BAB 5
Kesunyian yang Makin Dalam
Pagi itu berjalan seperti pagi-pagi lainnya. Namun bagi Nayla, terasa ada yang berbeda. Seolah udara di sekitarnya menjadi lebih tipis, lebih sulit untuk dihirup.
Ia berdiri di depan wastafel, mencuci peralatan makan dengan gerakan yang lambat dan teratur. Air mengalir dari keran, jatuh membasahi piring dan sendok, menghasilkan suara berirama yang menjadi satu-satunya pengiringnya.
Di ruang tengah, terdengar suara Rosa dan Miranda yang bercakap-cakap. Suara mereka terdengar ceria, penuh kegembiraan sesuatu yang jarang sekali terdengar di rumah ini.
"Lihat, Bu. Dia setuju kan?" kata Miranda. Suaranya terdengar bangga.
"Tentu saja. Dia tahu mana yang terbaik untuk masa depannya," jawab Rosa dengan nada puas.
Nayla tidak berhenti mencuci. Tangannya terus bergerak, meski telinganya tak bisa menahan untuk mendengar. Setiap kata yang tertangkap terdengar seperti butiran pasir yang masuk perlahan ke dalam luka.
"Dan ayah pun sudah menyetujuinya. Sebentar lagi, pasti akan ada kabar baik," tambah Rosa.
Nayla menutup keran pelan. Air yang menetes perlahan berhenti. Ia mengelap tangannya dengan kain lap, lalu berbalik menuju kamarnya. Langkahnya sangat pelan, seolah tak ingin membuat suara apa pun.
Di dalam kamar, ia mengunci pintu. Ruangan itu kembali sunyi, hanya diterangi cahaya redup dari celah jendela. Ia berjalan menuju meja kecil di sudut, lalu mengambil sepatu tua milik ibunya.
Meletakkannya di pangkuan, ia duduk bersila di atas kasur. Jari-jarinya yang halus kembali mengusap permukaan kulit yang sudah mengelupas itu. Gerakannya lambat, berulang-ulang, seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang tak terucapkan.
Mereka senang.
Semua menjadi seperti yang mereka inginkan.
Dan aku... hanya diam.
Ia menundukkan kepalanya. Kacamata yang sedikit melorot membuat bayangan jatuh menutupi sebagian wajahnya. Tak ada tangisan keras, tak ada teriakan. Hanya ada rasa yang menyebar perlahan di dadanya perih, namun terasa berat, seperti beban yang makin lama makin menekan.
"Apakah aku memang harus selalu begini?" bisiknya. Suaranya sangat pelan, hampir tertelan oleh kesunyian.
Sepatu tua itu diam di pangkuannya. Seolah ikut merasakan, namun tak bisa memberi jawaban apa pun.
Di luar kamar, suara mereka masih terdengar samar. Namun bagi Nayla, suara itu mulai terasa menjauh. Seolah ia dan sepatu tuanya berada di ruang yang berbeda, terpisah dari dunia di luar sana.
BAB 6
Pesan yang Tak Terucap
Siang berganti sore. Matahari mulai condong ke barat, melemparkan bayangan panjang di atas lantai kamar Nayla.
Ia masih duduk di tempat yang sama. Posisi tubuhnya tak banyak berubah. Hanya pandangannya yang sesekali beralih ke jendela, melihat daun-daun yang bergoyang pelan tertiup angin.
Terdengar ketukan pelan di pintu kamar.
"Nayla?"
Suara itu lembut, berat, dan terdengar ragu. Suara ayahnya.
Nayla mengangkat wajah perlahan. Ia meletakkan sepatu tua itu dengan hati-hati di atas bantal, lalu berdiri dan membuka kunci pintu.
Di ambang pintu berdiri ayahnya. Wajahnya tampak lebih lelah dari biasanya. Kerutan di dahinya terlihat jelas, dan matanya menatap Nayla dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara kasihan dan ketidakberdayaan.
"Ayah," sapa Nayla singkat, lalu menunduk.
Ayahnya melangkah masuk perlahan. Ia melihat sekeliling kamar, lalu pandangannya berhenti sejenak pada sepatu tua yang tergeletak rapi di atas kasur.
"Kau... baik-baik saja?" tanyanya akhirnya. Suaranya terdengar berat.
Nayla mengangguk pelan. "Iya, Yah."
Ayahnya menghela napas panjang. Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Terlihat jelas bahwa ia sedang berusaha menyusun kata-kata yang sulit untuk diucapkan.
"Kau tahu... tentang Satrio dan Miranda..."
Nayla tetap menunduk. Jari-jarinya saling menggenggam erat di depan perutnya.
"Iya," jawabnya singkat.
Ayahnya terdiam sejenak. Ia melangkah mendekat sedikit, namun tidak terlalu dekat.
"Ayah harap kau mengerti. Rosa bilang, ini yang terbaik. Untuk kebaikan semua. Dan... Satrio pun sudah setuju."
Nayla tidak menjawab. Ia hanya menatap lantai, melihat bayangan kakinya sendiri.
"Kau anak yang baik, Nayla. Pendiam, pandai. Ayah yakin kau bisa menerima ini," lanjut ayahnya dengan nada yang terdengar seperti memohon pengertian.
Setelah berkata begitu, ia terdiam lagi. Seolah tak ada lagi yang bisa dikatakannya. Akhirnya, ia mengangguk pelan, lalu berbalik menuju pintu.
"Jangan pikirkan terlalu berat. Istirahatlah," ucapnya sebelum melangkah keluar dan menutup pintu perlahan.
Suara langkah kakinya menjauh, meninggalkan Nayla kembali sendirian di dalam kamar.
Nayla berbalik perlahan. Ia kembali ke tempat tidurnya, lalu meraih sepatu tua itu dan memeluknya erat.
Ayah pun setuju.
Semua orang setuju.
Hanya aku yang merasa ada bagian dari diriku yang perlahan hilang.
Ia menyandarkan kepalanya pada dinding. Matanya memandang kosong ke arah jendela yang mulai redup.
Sepatu tua...
Kau pun tak pernah bisa memilih di mana kau akan dipakai, atau oleh siapa.
Kau hanya bisa bertahan, meski terinjak, meski dilupakan.
Dan di dalam kesunyian itu, Nayla merasa dirinya dan sepatu tuanya menjadi satu. Sama-sama diam. Sama-sama bertahan. Menunggu apa yang akan datang selanjutnya.