BAB 1 - 2
BAB 1
Debu dan Kenangan
Hujan turun perlahan. Setetes, dua tetes, jatuh membasahi kaca jendela kamar yang sudah agak buram. Suaranya lembut, berirama, seolah tak ingin mengganggu kesunyian yang sudah lama tinggal di ruangan kecil itu.
Di atas kasur yang lapuk, Nayla duduk bersila. Tangannya memegang sepasang sepatu kulit berwarna cokelat tua. Warnanya sudah pudar. Di bagian tumit, kulitnya mengelupas tipis. Jahitannya di beberapa tempat mulai terlepas. Tapi bagi Nayla, benda ini bukan sekadar sepatu tua.
Ia mengusapnya perlahan. Jari-jarinya bergerak pelan mengikuti lekukan sepatu itu. Seolah ia sedang menyentuh kenangan yang mulai menipis.
Dulu, Ibu memakainya.
Dulu, Ibu berjalan memakai ini.
Dulu, Ibu ada di sini.
Sudah dua tahun. Dua tahun yang terasa lebih panjang dari waktu itu sendiri. Sejak ibunya pergi, hari-hari terasa berjalan lambat. Sangat lambat. Seolah waktu pun ikut berhenti memberi kebahagiaan padanya.
Nayla menunduk. Kacamatanya meluncur sedikit ke bawah hidungnya. Ia tidak mendorongnya. Ia hanya terus memandangi sepatu itu.
"Masih kuat ya..." bisiknya pelan.
Suaranya hampir tak terdengar, hanya berhembus bersama udara dingin di dalam kamar.
Pintu terbuka. Bunyinya keras. Kasar. Seolah sengaja dibuat untuk memecah keheningan.
Nayla terkejut. Cepat-cepat ia menyembunyikan sepatu itu di balik lipatan selimut.
Di ambang pintu berdiri Rosa. Ibu tirinya. Wanita yang dinikahi ayahnya hanya sebulan setelah ibunya dimakamkan. Wanita yang setiap tatapannya selalu terasa tajam.
"Masih di kamar?" suara Rosa. Pendek. Dingin.
Nayla menunduk. "Iya, Bu."
"Piring belum dicuci. Lantai belum disapu. Kau pikir bisa diam saja?"
"Saya akan kerjakan sekarang."
Rosa melangkah masuk. Matanya melayang ke sekeliling kamar. Lalu berhenti pada gumpalan di balik selimut.
"Apa itu?"
"Ti... tidak ada, Bu."
Rosa meraihnya. Menariknya dengan kasar. Sepatu tua itu terjatuh ke lantai.
"Barang rongsokan ini?" Rosa menendangnya pelan.
Debu beterbangan. "Sudah tak layak pakai. Masih disimpan juga."
"Itu milik Ibu saya..."
"Sudah mati. Tak ada gunanya lagi. Lebih baik dibuang."
"Jangan."
Nayla berjongkok. Meraih sepatu itu. Memeluknya erat di d**a. Seolah melepaskannya sama saja melepaskan bagian dari dirinya sendiri.
Rosa tertawa pendek. Sinis. "Dasar. Sama seperti pemiliknya. Tua, lapuk, dan tak berguna."
Langkah kaki lain terdengar. Lebih ringan, tapi penuh nada mengejek.
Miranda muncul di pintu. Saudara tirinya. Usianya sebaya dengan Nayla. Tapi hidupnya selalu dipenuhi pujian, sementara Nayla hanya dipandang rendah.
"Masih main barang bekas?" kata Miranda. Pendek. Tajam.
Nayla tidak menjawab. Ia hanya memeluk sepatunya lebih erat. Air mata menggenang di balik kacamata. Ia menahannya. Menahannya agar tidak jatuh.
"Lihat dirimu," lanjut Miranda.
"Cantik tapi tertutup. Pintar tapi diam. Semua yang kau punya... seharusnya jadi milik orang yang lebih pantas."
Ia berhenti sejenak. Menatap Nayla dengan pandangan yang membuat tulang terasa dingin.
"Bahkan orang yang menyukaimu pun, akan lebih pantas bersamaku."
Kedua wanita itu berbalik pergi. Pintu dibanting keras. Suaranya menggema.
Di dalam kamar, Nayla tetap duduk di lantai. Ia menatap sepatu tuanya. Mengusapnya lagi. Pelan. Sangat pelan.
Sepatu tua...
Tetap utuh meski sudah lama terinjak.
Sama seperti aku.
Di luar, hujan masih turun. Perlahan. Tak berhenti. Seolah tak ada yang berubah. Seolah kesedihan ini akan terus ada selamanya.
BAB 2
Di Bawah Pohon Tua
Sore datang perlahan. Langit berubah warna menjadi jingga pudar. Hujan berhenti, meninggalkan bau tanah basah yang menyebar ke seluruh penjuru rumah.
Nayla menyelesaikan semua pekerjaannya. Mencuci piring. Menyapu lantai. Melipat baju. Semuanya ia kerjakan dengan tenang. Tak ada keluhan. Tak ada suara. Hanya gerakan yang lambat dan teratur.
Setelah selesai, ia berjalan keluar. Melangkah pelan menuju halaman belakang. Tempat yang jarang dikunjungi orang lain. Di sana, di bawah pohon mangga yang sudah tua, ada sebuah bangku kayu yang mulai lapuk.
Di situlah Nayla merasa bisa bernapas.
Ia duduk. Meletakkan sepatu tuanya di pangkuan. Mengelap debu yang menempel dengan ujung kain bersih. Gerakannya lambat. Berulang-ulang. Seolah ia sedang membersihkan luka yang tak terlihat.
"Kau juga lelah ya?" bisiknya. Sangat pelan. Hanya untuk dirinya sendiri.
Angin berhembus. Membawa daun-daun kering berputar perlahan.
Dari arah gerbang, terdengar langkah kaki. Lembut. Teratur.
Nayla mengangkat wajah sedikit. Melalui kacamatanya, ia melihat sosok yang sudah ia kenal sejak lama.
Satrio.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tapi ia segera menunduk kembali. Menyembunyikan tatapannya.
Satrio berjalan mendekat. Tidak tergesa. Ia tahu sifat gadis itu. Ia tahu Nayla butuh waktu.
"Di sini lagi?" tanya Satrio. Suaranya rendah. Lembut.
Nayla mengangguk pelan. "Iya."
Satrio duduk di ujung bangku. Beri jarak. Agar Nayla tidak merasa terdesak.
"Sepatu itu..."
"Milik Ibu."
Satrio memandangi sepatu itu. Lalu menatap wajah Nayla. "Bagus."
Nayla tertegun. Ia mengangkat wajah sedikit. "Sudah tua."
"Tetap punya cerita."
Nayla terdiam. Kata-kata itu meresap perlahan. Seolah air yang merembes ke tanah kering.
Mereka diam. Hanya suara angin dan dedaunan yang terdengar. Damai. Sesuatu yang jarang Nayla rasakan.
Tapi kedamaian itu tak berlangsung lama.
"Heh."
Suara itu datang dari belakang. Pendek. Penuh nada tak suka.
Miranda berdiri di sana. Tangannya di pinggang. Senyum tipis di bibirnya.
"Sudah selesai menyapu teras?" tanyanya pada Nayla.
"Belum. Sebentar lagi."
"Lebih cepat. Ibu menunggu."
Lalu pandangan Miranda beralih ke Satrio. Nadanya berubah. Menjadi lebih manis. Lebih ceria. Palsu.
"Satrio. Datang ke sini saja. Tempat ini kotor."
Satrio mengernyit. "Saya baru mau pulang."
"Sebentar saja. Ada yang ingin kubicarakan."
Miranda melangkah mendekat. Menarik lengan Satrio pelan. Memaksanya berdiri.
"Ayo."
Satrio menoleh pada Nayla. Tatapannya penuh tanya. Tapi Nayla hanya menunduk. Memeluk sepatunya lebih erat.
"Pergilah," bisik Nayla pelan.
Satrio menghela napas. Ia berjalan bersama Miranda. Perlahan.
Ketika mereka hilang di balik dinding, Nayla kembali menunduk. Ia mengusap sepatu itu lagi. Pelan. Berulang kali.
Sepatu tua...
Tempatnya memang di sudut yang sepi.
Tapi ia tetap ada. Tetap bertahan.
Langit semakin gelap. Sore berubah menjadi senja. Dan di bawah pohon tua itu, Nayla tetap duduk. Menunggu. Atau mungkin hanya terus bertahan. Sama seperti sepatu tuanya.