BAB 39
Kembali ke Irama Biasa
Setelah pertemuan singkat itu, Nayla berjalan perlahan kembali ke dalam rumah. Suasana di dalam sudah kembali seperti sebelum hari pertunangan tenang, hening, dan berjalan dengan irama yang lambat dan teratur.
Di ruang tengah, Rosa dan Miranda sedang melipat kain-kain sisa dan menyimpannya ke dalam lemari. Mereka berbicara dengan nada yang lebih santai, membicarakan hal-hal kecil seolah hari kemarin hanyalah sebuah mimpi yang sudah berlalu.
"Besok kita akan mulai menyiapkan kebutuhan lain," kata Rosa sambil menutup pintu lemari.
"Masih ada banyak hal yang harus diurus sebelum hari pernikahan tiba."
"Baik, Bu," jawab Miranda sambil membetulkan letak kursi.
Saat melihat Nayla masuk, Rosa menoleh sekilas. "Kau sudah membersihkan halaman belakang?"
"Sudah, Bu."
"Baik. Sekarang cuci piring dan peralatan makan yang tertinggal, lalu bereskan dapur sampai rapi."
"Baik."
Nayla berjalan menuju dapur. Gerakannya lambat, tidak tergesa. Ia mengambil satu per satu piring dan gelas, menggosoknya dengan hati-hati di bawah aliran air. Suara air yang mengalir dan gesekan spons menjadi satu-satunya irama yang menemaninya.
Di dalam hatinya, ia merasa tenang. Pertemuan dengan Satrio tadi tidak meninggalkan rasa sakit yang tajam, hanya rasa lega yang halus. Seolah beban kecil yang terselip perlahan terangkat. Ia tahu, apa yang terjadi sudah tak bisa diubah, dan tidak ada gunanya memendam perasaan yang hanya akan membebani diri sendiri.
Ia teringat kata-kata ibunya: "Orang yang kuat bukanlah orang yang tidak pernah merasa sakit, tapi orang yang bisa bangkit kembali dan tetap berjalan meski kakinya terasa berat."
Nayla mengeringkan peralatan satu per satu, lalu menyimpannya rapi di rak. Ia memandangi pantulan dirinya di dinding tembikar yang mengkilap. Wajahnya terlihat sama seperti biasanya — tenang, tanpa banyak ekspresi, namun di balik tatapan matanya ada ketenangan yang tumbuh semakin kuat.
Seperti sepatu tua itu. Semakin lama disimpan dengan baik, semakin ia menunjukkan ketabahannya. Tidak tergesa, tidak berubah, tetap menjadi dirinya sendiri.
BAB 40
Cahaya Sore yang Lembut
Sore hari datang perlahan. Sinar matahari yang tadinya terik kini berubah menjadi keemasan, menyelinap masuk lewat celah-celah dinding dan menerangi sudut-sudut rumah yang sepi.
Setelah semua pekerjaan selesai, Nayla kembali ke kamarnya. Ia mengunci pintu pelan-pelan, lalu berjalan menuju meja kecil di sudut. Dengan hati-hati, ia membuka kain penutupnya dan mengeluarkan sepatu tua milik ibunya.
Ia duduk bersila di atas kasur, meletakkan sepatu itu di pangkuannya. Jari-jarinya bergerak perlahan, membersihkan debu halus yang mungkin menempel, mengusap setiap lekukan dengan penuh perhatian.
"Kau melihatnya juga ya?" bisiknya pelan, seolah sepatu itu bisa mendengarnya.
"Dia datang, meminta maaf. Tapi maaf tidak bisa mengembalikan apa yang sudah diputuskan."
Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis.
"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa. Setiap orang punya jalan yang harus ditempuhnya sendiri. Jalan dia berbeda dengan jalanku. Dan itu tidak apa-apa."
Ia memandangi sepatu itu dengan pandangan yang lembut. Di kulitnya yang sudah pudar, tergambar jejak waktu yang panjang jejak langkah ibunya, jejak kenangan, dan kini menjadi jejak ketabahannya sendiri.
Jalan yang aku pijak mungkin tidak lebar, tidak penuh warna, dan tidak dipuji orang banyak.
Tapi ini jalanku. Aku bisa berjalan dengan tenang, tanpa kepura-puraan, tanpa harus menjadi orang lain.
Terdengar suara langkah kaki lewat di depan pintu, diikuti suara tawa Miranda yang berbicara dengan Rosa. Suara itu terdengar samar, tidak lagi terasa mengganggu. Nayla sudah terbiasa memisahkan dirinya dari dunia di luar pintu kamarnya. Di sini, ia bebas menjadi dirinya sendiri.
Ia meletakkan sepatu itu perlahan, lalu menyimpannya kembali dengan hati-hati di dalam kain. Setelah itu, ia berdiri dan berjalan menuju jendela. Ia membukanya sedikit, membiarkan angin sore yang sejuk berhembus masuk menerpa wajahnya.
Di kejauhan, matahari perlahan mulai tenggelam, mewarnai langit dengan jingga dan ungu yang lembut. Burung-burung terbang pulang ke sarangnya satu per satu. Semua berjalan dengan teratur, sesuai irama alamnya masing-masing.
Nayla memejamkan mata sejenak, merasakan kedamaian yang menyelimuti hatinya. Apa pun yang akan terjadi di masa depan, ia tahu satu hal pasti: ia akan tetap berdiri, tetap bertahan, dan tetap menjaga apa yang berharga baginya sama seperti sepatu tua yang setia menemaninya dalam diam.