti ini. Ini bukan salah Lita sepenuhnya. Aku yang bertanggung jawab," Arka mencoba menengahi, ia berdiri di antara ibunya dan Lita. "Jangan membela dia, Arka! Kamu tahu persis apa yang telah kamu lakukan. Kamu menghancurkan keluargamu sendiri demi wanita ini. Kiran sedang berjuang dengan hidupnya karena perbuatanmu dan sekarang dia menghilang!" balas Maria, suaranya semakin tinggi. "Ma, aku tahu aku salah. Tapi sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Kita harus fokus menemukan Kiran," kata Arka dengan nada memohon. "Dan kamu pikir dengan membela wanita ini, kamu bisa memperbaiki semuanya? Kamu tidak tahu betapa sakitnya hati Kiran. Wanita ini telah merusak segalanya!" seru Maria, emosinya semakin memuncak. Lita yang mendengar semua itu hanya bisa menangis. "Bu, saya tidak pernah berniat untuk menyakiti Kiran. Saya juga mencintai Arka dan Cleo adalah anak kami ..." "Jangan sebut cinta di hadapanku! Cinta apa yang kamu maksud? Cinta yang menghancurkan rumah tangga orang lain?" balas Maria dengan nada penuh kebencian. "Ma, tolong hentikan. Lita tidak bersalah sendirian. Aku yang memulai semuanya. Aku yang membuat kesalahan ini." Arka kembali membela Lita, berdiri lebih dekat padanya seolah mencoba melindunginya dari serangan verbal ibunya. "Dan itu membuatmu lebih buruk, Arka! Sebagai seorang suami, kamu seharusnya setia pada istrimu. Kiran tidak pantas diperlakukan seperti ini!" Maria tidak bisa menahan amarah lagi. Melihat anaknya membela wanita yang telah menghancurkan hati Kiran, membuat hatinya semakin sakit. "Ma, aku sudah mengatakan aku menyesal. Tapi sekarang, tolonglah, kita harus menemukan Kiran. Dia yang paling penting saat ini," ujar Arka dengan nada putus asa. Maria menatap Arka dan Lita dengan mata penuh kemarahan. "Aku akan mencari Kiran, dan kalian berdua jangan harap bisa hidup tenang setelah ini," katanya sebelum berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Arka menatap punggung ibunya yang semakin menjauh, merasa putus asa dan bersalah. "Lita, aku minta maaf kamu harus mengalami ini. Tapi aku harus menemukan Kiran," katanya, memandang Lita dengan mata penuh penyesalan. "Aku mengerti, Mas. Tolong temukan Kiran. Aku akan menunggu di sini bersama Cleo," jawab Lita dengan suara yang masih bergetar. Arka mengangguk dan bergegas pergi, menyusul ibunya untuk melanjutkan pencarian Kiran. Di dalam hatinya, ia berdoa agar semuanya bisa diperbaiki, meskipun ia tahu itu akan sangat sulit. "Kiran, kamu di mana? Maafkan aku." *** Kiran berjalan sendirian di sepanjang jembatan yang sepi, matahari mulai terbenam di cakrawala. Langit yang berwarna oranye mencerminkan suasana hatinya yang penuh kesedihan dan kelelahan. Udara senja yang dingin menyentuh kulitnya, tetapi ia hampir tidak merasakannya. Langkahnya lambat dan lesu, seolah-olah setiap langkah yang diambil mengingatkan pada beban emosional yang ia bawa. Di benaknya, bayangan pertengkaran terakhir dengan Arka masih jelas tergambar. Kata-kata kasar dan pengakuan tentang perselingkuhan yang telah merusak hati dan kepercayaannya berulang kali terputar seperti rekaman yang rusak. Perasaannya bercampur aduk antara marah, kecewa, dan rasa sakit yang mendalam. Hiks! "Kenapa kamu melakukan ini, Mas? Apa kurangnya aku? Selama ini aku mencoba untuk menjadi istri yang baik, tapi kamu malah mengkhianatiku." Kiran menundukkan kepalanya, mengingat masa-masa bahagia yang pernah mereka lalui bersama. Senyuman yang dulu tulus kini terasa seperti bayangan yang memudar. Pandangannya kosong, tetapi hatinya penuh dengan pertanyaan tentang masa depan yang tak pasti. Apakah ia harus terus bertahan dalam pernikahan yang telah hancur ini? Ataukah ia harus melangkah pergi dan mencari kebahagiaan yang baru? Siluet gedung-gedung kota yang mulai menyala dengan lampu-lampu malam terlihat samar-samar di kejauhan. Kiran berhenti sejenak di tengah jembatan, tangannya menggenggam erat rel pengaman. Ia menatap ke bawah, melihat sungai yang mengalir dengan tenang di bawahnya. Dalam keheningan itu, ia berusaha menemukan kedamaian dan kekuatan untuk menghadapi kenyataan pahit yang ada di depannya. Ketika angin malam mulai berhembus lebih kencang, Kiran merapatkan jari jemarinya. tubuhnya sudah menggigil kedinginan, tapi ia enggan untuk beranjak. Tangannya terulur menyentuh perutnya yang masih rata. "Kamu bahkan tidak menginginkan anak ini, Mas. Kamu menyuruhku untuk menggugurkannya, bukan? Jika itu maumu, baiklah. Aku akan membawa anak ini pergi bersamaku." Kiran mulai menaiki pagar jembatan itu, dan berencana untuk mengakhiri hidupnya, mungkin bila ia pergi dari dunia ini, Arka akan berhenti untuk menyakitinya lagi. "Aku pergi, Mas. Selamat tinggal." Kiran memejamkan matanya dan satu tangannya sudah terlepas dari rel pengaman. *** "Kiran, di mana kamu?" gumam Arga dalam hati, suara kecemasan terdengar jelas dalam benaknya. Sudah sekitar satu jam Arga mengendarai mobilnya berkeliling kota, tetapi ia belum juga menemukan Kiran. Ia sudah menghubungi beberapa sahabat Kiran, namun mereka juga tidak mengetahui ke mana Kiran pergi. Arga melihat ke kanan dan ke kiri, mencoba menemukan sosok Kiran di malam yang sudah gelap ini. Udara malam terasa begitu dingin, terlebih lagi hujan baru saja turun beberapa waktu lalu. Kekhawatirannya semakin bertambah, membayangkan Kiran kedinginan di luar sana tanpa perlindungan yang cukup. Setiap sudut kota telah ia jelajahi, namun hasilnya nihil. Ketika lampu merah menyala, Arga menghentikan mobilnya dan tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia melihat bahwa ibunya yang menghubunginya dan langsung mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Ma." "Halo, Arga. Apa kamu sudah menemukan Kiran?" suara Maria terdengar cemas di seberang telepon. "Belum, Ma. Aku belum menemukannya," jawab Arga dengan suara lesu. "Arga, Mama sangat khawatir. Kamu sudah cari di mana saja?" tanya Maria, suaranya juga gemetar. "Aku sudah keliling kota, Ma. Aku juga sudah hubungi beberapa teman Kiran, tapi mereka tidak tahu ke mana dia pergi. Aku akan terus mencarinya," kata Arga mencoba menenangkan ibunya meski hatinya sendiri diliputi kegelisahan. "Baiklah, teruslah cari. Jangan menyerah, Arga. Mama juga akan terus berdoa semoga Kiran segera ditemukan dengan selamat," ujar Maria penuh harap. "Iya, Ma. Aku akan terus mencari. Tolong doakan kami," jawab Arga sebelum memutuskan sambungan telepon dari ibunya. Setelah lampu hijau menyala, Arga mulai menginjak pedal gas lagi. Malam semakin larut dan angin semakin dingin berhembus ke ulu hatinya, menambah suasana semakin mencekam. Ia terus menyusuri jalanan dengan harapan menemukan Kiran. Ketika Arga melewati sebuah jembatan, ia melihat seorang wanita tengah berdiri di pinggir jembatan itu. Arga menyipitkan mata untuk memperjelas pandangannya dan ketika ia tahu siapa wanita itu, hatinya terhenyak. Itu Kiran! Arga segera menghentikan mobilnya dengan cepat dan berlari keluar. "Kiran!" teriak Arga sekuat tenaga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD